Andi X Sarah

Andi X Sarah
48. Kebun Teh (2) (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


 


 


Benang mencari bagaimana untuk terikat erat pada jalinannya. Setiap lekukan sungguh berarti agar tidak bisa terlepas begitu mudah. Begitu pula senyum yang terpancar pada masing-masing bibir manusia, mencari celah untuk saling bersatu, dan berharmoni. Arti senyum itu pun dimaknai tatkala mereka saling bertemu satu sama lain, kemudian bercerita untuk saling memahami. Setiap perkataan menjadi penjalin kehangatan, meskipun dalam duka sekali pun.


Kilauan cahaya mentari pagi tersibak pada binar-binar wajah Tami yang menghadap ke timur. Sungguh menyatu kontrasnya dengan hijau hamparan kebun teh nan luas. Angin membawa setiap helai rambutnya untuk bergerak, menyebarluaskan paras cantiknya pagi ini. Ia pun berdiam diri beberapa meter di hadapan seorang pria berkamera yang masih tanpa kata-kata. Bergaya sederhana dengan karisma yang memanjakan mata.


Tangan Pram menyingkirkan kamera dari matanya, lalu menatap Tami yang sedang berdiri di tepi tanaman teh. Ia mendekat sesaat dan menggeser tubuh Tami dengan kedua tangannya agar berada pada angle yang tepat. Dengan malu-malu Tami memindahkan langkahnya ke kanan, lalu kembali tersenyum sebagaimana yang Pram pinta darinya.


“Rambut lo kesapu angin. Selipin ke telinga.” Pram memainkan jemarinya pada helaian rambut Tami.


Tami tidak sanggup berkata-kata tatkala Pram melakukan hal itu. Jantung seakan dipacu untuk berdetak dua kali lipat lebih cepat.


“Sudah?” Tami menanyakan posenya apakah sudah cocok atau belum.


Bunyi jepretan kamera terdengar. Tami berhenti dari posisinya untuk bergerak mendekat kepada Pram.


“Tenang, gue bisa fotoin orang kok.”


“Wah … bagus banget. Ini cocok banget buat postingan di Instagram,” puji Tami.


“Ah, itu kebetulan aja angle-nya cocok sama lo.” Pram mengembalikan kamera milik Tami. “Lo punya hobi fotografi ya? Gue lihat ada banyak foto objek di sana. Bagus-bagus kok.”


“Lumayan sih Kak. Semenjak dibeliin Papa kamera beberapa tahun lalu, aku jadi sering fotoin objek-objek yang aku suka.”


“Oh ya? Terusin aja hobinya. Mana tahu bisa jadi pundi-pundi rezeki.”


“Ah kayanya enggak sampai ke sana deh. Cuma sekadar hobi dan bikin aku senang, itu aja udah cukup.”


Pandangan mereka tidak sengaja mengarah ke pengunjung lain yang tengah berfoto berdua. Sungguh serasi mereka dengan tangan saling melingkar ke pingang satu sama lain.


“Mau foto berdua?” tanya Pram.


Duh … mau bilang apa ya. Ragu menyelinap di dalam hati Tami. Ia sebenarnya tidak membatasi siapa saja yang ingin berfoto dengannya. Namun jika orang itu merupakan Pram, akan ada orang lain yang akan tersinggung. Demi hal itu tidak terjadi, Tami pun menolak.


“Aku malu sama yang lain. Enggak udah, deh. Liat tuh Andi udah ngelipat tangan di sana.”

__ADS_1


Tami menunjuk Andi yang lagi ngelihatin sinis sama Pram.


Sementara di seberang sana, Andi lagi ngutuk-ngutuk di dalam hati. Kenapa bisa nih anak berduaan sama Tami, sok kenal banget sama dia. Posenya pun udah kaya bapak-bapak yang begitu selektif terhadap PDKT-an anaknya. Sarah pun dibikin bingung kenapa Andi seserius itu ngelihatin kebun teh. Padahal kan bukan, Andi lagi ngelihatin Pram dan Tami. Sarah cemas karena Andi pernah kena ganggu jin waktu ngelihatin serius pohon beringin soto ayam dekat komplek. Kali aja kebun tehnya punya penunggu.


“Bengong kenapa?” tanya Sarah.


“Kaga ada, gue lagi mikir kenapa kebun teh warnanya hijau. Kenapa enggak cokelat kaya di cangkir.”


“Makanya kalau SMA itu sekolah yang bener. Ini malah cabut dan ngerokok di WC. Begini jadinya, goblok enggak ketolong.” Sarah menarik Andi untuk tidak lagi berlaku aneh-aneh.


“Pengen gue beli nih kebun teh.”


Sarah menghela napas mendengar impian gila Andi.


“Eh, rokok lo aja masih ketengan, malah mau beli kebun teh. Udah deh, yang wajar-wajar aja mikirnya. Tadi mikir kenapa kebun teh kok enggak cokelat, sekarang malah mau beli kebun teh.”


Kebun yang luas ini dikelilingi oleh mereka secara terpisah. Sarah dan Andi melanjutkan perdebatan mereka tentang eksistensi alien di alam semesta. Sarah tetap menolak pendapat Andi kalau alien itu konspirasi mamarika untuk menguasai dunia. Lagi-lagi teori Andi ia dapatkan dari chanel youtube yang isinya konspirasi dan penggiringan opini. Andi ini tipikal-tipikal kaya emak-emak baca info hoax di WA. Malah percaya-percaya aja tanpa mau mikir ulang.


Sementara Felix dan Nanang nyebat di pinggiran kebun sambil ngelihatin mobil-mobil yang lewat. Mereka saling berbagi pengalaman. Felix memberikan pengalamannya dalam berbisnis, sementara Nanang curhat sama perjuangannya di perkuliahan. Beda hal sama Kevin. Dia lagi memperagakan salah satu pose yoga meditasi sama Revin dan Agus. Anak berdua itu mau aja ngikutin gerakan yang diajarin sama Kevin. Gerakan itu bermaksud untuk menyerap energi alam yang tanpa batas. Kevin dapat ilmu itu dari kelas yoga di gym punya o`omnya.


Kebun teh terbentang pada satu bukit. Pada belahan yang lainnya tengah bergema canda ria dari Pram dan Tami. Mereka saling mengenal satu sama lain dari pengalamannya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ya, mereka pun sama-sama tahu tanggung jawab ketika berada di satu intansi dinas. Namun, perbincangan mereka pun diperhatikan oleh seseorang yang berada tepat di puncak bukit kebun teh tersebut. Melihat mereka yang begitu akrab. Memet pun turut.


Tidak sengaja di perjalanan turun, Memet berselilih jalan dengan Andi dan Sarah.


“Kaga ada mamarika-mamarika. Gue kaga percaya ada alien. Sekali pun ada, mereka bukan buatan mamarika. Mereka murni dari luar tata surya kita.”


Memet pun menghela napas kenapa sepasang manusia ini kaga pernah akur, sementara pasangan yang lain berbagi rasa dan cinta.


“Kalian debatin apa sih?”


“Ah, kaga usah dengerin dia. Andi itu mudah banget kemakan hoax konspirasi,” balas Sarah.


“Yaudah kalau enggak percaya, gue kaga maksa kok.” Andi bersanding berdua dengan Memet. “Tapi, fotoin kami berdua dulu.”


Dengan terpaksa Sarah mengeluarkan handphonenya untuk memotret pose jenaka mereka berdua. Hasil foto tersebut terbilang burik dan tidak ada estetik-estetiknya, tapi bagi anak laki-laki itu sudah cukup sebagai pelengkap story Instagram.


“Makasih banget, Sar. Ini bagus banget.”


Bagus dari mane? Jelek begitu ….


“Iye-iye, sama-sama.”

__ADS_1


“Kami nyebat dulu di sini. Lo pergi aja tuh meditasi sama Kevin. Gue kaga mau ngerokok di dekat lo.”


“Lo ninggalin gue?” tanya Sarah.


“Iya … kenapa? Gue mau berduaan sama Memet dulu.”


“Dasar! Semua cowok sama aja! Habis pakai langsung buang. Emang gue cewek apaan.” Sarah berbalik diri, lalu pergi ke komplotan Kevin yang lagi belajar meditasi. Gobloknya Sarah, dia pun malah ikutan pose meditasi di sana.


Tinggalah Andi dan Memet merokok ria berdua. Mumpung Memet masih bawa kopi kalengan, mereka pun berbagi untuk menikmati momen.


“Ke atas yuk. Kayanya pemandangan di sana lebih luas daripada di sini,” ajak Andi.


Mendengar hal itu, Memet pun menolak karena kembali melihat Pram berduaan dengan Tami.


“Enggak usah deh. Mager gue ngedaki lagi.”


“Ah … gitu aja lemah lo.” Andi memaksa Memet dengann merangkul pundaknya agar ia mau mendaki bersama.


Yang namanya udah paru-paru baja, ngedaki sambil ngerokok pun tidak menjadi masalah. Barangkali paru-parunya udah di-bore up kaya motor mau balapan, jadi tarikannya lebih kenceng dan gahar. Sesampainya di puncak bukit, tampaklah Pram dan Tami sedang berduaan. Senyum mereka tanpa akrab satu sama lain. Memet merasa cemburu, sedangkan Andi pengen cepat-cepat ngegebukin Pram yang udah berani-berani kelihatan ngedeketin Tami.


Andi berhenti menghisap rokoknya tatkala ia paham kenapa Memet tidak mau diajak kembali ke bukit lagi.


“Lo cemburu ngelihat mereka, kan?”


Asap dari mulut Memet keluar dengan pelan. Nikotin rokok berat sedang mengalir di dalam darahnya, membuat sensasi nikmat tatkala angin berhembus kencang. Namun, pandangannya terasa sakit tatkala melihat pasangan di sana.


“Gue enggak cemburu. Gue kecewa.”


“Kenapa lo kecewa? Lo kan enggak pernah maksa Tami pengen dekat sama siapa-siapa.” Andi kembali melihat ke pasangan itu. “Gue lihat akhir-akhir ini mereka deket banget.”


“Iya, gue kaga pernah ngelarang-larang Tami mau deket sama siapa. Emang gue siapanya dia? Istilahnya kan gitu. Tapi, kalau orangnya itu Pram, gue kecewa. Kenapa harus Pram, kenapa enggak yang lain.”


“Gue mikir gitu juga kok. Kenapa harus Pram. Sementara kita tahu gimana Pram yang asli itu gimana. Ceweknya banyak.”


Memet membuang rokoknya yang sudah menjadi puntung. Lalu, ia berbalik untuk tidak lagi melihat mereka. Sungguh sakit hatinya melihat kemesraan itu, seakan ribuan ton baja tengah menghantam batinnya yang lemah ini. Ia belum siap untuk menerima fakta jika Tami benar-benar memutuskan untuk bersama siapa. Terlebih lagi jika orangnya itu ialah Pram, begitu lawan yang tidak setara. Memet terlalu lemah untuk berdiri.


***


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2