
Upil Koala
Pagi minggu memang membosankan seperti biasanya. Tidak ada pilihan kegiatan kecuali menung dikamar sambil nontonin anime Boruto yang apdet tiap minggu di situs samehadaku, Tidur ga jelas, liat-liat akun instagrmam yang isinya cewek-cewek bahenol. Kalau udah on dikit, ke kamar mandi deh. Membosankan sekali.
Ia buka pesan LINE yang belum dilihat semenjak sabtu siang. Barisan teratas diisi oleh oa-oa unbarokah, di bawahnya dikit ada pesan dari group Anak Amak yang lagi bahas si Tami, geser ke bawah lagi ada pesan dari Sarah.
LO NGEROKOK DI WC , KAN?
UDAH GUE BILANG JANGAN NGEROKOK DI SEKOLAH.
MAU GUA CIDUK LO?
WOI
BALAS ANJIR
ANDI
OH IYA GUA LUPA IDUPIN DATA SELULAR. PANTASAN GA KEKIRIM
BALAS ATAU GUA KE WC SEKARANG!
P
P
Andi teratawa membaca pesan yang berkali-kali dikirim oleh Sarah. Cewek huluk itu memang ga ada berhenti-hentinya ngeciduk aksi keberandalan di sekolah. Untung aja Sarah ga ngeciduk mereka di WC. Kalau diciduk, bisa-bisa urusan malah jadi panjang.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan alangkah terkejutnya Andi melihat seorang cewek sedang memasuki kamarnya tanpa seizinnya. Ia tersenyum dengan mata bulatnya itu. Badannya yang mungil berisi, berlari hingga menghempaskan badannya ke kasur Andi.
"Hai, Andi," panggil Tami saat mendarat di samping Andi. "Aku kangen banget sama kamar ini. Kita sering banget main pees dulu di sini."
"Lah, kamu kok bisa masuk?" tanya Andi.
"Mama kamu yang nyuruh aku masuk ke kamar."
Andi mengerang kesal. Lalu ia memanggil Mamamnya, "Ma, jangan nyuruh cewek ke kamar Andi, dong."
"Mama kamu lagi pergi. Kita tinggal berdua di sini."
Andi langsung kepikiran ke pilem-pilem yang sering ia tonton. Tapi ia tidak ingin berpikiran negatif. Dia cuma Tami, anak kecil yang dulu sering ngompol kalau main ayunan dan ga sengaja jadi cewek cantik kaya sekarang.
Rumah Tami dan Andi letaknnya memang sebelah-sebelahan. Jadi dari kecil mereka udah biasa masuk ke kamar mereka bedua-beduaan. Tapi itu dulu, waktu mereka masih kecil.
Sekarang udah beda, Andi pasti ngelirik ke sana-sini, walaupun yang di hadapannya adalah sahabat masa kecilnya. Ditambah lagi Tami cuma pakai pakaian rumahan yang tipis.
"Gua mau nanya, hubungan kamu dengan Sarah?" tanya Tami sambil membebankan kepalanya ke dada bidang Andi.
Walaupun Andi rada-rada geli gitu, tapi itu memang udah jadi kebiasaan mereka sewaktu kecil.
"Kami cuma temenan, cuma waktu itu aku ngaku kalau dia pacar aku karena biar ga dibilangin maho sama Raisa, mantan aku."
"Maho??? Hahahhaha. Terserah, deh. Trus katanya Sarah juga ngaku kalau kamu pacarnya."
__ADS_1
Jemari Tami memilin rambutnya. Andi tampak menelan ludah melihat Tami lagi seksi-seksinya.
"Oh, itu ... biar Memet anak komplek sebelah ga ngangguin dia lagi."
"Memet yang ganteng tingkat kelurahan itu?" Tami tertawa sambil menghadapkan wajahnya ke Andi. "Dia dulu paling pede di antara kita semua sewaktu kecil."
"Hahaha, iya. Ternyata kamu masih ingat."
Tami semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Andi. Semakin dekat, semakin deras pulalah keringat dingin Andi bercucuran. Ia kembali menelan ludah. Andi menggerakkan badannya untuk sedikit menjauh dari Tami yang menggoda.
"Berarti aku masih punya kesempatan, dong?" Ia menyentuh hidung Andi.
"Kesempatan?"
Keduanya diam untuk sesaat hungga bunyi pintu berdecit semakin kuat. Seseorang kembali membuka pintu dengan kuat. Kalau Pak RT yang ngeciduk, bisa-bisa mereka diarak satu kampong sambil telanjang. Alangkah terkejutnya Andi melihat lima orang yag sedang ngeciduk mereka yang sedang beduaan mesra di kamar.
"ASTAGA, ANDI GUA GA PERCAYA!" kata Felix sambil kayang di depan pintu.
Nanang mengambil tasbih untuk mengusir setan yang sedang ada di tengah-tengah mereka. "ASTAFIRULLAH, ANDI ITU ZINA. LO GA INGAT CERAMAH BAPAK GUA WAKTU SHOLAT JUM'AT?"
"KATA KAKEK LEJEN 'TERUSKAN PERJUANGANKU, CU', LANJUTKAN." Agus tersenyum kaya setan.
Tangan Sarah menutup wajahnya. "Untung aja bapak gue ga ketua RT lagi."
Untuk memperkenalkan rumahnya, Tami mengajak mereka semua untuk main ke rumah. Halaman belakangnya cukup luas untuk sekedar bercanda ria. Halaman berumput hijau bisa menampung anak laki-laki bermain futsal.
Suara kicauan burung papanya Tami bernanyi ria ketika mereka datang. Kelinci-kelinci pelirahaannya juga dibiarkan berlari-lair di halaman berumput. Sebuah pohon rambutan menjulang tinggi dengan rindang. Buahnya sudah habis semenjak dua bulan yang lalu oleh keluarga Andi. Soalnya papanya mempercayai buahnya sama keluarga Andi ketika mereka tak lagi menghuni rumah.
"Sumpah gua ga ingat kalau kita bakal belajar kelompok," kata Andi sambil menghempaskan diri ke kursi rotan untuk bersantai. "Tami, di sini boleh ngerokok?"
Andi mengambil sebungkus rokok Sempurna di kantongnya. Ketiga temennya yang demen banget nebeng rokok, langsung mendekat untuk mengambil sebatang. Namun, anehnya Sarah juga mendekat.
"Mau rokok juga lo, Sar?" tanya Agus dengan polos
Tangannya langsung meraih sebungkus rokok dari tangan Andi. Ia ambil juga mancis murahan yang dibeli Andi warung sebelah.
"Eh, emang gua mau ngajarin otak tolol yang ngerokok kaya kalian?" tanya Sarah marah-marah. "Kalau mau gua ajarin buat remedial, jangan berani ngerokok di sini."
Anjir, serem banget, kata semua Anak Amak dalam hati.
Masing-masing pasang mata mereka menatap rokok mereka yang diremas-remas sampe ancur dan disita ke dalam tas Sarah. Tangan Andi berani-beraninya meraih tas Sarah kembali.
"Woi, lo ambil rokoknya, kepala lo bakal kebelah dua," ancam Sarah dengan ganas.
Andi terdiam di tempat, ga tau mau ngapain lagi. Ia lepaskan tali tas dari telapak tangannya dan kembali ke posisi semula. Ia tebarka senyum terpaksanya pada Sarah. "Ayo, kita belajar!!!"
Jadi gini, mereka berempat ada remedial UTS yang belum dituntasin, padahal UAS udah deket. Kerjaanya main aja terus sampe lupa kalau mereka belum remedi. Kebetulan banget remedial mereka sama, Andi meminta Sarah buat ngajarin empat orang yang otaknya goblok banget. Kalau belajar susah banget. Kayanya perlu usaha dari Sarah yang pintarnya ga karuan.
Telunjuk Sarah mengarah ke semua rumus yang dipakai dalam remedi mereka nanti. Andi dan ketiga temennya ngangguk-ngangguk, ngerti ga ngerti pokoknya ngangguk. Sarah sih bairin aja, yang penting dia udah ngajarin semaksimal mungkin. Setidaknya ada secuil yang nyangkut di otak mereka.
Biskuit satu taperwer yang disajikan Tami udah hampir abis air jeruknya juga udah abis mereka minumin. Yang ngabisin tentu saja Anak Amak, Sarah ga ada nyicipin sedikit pun.
"Jadi, ntar ini dibagi dan dikali. Maka ntar hasilnya bisa dimasukin ke rumus berikutnya, ngerti ga lo semua?" tanya Sarah. Otaknya udah sumpek ngelihat wajah-wajah yang nunjukin ketidakmengertian mereka.
"Iya, kayanya yang ini agak mudah, deh." Felix menangguk. Kalau soal ngitung-ngitung, cowok sipit yang satu ini memang agak maju dari yang lain.
"Iya, agak mudah," kata Andi buat ikut-ikutan.
__ADS_1
Kepala Agus mendekat ke Andi. "Ndi, lo beneran ngerti? Gua enggak."
"Ngangguk aja deh lo. Jangan nampakin banget gobloknya elo ke dia," balas Andi ke telinga Agus.
"Oh iya juga, ya." Wajahnya menebar senyum pada Sarah. "Iya, yang ini agak mudahan dikit. Dikit aja. Kalau yang lain, sumpah gua ga ngerti."
Sarah menghela napas. "Yaudah, deh. Setidaknya kalian ada yang ngerti walaupun sedikit." Tangannya meraih sesuatu dari dalam tasnya. "Nih, rokok kalian."
"Nah, gitu, dong." Agus paling semangat saat meraih bungkus rokok.
Lelah yang melanda sehabis mengajari mereka, membawa Sarah untuk bersandar di kursi santai di dekatnya. Agus dan Nanang lagi nyebat ria di sana. Kalau Felix lagi mendalami rumus-rumus yang diremedialkan besok. Sementara itu, Andi dan Tami lagi beduaan di bawah pohon rindang. Ia hanya tersenyum-senyum sendiri saat melihat betapa dekatnya dua insan tersebut.
"Woi, sipit, lo kayanya pinter deh ngitung-ngitung."
Felix langsung menatap Sarah. "Jangan panggil gua sipit, napa? Rasis banget lo njir."
"Oke, deh. Maap. Tapi memang bener, lo lebih pande ngitung dari pada ketiga temen lo yang otaknya bener-bener jongkok banget. Kaya ngajarin kebo' gua."
"Hahahah, dari kecil gua udah dimintai ngitung beras di toko bapak. Ngitungin untung, ngitungin rugi, ngitungin utang, banyaklah," balas Felix sambil menutup buku. Buku udah diganti sama sebatang rokok yang Felix bakar.
Mata Sarah sedari tadi melihat Andi yang sedang mendorong Tami agar melaju di ayunan. Tawa dan canda tak henti keluar dari suasana gembira mereka. Wajah riang itu bertambah riang dengan terik matahari yang mulai berdiri menengah.
Akhir-akhir ini Sarah dan Andi memang sedikit lebih dekat sebelumnya. Ia bahkan lupa hal apa yang membuat dirirnya semakin dekat. Dulu sih berantem mulu. Sekarang juga sih, ga ada bedanya.
Mulai dari ngatai Andi homo, ngeciduk Andi lagi ngehombreng bedua di wc, ngelemparin sepatu Anak Amak ke loteng sekolah, ngecubitin Andi sampe biru-biru, sampe ikut tawuran sama anak laki-laki.
Bahkan, isu kalau mereka itu pacaran juga nyebar. Memang itu awalnya dari mereka sendiri, tapi kan itu semua cuma pura-pura buat membela diri.
Satu hal yang ia rasakan setiap melihat Andi dan Tami beduaan,
kok gua yang nyesek, ya ....
Fokus Sarah goyah ketika Felix memanggil namanya. Ia menatap mata Felix yang sipit sekali.
"Apa, Felix?" tanya Sarah.
"Lo cemburu, kan? Gua bisa liat itu di mata lo,"
"APA!!!!!"
Seketika Felix lari sekencang-kencangnya. Makhuk hijau berparas cantik sedang mengejarnya. Sarah loncat dua meter hingga sampai di hadapan Felix langsung. Felix lari sekencang-kencangnya buat nyelamatin nyawanya.
"WOI, SELAMATIN DIRI KALIAN!!!!! SARAH JADI HULUK LAGI!!!!!"
"APA????" Semuanya melihat Felix yang lagi dikejar Sarah.
Karena fobia dengan huluknya Sarah, mereka juga ikutan lari buat nyelamatin diri. Mereka mutar-mutar di halaman Tami.
"Felix, lo apain Sarah? Kok bisa kumat?" tanya Andi.
"Ntar gua ceritain. Selamatin nyawa lo dulu anjing!"
"Ga usah ngegass juga, anjing!!!"
"JANGAN LARI LO, UPIL KOALA!!!!!"
***
__ADS_1