
Seperti biasa perkuliahan dipenuhi oleh jadwal padat seperti martabak penuh cinta yang isinya sampe tumpeh-tumpeh. Ada banyak makalah, laporan, serta teori yang harus Andi hapal agar mendapatkan nilai bagus di akhir semester nanti. Meskipun kapasitas diri Andi standar-standar saja untuk teori, tetapi ia berusaha dengan maksimal agar nilainya bisa membanggakan kedua orangtua. Ia selalu selalu saja dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang nilainya bagus. Pengen banget Andi ngedatengin itu anak cowok kemayu itu dan bikin dia nangis karena ditatapin terus sama Andi.
Mereka bertiga sekarang sedang duduk di gazebo fakultas yang ada di taman belakang. Ada Ari Kiting, Nabe, dan dirinya yang sedang mengerjakan tugas laporan bareng. Pantas saja Ari Kiting semangat untuk mengerjakan tugas karena ada Nabe bersama-sama mereka. Biasanya, ia selalu menunda-nunda mengerjakan tugas. Apabila tugas tersebut dikerjakan secara berkelompok, pasti akan banyak alasan untuk berkilah biar dia kebagian materi yang sedikit.
Waktu itu ada pembagian kelompok untuk mengerjakan laporan. Dikarenakan kelompok bisa memilih sendiri dengan tiga orang per kelompok, Nabe langsung melihat ke belakang, tepat kepada Andi dan Ari Kiting. Langsung deh Nabe memilih mereka berdua karena pasti nurut kalau disuruh ini itu. Nabe itu tipe-tipe mahasiswa yang suka meng-handle tugas kelompok. Daripada kebagiaan sama anak cewek yang Nabe sendiri tidak akrab dengan mereka, Nabe pun memilih kedua teman pria vangsatnya itu.
Di kala Andi dan Nabe serius mengerjakan bagian mereka di laptop masing-masing, mata Ari Kiting sibuk pula melirik-lirik ke arah Nabe. Nabe seperti biasanya selalu memakai pakaian yang menggoda, sampai-sampai para senior tidak berkutik kalau Nabe lewat di hadapan mereka.
Andi menendang kaki Ari Kiting secara diam-diam hingga ia kembali fokus dengan bagiannya.
“Lo udah putus sama cowok elo ya Nabe?” tanya Ari Kiting.
Nabe menoleh kepada Ari Kiting. Lentik bulu matanya saat bergerak terlihat sangat menarik. Belum lagi kancing keduanya yang sedikit menampakkan bagian daleman Nabe.
“Iya, lo kok tahu?” tanya Nabe.
“Gue ngira aja, soalnya kemarin si Rizky jalan sama cewek lain. Meskipun gue juga sering mergokin dia jalan sama orang lain, tapi sekarang Rizky udah posting cewek itu di Instagram,” balas Ari Kiting.
“Iya gue udah putus. Sekarang gue lagi nyari cowok.” Tatapan Nabe mengarah kepada Andi. Andi pura-pura enggak lihat.
“Itu sih elo udah gue bilangin dari dulu kalau Rizky itu fakboy. Lo mau aja sama dia. Andi juga udah memperingati lo kalau Rizky sering jalan diam-diam sama cewek lain.”
“Gue dulu itu buta. Gue salah satu cewek yang udah ditipu sama dia.”
Ari Kiting menutup laptop, sepertinya dia sudah mulai bosan dengan berkutat di hadapan tugas. Berbunyilah kripik kentang yang dibeli oleh Nabe ketika Ari Kiting buka dengan brutal.
“Jadi sekarang lo udah deket sama siapa lagi? Biasanya cewek kaya elo banyak yang nangkring,” tanya Ari Kiting.
Ujung kaki Nabe bergesek ke kaki Andi dengan lembut hingga bulu kuduk Andi bergidik tegak.
“Ada sih, dia udah main ke kosan gue. Cuma deket-deket aja gitu, kaga pacaran. Dia masih malu-malu.”
“Uanjir main ke kosan. Padahal dari dulu Andi pengen banget main ke kosan elo, malah keduluan orang lain.”
__ADS_1
Mata Andi langsung melotot ke Ari Kiting yang frontal sekali mengatakan candaan mereka sehari-hari. Soalnya dari belakang pun mereka berdua sering berangan-angan dengan Nabe, walaupun dalam konteks candaan para pria.
“Lah beneran Ndi? Main aja ke kosan gue,” rayu Andi.
“Lah giliran Andi elo bolehin, giliran gue kaga mau. Cewek memang mandang fisik,” cibir Ari Kiting.
“Pembicaraan macam apa ini.” Andi menggeleng-geleng. Jemarinya kini mengambil kripik kentang yang ada pada Nabe. “Cewek itu mandang duit, bukan ganteng. Seganteng apa pun cowok elo kalau gembel, sama aja bohong. Mending jelek tapi duitnya banyak, bisa naik bum-bum ke mana-mana.”
“Nyindir gue?” tanya Nabe. Ia sadar kalau ciri-ciri itu sangatlah erat dengan Rizky.
“Kurang lebihnya gitu. Hehehe ….”
“Kamu ini ….” Nabe mencubit lengan Andi.
“Udah pakai kamu-kamu aja nih,” sindir Ari Kiting.
Sesi belajar kelompok mereka berakhir. Ari Kiting sudah lebih dulu pulang karena ia harus main warnet. Ari Kiting memang suka main game PC di warnet. Tinggalah Andi dan Nabe berdua di gazebo belakang.
“Lo pasti enggak mau kalau gue ajak makan siang berdua,” ucap Nabe dengan terus terang.
“Tapi lo mau diajak makan Tasya di kantin? Gue ngepergokin lo. Apa bedanya gue sama dia?”
Andi menoleh kepada Nabe. “Kemarin itu katanya ada Naila. Terus gue diajak buat makan bareng. Ternyata Naila enggak bisa karena dia sedang ada rapat organisasi mendadak.”
“Oh gitu, okelah ….” Nabe berdiri sembari menyandang tasnya. “Gue balik dulu ya.”
“Iya ….”
“Anterin ….”
“Bodo!”
Andi mengikuti Nabe dari belakang karena mereka sama-sama ke parkiran motor. Dari belakang, lenggak-lenggok langkah jalan Nabe tidak luput dari lirikan mata Andi. Namun, waktu di belokan koridor fakultas, ia melihat wanita sedang berdiri di depan pintu lobby. Ternyata itu Sarah. Bahkan, Nabe sempat memanggil Sarah dan mereka saling melambai.
__ADS_1
“Loh, Sarah lo kok ke sini?” tanya Andi dengan heran.
“Aneh ya kalau gue ke fakultas pacarnya sendiri?” tanya Sarah balik seperti biasa.
“Ya enggak ada yang aneh, tapi lo tumben-tumbenn aja.”
“Pasti lo takut kan ketahuna sama fans-fans cewek lo di fakultas ini?” tanya Sarah lagi.
“Apaan sih?”
“Lo kok ga bilang sih kalau pergi ke ulang tahun Tasya sama gue?”
Andi diam sejenak, padahal dirinya minta izin untuk pergi ke ulang tahun seseorang. Tapi waktu Andi tanya apakah Sarah penasaran dengan siapa orang itu, Sarah malah ngebiarin Andi tanpa bertanya balik . Oleh karena itu, Andi mengira Sarah tidak akan masalah apabila Andi pergi ke acara siapa pun.
“Kan gue minta izin ke elo dan bahkann gue ajakin elo. Lo aja yang enggak mau.”
“Tapi elo kok ga bilang itu Tasya?” tanya Sarah.
“Kenapa emangnya kalau Tasya?” tanya Andi lagi.
“Lo makan berdua sama dia di kantin?”
Dahi Andi menyerngit karena heran darimana Sarah tahu kalau dia pernah makan berdua dengan Tasya. Tidak mungkin Nabe memberitahukannya karena ia tidak terlalu kenal dengan Sarah.
“Kemarin itu harusnya ada Naila. Tapi dia lagi enggak bisa tiba-tiba. Jadinya kami harus makan berdua.”
“Kan bener lo makan berdua!” Sarah berbalik diri dan tidak mau menghadap ke Andi.
“Sar, lo kenapa?”
“Gue enggak suka kalau lo makan berdua sama cewek!” Sarah membuang wajah lagi. “Jangan lihat gue. Gue ngambek!”
“Sar, gue enggak ada maksud mau makan berdua sama dia kok. Dia bilang ada Naila, karena bertiga jadinya gua mau.”
__ADS_1
“Enggak, gue ngambek!” Sarah langsung pergi tanpa meninggalkan jawaban pasti.
***