
Group Kuburan Korban Pembunuhan Sarah (4 Peserta)
Andi: Bro, main ke kedai Pak Topoi. Udah lama nih enggak ke sana.
Nanang: Gaslah, jemvut gue tapi.
Agus: Sorry Bro, lagi dinas nih.
Felix: Sombong banget semenjak udah jadi, Gus!
Nanang: Lah elo sendiri sibuk jagain toko.
Andi: Sama-sama paham aja lah ya kan. Gue enggak maksa, kok.
Nanang: Jemput gue, Ndi. Pakai mobil tapi, sumpah panas.
Andi: Banyak kali minta kau ya. Diam kau di situ, biar aku yang ke sana.
Ya begitulah sepenggal percakapan mereka di group. Yang dulunya ada di group aplikasi LINE, sekarang udah pindah ke WA. Enggak tahu ya, author-nya juga gitu dulu. Waktu SMA make LINE, eh waktu kuliah pindah ke WA.
Kembali ke topik ….
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaaan, tentu saja aktivitas tidak lagi melulu tentang kebersamaan. Usia dan pengalaman telah menyita sedikit demi sedikit waktu yang dulunya dihabiskan bersama. Yang dulu sering ngumpul, sekarang udah jarang. Yang dulunya semuanya bisa ngumpul, eh sekarang cuma yang bisa aja. Itu semua sudah biasa terjadi di kota-kota besar, eh salah, maksudnya di dunia pertongkrongan, termasuk Anak Amak sendiri.
Andi pun memaklumi hal tersebut. Terkadang ia pun bersikap seperti itu tatkala Nanang ingin mengajaknya keluar. Semenjak dunia pertongkrongan mulai dilanda kesibukan, palingan Andi dan Nanang saja yang sering ngumpul. Sesekali sih mereka berbaik hati mengunjungi toko konter hape milik Felix yang terletak di salah satu mall yang isinya jualan hape. Mumpung bisa ditraktir minuman boba-bobaan sama koko Felix. Kalau ngajak Agus, anak itu benar-benar sibuk semenjak jadi polisi. Jarang sekali ada waktu untuk ia berkumpul.
Setelah gosok gigi, mandi, dan solat ashar jadi imamnya Aisyah, Andi bergegas pergi menuju rumah Nanang yang gede minta ampun.
Maklumlah, anak orang kaya dari penceramah kondang dan dosen senior. Tapi, anaknya aja yang kek gembel minta dijemput mulu. Tidak butuh waktu yang lama hingga Nanang keluar dari gerbang, mereka pun mengebut ke kawasan sekitar sekolah menggunakan motor bebek mamanya Andi yang udah di-bore up kek motor balap.
Sepanjang jalan pun mereka melihat banyak kenangan semasa SMA. Terngiang-ngiang suara motor Andi yang pernah dikejar sama polisi lalu lintas, kebut-kebutan waktu diburu sama komplotan Kevin dan kawan-kawan, aspal yang pernah dijadiin tempat tawuran, serta jalanan yang jadi momen pertama kali Andi berada di satu kendaraan bersama Sarah. Mereka melewati kedai Pak Topoi yang menjadi tempat tongkrongan mereka dahulu, tetapi yang mereka dapati hanyalah kedai tutup.
Akhirnya, Andi membelokkan motor ke warung Kodomo sembari berharap Kevin ada di sana.
Beruntung, kedai Kodomo sedang ramai oleh preman-preman setempat. Andi sama sekali tidak mengenali mereka karena bukan dari tongkrongan Kodomo. Setelah turun dari motor, Andi pun menyapa mereka semua.
“Lihat Kevin?”
Mereka pun diam dan mengatakan jika tidak mengenali Kevin. Andi mempunyai kesimpulan bahwasanya mereka hanyalah anak-anak baru yang sama sekali tidak mengetahui Kevin. Sembari membeli rokok ketengan pilter tiga batang, Andi bertanya hal yang sama kepada ibu penjaga kedai, alias istri dari Mas Momon. Kan Kodomo itu singkatan dari Kedai Domino Mas Momon.
“Oh, mereka ada di belakang. Ajiz waktu itu buatin pondok biar mereka makin nyaman nongkrongnya.”
__ADS_1
“Rajin banget tuh anak,” balas Andi tatkala ibu pemilik warung memberikan rokok ketengan.
“Enggak tahu, tuh. Saya pun heran.”
Tanpa basa-basi, tanpa menunggu lama lagi, Nanang yang tidak modal malah minta rokok ketengan yang dibeli Andi. Bukannya malah beli masing-masing. Biasa, beban kawan begini kalau di dunai pertongkrongan. Pantang melihat rokok di depan mata.
“Beli sendiri, njir. Gembel banget jadi orang,” sindir Andi.
“Ih, sebatang doang.” Nanang yang enggak mau kalah langsung milih kotak rokok yang paling mahal. “Ini buk sebungkus. Sekalian koreknya yang paling mahal.”
“Giliran kaya malah nyombong lu, ya. Dasar tukang nebeng.”
“Biarin!”
Andi dan Nanang membakar rokoknya masing-masing dan pergi ke belakang kedai. Tampaklah Kevin yang lagi jongkok main klereng di atas tanah kosong bersama Revin. Ajiz lagi duduk bersama anak buahnya di atas pondok sambil ngelihatin tingkah konyol senior panutannya tersebut.
“Enggak kerja lo, Vin?” tanya Andi sambil jongkok.
“Wah, ada beban keluarga yang datang.” Ia menghisap rokoknya perlahan. “Gue masuk malam.”
“Mana anak-anak yang lain?” tanya Revin.
“Udah jadi bos aja lu di sini? Kek ga ada harga dirinya Kevin di sini. Anak buahnya ngekor ke elo semua.”
“Hahah … mana ada begitu, Bang. Kita semua sama mah di sini. Enggak ada beda-bedanya,” balas Ajiz.
Permainan klereng dimenangkan oleh Revin. Taruhan seluruhnya dengan sigap digapai oleh tangannya. Kevin pun mengeluh karena pasti ada pengaruh angin waktu dia ngarahin klereng. Padahal enggak angin-anginnya sama sekali di sini.
Sembari menghela napas, Kevin menepuk-nepuk perut buncit hasil faktor U tersebut.
“Kami pun begitu, paling yang ini-ini aja. Semuanya pada sibuk, apalagi angkatan gue dan Revin.”
“Kayanya bukan lagi jaman kita bikin geng-geng begini,” sambung Revin.
“Ada betulnya juga. Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Zaman kita udah habis, tinggal nunggu penerus-penerus kita. Moga aja enggak bar-bar kek kita dulu,” balas Andi.
“Penerus? Kami sekarang juga enggak ada penerus. Penerus terakhir ya cuma di angkatan Ajiz.”
“Terakhir?” Andi menoleh pada Ajiz. Budaya paling mencolok dari anak Kodomo ialahj pencarian penerus yang sudah dilakukan sejak zaman senior dahulu.
“Iya, gue yang paling terakhir, Bang. Begitu pula Antophosfer,” jawab Ajiz.
__ADS_1
“Kenapa? Kok kami enggak tahu.” Nanang terlihat bingung dengan penjelasan tersebut.
Kevin membakar rokok keduanya. “Awalnya kami juga enggak tahu. Antophosfer bubar ketika Ajiz berada di kelas tiga. Tapi, pada saat itu Antophosfer udah buruk namanya gara-gara narkoba.”
Tangan Andi sontak menarik kerah Ajiz yang merupakan ketua dari Antophosfer atau aliansi dari para pentolan setiap angkatan di SMA.
“Siapa dalangnya?”
“Gue juga enggak tahu. Tiba-tiba aja Dandi ditangkap sama polisi karena kabarnya dia jadi bandar.”
“Dandi bajingan!” Andi membuang rokoknya.
“Tapi, Dandi bukan pelakunya. Dia cuma difitnah sama geng-geng di sekitaran sekolah. Sebagian dari mereka juga murid SMA kita. Akhirnya, Dandi juga enggak kebukti jadi bandar. Dia cuma dimintai keterangan gara-gara salah satu anggota gengnya ketangkap ganja.”
Nanang menoleh pada Kevin. “Tapi, bukan jadi alasan juga kan ngebubarin Antophosfer? Itu hasil jerih payah dari senior kita sampai di zaman kita.”
Gelengan kepala Kevin tampak pasrah. Ia sama sekali tidak mempunyai hak karena ia dan angkatannya sudah berjanji tidak ikut campur dalam urusan Kodomo, bahkan Antophosfer. Alasannya ialah agar mereka semua mandiri dan tidak berlindung dari nama besar seorang Kevin yang dikenal sebagai pentolan bringas. Kevin pun menyerahkan semua penjelasan kepada Ajiz.
“Antophosfer pun dianggap buruk karena jadi sarang peredaran narkoba. Ditambah beberapa anggota dari aliansi angkatan kelas sepuluh dan sebelas ketangkap bawa ganja. Guru dan seluruh murid udah tahu sama Antophosfer, padahal kita bergerak di bawah tanah.”
“Siapa dalang dari pembubaran ini?”
“Gue ….”
Kaki Andi hampir saja menghantam perut Ajiz, tetapi Kevin dengan segap menahannya dengan satu tangan saja. Ajiz sama sekali tidak terlihat kesal dengan hal tersebut karena ia menghormati seorang senior yang sangat ia hormati.
“Itu semua sudah keputusan dari setiap ketua aliansi. Kalau kita nerusin Antophosfer, ada banyak murid yang buruk namanya, termasuk kita sebagai senior yang ikut campur nanamin ideologi ini.”
“Betul, ini keputusan yang lebih dewasa,” sambung Nanang.
“Jadi, siapa yang megang sekolah sekarang?” tanya Nanang.
“Semuanya pecah, tanpa kesatuan aliansi.” Ajiz menegakkan kepalanya. “Tapi, cuma satu yang gue khawatirkan.”
“Apa itu?”
“Narkoba … peredarannya makin pesat, bahkan hampir masuk ke kami.”
Andi merasa tidak percaya kalau hal semacam itu akan menimpa generasi sesudahnya. Padahal, Antophosfer merupakan kebanggaan bagi pentolan-pentolan sekolah agar mereka terlindungi dari tawuran-tawuran yang sering terjadi. Bagi Andi, Kodomo pun pagar pelindung pertama karena merekalah yang paling kuat.
***
__ADS_1