
Senja
Andi men-dribble bola basket sejauh yang ia bisa. Lawannya kali ini terasa begitu tangguh. Postur tubuhnya hampir sama dengan dirinya. Sulit baginya untuk melewati orang seperti itu. Kelincahannya juga tidak bisa dianggap enteng, Memet memanglah pemain basket di sekolahnya.
Pikiran Andi tak hanya berkutat dengan permainan yang sedang dimainkan. Setiap gerakan tubuhnya menyiratkan sebuah pemikiran buah tangan kejadian hari itu. Pengakuan itu terasa begitu ringan ia ucapkan. Seakan tak ada penghalang berarti yang mampu menahan. Namun, pernyataan mengejutkan yang ia sampaikan mengakibatkan perih yang masih terasa hingga sekarang.
Lo orang pertama yang nolak gua, Sarah ....
Selama ini terlalu mudah baginya untuk mendapatkan hati seseorang. Sekali mendekat, ia sudah berhasil melangkah untuk mengambil hati wanita. Namun, sekarang berbeda. Ia bukanlah wanita biasa yang begitu saja bisa untuk ditaklukkan. Ia ialah wanita tangguh yang memiliki hati sekeras baja yang sulit untuk diluluhkan.
"Gue kira lo bakal diterima dengan wajah setampan itu. Tapi yang lo hadapi itu ialah Sarah, cewek huluk yang pernah buat gue pingsan dengan sekali tendangan." Memet merebut bola dari tangan Andi.
"Cinta memang selucu itu, ya? Ga bisa ditebak kapan datangnya," balas Andi sembari bertegak pinggang melihat bola meluncur di ring basket.
"Lo terlalu meremehkan kedekatan lo sama Sarah. Akhirnya lo sendiri yang luluh, kan? Dulu sok bilang Sarah itu jelek, Sarah itu dadanya tepos, tapi lo tetep suka sama dia."
Andi tertawa mendengarnya. Kali ini ia tidak dapat mengelak. Hal tersebut memang benar adanya.
"Betewe, lo ngapain ke sini? Tumben main ke rumah gua?" tanya Andi.
"Tami ada di rumah ga?" balas Memet.
"Dia lagi ke rumah sakit jagain Sarah." Andi melakukan gerakan lay up sempurna. Ia berhasil menyamakan kedudukan kali ini. "Kok nanyain dia? lo suka sama dia?"
"Enggak, kok. Salah ya gue nanyain dia? dia kan juga temen masa kecil gue."
"Ah, lo jangan ngelak deh." Andi berusaha mendekati Memet. "Eh, tau ga? Tami itu bocah yang dulu suka ngompol kalau kita main kejaran. Trus dia nangis gara kita ledekin. Dia bocah yang kalo main keluar selalu pake singlet kolor, kolornya warna pink polkadot. Sampai sekarang juga dia make itu."
"Lah, lo kok tau kolornya sampai sekarang?"
"Hahahahaha ... dia sering mandi di kamar gue. Air di rumahnya sering bermasalah. Kolornya sering ketinggalan."
__ADS_1
Kemilau cerahnya cahaya senja membayang di garis wajah Tami. Mata Tami memicing tatkala berusaha menatap matahari yang menguning. Betapa indahnya senja yang memanjakan ini jika dinikmati dari atas. Seakan menyambutnya untuk mengarungi udara yang berhembus.
Teringat kembali perkataan Andi dua hari yang lalu. Pengakuan yang membuat Tami melepaskan sentuhan tangannya dari Andi. Benarkah itu memang dari isi hatinya? Atau sekedar kenaifan yang berusaha menguasai setiap gerak bibirnya?
Jadi, kamu anggap aku ini apa? tanya Tami dalam hati.
Sarah sudah siap untuk sekedar berkeliling rumah sakit. Dua hari sini sangatlah membosankan. Lagi pula nanti malam ia akan kembali lagi ke rumah.
"Lo bakalan bawa gue keliling pakai kursi roda," pinta Sarah. Ia melangkah perlahan ke kursi roda. Kakinya tidak cukup kuat berjalan karena luka dan bengkak akibat dari kecelakaan waktu itu.
"Dokternya ngizinin kamu buat jalan-jalan?"
"Gue smekdon kalau dia ga ngasih izin. Lagian badan gue sehat-sehat aja. Kaki aja yang masih sakit."
Kursi roda Sarah bergerak menuju taman rumah sakit yang kata dokternya sedang bermekaran bunga matahari di sana. Masih dengan jarum infuse yang tertancap, Sarah membuka tangannya lebar-lebar karena begitu senangnya melihat dunia luar setelah dua hari terkurung di kamar inap tersebut. Ia menghirup udara senja dalam-dalam seakan itulah napas terakhirnya.
Bunga matahari menguning cerah di sana. Batangnya agak condong ke barat seakan ingin ikut membenamkan diri untuk menyambut malam. Belaian dari para serangga memanjakan setiap bunga yang menganga lebar, menunjukkan betapa indahnya dirinya.
"Aku baru pertama kali lihat bunga matahari," kata Tami sambil menyentuhnya.
"Bukannya itu bagus karena kamu bisa nanam banyak bunga matahari lebih banyak lagi?"
"Gue kecewa ... soalnya waktu itu gue berharap kalau bunga matahari bisa ditanam dan mekar dalam waktu yang sangat lama."
"Hahahah ... maklum aja, waktu itu kamu masih kecil." Tangan Tami kembali mendorong Sarah ke tempat yang lebih terbuka. "Ngomong-ngomong, kamu kok nolak Andi? Kurang apa lagi Andi itu sama kamu?"
Tawa Sarah seketika keluar. Ia merasa lucu kenapa setiap orang menganggap Andi adalah sosok yang sempurna. Pria tak bercelah sedikit pun seakan dirinya ialah sosok pria idaman di drama Korea. Ia selalu menatap Andi dengan kacamata yang berbeda.
"Lo tau ga alasan gue deket sama Andi?"
"Apa?"
"Gue cuma ingin ngelihat Andi jadi sosok yang berbeda dengan biasanya. Sosok Andi yang baik. Sosok Andi yang ga pernah dimarahi guru. Sosok Andi yang cerdas. Sosok Andi yang disenangi siapa saja."
"Maksud kamu Andi itu selama ini ga baik?" tanya Tami. Ia duduk di sebuah kursi besi di taman.
__ADS_1
"Bukan itu maksud gue. Lo ga tau seberapa menderitanya Andi karena ulahnya dan teman-temannya. Selalu dimarahi guru, selalu dipanggil orangtuanya, nilainya selalu buruk. Dan bahkan, banyak teman-teman dan kakak kelas yang membenci Andi karena Andi terlalu populer di sekolah. Di balik senyum yang selalu Andi pancarkan, sebenarnya ada tangis yang ia sembunyikan. Bahkan, ketiga temen bangsatnya itu ga tau sama sekali. Cuma gue yang tau."
"Yang aku tahu Andi itu anaknya periang banget. Selalu buat temen-temen di sekitarnya bahagia."
"Iya, gue ngerasa kaya gitu juga. Cuma waktu itu, guru sedang marah besar sama Andi karena PR-nya salah semua. Padahal dia ngerjain sendiri. Sedangkan ada salah satu murid yang lupa bikin PR dan ga dimarahi sama sekali karena dia adalah anak paling pintar di kelas."
Tami sama sekali tidak tahu mengenai masalah ini. Selama ini Andi tidak pernah bercerita walaupun seberapa dekat dirinya dan Andi.
"Wah, parah banget pilih kasihnya," balas Tami.
"Murid itu adalah gue. Andi nangis dan keluar dari kelas. Karena merasa bersalah, gue ngikutin dia dan mendapati dia lagi nangis sendirian di WC. Di sana Andi ceritain semuanya kalau dia bosan dimarahi guru. Dia ga suka kalau kakak kelas sering ngelabrak Andi. Dia iri ngelihat gue yang selalu dipuji guru. Sejak saat itu dia memilih jadi berandalan aja sekaligus karena seberapa besar pun usahanya untuk terlihat lebih baik tetep aja ga pernah dihargai oleh siapa pun.
"Aku sama sekali ga tau ini. Ternyata Andi menyimpan sedihnya selama ini."
Sarah bergocang tatkala kursi rodaya didorong oleh Tami. "Sejak saat itu gue mau ngerubah dia."
Matahari semakin menyembunyikan dirinya di ufuk barat. Bayang-bayang rembulan memancar lemah keputihan di antara awan-awan emas. Pasukan bintang terlihat bersiap untuk bergabung dengan harmoni malam. Sarah tersenyum betapa indahnya senja kali ini. Sudah lama dirinya tidak melihat senja yang seperti ini.
Papa Sarah tak kunjung tiba untuk menjemputnya. Malam ini ia akan kembali lagi ke rumah tercinta. Tubuhnya juga terasa lebih baikan dari sebelumnya. Setidaknya ia bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Hanya saja luka dan bengkak pada kakinya masih menghambatnya sedikit.
Tami sibuk membantunya untuk mengumpulkan barang-barangnya. Wanita itu cukup rajin. Sarah mengira jika cewek yang kulitnya bersih dan mulus seperti Tami ialah hasil bermalas-malasan di rumah. Berbeda sekali dengan kulit Sarah yang kaya knek angkot persimpangan. Maklum, setiap hari berlatih taekwondo dan karate.
Mata Sarah mengarah kepada Tami.
"Tami," panggilnya.
"Iya? Bentar lagi dokternya datang buat lepasin infuse kamu itu. Sabar ya ." Tami tetap fokus mengumpulkan barang-barang Sarah.
"Waktu itu Andi pernah bilang kalau setiap cewek yang dekat dengannya pasti bakal jatuh cinta. Dan saat itu gue cuma ketawa ngelihat betapa pedenya dia."
"Oh, ya?" tanya Tami tanpa balas menatap.
"Dan ga lama kemudian, gue termakan kata-katanya itu. Gue beneran jatuh cinta sebelum Andi merasakan hal yang sama."
***
__ADS_1