
Ga Tau Apa-Apa
Untuk sementara Andi bisa melupakan kisahnya bersama Sarah. Tidak lagi pikirannya dihantui oleh perasaan galau yang membuatnya terpuruk, menjadikan hari-hari baiknya laksana mendung di pagi hari yang tanpa cahaya. Semuanya hilang, tak bersisa. Namun, ia yakin suatu saat ia akan kembali menghadapi ini. Sakit dan pedih itu akan kembali membayangi.
Ia wanita bernama Clara. Seseorang yang ia temui pertama kali tatkala matanya bangkit dari tidur. Senyum merekah menyambut ketidaktahuannya, Andi terbingung saat itu. Barulah ia sadar, jika mereka pernah di satu masa lalu. Bertatap wajah dengan canda tawa umur balita.
Andi hanya mengikuti Clara dari belakang sembari memerhatikan jualan para pedagang yang beragam. Satu hal yang ia sukai dari pasar ialah wewangian bumbu rempah yang mereka jajakan. Seakan kembali pada masa lalu tatkala ia masih sering diajak oleh mama berbelanja ke pasar.
Sebagai lelaki, tentu saja Andi yang mengangkat seluruh belanjaan. Itu pun tanpa diminta, Andi lebih dulu menawarkan diri. Ia tidak tega jika Clara mengangkat belanjaa sebanyak ini.
"Ternyata kamu pandai juga nawar-nawar barang," puji Andi ketika berjalan.
"Clara enggak kaya anak ibu kota yang sering Andi lihat," jawabnya tanpa menoleh.
Andi tersenyum. Ia samakan ritme langkahnya menuju parkiran motor.
"Ajak aku keliling Bukit Tinggi."
Clara menoleh sembari menaikkan alis.
"Andi bisa sendirian, kenapa ajak aku?"
"Hmmm ... kalau ada temen kan lebih enak. iyo ndak tu?"
"Isuak lah, pagi awak raun .... Salang oto apa di rumah."
Besoklah, pagi kita jalan ... pinjam mobil papa di rumah."
"Oke."
Mereka kembali pulang ke rumah Nenek. Wanita itu kembali menyempatkan membantu Nenek memasak di rumah. Andi yang anak kota, malah disuruh buka kelapa. Yaa mana bisa. Untung aja kan ada hape. Andi keluar rumah buka youtube trus ngetik tutorial buka kelapa pake parang. Bayangin aja ya, buka kelapa aja harus pake youtube. Anak jaman sekarang.
__ADS_1
Babang author aja ga pernah belajar buka kepala eh buka kelapa, cuma ngelihat orang dan coba sekali langsung bisa. Pernah sih sekali, karena ga fokus malah jempol gue yang jadi korbannya. Parangnya nyangkut di kuku dan alhasil kuku jempol hilang setengah. Hahahah ...
"Ngapain buka kelapa sambil liat hape?"
Ternyata Andi ketau sama Clara.
"Heheheh ...." Andi menggaruk kepala.
Melihat kelapa Andi ga kebuka-buka dan ga ada rapi-rapinya, Clara yang ngambil alih.
"Makanya tinggal itu jangan kelamaan di kota." Clara mengambil alih parang. "Ga perlu youtube-youtube."
Clara mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melayangkan parang ke kelapa. Satu kali tebasan yang menancap, ia menghentakkan agar menarik serat-serat kulit kelapa tersebut. Begitu pula seterusnya hingga seluruh bagian kulit kelapa terbuka. Ntar tingal dicabik pake tangan. Mudah begitu kalau dilihat, tapi kalau dilakuin bakalan sulit karena ga biasa.
Andi kalah sama cewek dalam urusan buka kelapa.
"Nah gini caranya." Tangan Clara memberikan kelapa tersebut agar Andi yang mencabik kulit kelapa pake tangan. "Tingga dibuka pake tangan. Ditarik aja semua sampai bersih."
"Nanti dibuka, ya. liat aja yotube kalau ga bisa buka batok kelapa. Hahahaha." Clara pergi dengan tawanya.
Kalau buka batoknya Andi bisa. Kan tinggal diparangin sampe pecah. Nah, ini yang pali Andi suka. Setelah membuak batok kelapa, arinya diminum soalnya seger banget.
Gulai ayam menyerbak wanginya hingga ke teras rumah. Bau rokok Andi aja sampe-sampe hilang gara semerbak wangi gulai ayam kampung buatan Nenek dan Clara. Tidak lama kemudian, Clara keluar dari rumah.
"Aku balik dulu."
"Biar gue antar ... eh biar aku antar." Andi keceplosan ber-gue sama Clara. Clara mana biasa sama orang yang berlo-gue.
"Enggak apa-apa, gue bisa sendiri."
Clara terdengar lucu saat mengatakan kata gue. Logat minangnya bercampur dengan logat ibu kota yang kadang terselipkan dari kalimat Andi.
__ADS_1
"Hahaha ... lo lucu kalau begitu," ucap Andi.
"Biasa aja kok. Jadi ga antar aku?"
Andi merasa tertantang. Ia langsung mengambil motor GL yang serasa kaya Dilan lagi bawa Milea. Clara lagi-lagi menempelkan tangannya di pinggang Andi sembari duduk menyamping. Andi tersenyum, Clara yang deg-degan.
Sesampainya di depan gang rumah, Andi diminta untuk masuk ke rumah. Awalnya ia menolak, namun ia tetap menerima ajakan tersebut. Pasti bunda Clara ingin sekali bertemu dengan Andi, walaupun ia sendiri tidak ingat sama sekali bagaimana wajah bunda Clara.
Rumahnya sedikit mendaki. Motor GL yang sedang ia kendarai sedikit menjerit ketika menjajal jalanan aspal tersebut. Mereka benar-benar ada di kaki Gunung Singalang. Di kiri kanan berdiri rumah-rumah kecil beratap seng dengan halaman yang tak luas. Begitu sejuk, embun serasa mencarir tatkala menerpa wajah.
Hingga sampai di depan rumah, terlihat seorang lelaki tengah menunggu di atas motornya. Tentu saja, menunggu Clara tiba.
"Clara," panggilnya.
Andi sedikit canggung. Bisa jadi dia baru aja ngegonceng cewek yang udah punya pacar.
"Oh, Wahyu. Ada apa?" tanya Clara.
"Besok ada waktu ndak?" Pria tersebut turun dari motornya. "Kita bisa pergi."
"Clara mau pergi juga besok," balas Clara.
"Sama siapa?"
"Sama Andi." Clara menunjuk Andi.
Pria tersebut menatap sinis kepada Andi. Baru aja datang, eh Andi udah dapat musuh kayanya.
Salah gue apa ***? Sumpah gue ga tau apa-apa, teriak Andi dalam hati.
***
__ADS_1