
Kopi Malam
Penghuni klasemen sementara sudah diumumkan. Kelompok Sarah mendapatkan peringkat pertama karena telah menjadi juara pertandingan bola api dan peringkat kedua lari bertantangan. Sedangkan kelompok Andi hanya bisa bertengger di peringkat lima klasemen sementara karena kelompoknya tidak bisa menjadi lima besar di pertandingan bola api.
Meskipun kecewa, Andi tetap bawa santeuy tanpa beban. Ia menghargai apa pun yang didapati kelompoknya dan tidak terlalu menekan untuk menang. Kalau menang ya syukur, kalau kalah yaa ga apa-apa, mari kita ngopi bersama. Ketika semua kakak pembimbing memberikan semangat berapi-api─terutama Sarah─Andi malah ngajakin mereka ketawa-ketiwi sambil ngopi dan ngudud.
"Kalau terlalu ambisius, kita bakalan gila. Kaya Sarah." Ia menunjuk Sarah yang lagi berkoar-koar memberikan semangat kepada adik bimbingannya.
"Sebenarnya lo yang gila, bukan Sarah." Naila menuangkan teh panas yang baru saja diseduh dari termos.
Andi tidak merespon. Anak itu memang sukanya ngegas dan gass-nya itu selalu ngenak banget sama Andi.
"Ajiz, lo ternyata punya fisik yang kuat ya," puji Andi. "Main futsal kaya **** ga kehabisan napas. Main basket, bar-bar banget. Tapi lo sama kaya gue, goblok kalau pelajaran."
"Hehehe ... iya, Bang. Gue dulu memang suka olahraga."
Andi menepuk bahu Ajiz. "Besok, gue rekomendasiin jadi pemain utama timnas SMA kita."
"Makasih bang."
Mereka diminta untuk tidur di tenda masing-masing. Sesuai dengan perjanjian sebelumnya, yang laki-laki bakalan tidur di luar tenda. Sementara itu, yang cewek bisa dengan leluasa tidur di dalam dan tidak sempit-sempitan. Guru-guru yang ikut juga sudah masuk ke dalam bus untuk beristirahat.
Sudah pasti dan tidak dapat terelakkan lagi Andi jadi petugas penjaga yang ga bakalan tidur. Bersama dengan dua teman panitia yang seangkatan, mereka duduk di sebuah tempat duduk kayu dengan seteko besar kopi buat begadang. Andi mengeluarkan tiga bungkus rokok sempurna dan meletakkannya di atas meja kayu. Eh, ternyata mereka udah nahan sakaw dari tadi dan langsung mengembat rokok Andi. Mereka dari tadi pagi segan sama Sarah buat ngerokok. Mumpung Sarah lagi tidur, yaa ini kesempatan buat ngerokok.
Malam yang dingin tidak menjadi penghalang buat begadang. Memang begadang itu ga boleh, tapi kata Bang Aji Rhoma Irama, begadang boleh sajaaaaaaaa kalau ada untungnyaaa ... mereka kan jaga-jaga. Mana tau ada orang iseng dan hantu yang lagi iseng, trus mereka kejar buat dihajar sampe mampus. Ga peduli mau hantu atau apa kek, kapan lagi kan ngebuat wajah hantu biar jadi tambah hancur.
Ternyata Andi baru sadar kalau ada satu orang anggotanya Dugong yang menjadi panitia di sini. Tumben banget berandalan yang dijadiin panitia sama sekolah. Tapi, cuma satu. Itu pun Andi sadarnya waktu lagi ngopi.
"Lo anggotanya Dugong, ya?" tanya Andi.
__ADS_1
Namanya adalah Hasbi. Ia merupakan bawahan Dugong dan pernah beberapa kali ikut tawuran ngelawan anak SMA lain. Memang sih, dari tampangnya anak baik-baik. Tapi, siapa sangka dia masih anggota Antophosfer.
"Iya, mungkin lo jarang ngelihat gue."
"Oh, lumayan kok. Lo kan sering cabut juga ke kedai soto samping sekolah." Andi memberikan mancis kepada Hasbi. "Lo tahu kan tentang ada orang yang mau ngehancurin Antop─"
Hasbi memberikan isyarat untuk tidak membahas Antophosfer di depan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan Antophosfer. Mereka juga sedang bersama satu orang non-Antophosfer, walaupun masih seangkatan.
"Udah ga apa-apa ... lagian, dia juga udah tahu." Andi menghadap ke teman yang satu lagi. "Lo tahu apa tentang Antophosfer?"
Ia tersenyum pelan. "Gue memang ga seberandak kaya kalian. Ga masuk aliansi ini itu, tapi gue tahu sedikit."
"Oke, pokoknya lo jangan bocor ya. Kalau sampe, lo tahu sendiri apa yang gue lakuin nantinya," ancam Andi.
Ia menangguk tanda mengerti.
"Gue tahu persis gimana ceritanya anak *** itu bisa dendam banget sama Antophosfer. Memang sih, ia ga ada urusannya sama Antophosfer ... tapi dia itu ada urusan sama geng kami. Kebetulan aja Dugong dipilih senior buat jadi ketua Antophosfer."
"Gimana ceritanya tuh si Dandi bisa jadi begitu?"
"Gue sebagai orang yang udah lama sama Dugong, jadi gue tahu persis. Dandi dan ketiga temannya itu dulu anak yang paling di-bully di SD. Dugong yang kasihan, nyuruh Arman buat ngerekrut mereka berempat. Akhirnya mereka gabung jadi bawahan Dugong, dan mereka dilindungi, sampe mereka masuk SMP."
"Tapi, di mana masalahnya?" tanya Andi.
Hasbi kembai memetik ujung rokoknya dan menyeruput kopi yang masih hangat. "Namun, sayangnya ... Dugong dan Arman malah memperlakukan mereka kaya anjing pesuruh. Di suruh ini itu, jadi umpan buat tawuran sama kelompok lain, dihina, tapi imbalannya mereka tetap dilindungi. Sampai akhirnya, Dugong dan gue masuk SMA. Arman keluar jadi bawahan Dugong. Arman dan Dugong akhirnya bikin aliansi baru lagi."
"Jadi, mereka dendam karena itu?"
"Iya, karena pengalaman buruk itu." Hasbi mengangguk. "Tapi, siapa sangka perlakuan mereka malah ngejadiin mereka berempat jadi anjing buas. Mereka jadi kuat dan menguasai SMP setelah Arman tamat dan masuk ke SMA kita."
"Gue denger kalau mereka punya kelompok yang namanya Four Dog. Ketuanya Dandi sendiri. Tapi, mereka bisa mengasai SMP mereka dengan jumlah segitu."
"Itu yang gue bilang ke Dugong, ini ancaman besar. Mereka itu kuat,bukan kaleng-kaleng. Kalian Anak Amak mungkin aja bisa kalah kalau gelud satu lawan satu."
__ADS_1
"Jangan remehkan kami," balas Andi.
"Bukan gue ngeremehin ... Tapi jujur, kalian itu terkenal bukan kalian kuat waktu kelahi, tapi lebih ke popularitas. Buktinya, Kevin dan Kodomonya selalu diatas kita karena mereka memang jago kelahi."
Memang benar, di antara Andi, Agus, Nanang, dan Felix, hanya Andi dan Agus yang jago kelahi. Sedangkan Nanang dan Felix masih jauh dari kata pandai berkelahi. Jika mereka diajakin gelud satu lawan satu, Andi sudah bisa menebak bagaimana akhirnya. Makanya, kalau Nanang dan Felix ditantangin orang, Andi duluan yang maju biar lawannya itu takut dan ga jadi ngajakin gelud.
"Tunggu aja tanggal mainnya, kalau mereka makin grasak-grusuk. Gue ga peduli mau sekuat apa pun mereka, dan Antophosfer ga ada gerak-geraknya ... gue yang maju sendiri."
"Semoga lo beruntung ... "
"Emang kenapa Dugong belum ngasih sikap?" tanya Andi.
"Karena ini masalah internalnya geng-nya Dugong. Dia ga mau ngelibatin Antophosfer. Dia mau nyelesaiin sendiri."
"Bodoh, adain rapat kek ... kalau semua ketua aliansi setuju, Antophosfer bisa gerak ngehancurin mereka."
"Lo tahu kenapa senior milih Dugong jadi ketua Antophosfer, bukannya Kevin atau Pram yang senior lebih berpengalaman. Padahal, waktu itu Dugong masih kelas 11."
Andi menggeleng sambil menghembuskan asap rokok. Ia masih mengingat betapa mengamuknya Kevin setelah menyadari senior yang udah tamat malah milik Dugong, bukannya dari angkatan kelas 12 yang lebih berpengalaman. Untung aja ada Pram yang bisa menahan Kevin. Kalau Kevin lepas, bisa-bisa mati tuh senior. Memang, dalam sejarah SMA, tidak ada yang lebih kuat daripada Kevin dan Kodomo.
"Dugong itu orangnya tenang, dan kokoh dalam pendirian. Dalam membuat keputusan, selalu dipikir matang tanpa ada emosi. Liat aja si Kevin, memang dia orang yang paling kuat yang pernah gue temui, tapi dia masih ga bisa ngontrol emosinya."
"Baiklah ... gue paham sama Dugong sebagai sesama ketua aliansi." Andi mengangguk. "Tapi, jangan ngelarang gue dan Anak Amak buat gerak. Bagi gue ini masalah Antophosfer."
Tidak lama kemudian, Sarah tiba sambil lari dan teriak. Sontak kedua teman Andi yang lagi ngopi langsung membuang rokok karena takut Sarah bakalan ngamuk kalau mereka ngerokok. Andi mah tenang-tenang aja, soalnya udah biasa ngelihat Sarah ngamuk.
Sarah tiba dengan memegangi pinggangnya kaya orang sesak boker.
"Eh, ngapain lo jam 2 teriak-teriak. Di kejar hantu lo?" tanya Andi.
Sarah langsung menarik Andi menjauh.
"Temenin gue boker."
__ADS_1
ANJIRRR ... APAAA??????
***