Andi X Sarah

Andi X Sarah
27. Teman


__ADS_3


Teman



"Bagaimana kalau gue yang nembak elo ...."


....


HAAAAAA??????


"Demi upilnya neptunus, gue ga bakalan mau sama lo. Ya allah lo kenapa, sih."


Andi balas tertawa. Kalau cewek Sarah cewek biasa, bisa langsung klepek-klepek. Untung aja dia setengah darah huluk dan menjadikan dirinya cewek luar biasa.


"Siapa yang mau sama lo?" tanya Andi. "Gue Cuma ngetes, lo normal atau enggak."


"Trus gue ga normal gara nolak lo?"


"Kalau untuk spesies kaya lo, itu sih normal." Mata Andi menatap lurus kepada Sarah. Ia mengusap rambutnya perlaha. "Lo mau balas dendam? Kita buat Pram cemburu."


Wajah Andi mendekat ke wajah Sarah. Ia memerengkan kepalanya. Bau semerbak yang menggoyah menyeruak ke hidungnya. Ia rasakan sensasi berbeda saat merasakannya. Ingin rasanya terbang mengudara hingga jatuh ke lautan senja yang tak bertepi. Begitu pula Sarah, ia menikmati setiap detik momen yang tercipta. Kini ia tak berdaya, ia pasrah.


Ternyata mereka cuma nyium bau soto di warung sebelah pagar sekolah. Harum banget ampe sensasinya kaya begituan.


"Anjir, jadi lapar gue," ucap Sarah ketika mencium bau kuah soto yang harum banget.


"Kode atau apa nih?" tanya Andi. Ia tersenyum kecil pada Sarah.


Tinju Sarah melayang lembut ke bahunya. Senyum yang sedari ia tunggu akhirnya mekar juga. Sarah bisa terhibur dengan semerbak wangi kuah soto.


"Bel pulang setengah jam lagi, gimana mau ke sana?"


Andi meraih tangan Sarah dan membawanya lari ke pagar yang agak rendahan dikit. Ceritanya Andi mau ngajak cabut Sarah, kan ga mungkin Sarah manjat pagar yang tiga meter tingginya. Kan ga mungkin juga Andi ngelempar Sarah pake ketapel angry birds buat nyampe ke sebelah pagar. Tapi, resikonya di daerah pagar yang agak rendahan, bakal banyak orang yang ngelihatin mereka cabut.


"Gua kasih tau surganya anak SMA." Andi memanjat pagar dan menjulurkan tangannya untuk disambut oleh Sarah dari bawah. "Sesekali kita harus keluar dari zona nyaman biar hidup lebih berwarna."


"Jadi ceritanya lo ngajakin gue cabut? Dasar lo! Gua bilang ntar ke guru BP."


Andi tertawa. Untuk sekarang, semua ancaman yang begituan udah ga mempan. Soalnya setan di diri Andi udah banyak banget.

__ADS_1


"Bilang aja ... bilang juga gua ngerokok di WC ... bilang juga gua ga masuk sekolah gara main warnet. Guru ga heran lagi kalau gua kaya gitu."


Sarah menjadi tidak enak hati dengan kalimatnya tadi. "Ya, maap. Ga usah ngegass gitu juga kali."


"Lo mau atau enggak?" tanya Andi untuk menyakinkan.


"Ntar ada guru yang lihat, gimana?" tanya Andi.


"Ga bakalan. Gua udah jadi ahli cabut."


Akhirnya Sarah mengiyakan ajakan dari Andi. Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun ia hidup di bumi tercinta ini, ia merasakan bagaimana deg-degannya ketika cabut manjat pagar. Cabut, sebuah kata yang paling ia benci dari anak cowok, sekarang ia malah melakukannya sendiri.


"WHOOUUUU!!!!!!" teriak Sarah kuat-kuat saat mendarat ke sebelah pagar.


Mata Sarah mengarah lurus ke warung soto. Dia terdiam tidak menyangka. Ternyata ramai banget. Namun, orang-orang yang ada di warung pada lari semua sewaktu menyadari kalau yang baru aja lompat dari pagar adalah Sarah. Ternyata eh ternyata seluruh pengunjung warung sotonya adalah para siswa SMA mereka. Pantes aja mereka lari waktu nyadar Sarah yang datang.


"Anjir, pantes aja sekolah sepi. Mereka semua ke sini." Sarah berdecak kagum. "Tapi, mereka kok lari, ya?"


"Eh nyadar lo, Sar. Dulu lo benci banget sama yang namanya cabut. Makanya mereka lari." Andi lari ke warung untuk menyakinkan para makhluk-makhluk cabut itu buat tetap tenang.


"Woi, gua yang ngajak Sarah ke sini. Jangan lari, dia ga bakalan ngadu. Biar dia ngerasain bagaimana sisi lain dari sekolah kita."


Hanya derap langkah Sarah terdengar. Semuanya pada diam, termasuk penjaga warung. Dia aja heran kenapa yang ngedatangin warungnya pada diam semua.


"Beri Sarah seporsi!!!!" kata salah satu siswa yang sering kena aduin sama Sarah.


"Iyaa ... beri rokok juga!!!!"


Yang satu ini kena bogem sama si Andi.


Hati Sarah gembira banget, ternyata inilah sisi lain dari kehidupan sekolah yang selama ini ia rasakan. Selama ini ia hanya terpaku dalam belajar dan belajar, kadang juga sibuk sama organisasi OSIS yang ia pimpin. Belum lagi ngurusin semua anak laki-laki yang bandelnya minta ampun. Ternyata ada yang lebih berwarna dari semua itu.


Senyumnya jatuh kepada Andi.


"Andi, thanks ya udah ngajak gue ke sini."


Andi tertawa melihat ekspresi Sarah yang begitu gembira. Soalnya dia kan baru pertama kali cabut.


"Jadi, sekarang lo ga boleh sepenuhnya nyalahin kami yang cabut. Kadang sekolah ngebiarin kita jadi semak di sekolah tanpa ngapa-ngapain kaya tadi. Bosen tau! Apa salahnya pulangin kita, kek."


"Baideway, tiga cecunguk temen lo itu di mana? katanya di sini."

__ADS_1


Astajim, bener juga. Mereka di mana? tanya Andi dalam hati.


Tidak lama kemudian, datangnya sebuah pesan LINE dari Felix.


Felix: Ndi, kami lagi diproses sama guru BP.


"Kan, ketahuan!!!!"


Mereka ternyata ketahuan cabut.


Panik menjadi salah satu pilihan Pram sewaktu Raisa mengingatkan jadwal jalan mereka malam nanti. Kepanikannya belum terhentikan walaupun udah beberapa batang rokok yang udah dihabisin sekali duduk di kedai Mas Momon. Kevin dan lainnya masih beradu sama batu domino mereka. Berkali-kali batu dihantam untuk mempertaruhkan sebungkus rokok di meja.


"Gimana lo dengan Raisa?" tanya Kevin tanpa menatapnya. "Jadi ga balikan? Trus sama adik kelas itu gimana? Kalau Sarah gimana?"


Tawa Revin meledak saat Kevin ngegass Pram dengan nyebutin cewek yang lagi dekat dengannya satu per satu. "Hahahaha ... orang ganteng bebas mau deket sama banyak cewek."


"Pram," panggil Kevin.


"Apa?"


Matanya serius menatap wajah Pram. Kevin memang gitu orangnya. Kalau ada lagi yang ga beres, dia yang paling peka dari yang lain.


"Gua tau lo ganteng, kaya, pinter lagi. Kita ga dapet cewek, lo udah punya lima cewek. Kita masih pake motor, lo udah bawa mobil ke sekolah." Jemarinya menyelipkan sebatang rokok di bibir dan menyulutnya. "Tapi, bukan berarti lo bisa mainin cewek semau lo."


Pram seakan disentak oleh kalimat Kevin. Ia menghabiskan hisapan rokok terakhirnya.


"Tau apa lo tentang gua?" tantang Pram.


"Kita udah temenan sejak dulu. Semuanya tau tentang lo. Lo tau gua suka ceplas-ceplos gini, walaupun sama temen sendiri."


Permainan domino terhenti sejenak. Suara ngebass dari Kevin membuat suasana jadi dingin. Semuanya pura-pura mainin hape biar jadi ga salah tingkah.


"Bukan gua yang deketin mereka, mereka aja yang mau sama gua," balas Pram. Ia tak ingin kalah.


"Tapi lo malah manin mereka ... ga kasian apa? Lo jalan sama cewek trus lo tinggalin. Lo pacarin anak orang, lo bawa sana sini, lo manfaatin dia, semua itu cuma buat kesenangan lo." Meja dihentak dengan keras. Semua terkejut melihat aks tiba-tiba dari Kevin. "Lo ga ada bedanya sama Raisa yang suka mainin cowok. Kalian memang serasi."


Emosi Pram tidak tertahan lagi. Ia tidak peduli jika yang ia lawan itu adalah Kevin, seorang teman yang dijadikan panutan oleh mereka.


Ia memegangi kerah Kevin dengan keras. "Jangan bawa-bawa nama Raisa di sini. Gua ga suka itu."


Pram mendorong Kevin hingga terduduk di kursi domino. Kevin tidak melawan, ia biarkan Pram melangkah pergi meninggalkan tempat tongkrongan mereka. Ia juga meminta teman-teman yang lain agar tidak terpancing emosi.

__ADS_1


"GUA BEGITU KARENA GUA TEMEN LO!!!" teriak Kevin dari kedai saat Pram memasuki mobilnya.


***


__ADS_2