
Andi tetap bersikap biasa saja ketika di kelas, meskipun tangannya masih terasa sakit karena tepat menghantam pada gigi Rizky. Terdapat goresan di telungkup tangan Andi yang ia sembunyikan di dalam lengan panjang kemeja. Sewaktu pulang, sempat ia berpapasan dengan Rizky. Sorot mata mereka bertemu dengan tegas, meskipun Andi tahu jika wajah Rizky menyimpan takut akan dirinya. Bahkan, Andi menyempatkan diri untuk menunjukkan jemari tengahnya tanpa ragu. Tidak ada sedikit pun gentar di diri Andi untuk melakukannya karena senior sepertinya tidak pantas untuk dihargai.
Sebenarnya Andi merupakan junior yang cukup menghormati senior. Perilaku sopan yang ditunjukkan Andi dibuktikan dengan banyaknya senior jurusan olahraga jurusan senang padanya. Andi sering diajakin nongkrong di kantin dan di luar, meskipun untuk nongkrong di luar Andi banyak tidak menghadiri. Cara bergaul Andi yang asyik didapatinya dari banyak berteman dengan siapa saja. Andi selalu menjadi pencair suasana di tongkrongan.
Beda hal jika biar kerok berasal dari senior itu sendiri. Sebagaimana yang ia lakukan pada Kevin dulu, ia masih tidak canggung untuk menantang Kevin dan kawan-kawan, meskipun Andi tahu otot Kevin segede nangka. Setelah bergaul dekat dengan Kevin, ia pun menjadi respect atas loyalitas Kevin kepada teman-temannya. Dalam kasusnya kepada Rizky, Andi benar-benar tidak respect atas sikapnya terhadap Nabe dengan mengeluarkan kalimat merendahkan seorang wanita.
Meskipun motor Andi supra geter mberr, ia menggeber Rizky di hadapan motor kerennya. Kali aja mau diajak balap, meskipun Andi tahu nanti bakalan kalah karena motornya beda gede silinder mesin. Setelah itu, Andi pergi ke Fakultas Kedokteran untuk menjemput Sarah. Entah kenapa dia tidak membawa motor traill-nya dan meminta Andi untuk menjemput ketika selesai dari kuliah.
Andi sudah meng-chat Sarah bahwa dirinya akan menunggu di cafetaria Fakultas Kedokteran. Sewaktu berjalanan di fakultast tersebut, Andi jadi pelanga-pelongo melihat segala fasiltas yang ada. Ia merasa tidak berkuliah di universitasnya sendiri, kaya di luar negeri. Tidak ada wajah burik seperti Ari Kiting, mahasiswa dan mahasiswinya pada goodlooking. Kali aja ada hubungan orang pintar dengan rupa wajah, pikir Andi.
Di kala fakultasnya masih memakai tangga, Fakultas Kedokteran sudah menyediakan lift. Biasanya fakultas lain kantinya seperti kantin anak SMA, mereka malah punya cafetaria rapih seperti tempat tongkrongan tengah kota. Pantas saja uang kuliahya paling mahal di antara semua fakultas yang ada. Asusmsi Andi pasti sedikit mahasiswa kurang mampu di Fakultas Kedokteran, kecuali mendapatkan beasiswa. Bayangkan saja biaya kuliahnya bisa tiga kali lebih mahal daripada fakultas yang lain.
Sepanjang jalan Andi ngelihatin cewek-cewek kedokteran yang goodlooking dan pastinya juga good rekening juga. Wajahnya sebening Tami, secantik Tasya, sebohai Nabe, dan pastinya tidak bar-bar kaya Sarah. Mungkin cuma Sarah yang bar-bar di sini, kalau ada orang sakit langsung dimarahin, kaya Andi yang demam malah diomelin karena banyak minum es. Padahal kan yang ngasih minuman dingin si Sarah sendiri.
Andi duduk di cafetaria Fakultas Kedokteran dengan memesan kopi V60. Pengen banget Andi untuk merokok, kayanya tidak ada anak kedokteran yang ngerokok.
“Woi!” Sudah dapat ditebak siapa yang manggil pacarnya seperti itu, kecuali Sarah sendiri. “Diam-diam bae …”
Sarah tiba dengan minuman boba bersama seorang teman wanita yang memakai blazer putih ala anak kedokteran. Wanita itu tersenyum dengan Andi, lalu Andi sapa dengan cara yang sama.
“Baru aja ngopi, lo datan. Katanya nunggu tiga puluh menit lagi. Jadinya gue mesen kopi.” Andi melihat ke sekitar. “Bener ya kata orang-orang kalau fakultas kalian ini kaya mall.”
“Maklum dia kampungan gini, jadi lo jangan heran,” ucap Sarah kepada temannya sebelum menoleh lagi kepada Andi. “Kenalin nih temen gue ….”
“Kelly ….”
__ADS_1
“Andi … makasih udah temenan sama Sarah ya. Dia memang agak ngerepotin kadang-kadang,” balas Sarah.
Melihat salaman antara Andi dan Kelly sedikit lebih lama dari dugaan, Sarah pun menepuknya. “Jangan lama-lama, kaya bayar zakat aja.”
Sarah dan Kelly duduk di hadapan Andi. Dengan adanya cewek kedokteran di hadapannya, Andi tidak luput dari mencuri pandang. Namanya juga cowok, pasti punya insting untuk itu. Kelly punya wajah yang imut dengan rambut membahana berkilau manja. Waktu Andi turun sedikit ke bawah, ternyata bohai juga. Lalu, Andi membandingkan ke Sarah. Ternyata Sarah masih bisa bersaing dengan anak cewek kedokteran yang goodlooking. Mau bagaimana pun, Sarah tetap paling cantik baginya.
“Wangi parfum lo kok beda?” Sarah ngendus-ngendus. “Lo tahu parfum ini, Kelly?”
“Biasanya nih cewek yang makai. Setahu gue ya,” jawab Kelly.
Andi jadi curiga kenapa dua anak ini jadi kompak.
“Ini, si Ari Kiting gila itu nyemprotin parfum Nabe ke gue. Dia memang suka makai parfum si Nabe. Katanya di sekitar kami ada bau⸺” Andi berhenti pada kalimatnnya. Ia harus jaga kesan di depan Kelly biar Sarah tidak malu punya pacar sepertinya. Masa nanti dibilang kalau sepatunya wangi tai kucing.
“Oh Nabe, cewek bohai itu. Lo deket sama dia?” tanya Sarah.
“Oh gitu, kayanya Nabe itu anaknya nolep. Jadi gue enggak khawatir kalau lo deket sama dia,” balas Sarah.
Andi jadi heran kenapa Sarah malah enggak curiga sama Nabe, padahal Nabe lebih kemungkinan dilirik pria karena kebohaiannya yang tiada tara dan sudah profesional di bidang pembohaian. Tapi, Andi jadi syukur karena Nabe juga anaknya juga jadi baik sekarang, enggak kaya dulu lagi.
“Gue dapet nomor Nabe ….” Sarah menunjukkan nomor Nabe yang fotonya saja sudah membuat Andi mengingat di masa-masa itu. Foto WA Nabe hanya memakai tanktop, meskipun diberi efek hitam putih.
“Lah kok bisa?” tanya Andi.
“Gue yang minta,” jawab Sarah secara singkat.
__ADS_1
“Lah kok mau?”
“Lah kok heran?”
Kelly menggaruk kepalanya. “Lah kalian lagi ngapain sih?”
Sarah dan Andi diam sesaat.
“Gue minta nomor WA Nabe biar dia ngasih tahu elo ngapain aja di fakultas. Ternyata anaknya asyik, kami malah video call berdua.” Sarah menoleh kepada Kelly. “Andi ini susah banget dihubungin kalau lagi di kampus. Gue harus ngabarin sebelum dia pergi ke kampus, kalau enggak, ya di read doang kaya gue apa gitu.”
“Kan tahu sendiri gue kaga pakai telsomkel, provider lain parah banget di kampus gue jaringannya. Jadi, jarang main hape.”
“Lah tadi kayanya elo nge-scorll Tik-Tak di hape? Kok bisa? Nabe bilanng gitu ….” Sarah menyanggah kalimat Andi.
“Itu mah pakai paketnya di Ari Kiting, lagi dapet kuota Kemendikbud.”
“Wah parah banget lu, kuota belajar malah dijadiin nonton Tik-Tak.” Sarah menggeleng dua kali. “Ya udah deh, gue pulang sama Kelly hari ini.”
“Ngapain gue ke sini, Maimunaah?” tanya Andi.
“Ya ga ada, gue pengen ketemu lo aja sambil ngenalin temen gue. Kan lo enggak pernah kenal sama temen gue selama ini,” balas Sarah sembari menggandeng tangan Kelly. “Gimana asyik kan cowok gue?”
“Iya, ganteng lagi ….”
“Jelas dong, kan cowok gue.”
__ADS_1
Sarah dan Kelly malah pergi ninggalin Andi sendirian. Andi ngos-ngosan karena udah ngabisin belasan ribu buat duduk di café ini akhirnya ga jadi ngejemput Sarah dan dia malah pergi sama temennya. Ni Sarah lama-lama udah kaya di SMA lagi, ngeselin!”
***