Andi X Sarah

Andi X Sarah
28. Tantangan


__ADS_3


Tantangan



Kepala Andi serasa mau pecah menghadapi ujian akhir semester yang bertubi-tubi datang menghampiri. Selama ujian, ia mendapatkan materi belajar dari Sarah sendiri. Namun, tetap saja cewek sepintar Sarah ga bakala bisa ngajarin Andi yang otaknya kaya otak babon. Sarah ga mau ngasih jawaban ke Andi, dia mau Andi ngisi sendiri.


Ujian demi ujian ia lewati dengan susah payah. Walaupun Sarah secara pribadi ga mau ngasih jawaban ke Andi, Andi masih bisa ngedapatin jawaban dari kawan-kawan yang lain. Dan kawan-kawan yang lain dapetnya dari Sarah. Ada sih satu dua yang ngerjain sendiri dan memberikan jawabannya. Tapi, cuma jawaban Sarah yang punya garansi alias auto benar.


Sesekali Andi meminta jawaban dari Tami yang duduk di depannya. Tami dari dulu udah ia kenal sebagai anak pintar. Waktu TK aja dia dapet bintang penghargaan karena yang pertama kali pande baca. Waktu SD dia pernah juara umum. Waktu MDA juga dia sering juara satu.


Akhirnya Andi kini berada di ujian terakhir. Nah ini yang paling dia tunggu-tunggu. Ujian yang membuat dirinya lebih pintar dari yang lain. Sarah mah kalah, dia ga ada apa-apanya dari yang ini. Andi paling ngerti sama ujian Penjaskes. Bagaimana tidak, materinya cuma main basket, volley, bola kaki. Tentu saja ujian yang paling dimengerti bagi anak laki-laki, terutama Andi.


"Andi nomor 2 apa? Kalau kita dilanggar dalam bola kaki, kita akan mendapatkan? Kartu kuning ya?" tanya Sarah. Mumpung pengawasnya lagi keluar.


"HAHAHA, kita yang dilanggar kok kita yang dapat kartu kuning, sih?" tanya balik Andi sambil tertawa.


"Gue mana tau. Olahraga yang gue pande cuma beladiri."


"Ga, ah. Lo pelit. Masa ujian yang kemarin lo ga mau ngasih tau." Andi memalingkan wajahnya.


"Oke, cukup tau kita, ya ...."


Anjir, Sarah ngambek ....


"Sar, sorry, dong. Gue kan becanda," panggil Andi. "Jawabannya A. Freekick."


"Oh, ya? Thanks, ya. Akhirnya gue selesai." Sarah berdiri dan langsung memberikan kertas jawaban kepada pengawas.


Anjir, cepet banget selesainya.


Seluruh ujian telah dilewati dengan sensasi rintangan yang menghadang. Andi udah ga sanggup lagi, butuh penyegar otaknya segera. Apalagi kalau bukan ngasap di atas sekolah. Saat ia melangkah Sarah datang menghentikannya.


"Thanks ya karena udah ngasih tau," ucap Sarah.


"Hahaha, biasa aja kali. Kaya ga pernah nyontek aja."


"Gue memang ga pernah nyontek. Itu nyontek pertama gue selama satu semester ini."


Ini cewek apaan ya ga pernah nyontek ....


Andi hanya tersenyum. Matanya menyipit menatap wanita barambut panjang mengkilau ini. Sarah memang sedap jika dilihat lama-lama. Pantes aja Agus suka banget ngelirik-lirik Sarah, apalagi ngelirik itunya. Selain cantik, Sarah memang punya body yang aduhai tiada duanya. Maklum tiap hari latihan karate.


Pipi Andi memerah secara tidak sadar. Ia larut dalam keadaan ini. Perlahan ia raih kepalanya dan mengusap rambut Sarah.


"Besok belajar nyontek sama gua, ya ...."


Sarah memasang wajah datar. "Lepasin tangan lo dari rambut gue."


'Oh, iya maap."


Kelapa Sarah memereng. Ada sesuatu yang tidak beres dari Andi saat ini. Iya tersenyum tipis menyadari hal itu. "Lah, wajah lo kok memerah gitu?"

__ADS_1


Dengan cepat Andi memalingkan wajahnya. "Ah, enggak. Perasaaan lo aja kali. Biasa aja, kok."


"Oh, begitu. Gue pulang dulu, ya ...."


"Gua antarin," katanya dengan ragu. "Kalau lo mau ...."


"Ga, ah. Lo kan sama Tami. Gue ga mau kelahi mulu sama dia."


"Trus lo jalan lagi?"


Sarah tertawa dengan lebar. Terlalu cepat Andi meremehkan dirinya.


"Gue naik motor trail gue, dong." Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menunjukkannya ke depan mata Andi. "GUE MASUK KOMUNITAS MOTOR TRAIL, BRO!!!!!"


Inilah kenapa kadang-kadang gue ilfill sama cewek yang satu ini ....


"Hahahha, greget juga lo, ya. Like a bad girl."


Ia mengehentikan kalimat Andi. "Enggak, hanya itu. Gue dapet jaket. Nih, gue pakai.' Sarah langsung memakai jaket. "Tunggu bentar, ya. Gue ngambil helm di kelas."


Semenit kemudian, Sarah datang dengan menggunakan helm motor trail, lengkap dengan jaket dan sarung tangan.


"Eh, lo udah kaya begal yang tadi malam,"


"Dah, gue pulang dulu. Kalau mau main motor sama gue, telpon aja. Biar gue yang ajarin pake motor trail."


Iya deh, terserah lo ...


Sarah mengambil motor trailnya yang aduhai tiada duanya. Motornya udah distiker pake stiker keren, pakai nama dan nomor motornya lagi. Persis banget kaya pembalap-pembalap motor trail. Otomotif menjadi hobinya semenjak dibeliin motor begituan.


Nanang, Felix, dan Agus hanya terdiam melihat Sarah yang baru saja lewat di hadapan mereka. Mereka kalah gengsi, soalnya mereka masih nebeng sama Andi. Sebenarnya mereka bisa sih pake motor atau mobil sendiri-sendiri, tapi ini itung-itung hemat biaya minyak bakar. Sulit banget sama diri sendiri.


"Huh ... panas banget," ucap Sarah saat sampai di depan garasinya.


Papa Sarah terlihat sedang berinteraksi dengan burung kesayangannya. Ngasih makan, siul-siulan, dan ngajak bicara. Giliran burungnya yang tiba-tiba bisa bicara, malah papa Sarah yang lari ketakutan.


"Dari bengkel kamu?" tanya Papa. "Jangan sering main ke bengkel. Banyak laki-lakinya. Ntar kamu diapa-apain."


Ia mencium tangan papanya. "Tenang Pa. Bengkel Sarah khusus perempuan semua. Soalnya anggota komunitas isinya cuma perempuan. Kalau ada yang ngapa-ngapain Sarah, biar Sarah bacok aja kepalanya."


"Kamu memang mirip banget sama almarhum mama kamu."


"Emangnya kenapa?"


Pria paruh baya itu mendekati Sarah dan memegangi pundaknya.


"Listen here, Sarah. Dulu mamamu adalah biker dan sering main ke bengkel. Waktu papa gangguin, dia ngebacok papa."


"Bener, Pa? bacok pake apa?"


"Pake cinta, dong." Papanya tertawa terpingkal-pingkal. Burungnya juga ikut ketawa. Burung hiasnya loh maksudnya.


Tiba-tiba handphone-nya bergetar. Di saat ia melihat ke layarnya, ia mendapati Andi sedang menelponnya. Antara ragu atau tidak, ia tetap mengangkat panggilan dari Andi.

__ADS_1


"Woi, ke rumah Tami, dong. Lagi rame nih. Ahhh uhhh uwhgg aghh ...." Tiba-tiba terdengar suara yang absurd banget. "Sory, Agus lagi desahan. Ga tau kenapa. Ayo ke sini, lagi bakar bakso di halaman belakang."


"Ribut banget di sana, ya. Suara lo ga kedengeran jelas."


"KE RUMAH TAMI SEKARANG, SAYANG ... EH SARAH, gua typo njing."


"SAYANG???? GUE KE SANA SEKARANG BUAT NGEBACOK LOO!!!!!"


Andi dan lainnya tertawa. Dengan ringannya Andi menyebut Sarah dengan sebutan sayang.


"Hahahaha ... kalau ga diginiin dia ga bakalan datang," kata Andi.


"Suka-suka lo, deh. Jangan sampe Sarah yang kebaperan gara itu. hahahaha," balas Felix sambil mengipas-ngipas bakso yang lagi dibakar.


Tidak lama kemudian, Sarah datang berlari dengan mode huluk yang udah dipersiapkan diperjalanan. Dia udah ambil ancang-ancang dari rumahnya dan berlari menuju ke rumah Tami buat ngesmekdon Andi secara brutal.


"Njirr ... Sarah. Lari!!!!!!


"Jangan lari lo dasar kurap kudanil!!!!"


alhasil Andi dicubitin sama Sarah. Jijik bener Sarah disebutin begituan sama Andi. Cubitan seribu tangan menempel di sekujur tubuhnya. Geli-geli asyik rasanya. Andi paling senang kalau buat Sarah kesal.


Bau bakso bakar memanjakan hidung mereka saat ini. Racikan bumbu dari Felix memang mantap abis. Rasanya menyesap sekali ke bakso-bakso yang ia bakar. Agus langsung mengambil beberapa tusuk dan berlari untuk memanjat di sebuah pohon rambutan Tami. Melihat posisi Agus yang enak banget makan di atas pohon, membuat ketiga temannya juga ikut-ikutan memanjat.


Tinggallah Sarah dan Tami yang sedang membuat minuman dingin di teras. Ia melihat tangan Tami yang mulus naujubilah, beda banget dengan tanganya Sarah. Memang sih mereka sama putihnya, cuma tangan Sarah berotot karena sering latihan tekwondo dan karate. Kalau tangan Tami putih, mulus, dan bersih khas anak-anak rumahan.


"Aktivias lo ngapain aja di luar sekolah?" tanya Sarah. Dia kepoan banget sama kerjaan Tami tiap hari sampe-sampe tangannya mulus begitu.


"Aku suka nari sih. Sering latihan di sanggar budaya kota. Kalau kamu, Sarah?" tanya balik Tami.


"Gue? Gue ngelatih anak-anak di klub tekwondo. Akhir-akhir ini gue juga sibuk sama motor."


Mata Tami mengarah ke Andi yang lagi ngejahilin teman-temannya di atas pohon. Ia tersenyum tipis.


"Andi dari dulu memang gitu. Dia suka usil, bandel, ga suka diatur. Tiap hari aku dengar dia kena marah sama mamanya di rumah. Pasti kamu kerepotan gara dia."


"Sedikit, sih. Kadang dia suka buat gue kesel. Ngomong-ngomong, kalian keliatannya dekat banget."


"Dari kecil aku sama dia udah sama-sama. Bahkan kolor aku sama dia juga sering ketukaran gara saking seringnya tidur dirumahnya. Kayanya semenjak aku ga ada, dia dapet teman perempuan baru. Itu kamu."


"Hahaha ... kami dekat cuma gara-gara gue sering marahin dia yang bandel banget."


Tami menatap lurus ke Sarah. Ada sesuatu yang ingin ia katakan.


"Kamu suka sama dia, kan? Aku bisa lihat itu dari mata kamu."


Sarah langsung terhentak dengan kalimat Tami. Kalimatanya benar-benar sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


"Kalau gue suka sama dia, emangnya kenapa? Kalau gue ga suka sama dia, trus lo mau apa."


"Kamu ga bakalan bisa ngerebut dia dari aku," balas Tami dengan tegas.


"Kalau gue bisa, bagaimana?"

__ADS_1


....


__ADS_2