
Masuk Puskesmas
Perkelahian tersebut mengundang perhatian warga sehingga banyak yang datang untuk membubarkan aksi pengeroyokan tersebut. Andi dan Felix yang sudah tidak berdaya langsung dibawa ke puskesmas terdekat. Wajah mereka babak belur berkat perkelahian tersebut, belum lagi luka di kaki dan tangan akibat dihantam dengan benda sekitar.
Tidak hanya mereka yang dilukai, motor Andi menjadi sasaran bulan-bulanan mereka. Batok motor Andi habis dicabuti, knalpot mahal udah diambil sama mereka, bahkan ** motor aja dicabuti. Kaya anak SD aja pake nyuri-nyuri ** ban motor.
Masa kecil author yang dulu suka ngambilin ** motor yang bentuknya roket.
Kondisi tidak terlalu parah, lain hal dengan Felix yang wajahnya babak belur. Kondisi Andi agak lebih baikan karena Felix lebih banyak melindunginya sewaktu terkapar di sana. Hanya saja, perut Andi masih terasa sakit akibat hantaman yang begitu kuat.
Handphone Andi telah berdering berkali-kali. Tentu saja yang menelpon tersebut ialah Sarah. Hanya Sarah seorang yang suka menelpon berkali-kali walaupun tidak pernah Andi angkat.
LO DI MANA???? GUE TELPON 10 KALI GA DIANGKAT!!!!
Mata Andi membaca sebuah pesan LINE yang baru saja masuk. Ia berpikir dua kali untuk mengangkat panggila dari Sarah yang kembali berbunyi. Namun, ia rasa lebih baik untuk jujur. Cepat atau lambat, Sarah bakalan tahu tentang hal ini.
"Hallo," ucap Andi.
"HAA??? Gue telpon lo berkali-kali kok enggak diangkat? Suka banget sih kaya gini. Ga suka aku tuu .... Padahal, gue mau nanya kalau lo mau mie ayam atau bakso, soalnya gue lagi di warung bakso faforit lo. Jangan bikin gue khawatir, deh. Lo tadi pergi sama Felix, kan? sekarang di mana?"
"Gue lagi di puskesmas."
"Kenapa? Lo sakit? Tumben sakit, biasanya dipendam mulu sakitnya."
Mata Andi turun menatap lantai yang berdebu. Sebetulnya sangat sulit untuk berkata jujur karena ia sudah berjanji untuk tidak lagi berkelahi kepada Sarah. Kali ini ia mélanggar hal itu.
"Kok bisa? Lo jatuh dari motor?" tanya Sarah dengan khawatir.
"Gue dicegat sama preman di dekat sekolahnya Memet. Trus, terpaksa gue kelahi."
"Aduh ....." Sarah diam sejenak. "Puskesmas mana?"
"Di dekat SMK-nya Memet."
"Otw ea."
Sarah meluncur menggunakan motor tracker kesayangannya, lengkap dengan helm fullface miliknya. Tidak ada kata lambat kalau sudah mendengarkan berita ini. Sarah melaju menyalip-nyalip di jalan kaya Marques lagi balapan sama Rossi. Hanya dengan waktu lima menit, Sarah sudah berada di parkiran puskesmas. Padahal, waktu normal lama perjalanannya ialah sepuluh menit. Bayangin aja sekenceng apa si Sarah.
"Ni motor Andi, ya?" Sarah melihat motor supra yang udah amburegul bentuknya.
Ia abaikan motor tersebut dan segera berlari ke dalam puskesmas.
__ADS_1
Belum sempat Sarah memasukinya, Andi dan Felix sudah lebih dahulu keluar. Kondisi mereka udah acak-acakan. Celana sekolah mereka robek-robek, baju mereka udah kebuka karena kancingnya banyak yang copot. Kening Andi terdapat bekas luka dan jalannya agak pincang. Sementara Felix, matanya yang sipit semakin sipit karena bengkak di mata sebelah kanan. Hidungnya sebelah disumbat pake kapas. Sebuah perban tampak menempel di pelipis kanannya.
"Felix, kok bisa begini?" Sarah menyentuh pipi Felix.
Woi, gue pacar lo woi. Notice me woi.
Sementara itu, Felix melirik kepada Andi yang melepas pegangan darinya.
Pacar lo dulu woi, gue ga apa-apa, ucap Felix. Padahal wajahnya udah babak belur gitu masih sangup bilang ga apa-apa di dalam hati.
"Siapa yang beginiin kalian?" Sarah melipat tangan di dada. "Bilang sama gue, biar gue pelintir kepala mereka satu per satu."
Andi menelan ludah ngedengerin kata-kata Sarah. Tapi, Andi yakin Sarah enggak bakalan bisa menang ngelawan preman-preman itu, walaupun sebenarnya mental Sarah ga bakalan ciut walaupun sekompi dari mereka datang di hadadapan Sarah. Lah, waktu tawuran sama Memet, si Sarah sendiri yang bikin ciut mereka.
"Udahlah, jangan banyak ngayal. Ayo pulang, kita bikin mie." Andi mengelus rambut Sarah sembari melangkah ke depan.
Merasa diabaikan, Sarah kembali menghalangi jalan mereka berdua. "Jangan remehin gue, ya! Cepetan bilang sama gue!"
"Kami udah biasa begini, kok. Jadi, jangan khawatir," balas Felix. Tangannya memegangi Andi agar mudah berjalan.
"Kami lapar .... Kalau kami udah makan, baru kita bicara," ucap Andi.
"Ih, kok gitu, sih? Cerita aja napa?! Kalau bisa, gue laporin ke polisi. Ini udah tindak pidana. Ada pasalnya di pasal 170 KUHP tentang tindak pengeroyokan dengan kurungan maksimal lima tahun enam bulan."
Kepala Felix langsung sakit ngedengerin kalimat Sarah. Dendrit di otak Felix enggak nyampe buat mencerna pasal-pasal yang disebutin oleh Sarah. Mereka berdua merasa bodoh sekali di depan Sarah.
"Enggak usah pake polisi-polisi segala. Kalau di jalanan, enggak ada namanya pasal-pasal atau apalah namanya itu. Kami udah biasa begini, kami juga bakalan selesaiin dengan cara kami sendiri." Andi kembali mengelus rambut Sarah dan mengabaikannya dengan kembali melangkah.
Andi dan Felix tepar di teras rumah Sarah. Mereka berbaring-baring ria di bawah sangkar burung hias milik papanya Sarah. Sementara itu, Sarah pergi ke Indoapril untuk membeli minuman serta mie isi dua buat ngisi perut mereka. *** sekali, mereka yang lapar eh malah Sarah yang ngeluarin duit. Tapi enggak apa apalah, itung-itung sayang pacar.
"Selamat datang di Indoapril," ucap pegawai swalayan.
Sarah memerengkan wajah karena terkejut adek terheran-heran melihat cowok kekar yang lagi jagain kasir. Kevin malah tersentak batinnya melihat Sarah karena tekanan masa lalu yang kelam, soalnya Sarah dulunya sering bikin Kevin masuk ruangan BK.
"Lo kok di sini?" tanya Sarah. "Waktu itu perasan bukan lo yang jagain kasir."
Senyum Kevin keluar sebelah. Kayanya Sarah ketemu Andi waktu dia nyuruh Andi buat ngejagain kasir.
"Gue memang kerja di sini," balas Kevin.
"Lo kaga kuliah?" tanya Sarah lagi.
__ADS_1
"Gue kuliah malam." Kevin heran kenapa Sarah selalu ngegass kalau bicara sama dia.
"Oh, gitu. Serah lo." Sarah pergi melenggang ke jejeran mie instan.
"Iya, serah gue, dong. Kok nyolot, sih!!!"
Tidak lama kemudian Sarah datang dengan segala belanjaannya. "Oh , iya .... Lo tahu preman yang keliaran di SMK permesinan? Itu loh ... sekolahnya Memet."
Kevin diam sejenak. Memang ada sih kelompok geng yang duduk di sekitaran SMK permesinan, tapi yang paling mendominasi ialah Prebeb, Preman Belum Pensiun.
"Gue cuma tahu Prebeb. Sekarang ketuanya Memet, kalau dulu ketuanya senior mereka yang sering bentrok sama kami."
"Andi sama Felix babak belur dikroyokin preman di dekat situ. Motornya hancur, knalpotnya diambil. Itu knalpot mahal, bayangin aja satu knalpot lapan ratus ribuan. Mending gue beli burung hias kalau harganya segituan."
"Enggak mungkin Prebeb ngehajar Andi dan Felix. Antophosfer udah baikan sama mereka," balas Kevin.
Sarah mengangguk. "Bener juga. Apa ada geng lain yang ada di sekitaran situ?"
"Gue kurang tahu." Kevin mengangkat bahu.
Satu per satu belanjaan Sarah di scan satu per satu. Setelah membayar, Sarah langsung pergi tanpa percakapan lebih lanjut. Sementara itu, Kevin masih terngiang-ngiang dengan pernyataan kalau Andi dan Felix abis babak belur sama preman di sana.
Tangan Kevin menghentak meja kasir. Ia teringat sebuah kelompok yang isinya senior-senior SMK permesinan. Kevin ingat banget kalau mereka pernah baku hantam sama mereka di sebuah lapangan bola. Masalah sepele menjadi alasan mereka nantangin Kodomo buat baku hantam, yaitu masalah cewek. Masih segar dalam ingatan Kevin ketika mereka datang bergerombol menggunakan motor-motor modifikasi khas anak permesinan.
Jangan-jangan .... Ah, sudah pasti mereka.
Perkelahian tersebut menjadi akar dari kebencian kelompok tersebut terhadap SMA mereka, hingga setiap anak yang make seragam SMA mereka pasti dicegat dan dihantam.
Kevin mencari nomor telepon Revin, tangan kanannya di Kodomo. Memang, jika ada permasalahan ini ia selalu mengandalkan Pram. Namun, Pram kini sedang berada di pendidikan polisi bintara. Ia bernasib baik lulus di penyaringan pendidikan polisi.
"Hallo?" jawab Revin.
"Kumpulin anggota," jawab Kevin.
"Ada masalah apa?" tanya balik Revin.
"Andi dan Felix babak belur dihajar sama anggota Ghost Night. Gue yakin Antophosfer ga bakalan bergerak. Sebagai kelompok terkuat SMA, kita yang bakalan nyelesaiin ini."
"Siap laksanakan."
Kevin mengepal kuat tangannya. Ia tidak sabar membalas apa yang sudah dilakukan mereka kepada Andi dan Pram.
__ADS_1
***