
Andi mendapati jika karang taruna di desa ini sangat aktif. Mereka banyak membuat kegiatan untuk mendukung minat dan bakat pemuda-pemudi desa. Pemuda ruti melaksanakan permain volley, turut pula membuat tim profesional untuk pertandingan antar desa. Aktifnya komunitas volley desa telah membawa satu perwakilan sebagai atlit bertaraf kabupaten apabila diadakan turnamen antar kabupaten. Pemudi cewek turut terbantu dengan menambah skill menjahit, memasak, serta berorganisasi. Pemudi rutin melaksakan kursus menjahit dan memasak yang tutornya didatangkan langsung dari pihak kedinasan setempat.
Suatu suasana yang positif jika seluruh wilayah di negeri ini melaksanakan kegiatan yang serupa. Pemuda dan pemudi Indonesia tidak lagi minim pengalaman karena sudah dibina dari taraf desa. Mereka bisa bersaing untuk dunia kerja, maupun membuat lapangan pekerjaan agar mengurangi tingkat pengangguran yang aduhai sudah tiada duanya. Andi aja sampe bingung besok nih setelah lulus kuliah mau kerja di mana. Nganggur pun harus dijalani serta bersaing dengan jutaan freshgraduateed lainnya.
Ga tau nih, Andi jadi idealis begini. Soalnya sejak jadi Ketua KKN, Andi perlahan kaya anggota organisasi yang sering koar-koar dengan permasalahan sosial. Padahal di kampus Andi sebenarnya masa bodo. Mau ada perekrutan anggota organisasi atau bursa perebutan kursi ketua, yang penting Andi bisa ngopi dengan santai di kantin.
Andi bersanding dengan Bang Asep yang berposisi sebagai Ketua Karang Taruna Desa Maju Jaya. Meskipun ia sibuk dengan pekerjaan tani dan ternak, Bang Asep masih menyempatkan meluangkan waktu untuk para pemuda dan pemudi desa. Mereka kali ini membahas kegiatan tujuh belasan yang seminggu lagi akan diadakan. Bertepat di aula utama Kantor Kepala Desa, seluruh partisipan panitia berkumpul untuk berdiskusi.
“Gue ….” Andi lupa kalau bukan lagi di posko. “Eh saya berterima kasih karena sudah dipercaya buat jadi Ketua Panitia. Padahal di sini ada Bang Asep yang udah berpengalan di desa.”
“Oh enggak apa-apa kok. Itung-itung belajar buat ngadain kegiatan hehehe,” balas Bang Asep.
“Jadi … pertama kita harus ngumpulin ide permainan apa yang akan diadakan, lalu baru kita rancang teknisnya gimana, sekaligus etimasi biaya yang harus dikeluarkan, baik operasional dan hadiah.”
Sarah terkejut dong Andi bicaranya lancar begitu. Ia seperti melihat seorang organisator yang sudah berbicara di muka umum. Padahal selama ini Andi menolak untuk tampil di depan orang banyak. Gaya bicaranya pasti gagu kaya orang goblok.
“Makan kerupuk.”
“Panjat pinang pasti dong masa ga ada.”
“Masukin botol dan paku …. Eh masukin paku dalam botol.”
“Lomba balap sendok kelereng.”
“Main bola pakai sarung buat bapak-bapak ….”
Banyak sekali pendapat yang berdatangan. Andi sampai bingung untuk meladeni siapa. Ia pun meminta Tasya sebagai sekretaris untuk mencatat setiap pendapat. Terkumpullah berbagai permainan tujuh belasan yang akan dilaksakan nantinya. Total ada lima belas lomba, baik untuk anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan pemudi desa. Banyak sekali karena mengingat perlombaan ini mencakup satu wilayah Desa Maju Jaya.
Ada pun lomba-lomba inti ialah panjat pinang, volley wanita, bola sarung pria, dan lomba tarik tambang. Biaya yang akan dikeluarkan tentu saja relatif besar. Diskusi menentukan jika mereka butuh dana lima belas juta rupiah. Mereka akan memakai acara malam puncak yang akan menghadirkan orgen tunggal dengan acara inti cabut undian.
“Jadi, bagaiamana teknik kita nyari dananya ini, Bang? Kalau normalnya ya kita nyebar proposal gitu …”
“Kalau di desa mah aman, Ndi. Kita punya dana desa khusus Karang Taruna, sama sisa dana tujuh belasan tahun lalu. Nanti kamu bikin tim untuk nyebar proposal, baik ke toko-toko, perusahaan, sama warga sekitar. Pasti terkumpul kok, malah lebih.”
Andi mengadap kepada anggota lainnya. “Baiklah, kita kan sudah bentuk panitian inti dan panitia kegiatan lombanya. Selanjutnya, kita akan bentuk lagi panitia buat nyebar proposal.”
Tangan Tasya mengangat tangan. “Ndi, gue hubungin Papa buat ngasih dana, boleh kan?”
Dari imajinasi mata Andi, muka Tasya udah kaya icon duit. Anak orang kaya ini pasti tidak main-main dalam mengucurkan dana, apalagi papanya Tasya itu anggota DPR.
“Wah, boleh banget dong, sangatlah amat sungguh begitu dianjurkan. Heheh ….” Andi memberikan jempolnya.
“Sebagai informasi, Neng Tasya ini anaknya anggota DPR yang membina desa kita,” jelas Bang Asep.
Seluruh hal penting mengenai kegiatan tujuh belasan pun sudah dibicarakan. Mereka makan siang bersama sekaligus berkenalan satu sama lain. Untuk pertama kalinya anak KKN berkumpul dengan pemuda dan pemudi Desa Maju Jaya. Andi senang jika mereka bisa akrab dengan cepat, terbukti dari mereka yang saling bertukar nomor maupun follow-followan akun Instagram.
Di dalam posko ribut sekali karena Sarah bercandanya pakai kebangetan, kaya orasi sama para pemudi. Belum lagi Nanang yang gila main mobail lejen, kini nunjukin sosok aslinya bersama ketika mabar bersama pemuda. Andi ga diajakin karena dia memang tidak suka main mobail lejen. Oleh karena itu, Andi duduk di belakang Kantor Kepala Desa buat merokok dan menikmati apotek hidup yang dikelola oleh Karang Taruna.
Lagi asyik-asyiknya nyantuy, datang Sofi yang duduk di samping Andi. Andi pun bergeser pada kursi panjang itu untuk memberikan ruang kepada Sofi.
“Bang … boleh dong kita follow-followan Instagram kaya yang lain ….” Sofi malu-malu mengucapnya.
“Boleh dong ….” Andi memberikan handphone-nya kepada Sofi. “Ketik aja nama kamu di sini, nanti follback ya. Jangan lupa loh.”
“Oke Bang ….”
Mereka pun tuker-tukeran Instagram. Andi sempat memerhatikan akun Instagram Sofi yang berisikan foto-foto gadis itu. Cukup kalem, tidak kaya anak kota yang sering pamer kemewahan. Padahal nih Sofi kehitung anak sultan di desa. Emaknya punya toko pupuk terbesar di desa, serta bapaknya merupakan pejabat di perusahaan perkebunan.
__ADS_1
“Bang selfie dong …,” ucap Sofi sambil memperlihatkan kamera depannya. Andi jadi insecure ngelihat hape Sofi yang merupakan aipon terbaru. Andi cuma makai hape siomay yang sekarang udah ngeleg kalau dimainin game pubg. “Ini aku lagi sama Ketua KKN kita nih. Jangan lupa ikutin terus Insagram kita yah untuk kegiatan-kegiatan tujuh belasan.”
Andi baru sadar kalau Sofi jadi pengelola akun Instagram Karang Taruna.
“Jangan lupa tandain Abang sama akun Instagram KKN ya. Nanti direpost kok ….”
“Oke Bang ….” Sofi menekan tombol kirim pada lama instagramnya. “Jadi Abang sampai kapan di sini?”
“Kira-kira tiga minggu lagi deh baru kami balik lagi ke desa.”
“Yah … Abang ga ke sini lagi dong setelah itu?”
“Ke sini atau enggaknya Abang masih ga tau, bisa jadi enggak atau pun bisa jadi iya. Soalnya setelah ini Abang harus jadi guru magang dan ngerjain skripsi. Setelah lulus, Abang juga harus nyari kerja.”
“Jangan lupain kita ya Bang kalau udah ke kota. Soalnya banyak anak KKN yang ga ada kabar lagi. Padahal dulu akrab sama kita ….”
“Iya Sofi, Abang ga akan lupa kok sama kalian, sama Sofi juga.”
Sofi tersenyum. “Makasih ya Bang. Mog akita ketemu di kota, soalnya Ibuk setuju kalau Sofi kuliah di Jakarta. Sofi mau ngambil kuliah hukum.”
“Wah, masuk kampus Abang aja. Kampus hukumnya terkenal bagus tuh,” balas Andi.
“Beneran ya? Nanti Sofi bilang ke Ibuk.”
Mereka saling tersenyum satu sama lain. Tanpa sengaja Sofi menyentuh tangan Andi tatkala ia menurunkan tangannya. Sofi pun segera menarik tangannya.
“Sorry Bang ….”
Betapa lucunya muka lugu Sofi sewaktu malu-malu.
Anak KKN kembali pulang ke posko KKN. Nanang dan Rijek langsung molor tidur siang di kamar. Sementara anak cewek pergi untuk berkegiatan ke rumah salah satu warga yang sedang mengadakan kegiatan masa memasak untuk ulang tahun anaknya, kecuali Tasya yang sibuk dengan laptop. Gadis itu sedang rajin-rajinnya membuat proposal kegiatan karena esok hari mereka langsung nyebar proposal, mengingat jika waktu mereka hanya kurang dari dua minggu.
“Ngopi dulu biar nyantuy. Kalau mau rokok, ini ada ….” Andi meletakkan kopi dan rokoknya.
“Aneh-aneh aja lo nyuruh gue ngerokok,” balas Tasya sembari menyeruput kopinya. “Makasih ya.”
“Jangan dipaksain siang ini. Kan malam ada.”
“Ah enggak apa kok. Gue udah biasa jadi sekretaris di BEM Fakultas dulu, jadi bikin proposal bukan hal yang rumit lagi. Lagian gue udah ada formatnya, tinggal copas format BEM aja deh hehehe …..”
“Rajin banget lo. Gue pasti bikin yang beginian.”
Tasya menoleh kepada Andi. “Mesra amat sama Sofi tadi.”
“Ah masa? Biasa aja kok. Dia anak yang baik.”
“Kayanya dia suka sama lo deh,” jelas Tasya.
“Banyak yang suka sama gue, jadi ga heran.” Andi menunjukkan muka songongnya kepada Tasya.
“Nabe suka sama lo juga kan?”
Andi terdiam dengan pertanyaan tersebut. Bagaimana ia bisa tahu kalau Nabe menyimpan rasanya padanya, meskipun Andi sudah terbiasa dengan hal tersebut. Bahkan, mereka sudah menjadikan hal tersebut sebagai candaan, tidak lebih dari sepasang teman yang jenaka.
“Enggak kok, dia tetap temen gue. Mana ada Nabe suka sama gue, meskipun kami memang kelihatan dekat.”
“Gue ini cewek, Ndi. Jadi gue tahu kaya mana cewek ngelihat cowok. Diam-diam begitu Nabe itu sering ngedeketin cowok orang loh.”
__ADS_1
“Tasya, lo kok gitu sih? Dia itu pendiem gitu lo katain suka ngedeketin cowok orang,” bela Andi meskipun sebenarnya ia tahu mengenai masa lalu Nabe yang suka ngopen BO.
“Firasat gue aja. Jadi lo hati-hati sama dia. Lo ga mau kan hubungan lo sama Sarah keganggu.”
Andi tidak tahu bagaimana hubungan mereka berdua kok bisa ngejelekin Nabe begini. Benar adanya kalau Nabe suka sama Andi. Tapi, hubungan mereka tidak seperti yang diperkirakan oleh Tasya. Nabe sama sekali tidak pernah bermaksud untuk merebut Andi dari Sarah, berkali-kali Nabe menjelaskan itu. Nabe bilang kalau perasaann suka itu hanya sebatas suka saja, asalkan Andi jangan menjauh darinya atau bahkan membencinya. Andi tidak mempermasalahkan prinsip tersebut karena dari awal Andi sudah berjanji untuk tidak menjauh agar Nabe pergi dari ruang lingkup dunia malam.
“Ga boleh gitu, Tasya. Nabe baik-baik aja kok sama gue. Dia temen gue.”
“Bagus dong kalau begitu,” balas Tasya dengan cuek.
“Oke deh, gue ke warung tongkrongan Bang Asep dulu ya. Bang Asep ngajakin main domino.”
Ia beranjak dari pondokan belakang tersebut. Tidak ia sangka Tasya mempunyai prasangka seperti itu kepada Nabe. Andi jadi kasian sama Nabe yang masih saja dipandang buruk sama cewek lain. Padahal, Sarah saja sebagai pacarnya tidak pernah memandang Nabe seperti itu. Bahkan, Sarah lebih percaya kepada Nabe. Sarah sering nanyain Andi ke mana tatkala chat dari Sarah tidak Andi jawab, Nabe pun menjawab jujur tanpa ada yang ditutup-tutupin.
Ya begitulah ruang lingkup pertemanan cewek yang Andi ketahui, tidak terkecuali Saah yang juga sering ngegibah sama temen-temen cewek yang lain.
Proposal sudah selesai dibuat oleh Tasya. Proposal di-print di Kantor Kepala Desa keesokan harinya. Siang hari Andi sudah memberikan proposal-proposal tersebut kepada anggota. Ada tim untuk datang ke perusahaan-perusahaan sekitar, ke warga desa, dan usaha menengah yang ada di kawasan desa.
Andi kebagian untuk mendatangi usaha menengah yang dimiliki warga. Kali ini ia berpartner bersama Nanang. Padahal sebenarnya Andi bisa meminta anggota lain untuk itu, tapi Andi berbaik hati untuk ikut berpartisipasi dalam penyebar proposal. Sudah pasti Andi paling pertama ke usaha paling besar se-desa, yaitu toko pupuk milik Ibu Titin, alias emaknya Sofi. Andi dan Nanang jalan kaki ke sana.
“Samelekooom …..” Andi memanggil di depan pintu rumah, bukan ke toko. Maksud Andi ialah langsung bertemu dengan Ibu Titin.
“Ada orang ga nih kira-kira Ndi?”
“Lah pasti ada dong. Pintunya aja kebuka,” balas Andi.
Sekitar tiga kali mengucapkan salam, Maya menyambut mereka berdua. Terlihat bocil perempuan yang sedang makan eskrim. Di hidungnya masih ada ingus yang meler. Pasti nih anak sering banget makan es. Sebelumnya Andi juga disambut Maya yang sedang minum es kiko enak tau.
“Eh, Pak Nanang.” Muka Maya riang melihat Nanang, sementara itu langsung sinis kepada Andi. “Lah Om Andi?”
Sudah biasa Andi dipanggil Om ketika orang lain masih dipanggil Bapak atau pun Ibuk.
“Ibuk ada Maya?” tanya Nanang.
“Pasti OM Andi mau nyari Kak Sofi, kan?” tanya Maya.
“Eh bocil, gue kaga nyari kakak elu,” jawab Andi. Pinggangnya langsung dicubit sama Nanang.
“Ga kok, kita nyari ibuk. Ada ga ibuknya?”
“Ada di dapur Pak, masuk aja.” Maya kemudian menatap kepada Andi. “Om ga boleh masuk.”
“Ya elah gue disuruh berdiri di sini kayanya.” Andi menggeleng-geleng wajah.
Suara langkah terdegar dari belakang mereka. Sewaktu Andi dan Nanang menoleh, ia melihat seorang bapak-bapak yang sedang memegang senapan angin. Andi mengingat kalau bapaknya Sofi hobi berburu dengan senapan angin.
“Nyari siapa?” tanya bapak yang bernama Pak Alam.
“Ini Pak saya Andi Ketua KKN Desa ini. Kami dari anak KKN mau menjelaskan proposal buat kegiatan tujuh belasan.”
Mata Pak Alam melihat Andi dari bawah ke atas. “Loh ini yang mau ngedeketin anak saya?”
“Eh enggak kok Pak.” Andi jadi panik.
“Beneran Pak, Om Andi ini selalu nyari Kak Sofi.”
“Ganteng juga … ayo masuk.”
__ADS_1
Andi langsung kaya orang goblok. Tadi takut setengah mati, kini malah disuruh masuk.
***