
Seperti meme spidermen yang saling menunjuk itu, begitulah yang terjadi pada mereka bertiga. Andi nunjuk Tasya, Tasya nunjuk Sarah, Sarah nunjuk ke Andi kenapa bisa nunjuk ke Tasya. Kaga ngerti juga gimana lagi konsepnya itu. Tentu saja Sarah terkejut melihat Tasya di hadapannya karena wanita itu salah satu orang yang dihindari. Kalau bisa nih. Tasya dibikin engak kenal lagi sama Andi.
Sesegera mungkin Sarah menggandeng tangan Andi.
“Eh lo?” Muka Sarah dibikin terlihat ngeselin.
“Lagi jalan berdua ya?” Tasya tersenyum lebar.
Emangnya gue lagi main motoran apa? Ya iyalah lagi jalan berdua!
“Lo sama siapa ke sini?” tanya Andi sambil risih sama Sarah yang mepet banget ke tubuhnya.
“Hmm … gue tadi sama temen gue berdua. Tapi dia disuruh beliin sarapan dulu sama papanya, jadi balik dulu sebentar ke rumah.”
“Oh ya udah ….” Sarah membuang wajah ke arah orang lain yang sedang berjalan.
Sempat Tasya merasa kenapa Sarah cuek banget, tidak seperti ketika mereka nongkrong bersama waktu itu. Tetapi ia memakluminya setelah mengingat kalimat Naila, bahwasanya Sarah itu memang orang yang cuek dan bodo amat sama orang baru sebelum Sarah benar-benar mengenalnya. Naila mengatakan itu karena ia dan teman-temannya berpengalaman dicuekin sama Sarah.
“Gue jalan lagi ya. Bye ….” Tasya melanjutkan langkahnya.
Sarah memastikan jika Tasya sudah jauh dari mereka atau belum, hingga melihat ke belakang, menunggunya tenggelam di antara puluhan orang berada di sini. Setelah Tasya benar-benar jauh, Sarah mencubit tanga Andi sampai sedikit berteriak karena rasa pedihnya.
__ADS_1
“Eh elo kenapa sih?!” Andi menggosok-gosok tangannya.
“Mata lo pasti ngelirik Tasya kan!” Wajah Sarah berubah sinis.
“Ya mau gimana lagi gue? Lihat pake punggung? Emangnya mata gue ada di siku nih biar gue kaya gini?” Andi memperagakan seolah-olah matanya ada di siku tangan. “Ya iyalah gue lihat dia pakai mata gue. Lo gimana sih!”
“Merem kek gimana kek biar lo enggak lihat Tasya.”
“Naujubillah nih huluk, heran gue! Elo kenapa sih kok protektip banget kaya emak gue lo lama-lama, makan es aja marah-marah dia.”
“Ya kan itu karena lo nanti sakit tenggorokan jadi wajar aja.” Sarah melanjutkan langkahnya ke depan, diikuti oleh Andi yang menyusul di belakang. “Pokoknya elo yang salah, ga ada pokoknya, titik ga pake koma.”
Kembali ke peraturannya, jika cewek yang salah, maka balik ke pasal pertama, cewek tidak pernah salah.
Mentari pun kalah dengan kehangatan bucin berdua itu. Para jomblowan dan jomblowati memproteskan diri kenapa mereka tidak kunjung mendapatkan pacar, sementara itu pasangan di luar sana tetap saja diperbolehkan memamer kemesraan. Pasangan suami istri yang lewat pun mengenang bagaimana mereka berdua pacaran dulu. Ada juga yang menggeleng karena mungkin aja waktu muda dulu dia masuk ke komunitas Indonesia Enggak Pacaran (IEP). Temen-temen Author banyak yang masuk nih ke komunitas itu dan Author sendiri diajakin join ke sana. Mau masuk, mau enggak, Author tetap aja jomblo dan tidak pacaran.
“Gue lapar,” protes Sarah sembari menarik jemari tangan Andi ke bawah.
Kalau Sarah masih mengeluh lapar, maka dia sedang baik-baik saja.
“Ya makan kalau lapar, malah protes ke gue.”
__ADS_1
“Mau makan di mana?” tanya Sarah.
Andi melihat ke sekitar, ternyata tidak ada mamang-mamang gerobak yang menjajakan makanannya.
“Balik ke taman kota aja. Di sana ada batagor dan lain-lain. Lo tinggal milih.”
“Gue mau lontong,” ucap Sarah dengan memelas.
“Tadi lo nanya sam gue mau makan di mana. Udah gue saranin ke taman kota, tapi lo mau lontong. Di sini tidak ada ibu-ibu penjual lontong … sayangku … cintaku.” Jemari Andi menjentik dahi wanita itu secara pelan.
“Yaudah gue mau somay.”
Sarah jalan duluan menuju ke gerobak mamang Somay Bandung Maknyus yang ada di dekat taman kota. Sesampainya di sana, Sarah memesan somay yang isinya campur dengan telur rebus dan sayur. Sementara Andi memilih batagor karena ia suka dengan makanan tersebut. Duduklah Sarah dan Andi di tenda non permanen milik penjual.
“Loh?” Andi menunjuk lagi seseorang di belakang Sarah, wanita itu berduduk saling membelakangi sehingga Sarah sendiri tidak sadar.
Dengan dahi mengernyit, Sarah pun menoleh ke belakang. Ia melihat Tasya sedang memegang garpu yang ditusukkan ke salah satu somay di piringya.
“Wah, pas banget nih. Makan bareng yuk.”
KENAPA SIH LOOO!!!!!
__ADS_1
Sarah merasa apes banget hari ini.
***