Andi X Sarah

Andi X Sarah
15. Ada huluk di SMA


__ADS_3

Ada huluk di SMA


Hatinya tak menyangka dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Sarah padanya. Wajahnya memerah bagai jambu air yang setengah matang. Matanya berbinar meninggalkan bayang-bayang Andi di dalamnya. Dalam, tersipu, penyuh senyum berarti.


Senyum Andi melebar. Trik ini memang sudah berkali-kali membuat adik kelas klepek-klepek. "Apa?? Tampan?


Sarah balas tersenyum. Baru kali ini ia berkata begitu pada seorang pria. Terutama peria yang tengah tersenyum padanya.


"Lo tam......" Sarah membuang mukanya. "Ah, muka gue memerah, ya?"


Jemarinya menyentuh pipinya yang memanas. Degup jantungnya kini tak beraturan. Ia kembali memandang ke depan. Ingin rasanya ia terbang ke dada bidang yang empuk itu. Ia memanjangkan tangannya untuk memberikan sepatu itu pada Andi.


Andi menjadi girang karena sepatunya akan kembali ke tangannya segera. Ia melihat wajah Sarah sejenak. Gadis itu benar-benar cantik tak bercelah. Matanya bulat dengan pupil hitam yang lebar. Rambutnya berkilau indah tatkala nyayian angin membawanya untuk tergerai helai-demi helai. Tipisnya senyum itu menyiratkan sesuatu hingga batin Andi berkata, Sarah cantik juga, ya ....


"Andi," ucap Sarah dengan pelan.


"Iya?"


"Lo tam─" Lagi-lagi Sarah tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Gua tampan? Gitu."


Kepala Sarah berdiri menatap lurus tepat ke wajah Andi. Ia tersenyum.


"Lo tam ............ TAMPANG LO ANJING BIASA AJAAA *** .... LO KIRA GUA CABE YANG GITU AJA KLEPEK-KLEPEK GARA LO, HAH?"


SORY, CAPSLOCK AUTHOR JEBOL ....


Tanpa basa-basi, tanpa ditunda-tunda, sepatu mereka langsung terbang ke atas loteng sekolah. Sarah tertawa terbahak-bahak tatkala sepatu Anak Amak kembali ia jadikan latihan tolak peluru. Tiga sepatu dalam satu kali lemparan berhasil melompat tinggi.


"Sepatu gua...," kata Andi sambil melihat ke arah loteng.


Tawa Sarah kembali menggelegar. Ia mendekat ke telinga Andi. "Ini udah yang ke lima kalinya."


"Kenapa harus ke loteng, sih?" tanya Andi.


"Suka-suka gue dong. Tangan punya siapa?"


Jari Andi menunjuk Sarah. "Punya lo. Tapi kan sepatunya punya gue."


"Yang salah siapa?"


"Gue."


"Nah tu dia ...."


Matanya bergeser ke atas. "Iya, juga ya ...."


Sesaat kemudian ada seorang adik kelas yang datang berlari ke arah mereka. Langkahya lebar aya gendurowo lagi ngejar anak orang. Badannya gede kaya kingkong ngejar pisang. Napasnya ngos-ngosan kaya abis dikejar hansip.


"Bang, " katanya sambil menelan ludah. "Itu, semuanya ngumpul. Mereka datangin kita."


Andi kaget. Ia melirik ke arah Sarah yang antusias dengan kalimat adik kelas itu. Bisa-bisa Sarah bisa tahu tentang hal ini.


"Di mana?" tanya Andi.


"Di kedai Pak Topoi. Tongkrongannya Anak Amak."


Napas Andi menjadi menggebu-gebu tak karuan. Tangannya mengepal. Berani-beraninya mereka ngedatangin tempat tongkrongan Anak Amak. Komplotan Kevin bahkan ga berani ngedatangin tongkrongan mereka.


"Gue ikut." Sarah memegang tangan Andi.

__ADS_1


"Jangan pegang-pegang napa, njir ...." Andi mengusap-usap tangan yang disentuh Sarah. "Lo cewek, ntar bahaya."


"Ga ada cowok yang berani sama gue," balas Sarah.


"Tapi, ini beda ceritanya. Lo ga boleh ikut." Andi mulai melangkah dan mengabaikan Sarah yang masih megangin tangan dia.


"LO MAU MATI?"


Andi terdiam. "Galak amat, sih. Yaudah lo ikut."


Mereka berdua berlari ke pos satpam sekolah. Di sana masih terduduk satpam dengan sebatang rokok yang terselip di sela-sela bibirnya. Sesekali ia menyeruput kopi yang sudah dingin sedari tadi. Di kedua tangannya ia lebarkan halaman koran hari ini.


"Bang, pinjam motor," tanya Andi pada Pak satpam.


Ia melirik Andi. "Seperti biasa, Ndi." Matanya bergeser ke arah Sarah. "Kemarin baru aja jalan sama adik kelas. Tiap hari aja ganti ceweknya."


Tangan Andi menarik dua batang rokok malrobo ke mejanya. "Ini buka cewek gua, bang. Kami mau ke suatu tempat."


Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Pak satpam. Ada sesuatu yang ia bisikkan. "Bang, ini rokoknya gua kasih bonus. Tapi, jangan kasih tau siapa-siapa yan gua tiap hari ganti cewek."


"Lah, sebungkus, dong!" balas Pak satpam.


Wajah Andi memasang wajah datar. Dasar licik!!!


"Yaudah, nih." Andi melempar satu bungkus rokoknya, lalu mengambil kunci motor.


Andi menarik gas. Motor bebek Pak satpam melaju tak seberapa. Namanya motor butut, kalau kena gundukan dikit, bautnya mungkin ada yang copot. Andi menambah kecepatanya lagi. Sarah yang dibonceng udah ketakutan karena Andi ngebawa motor kaya setan dikejar malaikat. Mau tidak mau tangan Sarah memegangi pinggang Andi.


"Woi, anjir. Jangan pegang-pegang. Gua jijik," ucap Andi sambil menambah kecepatan motor.


"APA? GWWAA GA DENGERR!"


Ia menghela napas. Betapa tersumbatnya telinga wanita yang satu ini. "Jangan pegang-pegang. Gua geli tau!"


"Gua juga belum njirr!"


"Nikah aja sana."


"Besok, gua belum siap."


"Punya lo masih kecil, makanya belum siap."


"Kok bisa ngebahas nikah-nikahan, Sih?"


Mata Sarah terfokus ke arah polisi polisi tidur di depan mereka. Ia menarik napas lalu berteriak sekencang-kencangnya. "POLISI TIDURNYA!!!"


Motor direm ....


dan .....


ahhhhhhhh ....


Njir, punya Sarah empuk juga, ya.


Lebih enak daripada punya Raisa.


Kepalan tangan Sarah menggesek kepala Andi. Digesek-gesek sampai pedih. "Woi, pakai motor pakai mata!"


Senyum Andi masih melebar semenjak keempukan itu berasa banget di punggungnya. "Punya lo em─"


Anjing keceplosan!

__ADS_1


"Apa lo bilang tadi" tanya Sarah. Ia kurang kedengaran apa yang dikatakan Andi.


"Ga ada, tadi gua kurang fokus," balas Andi. Gua fokusnya ke itu lo ....


Mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan. Dengan cepat Andi berlari ke arah kerumunan anak SMA di sana. Tampak Agus udah buka baju, kayanya udah siap kalau mereka tiba-tiba nyerang. Nampak banget punggungnya panuan gitu, putih-putih. Maklum jarang mandi. Di sana juga ada Kevin, kepala suku dari anak KODOMO. Di sampingnya ada Arman, induknya pentolan kelas 10.


Andi berlari menembus kerumunan. Di tatapnya seseorang yang tak asing lagi di ingatannya. Tampannya pakai banget, tapi Andi tetep aja berkilah kalau lebih gantengan dirinya. Badannya kekar, ngepress banget sama baju yang ia pakai. Kepalannya menguat. Dari dulu dia memang selalu bersaing dengan orang itu.


"Memet, si cowok paling tampan tingkat kelurahan." Tangannya mengepal dengan kuat. (BACA PART 1)


Pria itu tersenyum ke arah Andi. Sudah lama ia tidak bertemu dengan teman lamanya itu. "Andi, si cowok paling tampan se-kota." Ia meludah sesaat. "Itu semua hanya omongan kosong lo."


Mereka saling tersenyum sinis satu sama lain. Dari belakang datang Sarah.


"Njir, ganteng banget, Ndi. Namanya siapa?" tanya Sarah.


"Gantengan gua kali..."


Memet mulai berbicara, "Hari ini, kalian bakal mampus!!!"


"HAHAAHAHAHAHA, mampus kata lo" Sarah melangkah ke depan. Jiwanya membara saat ia mendengar kata terakhir dari kalimat pria itu. "Lo kira lo siapa, hah?"


Tangan Memet mendorong Sarah hingga terhentak beberapa langkah. "Lo cuma cewek, tau apa lo tentang masalah kami?"


Dengan sigap Andi menarik tangan Sarah dan melindunginya dengan tubuhnya. "Jangan kasar sama cewek!"


Seketika semuanya terdiam tatkala mendengar kalimat Andi.


Mata Sarah menatap Andi yang berusaha melindunginya. Sentuhan tangan Andi terasa dingin sekali, sedingin wajahnya kali ini.


"Cowok ga ngasarin cewek."


Memet menunjuk Andi. "Udah tau mau tawuran, tapi lo malah ngajak cewek lo segala."


"HAHAHAHAHAHAHA." Sarah tertawa.


"Woi, ketawa lo bisa ditahan, ga? Ilfil gua," bisiknya pada Sarah.


"Oh, oke-oke." Sarah kembali maju ke depan. Ia tatap dalam-dalam Memet, lalu terbunyikan sebuah lagu, pandangan pertama awal aku berjumpaaaa....


Oke itu bercanda.


Sarah mengambil napas. Tangannya mencengkram erat-erat rok abu-abunya. Ia rasakan setiap aliran darahnya mulai membara membakar semangat.


"HAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!" tendangan tekwondo Sarah melayang ke muka Memet.


Memet terkapar tak berdaya. Matanya terpejam. Sementara itu teman-temannya berkerumun sambil menepuk-nepuk wajah Memet agar kembali sadar. Andi dan lainnya ternganga melihat Sarah melumpuhkan Memet dengan satu serarangan. Waktu itu saja, butuh tiga orang untuk melawan Memet seorang diri. Preman kakap sekolah sebelah lumpuh dalam satu serangan.


"Sory, gua sabuk hitam di tekwondo," kata Sarah sambil berbalik diri dan melangkah untuk pulang.


Semuanya menjarak dari langkah Sarah. Julukan huluk yang diberikan Anak Amak benar adanya. Mereka melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Sarah. Hati mereka berdecak kagum pada Sarah.


Mastaahhh!!!!!!!


GGWP banget!!!!!


Njir, untung aja ga kena gue!!!


Istri idaman banget!!!! Gua pinang lo dengan pinang ....


Semuanya berdecak kagum. Lain hal dengan Andi. Ada sesuatu yang ia tangkap sewaktu Sarah mengangkat roknya tinggi-tinggi.

__ADS_1


Punya sarah ternyata warna pink!!!


***


__ADS_2