Andi X Sarah

Andi X Sarah
134. Persiapan KKN (SEASON 3)


__ADS_3

Berada berdua di bilik ruang kesehatan sedikit membuat Andi canggung. Tasya membersihkan luka sekaligus memberikan kain kassa untuk melindungi luka tersebut. Wanita itu berada di hadapannya sekaligus bercerita mengenai hari-harinya di kampus. Ternyata, Tasya mahasiswi yang aktif dengan segudang kegiatan menyibukkan, bagi Andi tentu saja kegiatan yang menyebalkan. Tidak ada kegiatan yang lebih asyik daripada ngopi di kantin sendirian. Wanita itu mengatakan jika Fajri merupakan salah satu ketua bidang di BEM Fakultas dan anak yang sudah Andi tarik ke WC itu juga anggotanya. Berkat itu pula Andi kalah telak berkelahi dengan Fajri.


Sudah banyak pengalaman berkelahi yang sudah Andi lakoni semasa SMA. Tentu saja ada menang dan kalah. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Andi untuk mengakui kekalahan karena tidak semua lawan yang setara. Ada pun lawan yang lebih lemah tidak pernah Andi terus-terusan mengganggu, apalagi lawan kuat sepeti Fajri. Sepertinya ia tidak ingin lagi berurusan dengan Fajri. Secara mental mungkin mereka sama kuat, tetapi teknik berkelahi tentu jauh lebih berpengalaman. Kick boxing selalu menang di pertarungan jarak dekat, apalagi tarung bebas seperti itu. Beruntung Andi tidak terkena luka berat akibat hal tersebut.


Tasya memukul luka di siku Andi.


“Elo sih nyari gara-gara sama senior gue.”


“Lah, salahin anak buahnya itu. Gue mah juga enggak pernah nyari masalah duluan. Lagian, Fajri sendirian yang ngajak gue kelahi ….”


“Sekali lagi gue lihat lo berurusan dengan Fajri, enggak gue tolong lagi,” balas Tasya.


“Lo kok bisa datang sih?” Andi heran kenapa Tasya bisa tahu perkelahian tersebut, padahal sudah di tempat terpencil dan dijaga oleh anggotanya Fajri.


“Itu Aulia bilang kalau lo lagi ditarik sama Fajri dan kawan-kawan. Tentu aja gue khawatir, mengingat Fajri itu orangnya agak ***** dikit. Ada orang yang natapin dia aja langsung ditantangin.”


“Fajri memang kuat sih, gue ngerasain. Masa gue bisa kalah gini,” kesal Andi.


“Ingat … lain kali jangan kelahi di fakultas. Kalau lo ketahuan sama dosen, bisa bahaya sih. Lebih bahaya lagi kalau senior gue tahu, bisa perang antar fakultas.”


Wajah Tasya berubah kecut. “Lah itu Rizky senior elo ….”


“Itu bagian senior yang enggak gue hitung. Dia aja takut sama gue, tadi itu aja kalau enggak ada Fajri, udah mampus dia di tangan gue. Sebelumnya dia juga pernah gue hajar di WC.”


“Kalian ini udah gede malah masih suka kelahi. Dasar cowok!”


“Gimana lagi? Menyangkut harga diri. Kalah ga apa, yang penting gue enggak diremehin,” balas Andi.


“Banyak alasan!”


Andi mengantar Tasya hingga ke muka mobil sekaligus berterima kasih. Walaupun tingkah Tasya terkadang aneh, ia harus bersikap baik untuk kali ini karena ia sudah menolong Andi. Setelah itu, Andi tidak ingin langsung pulang atau pun ke rumah Sarah, melainkan ke tongkrongan Anak Kodomo. Kalau langsung pulang, takut Mama Andi bakalan lihat anaknya yang habis kelahi. Kalau pulang sebelum magrib, dia bisa langsung masuk ke kamar dan mandi untuk membersihkan diri.


Tongkrongan Anak Kodomo hanya menyisakan Kevin dan Ajiz. Anak yang lain sudah pulang tiga puluh menit sebelum Andi tiba. Terlihatlah pembangunan warung Mas Momon yang termasuk cepat. Dinding batunya sudah berdiri, tinggal memasang atap. Masih segar dalam ingatan Andi jika warung itu pernah terbakar, parahnya lagi dibakar oleh para para Geng Beng itu.


“Waduh anak kampus baru aja pulang ….” Kevin memanjangi tangannya. “Salam dulu sama Papa.”


Andi hanya menepuk tangan Kevin. “Aduh … gue tadi abis gelud.”


“Bukan hal yang aneh kalau elo gelud sama orang, Bang,” balas Ajiz.


“Kevin, lo sebenarnya pernah kalah ga sih kelahi?” tanya Andi penasaran. Ia menyasar kopi hitam Kevin yang masih penuh, lalu menyulut rokok.


“Emangnya kenapa? Pernah sih … gue pernah kelahi sama senior Ali. Kalau dulu waktu gue masih cupu, gue ditatapin preman aja takut. Kalau sekarang, mereka yang takut sama gue.”


Andi menghela napas. “Gue abis kalah kelahi tadi. Senior jurusan sebelah, udah tua juga mukanya. Badannya juga lebih tinggi dari gue.”


“Ya elah, masalah fisik mah enggak ada hubungannya. Yang penting itu mental dulu.” Kevin menepuk lengan Andi. Tentu saja Andi kesakitan karena di dalam lengan panjang itu tersimpan luka yang sudah diobati oleh Tasya. “Lo tahu Ajiz yang secungkring ini aja bisa ngelawan Agus sampe Agus berdarah di hidungnya.”


“Nah bener tuh Bang. Gue mah mental aja yang gede, tapi fisik gue kaya debu diembus angin. Lihat nih tulang-tulang gue. Mungkin karena gue banyak tulang, pukulan gue jadi tajem, hehehe,” canda Ajiz.


“Sumpah Kevin, gue itu kalah telak. Urusan mental, mungkin kami sama imbang. Dulu aja gue berani nantangin elo kelahi. Tapi, dia itu punya teknik berkelahi. Kaya Kick Boxing di MMA gitu. Alhasil, gue kalah …. tapi sebenarnya gue kelahi lawan dua orang. Satu orangnya lagi gue bikin tumbang.”


“Lo itu enggak di SMA enggak di kuliah, selalu aja ada lawan. Lo ngapain aja sih? Kuliah aja yang bener biar pinter, biar kerjaannya enggak serabutan kaya gue.


Kevin udah kaya paling senior banget ngasih saran. Lah, dia sendiri yang nolak kuliah karena malas, bukan karena enggak mampu secara finansial.

__ADS_1


“Gue kalau kuliah mah yang bener kok. Tugas kuliah enggak pernah tinggal, cuma paling sehari sebelum ngumpul gue bikinnya. Tapi senior selalu aja nyari masalah sama gue.”


Kevin diam sejenak. Ia berpikir-berpikir, eh malah permisi pipis dulu di belakang pohon pisang. Takutnya nih si john milik Kevin jadi hilang setelah pipis di sana, soalnya pernah dibilang sama Mas Momon sebelumnya. Waktu dia datang, Kevin menepuk pundak Andi.


“Mungkin karena elo itu sendirian aja di fakultas. Gue akui elo itu keren dan sesame cowok biasanya punya prasangka sama cowok keren, kaya dibilang sok-sokan lah, dibilang nantangin lah. Coba deh berteman lebih luas lagi,” saran Kevin.


“Iya sih … gue temenan cuma sama wibu, enggak sama petarung.”


“Gue punya temen di Mapala, dia semester empat belas, mau di-DO katanya kalau enggak dikasih bonus give away satu semester lagi. Namanya Dedi, bukan dedi korbujer loh ya, tapi Dedi Oli. Soalnya dia anak Jurusan Teknik Mesin sering megang oli.”


“Terus, apa hubungannya sama gue?”


Kevin tertawa kecil. “Jaman-jaman elo belum ada di Kedai Pak Topoi tongkrongan lama elo itu, dia yang megang tempat itu. Saingan Anak Kodomo terberat. Dia juga saingan Bang Ali di Antophosfer. Imbang-imbang kayanya sama Bang Ali kalau kelahi ….”


“Oh gitu, ternyata dulu tongkrongan gue punya sejarah juga.”


“Nanti deh gue hubungin dia di IG. Soalnya dulu gue pernah nolongin dia, dia bilang kalau gue minta tolong tinggal bilang aja. Nanti lo datang ke dia dan bilang nama gue. Mana tahu lo butuh pertolongan kalau kelahi sama senior lagi.” Kevin tersenyum. “Siapa tuh nama temen lo itu? Ari?”


“Iya, Ari Kiting,” jawab Andi.


“Ya masa anak itu yang bantuin elo kelahi. Yang ada dia malah main rasengan-rasengan kaya wibu Naruto.”


“Oke … oke … bilang aja ke dia, sewaktu-waktu gue ada masalah ntar gue datang ke Bang Dedi Oli.”


“Kalau boleh tahu, siapa nama senior yang menang sama elo itu?”


“Fajri anak BEM. Gue tahunya itu.”


“Oh oke, sayangnya gue enggak ngampus di sana. Kalau gue di sana, gue kalahin aja dia dengan dua jari.”


“Sok hebat elo!”


Tidak terasa, Andi sudah mendekati hari ujian akhir. Laporan bersama tiga teman dekatnya itu pun sudah rampung sebagai laporan akhir semester. Laporan dari mata kuliah lain dengan rajin Andi kerjakan di malam harinya, terus siang harinya tidur sampe sore karena begadang. Perjuangan akhir semester seperti ini memang sudah biasa dilakukan oleh mahasiswa seperti Andi. Ia masih ada juga ujian tertulis atau pun lisan. Untuk itu, ia banyak duduk bersama Nabe dan Ari Kiting untuk berdiskusi. Mumpung Nabe ini paling cerdas di antara mereka, jadinya bisa belajar bareng.


Ujian dilewati memang tidak berdarah-darah, emangnya perang. Tapi, Andi selalu dilanda kecemasan akan nilai akhir. Ia melewati semester ini dengan sulit karena berbagai tugas yang segudang dan kuis-kuis terkadang tidak bisa Andi jawab dengan baik. Andi takut jika nilai semester ini malah anjlok dan bikin kecewa kedua orangtuanya. Paling minimal Andi berharap dapet nilai B aja, tidak muluk-muluk berharap dapat nilai A seperti Nabe dan Sarah yang ambis itu.


“Semangat ya Sayang, kamu pasti bisa ….,” ucap Sarah sembari merapikan baju Andi tatkala ujian mata kuliah terakhir dengan tulisan dan lisan.


Gelora Andi menggebu-gebu karena udah dapat ciuman mesra di pipi Andi sebelum berangkat ujian. Andi seperti ulti Zilong di game mobail lejen, lalu membara di atas motor supra geter modifikasi kaya ghost rider. Akhirnya, Andi pun berhasil melewati seluruh ujian, tinggal menunggu hasil akhirnya aja.


Group WA KKN Kita-Kita Aja


“Guys, proposal kita diterima tiga hari yang lalu. Gue lupa ngelihat email. Nanti kita zoom meeting buat diskusi singkat. Ada yang mau gue bilang ….”


Ujian memang sudah lewat, ternyata Andi harus menjalani masa KKN sebagai syarat untuk mendapatkan title sarjan nantinya. Salah satu tugas mahasiswa ialah pengabdian masyarakat. Tasya memberitahukan jika mereka mendapatkan tempat di Desa Maju Jaya yang berjarak delapan jam dari Ibu Kota jika memakai mobil. Tempatnya terpencil dan jauh dari kota. Satu hal tantangan untuk melihat suasana baru di pedesaan asri. Selain itu, desa itu merupakan desa binaan papanya Tasya yang bekerja sebagai anggota DPR.  Mereka bisa mendapatkan pengawasan sekaligus dari pihak papanya.


Mereka mulai bersiap-siap membeli apa saja yang mungkin dibutuhkan ketika KKN nanti. Tentu saja pertama yang dibeli itu keperluan pribadi. Andi dan Nanang sudah pasti sumbang menyumbang untuk membeli rokok satu slop karena hanya mereka yang merokok di anggota KKN. Rijek Ganteng memang merokok, tapi itu pun kadang-kadang, tidak seperti mereka yang candu banget. Andi juga pergi beli pakaian bersama Sarah untuk dipakai nanti. Namanya juga belanja, pasti Sarah juga rempong milihin baju yang cocok.


Tepatnya di akhir bulan ini mereka akan diantar menuju lokasi KKN. Andi sudah tidak sabar untuk merasakan sensasi KKN yang penuh kenangan oleh banyak pendapat senior.


Mumpung ujian sudah berakhir, Andi mau nyantuy-nyantuy dulu di kantin fakultas sambil makan siang. Kampus tampak sepi karena mahasiswa udah pada balik ke kampung masing-masing, Yang masih bertahan hanyalah para senior karena proses bimbingan skripsi tetap berjalan. Tasya menelpon di mana keberadaan Andi. Karena udah keceplosan di sedang di kantin, Tasya pun pergi ke sana.


“Andi … ikut sama gue yuk ….”


“Hah? Ngapain?” tanya Andi.

__ADS_1


“Ngukur baju buat elo.”


Andi heran kenapa dia harus diukur-ukur pula. “Baju buat apa?”


“Kita kan bikin baju khusus buat kelompok KKN dia. Anak cewek udah semua. Tinggal elo sama Nanang. Rijek udah jauh-jauh hari ngukur baju sendiri.”


Perasaan, Andi tidak mendengar jika mereka punya baju khusus. Eh ternyata hanya Andi yang tidak menyimak karena waktu zoom meeting Andi sambil main game valorant sama Felix di kamar. Kalau udah begitu, Andi pasti enggak konsentrasi mendengar seluruh arahan dari Tasya.


“Sarah kok ga bilang gue?”


“Ya mana tahu. Kan gue bilang ke kalian. Makanya kalau rapat itu nunjukin muka di zoom meeting. Bukannya molor!” sindir Tasya.


“Hehehe gue main game sama Felix soalnya.”


Mau tidak mau, Andi harus ikut bersama Tasya menuju ke tukang jahit. Sebelum masuk mobil Tasya, wanita itu memberikan kunci mobilnya kepadanya.


“Lah kok gue yang nyetir?”


Wajah Tasya berubah datar. “Lo ga gentle banget. Cowok dong yang nyetir, masa cewek.”


“Peraturan macam apa itu? Ga kesetaraan gender banget.”


“Sejak kapan lo jadi aktivis kesetaraan gender?” tanya Tasya.


“Ya udah … sini kuncinya.”


Untuk pertama kali Andi nyetirin Tasya. Untung aja pakai mobil jadi tidak kelihatan oleh orang lain. Kalau pakai motor, itu bisa bahaya. Namun, cewek sekelas Tasya mana mau dibawa pergi pakai motor butut Andi. Minimal motor bagusnya yang nganggur di rumah.


“Udah persiapan apa aja lo, Ndi?” tanya Tasya ketika di perjalanan.


“Apa ya? Kemarin gue beli rokok satu slop sama Nanang. Sarah juga ngajakin gue beli baju buat dipakai sehari-hari di sana. Lo udah pesiapan aja?”


Tasya menoleh pada Andi. “Gue? Ya sama … gue beli baju sehari-hari juga. Terus, beli stok skinker untuk sebulan lebih KKN di sana. Enggak banyak sih, yang penting-penting aja.”


“Cewek memang enggak bisa lepas dari skinker ya,” balas Andi datar.


“Iya dong … kan kita cewek juga butuh perawatan. Nanti di sana pasti panas-panasan waktu berkegiatan. Kulit gue nanti kebakar ….” Tasya memperlihatkan lengannya yang benjng itu.


Anjir … nih anak vampir atau gimana putih banget. Urat-uratnya aja kelihatan ….


“Untung gue cowok ….”


“Lah cowok itu malah beli stok rokok. Udahlah racun, tapi masih dibeli.”


Tidak Andi jawab, nanti malah debat masalah rokok. Debat rokok ini udah kaya debat baca qunut atau enggak di solat subuh, tidak ada ujungnya.


Tujuan mereka ialah ke salah satu plaza yang memang terkenal dengan jualan bahan kain dan baju. Di sana terdapat tukang jahit yang Tasya kenal dari papanya. Kata papanya, jahitan beliau termasuk bagus dan banyak pejabat yang bikin baju kepadanya. Oleh karena itu, Tasya memilih untuk bikin baju di sana karena kualitas yang mumpuni.


Sewaktu Andi ingin menarik rem tangan ketika parkir, tidak sengaja ia menggenggam tangan Tasya. Kebetulan sekali tangan Tasya lagi nyantol di sana dan Andi malah nyamber.


Mereka saling tatapan.


“Aduh … maap. Sorry ….”


“Iya ga apa kok.”

__ADS_1


Hanya senyum itu yang Andi lihat karena canggung di antara mereka.


***


__ADS_2