Andi X Sarah

Andi X Sarah
61. Pertarungan Akhir (SEASON 2)


__ADS_3


Pertarungan Akhir



Keesokan harinya Dugong mengomandoi pasukan untuk bersama-sama menuju markas anak-anak Ghost Night berada. Sekitar belasan orang yang tergabung ada aliansi Dugong, Anak Amak, Arman di kelas 11, serta beberapa bawahan Ajiz yang tergabung di Kodomo Junior. Masalah ini kian bertambah besar karena ada satu orang anggota SMA yang diserang oleh mereka tadi malam. Hal tersebut menambah amarah Andi yang tidak sabar untuk menghantam mereka kembali.


Dendam lama tidak pernah padam antara SMA mereka dan Ghost Night. Dimulai dari zaman senior terdahulu, hingga merambah ke generasi Ajiz. Kelompok yang pernah juga menyerang Andi tersebut bukanlah geng yang berasal dari SMK-nya Memet, si pentolan SMK permesinan itu. Mereka merupakan geng luar yang sebagian besar anggotanya berasal dari SMK tersebut. Kebetulan markas mereka dekat sekali dengan SMK permesinan.


"Ini saatnya," ucap Dugong kepada Andi diam-diam.


"Ayo kita berangkat." Andi memasang kaosnya kembali.


"Bukan itu," tahan Dugong. "Gue merencakan siapa yang bakal jadi penerus ketua Antophosfer.


"Nanti setelah kita selesaikan semuanya, kita bakal ngumpul lagi di sini. Lo sendiri yang nentuin siapa penerusnya."


"Kenapa hanya gue?" tanya Dugong.


"Gue menerima semua keputusan lo."


Andi menghidupkan motornya diikuti oleh Anak Amak yang lain di belakang.


Konvoi yang dilakukan serasa pasukan perang berkuda yang bergerombol ke medan perang. Andi meminta untuk setiap anggota agar tidak membawa senjata, karena mereka bukanlah pengecut yang menggunakan senjata untuk melukai. Budaya yang tertanamkan kepada mereka ialah pertarungan tangan kosong. Oleh karena itu, mereka memiliki kemampuan duel satu lawan satu yang sangat berbahaya.


Seperti janji yang sudah ditepati, mereka memarkirkan motor sedikit lebih jauh dan mengatur posisi sedemikian rupa agar ketika keadaan mereka tidak memungkinkan, mereka lebih mudah kabur dengan sepeda motor. Memang, kabur bukanlah tujuan terakhir, tetapi ada waktu-waktu tertentu mereka melakukan tindakan pengecut tersebut.


Ghost Night sudah menanti kedatangan mereka di lokasi yang dijanjikan. Melihat dua kelompok pemuda yang tengah berhadap-hadapan, orang-orang sekitar turut menghindar dan beberapa toko terpaksa menutup lapaknya. Garangnya wajah mereka terlihat jelas pada setia sorot mata yang memasang dendam kepada Antoposfer.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap Alex dengan melebarkan tangan. "Ga bawa anak Kodomo? Sayang sekali, gue mau balas dendam sama Kevin."


"Jangan remehin Kevin, *******." Ajiz maju ke depan. Ia sadar diri, kali ini dirinyalah incaran utama mereka.


"Oh, elo yang namanya Ajiz? Kuat juga nyali lo ngehajar lima orang anggota gue." Alex menunjuk Ajiz.


Dugong sebagai pimpinan maju ke depan untuk bernegosiasi jika ada jalan terbaik buat menyelesaikan masalah ini.


"Lo mau apa? Kami udah datang," kata Dugong.


"Gue mau anak itu .... serahkan dia sekarang, atau kita tempur di sini."

__ADS_1


"Gue bakalan nyerahin dia kalau lo mau duel sama dia, bukan keroyokan," balas Dugong.


"Oke siapa takut. Biar dia mati di tangan gue."


Dugong mendorong Ajiz ke depan untuk berduel dengan ketua Ghos Night yang terkenal kuat. Hanya saja ia masih kalah kuat dengan Memet yang pernah mengalahkannya. Tetapi, hasil terakhir belum bisa ditetapkan jika ia melawan Ajiz yang juga memiliki pengalaman gelud yang banyak.


Masing-masing kubu melihat bagaimana sengitnya pertarungan antara Ajiz dan Alex. Ajiz yang jangkung ternyata masih kalah kuat dengan Alex. Alex lebih cepat dan gesit daripada dirinya sehingga banyak serangan yang berhasil dilesatkan.


"*******!!!" Ajiz mengeluarkan tendangan tepat ke kepala Alex.


Serangan Ajiz tersebut lagi-lagi kalah cepat dengan hindaran yang Alex lakukan. Ajiz terpental ke belakang oleh tendangan balasan yang tidak bisa dihindari. Pukulan bertubi-tubi bersarang di wajah Ajiz, hingga hidungnya berlumuran darah. Belum lagi tendangan kaki Alex yang bersarang di perut Ajiz.


"Cuma segitu kekuatan lo?" tanya Alex ketika lawannya bangkit.


Ajiz mengelap hidungnya yang berdarah. "Gue masih berdiri pertanda serangan lo masih belum kuat daripada lawan yang pernah ngalahin gue."


Ajiz benar, Alez tidak kalah kuat daripada Dandi yang langsung bisa mengalahkan dirinya hanya dengan satu serangan telah di perut. Ia masih belum kalah, ia tidak sudi menerima kekalahan kedua dari orang lain. Biarlah Dandi seorang yang pernah membuatnya bertekuk lutut.


"Lo masih belum seberapa." Ajiz berlari melewati Alex. Bukan Alex yang ia tuju, namun belasan anggotanya yang dibelakang. Ajiz bagaikan singa yang mengamuk menghantam belasan orang yang juga menyerang dirinya.


Andi langsung maju karena Ajiz tidak akan bisa menang melawan orang sebanyak itu. Di belakangnya terlihat Agus yang akan selalu memberikan support terbaik kepada Andi. Lain hal dengan Nanang yang menjadi pelindung bagi Felix yang sedikit lemah dalam tawuran seperti ini.


Dugong ditarik oleh Arman agar tidak menjadi incaran Alex.


Tangan Arman melesat ke kepala Alex dengan keras. Balas-balasan serangan tidak bisa dihindarkan. Mereka sama-sama kuat dalam hal kekuatan fisik. Namun, Arman masih kalah cepat. Alex dengan mudah memberikan serangan balasan ketika bisa menghindari pukulan darinya.


Ni anak cepat banget, ucap Arman dalam hati.


"Kalian semua ga bisa lebih cepat dari gue. Gue sabuk hitam taekwondo." Alex menyombongkan diri.


"Bela diri beda sama tarung jalanan, *******!!!!"


Alex terkejut melihat Ajiz yang tiba-tiba datang menghantam kepalanya hingga Alex terpental di tengah-tengah kerumunan yang sedang baku hantam. Membalas pukulan yang ia dapati tadi, Ajiz menghantam kepala Alex dengan serangan yang bertubi-tubi. Alangkah terkejutnya Ajiz ketika melihat Alex tidak sedikit pun menyerah. Pria tersebut malah menendang Ajiz yang mendudukinya. hingga ia terjerembab ke belakang.


Di sudut kerumunan, Agus dan Andi menjadi sorot utama. Kombinasi dengan insting persahabatang yang erat sungguh membuat lawan terkejut. Agus bagaikan tank di sebuah game MOBA yang menjadi benteng utama ketika Andi diserang. Agus tidak bisa dianggap enteng, tubuhnya kekar berkat ngangkatin sawit kalau dibawa bapaknya ke kebun sawit, serta bantuin bapaknya ngangkatin pupuk sayur di belakang rumah yang menjadi bisnis sampingan bapaknya Agus.


Andi dengan leluasa memukuli mereka satu per satu. Ada beberapa serangan telak yang mengenainya, namun itu belum seberapa kuat untuk membuatnya tumbah. Ketika Agus di depan untuk memecah kerumunan, di sana Andi datang melesatkan serangan telak.


Walaupun sedang ditekan, Ghost Night masih tahan dengan semua serangan yang dilesatkan. Alex tetap bertahan walaupun melawan dua orang utama, yaitu Ajiz dan Arman. Belum lagi anggota lawan yang sempat memberikan serangan kepadanya. Ia tangguh dengan kecepatan dan keunggulan fisik yang mumpuni.


Semuanya berubah tatkala ada segerombol anggota lawan yang baru saja tiba dengan senjata tumpul di tangan mereka. Mereka masuk ke kerumunan untuk membantu Ghost Night.

__ADS_1


"Mundur!!!" Dugong berteriak.


"*******, curang kalian pakai senjata!!!!" Andi menarik Agus agar keluar dari kerumunan.


Mereka yang mundur tidak bisa menghindari kejaran lawan yang baru datang. Batu-batu dilemparkan hingga membuat tumbang banyak anggota Antophosfer. Andi ditarik ke kerumunan dan dihantam dengan balok kayu.


"Jangan sentuh Andi!!!!" Agus berteriak. Ia masuk ke kerumunan dan menghantam mereka satu per satu. Aksinya tersebut diikuti oleh Felix dan Nanang yang sedikit terlambat datang.


"Kita ga bisa bertahan," ucap Arman kepada Dugong.


"Kalau keadaan begini, kita bisa mampus," ucap Dugong sambil memukul lawan di depannya. "ANJING!!! Bisa-bisanya pakai senjata."


"AYO MUNDURRR!!!!!!!!!!!!" Andi berhasil keluar dari kerumunan dan berlari menjauh ke ujung simpang jalan.


Mereka dikejar sama segerombol manusia yang kaya zombie megang balok. Belum lagi batu-batu yang dilemparkan.


Mata Andi yang berkunang-kunang menatap seseorang yang baru saja datang bersama Anggotanya. Ia berdiri tegak di depan belasan anggota lama yang masih bertahan. Sembari tersenyum, ia berlari menuju anak-anak Antophosfer yang berusaha kabur.


"Gue denger kalian mau gelud, kok ga bilang-bilang!!!!!!"


Dandi meloncat ke kerumunan lawan yang bersenjata, diikuti oleh belasan anggota Four Dog di belakang. Andi dan yang lain terbelalak melihat keberanian mereka, terutama anggota Four Dog yang asli, yaitu Dandi, Darwin, Egi, dan Okto. Mereka ganas menghadang lawan yang tidak mengenal ampun dengan senjata di tangan.


Mereka hanya terdiam melihat segerombol Four Dog yang menggila di sana.


"WOI KOK MALAH BENGONG, BANTUIN ANJING!!!!" teriak Dandi.


Andi mengangguk, lalu berlari untuk bertempur kembali bersama yang lain.


Sementara itu tidak jauh dari tempat tawuran, berdiri dua orang yang lagi makan somay dan minuman jasjus dua ribuan di tangan.


"Wah, ada tawuran," ucap temannya.


Memet tertawa melihat orang-orang di sana lagi baku hantam. Dia menyedot minuman jasjus.


"Hahah ... biarin aja ... kan urusan mereka," balas Memet.


"Iya, juga ya. Kadang gue heran kenapa orang-orang suka tawuran," balas temannya.


"Kedua tangan ini selain buat berdoa, ya baku hantam. Hahahah ...," balas Memet. "Gue masih lapar nih. Beli somay lagi yuk lima ribu."


"Ayuk."

__ADS_1


Di tengah perjalanan mereka menggunakan motor, mereka menghindar dikarenakan mobil polisi tengah menuju ke sana.


***


__ADS_2