Andi X Sarah

Andi X Sarah
6. Di Kantin (SEASON 2)


__ADS_3


Di Kantin



Di pagi indah dengan keributan kelas dan kerecehan humor anak meme di belakang. Andi terbangun dari tidur sejenaknya. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain melanjutkan tidur karena tadi ia dapat giliran penjagaan ronda RT. Andi ngegantiin papanya, kan setiap minggu ada giliran ronda buat para masyarakat di RT-nya.


Satu hari ini bakalan membosankan karena pelajaran MTK yang waku yang lebih dari biasanya. Ditambah lagi dengan pelajaran tambahan untuk persiapan menghadapi ujian akhir. Dendrit otaknya Andi yang agak pendek, enggak bisa menghadapi kenyataan ini. Lelah katanya.


Sayup-sayup Andi menatap adik kelas yang datang menghampirinya. Wajahnya yang imut jelita membuat menjadi lebih segar. Jilbab yang dikenakan dan riasan yang dipoles, mengingatkan Andi kepada Nissa Sabyan yang suaranya bikin Andi pengen cepet-cepet ngedatangin orangtuanya. Sumpah Nissa Sabyan itu makan apa ya kok bisa secantik itu, ini curhatan author.


"Bang Andi, kan?" tanya adik kelas itu.


"Enggak, ini pacarnya kamu." Andi mulai nih.


"Khmmm ....." Suara itu terdengar dari balik jendela.


Ditatapnya jendela ternyata sudah ada Sarah yang ngintipin.


"Pacaranya siapa?" tanya Sarah. "Awas lo ya!"


"Eh ... kan gue becanda kali!" balas Andi.


"Gue boleh bicara enggak, nih?" tanya adik kelas yang mulai enggak enak.


Andi mengangguk. Kali ini ia memasang wajah serius.


"Gini, Bang. Sekolah merekomendasikan abang sebagai kakak pembimbing bagi anak kelas 10. Ini suratnya." Ia memberikan surat itu kepada Andi. "Besok datang ke aula buat diberikan pelatihan dan pengenalan kepada adik-adik bimbingannya."


"Lah, kok bisa gue sih?" Andi membuka surat itu dan melihat wajahnya ada di antara teman-teman satu angkatan yang terdaftar sebagai kakak pembimbing.


"Ya mana tahu gue, Bang. Gue kan cuma nganterin ini."


"Lo mau adik-adik bimbingan lo gue ajak ke jalan yang enggak lurus, cabut, ngerokok, dan sebagainya. Kan gue berandalan. Tapi kalau ngebimbing lo, gue mau sih."


-__-


Adik kelas itu menunjuk jendela. "Mungkin abang bisa tanya ke Kak Sarah."


Sudah dipastikan bahwa rencana ini pasti akal-akalan Sarah. Soalnya perwakilan dari kelas cuma mereka. Perkataan Sarah pasti didenger sekolah karena dia mantan ketua OSIS. Sekolah pasti percaya aja semua saran dari Sarah.

__ADS_1


"Kerjaan lo kan, Sar?" tanya Andi sembari berbalik diri ke arah jendela.


"Kenapa? enggak boleh?"


Kan ngegass, kan ... kenapa gue suka sama cewek yang suka ngegass, sih!!!!!!


"Yaudah ... yaudah, deh. Kalau untuk lo, gunung Merapi aja mau gue belah," balas Andi dengan kesal.


"Nah gitu, dong." Sarah tertawa kecil. "Sok ngebelah gunung. Gue ajakin jogging, lo udah serasa mau mati."


Suasana hati Andi jadi agak berantakan karena mendengar berita bahwa dirinya dijadikan salah satu kakak pembimbing oleh Sarah. Padahal dia malas banget kalau berurusan dengan bimbim-membimbing. Dianya enggak bisa bimbing diri sendiri, malah mau bimbing adik kelas pula. Malah jadi salah jalan, ngikutin jalan setan yang Andi tempuh.


Ia tidak menemukan ketiga temannya itu. Terpaksa Andi sendirian ke kantin tanpa bisa ngapa-ngapain. Mau ngerokok di wc, dia enggak punya rokok. Mau minta sama adik kelas, dia enggak kenal. Mau minta sama temen satu angkatan, enggak ada yang nampak satu pun orangnya. Yaudah, Andi cuma bisa ngegabut di kantin sembari ngehitung berapa orang yang lewat dalam satu menit.


"Sepuluh orang per menit." Andi mengangguk. "Tadi cuma lima orang."


Gabut banget hidup nih anak, ngitung orang lewat.


Andi kembali berhitung dalam hati setiap kali orang yang lewat untuk menit selanjutnya. Entah kapan akan berakhir, kegabutannya udah teramat sangat. Tidak dapat dibendung, harus diangkiri biar enggak kaya orang gila.


"7 orang per menit," ucap seseorang.


Seketika ia sadar bahwa seseorang sedang mengajaknya berbicara dari belakang. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita tengah memandang wajahnya dengan datar. Wanita itu memperbaiki poninya yang berantakan oleh angin yang lewat. Giginya yang behelan terlihat tatkala seseorang menyapa dirinya. Andi kembali menghadap ke depan karena malas berhadapan dengan wanita itu.


Ia adalah Naila, adik kelas 10 yang udah bikin bajunya basah karena jus yang sengaja ditumpahin. Enggak hanya itu, harga diri Anak Amak tercoreng akibat diratain sama satu orang di kompetisi game PUBG. Satu orang yang meratakan mereka ialah Naila sendiri.


"Lo Andi, kan?" tanya Naila.


Andi tidak membalas. Ia berdiri tegak dan beranjak dari meja tersebut. Ia benar-benar tidak selera untuk berbincang dengannya.


"Mau ke mana?" tanya Naila lagi.


"Ke kelas," balas Andi dengan singkat.


"Handphone lo tinggal, nih." Tangan Sarah sedang memegang handphone Andi yang tertinggal di bangku kantin.


Kok bisa ketinggalan sih!!!!!!!!!!!!!


Mau tidak mau, Andi kembali lagi ke meja itu.


"Gue masih senior lo, jadi plis sopan dikit. Panggil gue abang kek, kakak kek, mas, atau apalah itu." Andi menjulurkan tangannya untuk meminta kembali handphone tersebut.

__ADS_1


"Peduli apa gue?"


Untung lo cewek, kalau cowok udah gue ajak duel nih!!!


Naila terlihat menghidupkan layar handphone Andi. Ia tersenyum dan memperlihatkan kedua lesung pipi yang timbul. Matanya memicing ketika melihat foto Sarah terpampang di layar handphone Andi.


"Lo pacarnya Kak Sarah. Hahaha" tanya Naila.


"Sini handphone gue!" Andi berusaha menggampai handphone-nya, namun Naila berhasil menghindarinya. "Woi, sini handphone gue!!! Aneh banget sih lo?!"


"Santai dikit napa?"


Tangan Andi menggaruk kepala karena kesal dengan wanita di hadapanya itu. "Ih ... lo sok kenal banget, sih!! Lo itu siapa? Sok akrab banget."


"Oh lo mau kenal gue?" Naila mengangguk. "Bisa, entar kita kenalan. Tapi, enggak sekarang."


"Siapa yang mau kenalan sama lo, bujank!!!"


Keadaan udah agak memanas. Naila tidak kunjung memberikan handphone Andi, malah menyembunyikannya di saku dadanya. Enggak mungkin kan Andi langsung ngerayap ke dada Naila. Bisa-bisa langsung masuk BK karena kasus pelecehan. Belum lagi kena hajar sama Sarah.


"Oh, gitu ... enggak mau kenalan, ya?" Tangan Naila memberikan handphone tersebut. "Tapi, lo kok stalking instagram gue?"


Naila baru aja diam-diam ngelihat Instagram Andi dan melihat namanya terdapat di daftar pencarian terbaru. Hal tersebut menjadi tanda jika Andi pernah mencoba mencari instagram miliknya.


*****!!!!!!! Berani-beraninya dia ngebuka instagram gue!!!


"Ntar gue follback, tadi udah gue follow di sana." Ia menunjuk handphone Andi.


"Ada yang mau lo bicarain lagi? Gue mau pergi," tanya Andi dengan nada kesal.


Kepala Naila menggeleng. Senyum yang ia tampak tersimpulkan sebuah ekspresi licik. "Boleh, silahkan. Tapi─"


"Tapi apa lagi, bangsss─"


"Resleting lo kebuka. Mau gue tutup?" tanya Naila.


Mata Andi melihat ke bawah. Resletingnya belum tertutup semenjak keluar dari WC tiga puluh menit yang lalu. Wajahnya merah padam menahan malu. Tanpa basa-basi ia berbalik diri dan pergi. Begitu malu dirinya kedapatan resletingnya masih terbuka.


ANAK KON---------------------------


***

__ADS_1


__ADS_2