
Itu Dulu!!!
Andi menguap karena semalaman bergadang dengan Nanang untuk menonton anime Attack on Titan season 2. Kelas yang riuh tidak mampu mengusir rasa kantuk yang ia rasakan. Di depan kelas, para perangkat kelas mulai menyusun orang-orang yang akan berlomba di class meeting. Class meeting adalah momen terpenting untuk menunjukkan harga diri sebuah kelas.
"Wahai para pemuda!!!!" kata ketua kelas dengan lantang. "Kita sebagai para penerus bangsa, ayo kita menangkan perlombaan ini?"
"Alah, palingan kita kalah sama anak kelas 12," balas Sarah yang udah mulai bosan dengan omongan mereka yang di depan.
"Kita sebagai pemuda dan pemudi yang mempunyai visi dan misi yang jelas, kita harus merebut impian itu dengan kerja keras."
Ketua kelasnya memang gitu, suka formal dan kaya lagi orasi kalau ngomong. Soalnya kata emaknya, dia lahir waktu bapaknya lagi pergi orasi buat membela hak-hak rakyat tertindas.
"Suka-suka elo dah. Yang penting gue pasti dukung kalian."
__ADS_1
Iseng-iseng Andi mendekati Sarah. Ia meletakkan sebuah penghapus di atas kepala wanita itu. Sarah hanya diam saja karena ini sudah menjadi kebiasaan Andi buat mengerjainya. Mungkin kalau udah beberapa kali lagi, ia bakal berubah ke mode huluk.
"Lo wajib dukung gua waktu main futsal," kata Andi.
"Minta dukung aja tuh sama bidadari yang ngekor mulu sama lo." Sarah menunjuk Tami yang sedang senyam-senyum karena dirinya dipilih buat mewakili di lomba fashion show. "Gue pergi dulu."
Wanita bermata bulat itu meninggalkannya sebuah senyum yang seakan melekat pada diri Andi. Entah mengapa senyum wanita itu lebih terlihat manis akhir-akhir ini. Mata yang dulu selalu menatap sinis padanya, kini menyipit gembira tatkala berjumpa.
Dia memang teman yang menarik, ucap Andi dalam hati.
Sebuah rasa benci yang dulu ia rasakan kini perlahan memudar dan hilang. Bahkan rasanya ingin setiap hari bertemu dengan Sarah, lebih tepatnya seperti Felix, Nanang, dan Agus. Ingin rasanya ia menggaduh hingga memicu marah manja dari suara manis yang ia keluarkan. Lalu tangan kecilnya akan memberikan cubitan lembut yang kadang ia harus berpura-pura sakit agar membuatnya senang.
Mungkin gua butuh udara ....
Ia beranjak keluar kelas untuk mencari ketiga temen gilanya yang pastinya menyimpan sebatang atau dua batang rokok sisa pagi hari. Beberapa langkah dari dirinya ada Sarah yang sedang berlenggak-lenggok menyapa setiap orang yang juga menyapanya. Biasa ... anak populer pasti dikenal di setiap sudut sekolah. Apalagi Sarah merupakan ketua OSIS dan yang ga kalah penting Sarah itu cantik ...
Njir, gua mikirin hal yang absurd lagi ...
__ADS_1
Gua beneran butuh udara nih buat menetralisir pikiran gua!!!!
Langkahnya terhenti oleh dua orang di hadapannya. Pram sedang menahan tangan Sarah. Matanya terlihat serius menatap lembutnya mata Sarah. Tangannya yang kokoh tak memberikan celah pada Sarah untuk pergi.
"Sar, kenapa lo ngejauhin gue?" tanya Pram dengan paksa.
"Gue udah tau semua maksud busuk lo. Lo deket sama gue, dan deket sama semua cewek."
"Gue suka sama lo! Gue aku akui sekarang! Dan semua itu ga benar," balas Pram sambil menahan Sarah untuk pergi.
Andi tidak tahan dengan perlakuan Pram yang kasar. Ia mendekat dan meraih Sarah dengan sigap. Telunjuknya dengan tegas tertuju tajam ke wajah Pram.
"Jangan pernah lo ngasarin Sarah." Andi menggenggam tangan Sarah dengan erat. Terasa jelas olehnya keringat dingin yang tengah membasahi tangannya.
Ia tidak memedulikan kehadiran Andi. Ia tetap fokus pada Sarah. "Gue tau lo juga punya rasa sama gue."
Sarah melemahkan eratnya genggaman tangannya pada Andi. Hatinya yang bimbang begitu ingin mengucapkan kata cinta yang dari dulu terpendam.
__ADS_1
"Benar, gue suka sama lo." Ia menatap mata Pram. Tampak Pram tidak bisa menyembunyikan ekspresi merah pada wajahnya. "Tapi, itu dulu. Waktu lo belum nyakitin hati gue."
***