
“Lo mau mesen atau nunggu aja?”
“Nunggu aja?” tanya Memet. Tentu saja ia bingung dengan penjelasan tersebut.
“Hmm … sebenarnya shift gue selesai setengah enam sore. Kalau lo mau nunggu gue selesai, kita bisa jalan ke mana gitu setelahnya ….”
“Jalan?” Wajah datar Memet ketara banget.
“Iya, ke mana kek makan seblak, makan bakso bakar, minum pop ice atau ke mana aja … atau bisa juga ke belakang rektorat. Soalnya, kalau sore-sore ini tamannya asyik banget buat nongkrong. Lo ga ke mana-mana kan?”
Memet menggeleng. “Enggak … ya udah … gue tunggu aja. Dua puluh menit lagi, enggak lama kok.”
“Oke … gue balik ke meja barista dulu ya. Bye Memet ….”
Memet tidak tahu mimpi apakah ia tadi malam. Perasaan Memet sedang tidak mimpi Andi lari sambil makai ****** *****. Lah kok mimpi begitu? Jadi Andi dulu pernah mereka becandain waktu main bola di lapangan. Mereka nelanjangin Andi dan Memet membawa lari seluruh pakaiannya. Adegan absurd itu pun sampai ke bawa mimpi. Anehnya, pasti ada keberuntungan yang didapati Andi sehari setelah mimpi tersebut. Kata Andi, kalau orang mimpi dirinya dengan adegan aneh, bakalan dapat keberuntungan.
Sabar Memet menunggu sembari bermain game slot online. Chip Andi di aplikasi udah sampai one billion. Kalau diuangin, bisa berkisar enam ratusan ribu. Lumayan juga buat jajan harian atau pun bawa jalan Ipit ke mana saja yang ia mau.
Ngomong-ngomong soal ngajak jalan cewek, Memet tidak pernah memiliki pengalaman. Soalnya selama ini, cewek-cewek pada takut sama Memet yang nyeremin. Ia terkadang meminta saran kepada Andi yang sudah berpengalaman dalam mengajak jalan cewek. Kata Andi, seorang pria harus terlihat cool dan keren, jangan berlebihan karena bisa bikin cewek jadi ilfil. Tatapan harus ga jelalatan, tetaplah fokus pada mata cewek itu, tapi kalau sesekali jelalatan pun boleh asal jangan ketahuan. Kalau jalan berdua, jalan harus sedikit lebih mendahului cewek, tapi jangan kelewatan. Nanti ceweknya malah ketinggalan di belakang.
Semua saran Memet terima. Ia mencatat setiap saran dari Andi yang sudah berpengalaman sebagai fakboy, tapi sekarang sudah insaf. Saran-saran tersebut ia praktikan di depan kaca dengan bantal guling sebagai pengganti cewek yang akan diajak jalan. Eh ujung-ujungnya cuma sampai ngajak makan Tami ke warung soto sekitaran komplek. Itu pun mereka perginya dengan kendaraan masing-masing. Tami naik mobil Altis, Memet ngebut pakai motor supra 110 Cc modifikasi. Sebuah kasta bagaikan langit dan bumi. Padahal, Memet berharap mereka jalan ke café, kebun binatang, taman, museum, atau tempat yang bisa berduaan lainnya.
__ADS_1
“Uanjir menang satu billion!”
Bunyi jackpot game slot online terdengar dari handphone Memet. Pundi-pundi rupiah dari game tersebut nambah lagi. Kalau Memet bikin story WA akan hal itu, Andi bisa-bisa minta sedekah chip kepadanya. Jadi, Memet mengurungkan niat untuk pamer dulu.
“Main apaan?” Ipit mengintip ke arah layar hape Memet.
“Eh ga ada ….” Memet langsung mematikan hapenya.
“Gue udah selesai nih … ayo kita pergi.”
“Mari ….”
Sesampainya mereka ke parkiran, Ipit mengikuti Memet dari belakang.
“Motor lo mana? Biar gue keluarin,” ucap Memet. Kali ini dia mau nunjukin skill tukang parkir, soalnya Memet bisa mundurin motor pakai satu tangan saja.
“Motor gue? Gue kira sama lo perginya …..”
Berseri-serilah hati Memet tatkala kalimat manja Ipit itu tertuju padanya. Tanpa menjawab, Memet mengeluarkan motornya langsung kontan tanpa diutang, soalnya ini kesempatan besar untuk bisa boncengan sama cewek. Motor Memet selalu tampak bersih dan performa yang prima. Walaupun motornya tidak mahal, setidaknya tidak malu-maluin.
“Mon maap ni ye Pit. Motor gue ya begini bentuknya ….”
__ADS_1
Ipit melihat motor Memet dari ujung ban hingga ujung stang. Ia heran kenapa cowok sering melepaskan kaca spion, padahal kaca spion itu sangatlah penting untuk pengguna motor. Bisa-bisa nanti malah ketabrak gara-gara tidak lihat lawan di belakang. Tapi, Ipit tidak mempermasalahkan motor Memet secara keseluruhan. Ia malah tersenyum kepada Memet.
“Bentuknya gimana? Ini kan masih motor, masih bisa jalan, ga apa kok ….”
Naiklah Memet ke motornya, lalu diikuti oleh Ipit di belakang.
“Soalnya banyak cewek yang malu kalau dibonceng pakai motor ginian, heheh ….”
“Lah, gue manggung kaya rocker, ga malu-maluin. Santai aja, jadilah diri sendiri.”
Pergilah mereka berdua ke depan kampus dulu untuk membeli makanan berupa telur gulung dan bakso goreng. Minuman pun pop aise blenderan rasa permen karet untuk Memet dan stroberi untuk Ipit. Sederhana sekali, tidak ada kata mahal dari jajanan mereka berdua. Setelah membeli makanan tersebut, duduklah mereka berdua di hamparan rumput landau belakang Gedung Rektorat. Di hadapan mereka terdapat kolam luas sebagai hiasan taman. Sekeliling kolam tersebut tampak duduk para mahasiswa yang sedang berbincang.
“Makasih ya buat makanannya,” ucap Ipit.
Sebenarnya Ipit tadi mau bayar setengah untuk hidangan sore ini, tetapi Memet malah bayar semuanya.
“Iya ga apa. Ini doang kok murah, hehehe … jajanan anak SD ini mah.”
“Tapi kan enak … hahaha ….” Ipit tertawa pelan sembari menoleh kepada Memet. “Met, lo udah punya pacar?”
Terdiamlah Memet mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1