Andi X Sarah

Andi X Sarah
120. Si Jago Merah (SEASON 3)


__ADS_3

Bagaimana ia segamblang itu membicarakannya dengan Andi? Padahal ia bukanlah orang dekat yang sudah lama kenal dengannya. Tasya tidak lebih sekadar teman baru yang tidak sengaja ia kenal dari temannya yang lain. Tidak ada pula momen keakraban yang pernah merek jalani. Jika waktu itu Tasya mengajak Andi ke ulang tahun wanita itu, Andi pun sampai saat ini masih bertanya-tanya kenap bisa ia mengundang Andi begitu saja. Padahal, ia baru saja berkenalan.


Ia memikirkan hal itu di atas motor sembari memaki seekor ayam yang kaya lagi mau bunuh diri. Andi bahkan memakinya ketika ayam itu berteriak karena Andi hampir saja melindasnya. Udah Andi klaskson dari jauh, eh ayam itu masih aja nangkring di tengah jalan. Waktu Andi hindari, eh ayam itu malah bergerak ke arah ban motor Andi. Untung saja Andi ngerem dengan cepat dan bikin ayam itu teriak-teriak sembari lari ke semak. Hampir saja Andi mengganti uang atas nyawa ayam tersebut.


Belum sampai Andi ke rumah, ia sudah disambut oleh dua orang cewek yang sedang bermain basket di halaman depan. Sarah sekarang sedang melawan Aisyah dalam permainan satu lawan satu. Jelas sekali Sarah mendominasi permainan karean Aisyah pandainya ngaji doang, kaga pandai main basket. Kebetulan sekali bola terpantul ke arah Andi. Andi pun mencoba menembak bola dari jarah jauh dan berhasil mendapatkan tiga poin.


“Gue memang pemain futsal, tapi kalau basket gue juga pandai,” ucap Andi.


“Swamiku udah datang ….” Sarah menyeka keringatnya.


“Pacaram is haraaam ….” Aisyah menggeleng waktu mendengar kalimat Sarah. “Aku masuk dulu ngambil minum ya Kak.”


“Oke adik ipar ….” Sarah mengambil bola basket tersebut, lalu berjalan ke arah Sarah. “Lo suka bau keringat gue kan?”


“Ya kaga … mana ada orang yang suka bau keringat,” balas Andi.


“Gue suka bau keringat lo, masa lo ga suka bau keringat gue?” tanya Sarah.


“Selera macam apa ini!” Andi menjentik dahi Sarah. “Tami mana? Biasanya main basket sama Tami.”


Sarah menoleh ke arah rumah Tami. “Oh Tami … dia belum pulang dari kantor. Kayanya lagi ada kerjaan banyak. Biasanya kan jam segini udah pulang dan lo udah nangkring di depan kulkasnya Tami.”


“Gue enggaki segitunya juga kali sering nangkring di depan kulkas Tami.”


Ujung lidah Sarah kelihatan untuk mengejek Andi. “Lo itu kaya Rubah Si Pencuri di kartun Dora. Diam mengendap-ngendap mencuri makanan. “


“Ada … ada aja lo Sar.”


“Pergi beli seblak SMA yok ….”

__ADS_1


“Pilihan yang bagus sistaa … mari kita gas kan membeli seblak.” Andi mengandeng Sarah. “Gue lapar nih. Dari siang belum makan.”


“Lah emangnya lo kaga bawa bekel?” tanya Sarah dengan heran.


“Iya, gue bawa ….”


Mereka berdua sudah naik ke atas motor.


“Terus kok ga dimakan?”


Andi mengangguk. “Gue makan kok.”


Jawaban Andi mendapatkan hadiah cubitan dari Sarah. “Lah kenapa lo bilang enggak makan dari siang?”


“Ya kan gue makannya siang, terus ga makan lagi setelah itu. Bener dong gue enggak makan dari siang tadi. Ya kan?”


“ANDII!!!!”


Ini bukan judi … tapi tergantung gimana prosesnya. Kecuali kan gue cuma nebak doang. Ini gue ada analisa dulu sebelum main, ucap Memet mencari keberanan. Udahlah sesat, malah ngebenar-benarin hal yang salah. Andi yang goblok pun malah mengiyakan dan mendownload aplikasi bermain slot online yang lagi digandrungin pria-pria warung jaman sekarang.


Sesampainya di warung seblak yang dimaksud, Sarah memesan dua porsi bungkus karena mereka ingin menikmati makan bersama di rumahnya nanti. Selain itu, mereka juga bisa bikin teh hangat dingin gratis. Kalau makan di sini, teh dingin kan harus bayar. Jadi untuk efesiensi ekonomi, istilah apaan sih!


“Waduh kok ada mobil pemadam kebarakan nih ya?” Andi menoleh ke jalan.


“Gantungin nih plastik seblaknya di motor. Panas kalau gue yang megang.”


“Iya … sini gue gantungin.” Andi masih menoleh ke arah jalan sembari mengantungkan plastik seblak. “Entah kenapa gue selalu gamang ngelihat pemadam kebakaran.”


Sarah mulai naik ke motor. “Biasa aja kali, kan mereka lagi kerja.”

__ADS_1


“Sumpah Sar, gue itu kaya cemas gitu kalau ada mobil kebakaran. Mungkin karena mobilnya gede terus serine-nya bikin panik.”


Motor Andi hidup sewaktu diengkol. Bertepatan sekali ada satu mobil kebakaran lagi yang datang dan bikin Andi tidak jadi melanjutkan perjalanan. Ia tunggu dulu mobil kebakaran itu lewat agar mereka bisa cepat sampai di tempat bertugas. Dari kejauhan, tampaklah mobil kebarakan tersebu berbelok ke Jalan Mana Tahan di mana satu jalur dengan Kedai Pak Topoi dan Kedai Mas Momon.


“Anjir … itu asapnya deket banget loh!” Andi menunjuk langit yang sudah menggumpal asap hitam. Ia mempercepat laju motor untuk melihat rumah siapa yang sedang kebarakan. Soalnya, Andi banyak mengenal daerah tersebut karena sering nongkrong di sana.


“Ga usah Ndi. Ngapain juga ….”


“Mana tahu rumah temen SMA kita, di sana kan banyak banget temen SMA kita.


Andi berbelok ke arah Jalan Mana Tahan dengan pergerakan tajam. Hampir kaya Om Rossi yang lagi belok, Sarah terpaksa memeluk erat Andi agar tidak tercampak dari motor bebek modifikasi ini. Sarah sampai marah-marah gara Andi selalu menghantam lubang, mengingat Jalan Mana Tahan ini dipenuhi oleh lubang-lubang tergenang air.


“Andi!” Sarah menepuk-nepuk pundak Andi dengan panik. “Itu kan kedai Mas Momon!”


“Astaga, Sar!


Api berkobar di kedai Mas Momon dengan asap hitam pekat mengepuk ke atas. Serine mobil kebakaran menggema dari kejauhan. Warga dari arah motor Andi banyak yang berlarian untuk melihat apa yang sedang terjadi. Andi dengan cepat memarkirkan motor di tepi jalan, lalu memegang kedua pundak Sarah.


“Sar, lo di sini aja. Jangan mendekat ke sana.”


“Andi … jangan deket ke sana!”


Andi tidak menghiraukan kalimat Sarah. Ia tetap mendekat warung Mas Momon yang dilalap jago merah. Warga-warga sekitar tampak panik. Banyak di antara mereka menolong dengan alat seadanya berupa ember-ember yang disiramkan ke warung tersebut. Andi mendapati para anak Kodomo membantu dengan menyalurkan ember-ember warga agar bisa disiram ke warung yang terbakar.


Tangan Andi mencoba menghentikan langkah Kevin yang panik.


“Kevin! Apa yang terjadi? Kok bisa begini?” tanya Andi.


“Nanti dulu … kita padamin apinya.” Kevin memberikan satu ember kepada Andi.

__ADS_1


Dengan dada berdegup kencang akibat kecemasan Andi terhadap mobil kebakaran, ia menolong yang lain untuk memadamkan api yang melalap warung Mas Momon.


***


__ADS_2