Andi X Sarah

Andi X Sarah
4. Enggak Sengaja Ketemu (SEASON 3)


__ADS_3

Bekerja menjadi kesibukan Tami sekarang. Ia telah mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung kepada orangtua semenjak menjadi Pegawai Negeri Sipil. Gaji bulanan selain ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sedikit biaya self reward, dan mentraktir Andi yang kadang-kadang laper, ia juga bisa memberikan sejumlah uang kepada orangtuanya. Orangtuanya sebenarnya juga tidak memerlukan uang tambahan tersebut, tetapi Tami merasa berkewajiban dengan hal tersebut.



Tami dahulu selalu diberikan bekal makanan selama sekolah. Jarang sekali ia membeli jajan untuk berbelanja di kantin. Hal tersebut terbawa hingga masa-masa bekerja. Ia terbiasa untuk menyiapkan makanan di pagi hari untuk dibawa ke kantor. Sementara di malam harinya, Tami lebih memilih membeli di luar. Meskipun teman-teman satu divisi kantor selalu mengajak Tami makan ke kantin kantor atau tempat makan di sekitar, Tami tidak malu untuk mengeluarkan kotak bekalnya.



Tangan Tami melambai kepada teman-temannya yang lebih dahulu masuk kantor. Sedikit terbesit keinginan Tami untuk membeli kopi es di salah satu café untuk dijadikan teman mengerjakan tugas kantor nantinya. Mereka pun berpisah dan Tami menyelusuri trotoar jalanan kota menuju café tersebut. Setelah sampai di sana, Tami memesan kopi yang diinginkan dan menunggu beberapa saat sembari memandangi barista tampan sedang meracik kopinya.



Tangan barista tersebut menggeser kopi es yang dipesan oleh Tami.



“Ini uangnya, Mas.” Tami memberikan pecahan uang lima puluh ribu.



“Kopinya sekalian saja saya yang bayar.”


Tiba-tiba saja suara berat seorang pria terdengar tepat di samping Tami. Pria tinggi berseragam cokelat tersebut memberikan pecahan uang yang lebih besar kepada barista. Tami sempat terdiam ketika mengenali pria tersebut, hingga ia membaca sepenggal nama di label tepat pada seragam kepolian pria tersebut.


“Kak Pram?”


Seperti biasa, pengalaman menjadi fakboy tidaklah pernah luntur sepanjang hayat seorang manusia. Menjadi buaya bukanlah sesuatu hal yang sulit, meskipun Pram kali ini memang benar-benar murni hanya sekadar menyapa. Senyumnya lebar dan lembut kepada Tami yang tampak tidak percaya ia berada tepat di sampingnya.


“Lo Tami temennya Andi, kan? Cuma buat memastikan.”


“Iya, Kak. Aku Tami. Wah, dunia sempit banget sampe kita bisa ketemu di sini.”


Pram melihat lambang kantor pajak pada seragam pegawai milik Tami. “Lo kerja di kantor pajak? Magang?”


Kepala Tami menggeleng. “Enggak, Kak. Setelah lulus D1 STAN, aku ditempatkan di kantor pajak yang ada di belakang Kantor Walikota.”


“Wah, deket banget dong kantor kita. Gue sekarang di Polda.” Pram melirik jam tangan sejenak. “Buru-buru, enggak? Duduk dulu bentar sambil ngopi.”


“Enggak, kok. Kita bisa ngobrol dulu di sini.”

__ADS_1


Tami mencari meja yang cocok untuk ngobrol berdua, sementara Pram masih menunggu kopinya selesai diracik. Sempat Tami bergeming tatkala pria itu berjalan tegap lengkap dengan tanda pangkat di bahunya. Siapa juga wanita yang tidak kagum dengan polisi tampan dan santunnya pakai banget. Teringat lagi oleh Tami sewaktu sekolah bahwa teman-temannya selalu membicarakan pria bernama Pram itu.


Merasa gugup karena ditatap oleh Pram, Tami pun memasang kacamatanya. Waktu dipasang, eh makin jelas deh wajah Pram yang sedang menatap lurus padanya.


“Lo apa kabar?” Percakapan dimulai oleh Pram.


Napas Tami berhenti sesaat. Jarang banget cowok nanya kabar secara langsung seperti ini. Biasanya, pertanyaan kabar hanya dilakukan oleh para buaya yang nge-dm di media sosial.


“Baik, Kak. Kalau Kakak?”


“Baik, cuma sedikit sibuk sama pekerjaan. Kayanya kita sama-sama sibuk di kantor.”


“Katanya Agus juga satu kantor sama Kakak, ya?” tanya Tami.


Pertanyaan itu mengarah kepada salah satu juniornya di kantor. Teringat pula bahwasanya ia dan Agus punya masa lalu yang buruk ketika tensi antara Kodomo dan Anak Amak menegang. Ya, semua itu merupakan masa lalu ketika mereka masih belum dewasa.


“Iya, kami satu kantor, tapi beda divisi. Agus itu di intel, kalau gue di reserse kriminal.”


“Oh gitu ….” Tami mengalihkan pandangan sembari mencicipi kopi es miliknya.


Sikap tersebut sangat menyimpulkan Tami sedang gugup. Pram yang sudah handal di dunia perbuayaan menghapal segali gelagat cewek seperti ini.


“Sarah gimana kabarnya?”


Pram mengangguk paham. “Hahah … anak itu kaya anak cowok aja. Hobinya malah di bengkel. Kayanya Andi kerepotan deh sama Sarah.”


“Mereka itu kaya dua arus yang bertabrakan. Sering debatnya, tapi mereka saling sayang, kok.” Lugas sekali Tami mengatakan hal tersebut tanpa menyadari bahwasanya Pram pernah menyukai Sarah dan bahkan ingin merebut Sarah dari Andi. Melihat Pram yang terlambat merespon, Tami pun menggeleng. “Eh, aku bukan bermaksud loh, Kak.”


“Enggak apa-apa. Semua itu masa lalu. Kalau mereka cocok, ya enggak masalah, kan? Malah baik lo. Semoga aja mereka jodoh, ya.”


Terbesit di hati Tami untuk mengutarakan maksudnya sehingga ia setuju untuk mengobrol hari ini, yaitu masalah villa yang akan dijadikan tempat berlibur. Sarah waktu itu menjelaskan secara detail kalau keluarga Pram punya villa di sebuah kawasan kebun teh. Agar Andi tidak merasa curiga kalau Sarah yang bicara sama Pram, biarlah dirinya sendiri yang langsung membicarakannya.


“Kak, kami punya rencana liburan. Kata Sarah, Kakak punya villa yang bisa di sewa, ya?”


Jemari Pram menurunkan cangkir espreso yang sedang ia seruput. “Oh, ya? Sarah bilang begitu? Iya … gue punya villa keluarga. Sekarang villa itu udah atas nama gue.”


“Wah, kebetulan banget, nih. Apa bisa kami menyewanya? Kayanya lebih enak kalau menyewa dengan orang yang lebih dikenal.”


Pram paham dengan maksud Tami tersebut. Pasti mereka akan meminta diskon atas penyewaan villa.

__ADS_1


“Boleh, tapi tidak boleh diskon.”


“Oh, enggak apa-apa kok. Kami bisa patungan kalau itu.”


“Kalian kapan bakalan liburan?” tanya Pram.


“Hmm … itu masih belum tahu. Tapi, kami mau mastiin kalau villa-nya Kakak bisa dipakai. Jadwalnya aku kabarin secepatnya.”


“Oke, kalau gitu … gue boleh minta nomor wa-lo?”


“Nomor WA?” Jantung Tami jedag-jedug kek musik Tik-Tak goyangan ular minta kawin.


“Iya, atau lewat Instagram aja? Kita kan udah follow-follow di sana.”


Tami langsung mengeluarkan handphone dan menyerahkannya kepada Pram. Nomor handphone pun ditulis langsung oleh Pram sendiri. Tidak lama kemudian, bunyi notifikasi pesan WA di layar handphone Tami. Terlihat wajah Pram yang tegas seperti model di profil WA-nya.


“Kabarin aja di WA gua kalau udah siap buat liburan,” ucap Pram.


“Oke, makasih⸺” Kalimat Tami dihentikan oleh Pram.


“Gue bisa ngasih gratis. Tapi ada syaratnya.”


Wajah Tami pun heran mendengar kalimat tersebut. “Maksud Kakak?”


“Gue bisa ikut liburan sama kalian dan itu dijadwalkan dua minggu lagi karena ada hari libur di hari jumat. Kita yang PNS pasti enggak masuk dong hari sabtu, apalagi hari minggu.”


“Kakak ikut, ya?” Pram pun.


“Tenang, kita enggak bakalan satu villa, kok. Tapi, gue bawa dua temen gue, yaitu Kevin dan Revin. Kami bisa tinggal di villa yang lain. Oke?”


Meskipun agak ragu dengan keputusan tersebut, Tami pun mengangguk. Ia sudah menduga jika Andi tidak akan menyetujui. Bagi anak itu, lebih baik membayar lebih daripada satu liburan dengan orang yang pernah ia anggap saingan.


“Oke, deh Kak. Nanti aku diskusikan sama temen-temen aku.”


Pram berdiri kemudia. “Oke, kita balik yuk. Gue antar pakai mobil ke kantor. Enggak keberatan, kan?”


“Enggak, kok.”


Akhirnya, Tami dianterin sama Pram pakai mobil ke kantor. Agak deg-degan sih ketika diam-diam saja selama perjalanan. Apalagi wangi parfum Pram kerasa banget di sana. Sesampainya di kantor, Tami berterima kasih kepada Pram yang sudah berbaik hati mengantarkannya.

__ADS_1


Di dalam hati Pram pun berkata, akhirnya gue ada kesempatan lagi buat ngelihat lo, Sarah ….


***


__ADS_2