Andi X Sarah

Andi X Sarah
66. Bersama Papa (SEASON 3)


__ADS_3

Andi senang sekali teman-temannya datang untuk menjenguk orangtuanya yang sakit. Bahkan, Kevin si preman kampung pun ingin mengunjungi mamanya Andi karena pernah diberi rantang makanan berisikan rendang. Untuk itu, Kevin membawakan buah-buahan sebagai penambah nutrisi agar mamannya Andi semakin sehat.


Kehadiran Papa di samping Mama membuat semangat tersendiri bagi Andi. Mamanya selalu sendiri tanpa kehadiran suami dan pulang hanya beberapa hari dalam sebulan, lalu kembali terbang ke luar kota. Hari-hari tanpa kekasih terkadang membuat Andi sedih. Ia sering merasa bersalah jika terlalu sering keluar rumah karena dirinyalah satu-satunya laki-laki di rumah tersebut.


Tiga hari dua malam Andi telah merawat Mama di rumah sakit. Pada malam ketiga, seluruh perawatan sudah dilakukan dengan baik dan diputuskan jika mamanya sudah boleh keluar dari rumah sakit. Bergegaslah malam itu mereka untuk bersiap-siap pulang.


“Terima kasih ya nak udah jagaian Mama,” ucap Papa waktu di luar rumah sakit.


“Iya, Pa. Itu tugas Andi sebagai anak laki-laki tertua.”


Keadaan mamanya Andi sudah membaik. Beliau hanya butuh beristirahat saja di rumah untuk seminggu ini, baru bisa beraktifitas seperti biasa. Andi turut merasa hampa lebih dahulu karena menyadari hari esok papanya harus pergi kembali ke Kota Padang.


“Apa yang harus kita lakukan hari ini? Papa besok harus pulang?”


` Papa menurunkan cangkir kopi yang ia seruput di ujung bibir.


“Ngapain ya Pa? Apa enggak masalah ninggalin Mama?”


“Itu … ada Aisyah dan Sarah. Mumpung masih siang ini,”


“Bagaimana kalau kita mancing, Pa?”


Papa menoleh cepat kepada Andi. “Hayuklah … Papa jadi teringat masa-masa muda waktu di kampung.”


Dengan segala persiapan mancing dan izin dari mamanya untuk pergi memancing, pergilah Andi bersama papanya dengan menggunakan motor butut Andi. Di rumah masih tinggal Aisyah dan Sarah. Mereka bisa menjaga Mama hingga sore nanti.


Kolam pancing faforit Andi menjadi tujuan destinasi mancing hari ini. Andi cukup sering ke sini karena dekat dari rumah dan ikannya juga terbilang banyak. Kalau mau mancing ke sungai, biasanya Andi pergi touring dulu sama papanya Sarah atau teman-teman kampus yang hobi mancing. Soalny, di Ibu Kota sulit sekali menemukan sungai yang cocok. Jikalau ingin memancing di laut, pancingan Andi tidak memungkinkan untuk hal tersebut.


Terdapat dua kolam pancing besar yang dijadikan spot pilihan. Kolam kiri dan kanan memiliki siraman ikan yang berbeda. Jika di sebelah kanan didominasi oleh ikan nila, sedangkan sebelah kiri didominasi ikan bawal. Untuk ikan besar dibagikan rata. Maka, mau pilih kiri dan kanan tergantung daripada pemancing itu sendiri.


Cukup tenang kolam pancing ini untuk berdiam diri. Ya … mancing sih mana ada orang teriak-teriak. Gimana mau keluar ikannya kalau orang pada libur.


“Ada ikan patin di sini, Andi?” tanya Papa.

__ADS_1


“Wah, ada dong. Tapi ya sedikit karena patinnya besar-besar. Di sini banyak ikan bawal.”


“Nah, moga aja dapet patin. Soalnya Papa beli ulat ini ….”


Papanya memperlihatkan ulat-ulat daun berwarna hijau yang gedenya hampir sebesar jempol orang dewasa. Andi pernah denger kalau pakai umpan itu bisa dapet ikan patin dengan mudah. Namun karena Andi lebih suka pakai umpan-umpan yang merakyat, Andi cuma pakai cacing dan pelet.


Umpan yang dilepas tercemplung di dalam air. Beriaklah gelombang kecil menuju tepian hingga terhempas memercikkan air. Kopi hitam pekat sudah dipesan dua cangkir dan datang diantar oleh mbak-mbak cantik. Andi paling demen nih yang beginian. Kalau ada kopi, maka harus ada rokok. Papanya Andi langsung nyebat nyantuy dengan isapan dalam rokok berat. Andi hanya bisa menelan ludah tatkala melihat betapa nikmatnya merokok sewaktu mancing.


Kalau gue ngerokok di sini, bisa mampus …. Akhirnya Andi tetap menahan selera candunya tersebut.


“Bagaimana kuliahmu?” tanya Papa.


Ya, Andi sudah menebak pasti pertanyaan itu akan hadir ketika mereka berdua. Kalau Mama, sudah hampir setiap hari nanya hal begituan sampai kuping Andi jadi panas, soalnya setelah itu mamanya marah-marah.


“Alhamdulillah, lancar ….”


Bibirny papanya menghembuskan asap rokok. Terbanglah asap tersebut menuju hidung Andi. Wangi cengkeh dari rokok Sulya bikin Andi ngiler. Soalnya, itulah rokok faforit Andi.


“Lancarnya gimana? Ramai lancar, lancar bersendat, atau apa?” tanya papanya kembali.


“Papa harap kamu cepat selesai ya, jangan kaya Papa dulu sampe semester dua belas. Lama juga tuh ditungguin mama kamu. Belum lagi setelah itu nyari kerja.”


Kenapa bisa papa gue selama itu ya? Padahal Mama orangnya cerdas dan katanya paling cepat tamat satu angkatan. Kayanya gobloknya gue turun dari Papa deh ….


Jadi pernah malam itu waktu ngumpul keluarga bersama, mamanya dan papanya saling sindiran masalah kuliah. Terkuaklah kalau mamanya merupakan orang yang cerdas di angkatannya dan tamat dengan hasil yang memuaskan. Bahkan, dia dari dulu ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, tetapi karena keadaan kondisi ekonmi pada saat itu, mamanya lebih memilih untuk pulang ke kampung.


“Iya Pa … Andi pasti usahain tamat di semester delapan akhir kok. Jadi, enggak bayar uang kuliah lagi karena cuma nunggu wisuda,” balas Andi.


“Kamu memang pengen jadi guru?” tanya papanya.


“Hmm … awalnya sih enggak … tapi mengajari orang berolahraga itu menyenangkan bagi Andi. Lagi pula menjadi guru olahraga enggak kaku-kaku banget kaya guru matematika. Mereka itu santai, setidaknya masih bisa berkontribusi ngasih pendidikan ke anak-anak.”


Pernah suatu waktu Andi bercerita mengenai kebimbangannya menjadi guru kepada Sarah. Andi berpikiran jika menjadi guru itu gajinya tidak akan sepadan dengan karyawan swasta seperti papanya. Dia pun jadi insecure jika ada banyak pria dengan pekerjaan mapan mendekati Sarah di masa depan. Andi mengira Sarah akan realistis saja untuk memilih pendampingannya esok hari. Ya, rumah tangga memang berlandaskan cinta, tetapi dibangun di atas tumpukan materi.

__ADS_1


“Baiklah kalau kamu pengen jadi guru, itu bagus. Setiap orang hebat di dunia ini pasti diajarkan oleh seorang guru. Jadi guru itu besar jasanya ….”


“Paling besar jasanya, tapi juga enggak dihargai sepadan dengan jasanya. Bayangin aja guru honorer yang gajinya kecil dan dibayar sekali tiga bulan sama perintah,” sanggah Andi.


Papa tertawa mendengar kritikan tersebut. Sering kali unggahan postingan efbi yang mengkritik di sisi itu.


“Apa pun kamu di masa depan, pastikan itu bermanfaat bagi orang lain. Kamu hidup di dunia ini atas kebermanfaatan, bukan dari berapa uang yang didapatkan. Coba lihat beberapa warga kaya di komplek, tapi mereka enggak pernah gotong royong, pasti enggak dihargain. Percayalah … jika kita itu ikhas dan penuh kerja keras, kamu enggak khawatir dengan hidup.”


Andi tertegun dengan kalimat tersebut. Ada sebuah makna yang bisa ia petik dari memancing hari ini.


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2