Andi X Sarah

Andi X Sarah
117. Rumpi cewek (SEASON 3)


__ADS_3

Sepanjang bermain air bersama teman-temannya, Sarah selalu memerhatikan Tami yang tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya terlihat kalem, meskipun masih ada senyum yang masih tertuang di sana. Namun, tidak terlihat alami dan terkesan ingin ikut dalam suasana saja. Padahal, Sarah tahu kalau Tami sangat senang bermain air seperti ini, terlebih lagi mereka berada di waterpark karena ada banyak yang bisa dimainkan. Kini malah terbalik, bukannya Sarah yang terlihat merasa bete, melainkan Tami.


Ada banyak yang bisa mereka lakukanh di sini. Sungai buuatan berombak bisa mereka telusuri sepanjang waterpark. Ada pula arena bertajuk `tsunami` karena ada sebuah kolam luas yang akan ada gelombang ombak pada setiap periode waktunya. Di sana banyak sekali orang berkumpul untuk menunggu gelombang datang. Berbagai jeni wahana bisa dilihat\, mulai dari paling tinggi hingga buat bocil umur lima tahunan. Ada seluncuran lurus ke bawah yang bikin jantung copot\, ada pula yang spiral sehingga bikin pusing. Ada yang bisa digunaka sekaligus dua orang\, banyak orang\, dan sendirian buat para jomblo akut yang cuma sendirian ke sini.


Sarah pasti senang dengan wahana-wahana yang memacu adrenalin. Bahkan, ia berniat sendiri untuk mencoba wahana seluncuran kematian yang paling tinggi di waterpark ini. Tidak ada yang sanggup menaiki lagi di antara mereka, kecuali Sarah sendiri. Pikir Sarah, menyenangkan jika ia bisa berdua bermain bersama Andi di sini. Andi pasti semangat melakukan hal-hal berbahaya berkali-kali.


Hari sudah lebih dari pukul dua belas siang. Terik matahari semakin membahana saja menyinari warga bumi. Tasya sampai menggunakan kacamata hitamnya karena takut kesilauan. Sementara Sarah terus mengenakan kacamata renang milik Tami yang juga warna hitam. Untung saja sudah memakai tabir surya sebelumnya. Namun, jika panas menyengat seperti ini tidak baik juga berlama-lama. Oleh karena itu, mereka kembali ke gazebo untuk mengeringkan diri.


“Hai …,” goda salah satu pria yang berjalan bersama kelompoknya. Pas sekali mereka sedang berselisih jalan.


“Iya Bang ….” Tasya membalasnya, bukan karena centil, melainkan hanya sekadar beramah diri saja.


“Lagi asyik banget nih berenang rame-rame. Boleh minta nomor WA-nya dong yak an ….” Ia meliha ke kelompoknya sembari tersenyum-senyum. Tampak teman-temannya tersebut malah mendukung aksi tersebut.


Sarah merasakan jika Tami mendorongnya agar pria-pria itu tidak lagi mengganggu. Namun, tampaknya Tasya lebih mendominasi kali ini. Melihat teman-teman pria itu malah keganjenan, Sarah pun maju,


“Minta WA? Murah banget cara PDKT lo!” sindir Sarah


“Ih, gadis malah galak. Santai dong,” balasnya.

__ADS_1


“Ga apa Sar ….” Tasya mengkode Sarah dengan ujung telunjuknya. “Minta WA ya? WA-nya yang mana nih? Ada banyak cewek ….”


“Kalau bisa ….” Ia melihat ke kelompoknya lagi. “Semuanya doong ….”


“Ih … gue panggil Kevin ke sini nyaho lo pada!” Sarah mulai ga tahan lagi.


“Lo kenapa sih?” tanya pria itu pada Sarah. “Kaga kenal gue Kevin siapa.”


“Ke sini naik apa yang bang? Kalau boleh numpang dong kami ….” Tasya memancing.


“Weeh … pakai motor dong. Bisa-bisa … kita anterin sampe ke rumah.”


“Aduh sayang banget ya … gue lagi ke sini pakai BMW gue, kalau cewek hijaban ini pakai apa?” Tasya bermaksud menunjuk Naila.


“Gue Altis ….,” jawab Tami.


Sekarang giliran Sarah. “Gue? Gue pakai motor traill yang kalau balap samap motor metik mber kalian, bakalan ketinggalan jauh. Plis deh … norak banget ….”


“Kayanya ga level deh sama kita-kita.” Tasya memberikan jari tengahnya. “Ayok guys … kita pergi …..”

__ADS_1


“Awas aja lo ketemu di luar. Gue kenalin ke Kevin ….” Sarah menatapi mereka semua,


Mereka semua tertawa-tawa mengingat wajah cowok-cowok itu yang pada diam dan tidak berkutik. Gimana enggak diam, lah Tasya dan teman-temannya udah main materi. Pasti bikin insecure cewek-cewek tersebut. Mereka pun saling tos-tosan karena udah bikin cowok-cowok itu pada malu.


“Kalau ada cowok yang cat calling, itu pelehan loh. Dibikin malu aja sekalian,” ucap Tasya.


“Bener banget tuh. Sumpah norak nge-hai ng-hai sama cewek yang sama sekali enggak mereka kenal. Udahlah jelek, sok gentit pula. Hiii!!!” Sarah kelihatan banget jijiknya sama mereka. “Coba aja kitab awa Kevin atau Andi ke sini, pasti udah diajak gelud tuh mereka.”


“Jangan Bang Kevin deh, kasian mereka. Ototnya aja udah kaya om dedi kobujer. Tinggal botakin aja deh dia, pasti mirip banget,” sambung Sarah.


“Hehe … iya, Kevin itu kok bisa gede gitu ya ototnya ….”


“Eh, jangan salah … Bang Pram juga loh. Tapi enggak segede Bang Kevin. Soalnya, Bang Kevin itu ngajarin Bang Pram nge-gym sejak mereka masih SMP. Mereka kan sahabatan dari dulu, itu sih kata Ajiz ….”


Sarah menunjuk Naila. “Ciee … kok Ajiz mulu cerita lo? Gimana sih status hubungan kalian yang sebenarnya?”


Wajah Naila tampak malu-malu ingin menjawab hal tersebut.


“Beneran? Pasti Pram itu sexy banget ya? Kelihatan sih dari postur tubuhnya ….”

__ADS_1


“Hmmm … Tasya, kamu kenal Pram ya?”


Sarah diam-diam melihat Tami. Ia tahu ujung pertanyaan itu bagaimana, menyangkut hubungannya dengan Pram itu sendiri.


__ADS_2