Andi X Sarah

Andi X Sarah
29. Sungai Kecil (SEASON 3)


__ADS_3

Berbayang tatap wajah Tami pada binar-binar wajah Memet yang lemah. Senyumnya memancar setulus hati sederhananya. Sungguh menenangkan diri tatkala tatap pandangan mereka saling berjumpa pada saat itu itu. Sungguh sanggup untuk membuat waktu berhenti seketika, memberikan ruang dan waktu bagi Memet untuk terus memaknai setiap detik yang ia jalani. Lemah debar dada yang lemah kini berganti seperti desiran pasir tersapu angin, mendobrak inti rindu yang bersemayam.



Pujaaan hati ada di hadapan memberikan buah tangan yang membuat Memet merasa istimewa. Kilau wajah gadis itu sungguh menawan. Setelan dinas pegawai negeri yang ia pakai turut menjadikan Tami menunjukkan sisi dewasanya. Berbalut lipstik merah tipis yang mempertegas bibirnya yang tipis itu, tidak urung dilewatkan oleh Memet. Wangi semerbak parfum faforit Tami menyeruak tatkala Memet duduk di sampingnya, satu sisi yang selalu membuat Memet merasa rindu.



“Gue abis ronda tiga hari non-stop sampai emak marah-marah.”



Tami menoleh padanya. “Setidaknya kamu harus perhatiin kondisi fisik. Boleh sih tubuh kamu itu kuat, tapi terkadang bisa drop juga.”



“Bener, gue terlalu ngeporsir diri akhir-akhir ini.” Memet mengangguk setuju dengan hal itu. “Gimana … masih tinggal di rumah Andi?”



“Masih, Mama masih minta aku buat tinggal seminggu lagi di sana sampe Mama pulang ke sini.”



“Oh, ya? Kedua orangtua lo pulang ke sini?”



Tami menggeleng. “Enggak, cuma Mama. Udah lama juga Mama enggak ke sini. Semenjak tragedi malam itu, dia khawatir banget sama aku. Bai de wai, makasih banget ya atas malam itu.”



“Haha … sudah yang keberapa kali lo berterima kasih? Cukup sekali aja udah bikin gue paham. Lagi pula itu kan memang tugasnya gue sebagai orang ronda. Lo tahu sendiri, walaupun banyak bapak-bapak, pasti gue yang disuruh maju duluan.”



Tawa mereka saling bersambut.



“Kamu ini sedari dulu selalu ditakutin sama orang lain.”



“Ya gimana ya, pergaulan gue agak mereng waktu SMP. Bahkan, gue tahu maling-maling itu sering main di mana. Soalnya pasti mereka enggak orang jauh dan preman-preman yang pernah berurusan dengan gue.”



“Kamu juga harus hati-hati. Bisa jadi suatu saat kamu dicelakai sama orang. Lihat tuh Andi dimarahin terus sama Sarah kalau bikin rusuh sama orang luar. Sarah ngejaga banget Andi biar enggak kaya SMA yang kerjaannya berantem.”



“Namanya anak laki-laki, Tam. Lo tahu sendiri.”


__ADS_1


“Met,” panggil Tami sesaat, “Besok ikut ya jalan-jalan sama kita.”



Memet diam sebentar. Ia merasa tumben aja Tami membicarakan hal ini secara pribadi. Biasanya ya yang peduli dengan hal-hal begini, sudah pasti Sarah. Entah kenapa di antara teman yang ia kenal, Sarah yang paling menunjukkan kepedulian kepadanya, bahkan melebihi Tami dan Andi. Padahal, Sarah juga bukan siapa-siapanya Memet. Cuma sekedar dijadiin bengkel pribadi, bahkan pacar orang lain pula.



“Sarah pasti nyuruh lo buat ngebahas hal ini dengan gue.”



“Enggak, kok. Aku memang pengen kamu ikut.” Senyum Tami memancar. “Andi benar, kita bertiga perlu sama-sama lagi kaya dulu.”



Helaan napas Memet terasa berat tatkala Tami mengatakan hal tersebut. Sungguh bukan keinginannya untuk menghindar, tetapi banyak hal yang membuat Memet tidak dapat lagi bersama-sama. Selain berkerja saban hari demi mendapatkan penghasilan, ia juga merasa tidak cocok lagi untuk bergaul dengan orang-orang yang setara dengan mereka. Mendengar perkataan Tami, ia merasa lega bahwasanya mereka tidak berpikiran hal yang sama. Mereka tetap menganggapnya sebagai sahabat, sebagaimana yang dulu-dulu.



“Nanti gue jawab, bukan sekarang.”



“Sekarang dong, apa susahnya?”



“Lo harus ikut dulu sama gue.” Memet berdiri untuk mengambil kendaraan motor di dalam rumah.




“Ikut aja, nanti lo bakalan tahu.”



Motor bebek maut hasil modifikasi bengkel sendiri keluar. Suaranya menyeringai melebihi gaharnya motor mamanya Andi yang dimodif oleh anak vangsatnya sendiri. Motor Memet itu juga pernah diajak balapan dengan motor Andi dengan hasil akhir Andi harus membayarkan main PS4 selama tiga jam. Selain itu, motor itu juga memberikan Memet uang yang banyak dari hasil bertaruh di balap liar.



“Motor gue bukan seperti cowok-cowok keren yang pernah lo kenal.” Memet menepuk jok belakang. “Kalau lo enggak keberatan.”



“Selagi motor kamu dipuji sama Sarah, berarti itu keren.”



Tami tanpa ragu dan bimbang langsung duduk menyamping di motor Memet. Memet pun jadi deg-degan karena jarak tubuh mereka hanya sebatas angin. Emak di rumah ngeliatin aja dari jendela karena heran kenapa bisa anaknya ngebawa anak perawan sebening itu. Setahu Emak, Memet enggak pernah tuh bawa cewek ke rumah. Parahnya, kali ini bukan Memet yang bawa cewek ke rumah, tapi cewek itu yang datang sendiri.



Motor perlahan Memet gerakkan di jalanan komplek. Preman-preman warung yang notabene masih bawahan Memet seketika melongo ngelihatin Memet lagi bawa anak gadis orang. Pemuda mana di komplek ini yang enggak tahu sama Tami, walaupun mereka enggak kenal secara pribadi. Soalnya Tami selalu dijadiin bahan gossipan para pemuda karena kecantikannya serta selalu jadi primadona waktu malam tarawih Ramadhan tiba. Ya biasanya kan cewek-cewek komplek yang selama ini semedi di rumah bakalan keluar di malam tawarih Ramadhan buat ke masjid.

__ADS_1



Memet berhenti di perbatasan komplek mereka dengan kawasan yang masih di ruang lingkup satu RW. Terdapat jembatan kecil yang menjadi penghubung antara komplek dan daerah luar. Mengalirlah sungai kecil di bawah sana dengan gemericik lembut yang terdengar. Memet mematikan motornya dan meminta Tami untuk melihat ke bawah sungai tersebut.



Sebelum itu, Memet menunjuk lapangan bola yang ada tidak jauh dari pandangan mereka.



“Itu lapangan bola sering dijadiin tempat tawuran antar kelompok. Biasanya pasti gara-gara bola. Gue dan Andi juga kenal gara-gara gelud di sana.”



“Aku tahu cerita itu. Hmm … aku kok enggak pernah ke sini ya.” Tami melihat alian sungai kecil tersebut. “Oh pernah, cuma jarang banget. Itu pun waktu masih bocil.”



“Inilah sungai yang jadi saksi bisu kita bisa kenal, Tam.”



“Maksud kamu?” tanya Tami.



“Ikut gue ke bawah.” Memet mengajak Tami untuk mengikuti langkahnya menuju tepian sungai. Terdapat sebuah serok ikan mini yang ia bawa di kantong belakang. “Lihat ikan-ikan itu. Lo pasti enggak bakal pernah lupa.”



Tami memerhatikan ikan-ikan guppy warna-warni yang sedang berenang liar di aliran sungai tersebut. Ingatan Tami beranjak seketika bertahun-tahun lalu ketika ia masih usia belia. Benar, sungai ini menjadi saksi bisu kenapa mereka bertiga bisa saling mengenal.



“Ini sungai di mana kalian nyari ikan yang bikin aku nangis terus? Ya kan?” Mata Tami terus memerhatikan ikan-ikan imut tersebut. Ia sungguh tertarik untuk menyentuhnya, tetapi selalu kabur tatkala jemari Tami mendekat.



“Iya benar, kami mencari ikan itu di sini. Mungkin kalau bukan karena nenek moyang ikan-ikan di sini kita enggak bakal pernah kenal.” Memet berjongkok mendekati air. “Lo masih mau pelihara, kan?”



“Mau banget!” Nada Tami terdengar sangat senang.



“Baiklah, gue bakalan ambil ikannya. Tapi sebelum itu.” Memet menoleh pada Tami. “Gue ikut kok di rencana jalan-jalan itu. Gue pasti ikut. Lo enggak bakal kecewa.”



Senyum Tami bersambut dengan sentuhan tangan Tami pada rambut Memet. Sedikit ia mengacak rambut Memet sehingga pria itu tersipu malu. Hal yang sama dengan perlakuannya kepada Andi karena mereka berdua tidaklah berbeda, yaitu sahabat pertamanya.



“Makasih sekali lagi …..”

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2