Andi X Sarah

Andi X Sarah
43. Penerus (SEASON 2)


__ADS_3


Penerus



Bagaikan seorang pendekar yang tengah dikepung dalam sebuah perang, Kevin berputar-putar nangkisin tendangan dari belasasan anak yang menyerangnya. Tanpa melihat, Kevin menghadang mereka secara brutal. Gimana mau lihat, mereka kerumunan jadi ga nampak banget wajahnya. Asal-asalan yang penting kena.


Nah di sini salahnya, mereka salah mencari lawan. Satu hantaman Kevin, setara dengan dua gelas susu, eh salah kok malah iklan. Satu hantaman Kevin, setara dengan empat orang yang menyerang sekaligus. wajar-wajar aja mereka yang jumlahnya belasan dengan mudah Kevin habisi sendirian. Dia malah ketawa-ketiwi waktu ngelawan adik-adik yang umurnya jauh lebih muda darinya.


"Woi, kalian ga belajar penjas, ya?" Kevin masih semangat ngelemparin lawan. "Kok lemah gini? Gue kira kalian geng berbahaya. Lah, ternyata kaya gini.


Dandi ditarik sama Ajiz biar jadi urusannya. Ia sudah tahu jika Dandi mengincar dirinya. Sebuah pertarungan lama kembali terulang. Di kala itu, ia masih terlampau lemah dari Dandi dan rela mengakui kekalahan. Kali ini ia begitu berbeda, mentalnya jatuh lebih kuat dari sebelumnya.


Seperti biasa, Dandi pasti menyerang titik perut saat serangan pertama. Ajiz sudah menghapal pola serangan anak itu. Selalu sama jika melakukan duel satu lawan satu. Serangan pertama Dandi yang tidak berhasil, ia manfaatkan untuk melesatkan serangan balasan. Dandi mundur tiga langkah berkat rahangnya yang berhasil Ajiz hantam.


"Kuat juga lo, ya?" Dandi berlari untuk menendang.


Dandi begitu cepat sehingga Ajiz tidak bisa menghindar. Dadanya begitu empuk dijadikan sasaran lutut Dandi. Ia terpental dan mengerang kesakitan. Serangan tadi terasa telak hingga ia sulit bernapas.


"Sama kaya dulu, lo selalu lemah!" sebuah pukulan melesat ke rahang Ajiz ketika ia terbaring di tanah.


Hatinya seakan ditusuk oleh kata-kata itu. Ia terlalu benci ketika dikatai lemah. Semangatnya bangkit dan berbalik menyerang kepala Dandi dengan tendangan taekwondo. Tendangan cepat tersebut mementalkan Dandi langsung ke tanah. Kesempatan itu Ajiz gunakan untuk menghabisi Dandi dengan pukulan berturut-turut.

__ADS_1


Lebih dari sepuluh kali pukulan dilayangkan tatkala Dandi terbaring di tanah. Nanar matanya seakan ingin membunuh, seringai bibirnya menandakan bahwa ia tidak ingin Dandi kembali bangkit, sisi gelap dari Ajiz tampak tatkala ia menyiksa Dandi dengan brutal.


"Ajiz, UDAH!!!!" teriak Revin dari kantin. Ia berlari karena jika dibiarkan bisa saja Dandi mati di tempat.


Sekuat tenaga Revin memegangi anak itu untuk melepaskan cengkraman pada Dandi yang menutup mata. Ia tidak cukup kuat, Ajiz dipengaruhi penuh oleh amarah.


"Kevin, nih anak kesurupan!" teriak Revin kepada Kevin.


Kevin dengan sigap menghampiri Ajiz. Sebuah pukulan telak bersarang ke wajah Ajiz. Ia terjerembab ke tanah hanya dengan satu pukulan tangan kiri Kevin. Perkelehaian berhenti begitu saja ketika Kevin datang. Tangannya menangkat Dandi yang tengah tergeletak pingsan dan meletakkannya ke dalam kantin.


Tangan Ajiz penuh darah dari hidung Dandi. Sebagian hatinya terasa puas karena beginilah Dandi mengalahkannya dahulu, serangan membunuh yang tanpa henti. Suatu alasan ia tidak ingin kembali ke dunia itu ialah karena kekalahan pertamanya tersebut. Namun, ada sebuah rasa penyesalan dalam diri Ajiz karena sudah membuat Dandi tidak berdaya. Ia hanya berdiri di antara banyak orang yang melihat Dandi terbaring.


"Semuanya bubar sekarang, pengap nih gue," ucap Kevin kepada anak-anak Four Dog yang ikut melihat keadaan Dandi yang jatuh pingsan. "Dandi biar gue urus. Kalau banyak-banyak, takut warga di sini curiga."


Satu perintah Kevin langsung diiyakan oleh mereka. Bagaimana enggak bisa nolak, soalnya dari tadi mereka udah takut sama Kevin. Di tambah lagi dengan Ajiz yang tanpa diduga mengalahkan Dandi dengan brutal. Serasa lagi di dalam kandang singa, trus angggota mereka dijagain


"Bang, maaf banget ...." Ajiz menunduk di hadapan Kevin.


"Berdiri," pinta Kevin dengan tegas. "Kenaapa lo kok kaya binatang kelahi?"


Tidak sedikit pun ekspresi Kevin berubah sedari tadi. Serius banget kaya mau ngebunuh orang. Biasanya dia yang paling suka bercanda di sini, tapi kalau udah ada masalah, bakalan jadi orang yang paling serius.


"Gue punya dendam masa lalu sama dia," balas Ajiz. "Selain itu, gue harus ngehancurin kelompok mereka biar gue bisa punya aliansi sendiri. Pengaruh mereka cukup kuat."

__ADS_1


"Lo disuruh mereka buat aliansi sendiri? Mau join Antophosfer?" tanya Kevin.


Kepala Ajiz mengangguk. Kevin benar, Andi lah yang memintanya untuk membuat aliansi sendiri. Selain itu, Kevin tahu maksud dan tujuan Ajiz. Sebagai senior, ia pernah meminta kepada Arman untuk membuat aliansi sendiri agar Antophosfer memiliki penerus.


"Gabunglah bersama kami." Revin menyorot Ajiz yang tengah berdiri pucat.


Tatap mata kedua seniornya itu semakin membuat Ajiz bingung. Ia bukanlah siapa-siapa dan kekuatannya tidak sekuat mereka, namun tiba-tiba Revin mengajak untuk bergabung.


"Maksudnya?"


Kevin berdiri dan memegangi kedua pundak Ajiz. "Gue nemuin penerus, penerusnya itu elo."


"Gue masih ga ngerti."


"Ajak temen-temen lo gabung ke sini, itulah aliansi lo sendiri. Lo ga perlu cari tempat tongkrongan karen kalian anak Kodomo. Kami butuh penerus karena banyak dari kami yang kuliah keluar kota, jadi kedai sering kosong."


"Abang serius?"


"Gue serius ... aliansi lo atas nama Kodomo. Gue yakin ga ada yang bakal berani ngangguin kalian," balas Kevin.


"Gue terima dengan senang hati!!!"


Tangan mereka bersalaman. Resmilah Ajiz menjadi penerus dari Kodomo. Beberapa hari kemudian, banyak dari anak Four Dog dan teman-teman yang lain bergabung sama Ajiz. Kedai Kodomo yang hampir mati, kini mempunyai penerus. Ajiz dipercayai buat menjadi ketua dari angkatan Kodomo mereka. Namun, tetap saja Kevin yang selalu menjadi ketua dari Kodomo.

__ADS_1


Berbeda dengan Dandi, ia tetap sendiri tanpa pegangan.


***


__ADS_2