Andi X Sarah

Andi X Sarah
107. Si Botol Air Minum (SEASON 30


__ADS_3

Kopi merupakan hal wajib yang harus dicicipi oleh Andi setiap hari. Jadwal ngopi Andi kalau tidak pagi untuk menambah fokus, makai akan mengopi di sore hari untuk melepas penat. Karena seharian ini ia tidak sempat mencicipi kopi serta kombinasi dengan rokok sang surya yang nendang banget di dada itu, maka Andi bertandang ke cafetaria Fakultas Psikologi. Biasanya dia selalu ngopi di kantin fakultas. Namun, di sana ia melihat Tasya dan teman-temannya sehingga Andi memilih menghindar saja daripada Tasya nanti malah ngajakin Andi bergabung dengan mereka.


Café yang ada di Fakultas Kedokteran ini memang dirancang modern sebagaimana tongkrongan anak muda di tengah kota. Dominasi dinding berwarna putih memberikan kesan santai dan elegan. Setiap sudut ruang diisi dengan bunga hijau yang estetik sekali untuk dijadikan bahan pengisi laman media sosial. Lampu warna hingga bercahaya redup menambah pemandangan langit-langit café. Terdapat dua tempat untuk menongkrong, ruang in door dan out door. Andi memilih duduk di luar karena ia ingin merokok dan sekaligus menghirup udara senja. Selain itu, di luar juga tidak kalah nyaman karena memiliki suasana yang tenang.


Barista café ternyata seorang mbak-mbak cantik yang bikin mata termanjakan apabila dipandang. Pengelola memang pandai meletakkan front officer agar menarik perhatian pelanggan. Pantas saja dari tadi para pria sibuk melirik kepada mbak-mbak barista yang meracik kopi dengan serius.


“Mbak, kopi hitamnya satu ya. Gula terpisah ….”


“Kopi hitamnya yang manual brew yang mana?”


Andi yang katrok tentu saja bingung dengan kalimat mbak-mbak cantik tersebut. Ia melihat lagi ke menu\, memang tidak ada daftar label `kopi hitam`\, melainkan dengan nama-nama lain. Biar tidak malu dan biar tidak banyak pilih\, Andi memilih saja V60 karena sudah biasa meminum itu.


“Ve enam puluh mbak.”


“Oh, V60 maksudnya?” Mbak barista pun tersenyum. “Mau duduk di mana?”


“Nah itu maksudnya, saya duduk di luar.”


“Sendirian?” tanya Mbak Barista lagi.


“Mau nemenin ya?” pancing Andi dengan nada becanda.


“Saya kan lagi kerja, mana bisa nemenin Abang. Anak kedokteran? Saya enggak pernah soalnya.” tanya Mbak Barista lagi.


Respon Mbak Barista itu menandakan jika ia ramah dan ingin menjalin komunikasi dengan pelanggan.


“Enggak kok, gue anak Pendidikan Jasmani. Kuliah di sini Mbak?” tanya Andi balik.


“Oh gue anak Psikologi.” Mbak Barista pun membawa santai penutur bahasa yang ia bawa karena Andi yang memulai memakai lo-gue.


“Temen gue di sana tuh. Namanya Nanang, anak ustadz kondang itu, Ustadz Nazaruddin, Lc. MA.”


“Oh dia … gue kenal kok. Kami seangkatan sama dia ….”


“Oke … anaknya agak ***** soalnya dia. Gila-gila dikit hehehe ….”


Mbak Barista pun mengangguk. “Iya, tapi asyik sih diaa ….”


Kalau dipikir-pikir lagi, lumayan nih Mbak Barista buat dijadiin simpanan. Kalau responnya begini, pasti mudah sekali untuk mendekatinya. Apalagi Andi punya modal wajah dan penampilan yang keren, meskipun kalah motornya yang masih berupa supra geter knalpot mber. Kalau Mbak Barista sendiri juga punya penampilan yang menawan, laki-laki pasti mengakui kalau dirinya cantik dan menarik.


“Asyik banget ngobrolnya,” ucap seseorang di samping.


“Iyaa doong … Mbaknya asyik⸺”

__ADS_1


Sewaktu Andi menoleh ke samping, ternyata sedang berdiri Sarah dengan mode huluk setengah berubah. Ia langsung menyelesaikan obrolan dengan Mbak Barista.


“Oke … anter ke luar ya Mbak. Gue ke sana dulu ….” Andi langsung cepet-cepet biar tidak kena cerocos Sarah.


“Woi, asyik gimana?” tanya Sarah, setelah itu ia menoleh sinis kepada Mbak Barista yang senyam-senyum sembari memerhatikan alat kopinya.


Sarah membawa teman dekatnya, yaitu Kelly. Duduklah mereka bertiga di sana.


“Iya maksudnya, Mbaknya memang asyik diajak ngobrol. Ternyata dia temen seangkatannya Nanang di Fakultas Psikologi. Ya … karena dia ramah, ga mungkin gue abaikan gitu aja dong. Ga sopan soalnya.”


“Oh jadi lo ke sini buat mbak barista itu kan? Ngapain lo ngopi di fakultas gue?”


“Ya … gue pengen aja di sin ikan tempatnya nyaman.”


“Terus lo ngapain ga ngajak gue?” tanya Sarah kaya lagi wawancara.


“Gue kan mau ngerokok. Lo di sini jadinya gue enggak ngerokok dong.”


Sarah menoleh kepada Kelly. “Bener dong Kell, ternyata Mbak Barista itu memang pelakor.”


Bibir Kelly langsung manyun kaya emak-emak rumpi di gerobak sayur. “Iya, katanya kemarin dia juga chat-an sama senior kita. Parah siiih ….”


“Apa pengelola café-nya enggak mau mecat mbak-mbak gatal itu ya?”


“Yee … mana mau, lah dia cantik begitu bikin café ini ramai. Apalagi nih kan cowok-cowok kedokteran pada punya duit buat nongkrong di café ini. Pasti untung pengelolanya,” jawab Kelly.


“Katanya sih … katanya nih yaa … gue ga tahu juga kebenarnya, tapi kata-kata orang begini⸺” Kalimat Sarah dihentikan oleh Kelly.


“Gimana?” Kelly mendekatkan tubuhnya ke Sarah. “Jangan bikin gue penasaran dong.”


“Ih gue belum selesai ngomong malah udah elo potong.” Sarah menarik napas sesaat. “Kata orang dia ngajakin kenalan Ketua BEM kita.”


Kelly menutup mulutnya. “Masa sih? Dia kan … aduh kan ganteng sih dia itu. Ga sudi gue kalau dia diajak kenalan.”


Andi menepuk meja seperti bedug waktu berbuka puasa. “Eh, gue mau ngopi … bukan mau rumpi, para-para bangsaaaaat.”


Tentu saja Andi sedikit kesal dengan mereka berdua, meskipun salah satu di antara mereka merupakan pacar Andi. Vibe santai niat untuk ngopi malah hilang gara kehadiran dua ratu rumpi Fakultas Kedokteran ini.


“Jangan cerita di sini yuk. Cowok lo kayanya ga suka,” ucap Kelly.


Mata Sarah memandang datar ke Andi. “Iya, lo ngeselin sih. Kan kami cuma mau duduk di sini. Malah diusir.”


“Siapa yang ngusir sih?” protes Andi. “Perasaan gue cuma ngelarang kalian jangan ngerumpi di meja ini.”

__ADS_1


“Kan beneran dia ngusir Sar. Ayuk pergi ….” Kelly malah ngomporin.


Andi menepuk jidat melihat tingkah dua orang itu. Sarah bener-bener dapet temen yang cocok, sama-sama ngeselin. Harapan Andi ialah kalau Sarah berteman dengan orang yang santuy agar Sarah ikut-ikutan jadi santuy. Ini malah jadi parah gini dan bikin kesel.


“Ah, ya udah gue ngusir nih. Gue mau ngopi sambil dengerin lagu-lagu senja.” Andi segera memasangkan handsfree portable miliknya.


“Ya udah … daaah,” balas Sarah dengan cuek.


Berlalu juga badai yang menyemak di senja kali ini. Andi menghela napas setelah Sarah dan Kelly pergi. Kini ia bisa menikmati kopi dengan tenang dan penuh penjiwaan. Bagi Andi, mengopi itu harus dihayati pada setiap sedotannya, eh kok sedotannya, yang bener itu pada setiap seruputnya. Setiap seruput itu berarti doa bagi para petani-petani kopi di pelosok negeri ini. Kopilah yang menjadi bangsa-bangsa penjajah ingin ke Nusantara dan kopi pula yang mengajarkan kita arti perjuangan.


Loh kok Andi jadi filosofis gini …


Datanglah Mbak Barista membawakan pesanan kopi Andi.


“Maaf, tadi lo lupa bayar. Seharusnya bayar dulu …,” ucap Mbak Barista sambil meletakkan kopi di atas meja.


“Aduh maaf ya, gue jadi lupa gara-gara mereka berdua itu.” Andi menepuk jidat.


“Pacar lo ya?” tanya Mbak Barista.


Andi mengangguk. “Iya pacar gue ….”


“Ohh … gitu, okelah ….”


Uang Andi diberikan untuk melakukan pembayaran. Setelah itu Mbak Barista datang lagi untuk memberikan kembaliannya.


“Makasih ya Andi ….”


“Iya sama-sama.” Tidak lama kemudian, Andi berpikir kenapa bisa cewek itu mengetahui namanya. Ia memanggil lagi Mbak Barista itu. “Lo kok nama gue?”


“Gue Ipit, kita pernah samping-sampingan waktu ospek se-universitas.”


Ipit … Ipit … Ipit mana ya? Perasannya gue kaga pernah punya temen yang namanya Ipit ….


Andi bingung ketika mengingat lagi nama itu.


“Maaf, Ipit mana ya?”


“Oh iya, Fitri maksudnya. Ipit itu nama panggilan gue. Itu loh, waktu kita di Gedung Kegiatan Mahasiswa kan lagi ada ospek di awal masuk universita. Terus kita berdua dihukum ngelilingin gedung karena kita terlambat.”


Barulah Andi sadar kalau pada saat itu, mereka berdua lari mengelilingi gedung. Andi karena seorang laki-laki, maka ia mendapatkan porsi keliling yang lebih. Pada saat itu, Ipit memberikan air minum botol setelah mencurinya dari penyimpanan para senior.


“Si cewek botol air minum, akhirnya gue ingat ….”

__ADS_1


Tiada ia sangka, Andi kembali bertemu dengan wanita itu.


***


__ADS_2