Andi X Sarah

Andi X Sarah
55. Mancing (2) (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Danau kini menjadi saksi di mana mereka berdua memadu kasih di dalam ketenangan. Sunyi dan sepi menyelinap pada suasana yang tercipta, lalu harmoni pun datang dalam bentuk senyum yang tiada henti untuk dimekarkan. Tatapan satu sama lain sungguh berarti, tiada hal yang mampu untuk mengacuhkannya. Masing-masing dari mereka merasakan itu, menyesap ke dalam hati pada satu garis lurus pandang. Tangan mereka pun bergenggaman seakan tidak ingin lepas, padahal tubuh hanyalah sebatas angin untuk berhembus kecil. Tidak ada jarak di antara dua insan yang tengah memadu kasih ini.


Mata Sarah menadah kepada langit pagi yang sejuk. Meskipun cuaca cerah seperti hari ini, tetapi udara tetap saja terasa sejuk. Sarah tetap meminta Andi untuk memasang payung karena cahaya mentari masih bisa membakar kulit mereka perlahan. Bahkan, sebelum pergi tadi ia mengoleskan tabir surya pada kulit Andi karena Andi tentu saja tidak peduli dengan keadaan kulitnya. Hanya ia sebagai pacar yang peduli dengan hal tersebut.


Jika ia kini sedang bernaung di bawah langit bersih, maka sekeliling pun tidak luput dari perhatian. Pepohonan berdaun runcing khas pegunungan tumbuh melingkari danau yang tidak terlalu luas ini. Terlihatlah hewan-hewan yang ada di sana sedang bermain bersama kawanan mereka. Tupai kecil meloncat di antara pohon hingga bergoyanglah rerantingan yang ada di sana. Kambing-kambing peliharaan warga juga tidak sengaja berada di sana, padahal seharusnya berkeliaran di padang rumput untuk mencari makan. Kicau burung meminta makan kepada induknya terdengar di sebelah kiri. Namun, lebih indah panggilan burung yang berada di sisi kanan, selayaknya harmoni pagi di minggu pagi aktifitas bapak-bapak pecinta burung.


Danau berombak kecil. Ombaknya sampai ke tepian tempat mereka duduk di atas terpal warna biru. Bunyi hantamannya pada tepian memberi nuansa berbeda dari hal-hal yang biasa mereka dengarkan, lebih lembut dari suara sibuknya detak jantung kota setiap hari. Terlihat dari kejauhan, tepatnya di tengah danau, air beriak pertanda ada ikan yang timbul ke permukaan. Seperti titik hujan yang jatuh, riak air itu pun menyebar ke sekitar.


“Riak air itu pertanda ikannya gede.”


Mulut Andi sedari tadi asam pengen ngerokok. Tapi, dia udah berjanji dengan Sarah bahwa tidak akan pernah merokok jika wanita itu ada di dekatnya. Maka, Andi kini tetap menahan selera candunya tersebut. Penggantinya, batang rumput pun ia letakkan di ujung bibir.


“Lo sok tahu. Mungkin aja itu mata air yang ada di bawah, terus gelembungnya ke atas.”


“Bedalah … kalau gelombang air, suaranya enggak kaya gitu,” sanggah Andi.


Tangan Sarah mengambil kantung plastik yang menjadi wadah untuk umpan. Ia bingung kenapa ada umpan yang berbeda.


“Kenapa kalau kalian mancing itu harus bawa umpan lebih dari satu. Kayanya semua ikan suka cacing deh,” ucap Sarah.


“Nih gini … terkadang kondisi air dan lokasi mancing juga nentuin umpan yang cocok. Kalau lo enggak bawa umpan yang cocok, ya enggak bawa ikanlah.”


Sarah mengangguk sok paham. “Gitu ya? Ikan jaman sekarang suka menu yang berbeda kayanya.”


“Ya kira-kira begitu. Kalau satu umpan ga cocok, ganti dengan yang lain. Kalau kondisi air lagi keruh, jadi harus pakai umpan yang baunya nyengat.”


“Lah, apa hubungannya?” tanya Sarah.

__ADS_1


“Ada dong hubungannya. Kalau air keruh, ikan kaga nampak apa-apa. Ibaratnya mati lampu, lo kaga bisa lihat yang ada di sekitar lo. Jadi, umpan dengan bau menyengat bagus buat penciuman mereka. Ikan yang kaya gitu biasanya ikan baung, ikan lele, ikan patin, dan ikan-ikan yang punya sungut atau kumis.”


“Ooo gitu.” Sarah mencoba menggerak-gerakkan ujung joran pancingnya karena sedari tadi tidak ada bergerak. “Gue baru tahu kalau di dalam air juga bisa mati lampu.”


“Terkadang Sar, ilmu-ilmu begini cuma bisa lo dapetin dari bergaul sama orang di luar sana. Mana ada mata kuliah permancingan. Kalau ada, udah dari dulu gue ambil. Hahaha ….”


“Lo ngeledin gue atau gimana? Ilmu di kuliah juga bisa kali dipakai buat mancing. Contohnya aja anak perikanan, anak kelautan, mungkin teknik perkapalan. Semuanya sambung-menyambung dan saling melengkapi.”


“Kaya cinta kita dong ya kan?” rayu Andi.


“Jiji gue ….” Sarah memalingkan wajah.


Sekitar tiga puluh menit menunggu dan sudah beberapa kali berganti umpan, joran mereka tidak kunjung bergerak di makan ikan. Teknik pelampung yang digunakan Sarah juga sama sekali tidak berguna, padahal tangan Sarah udah enggak sabar buat mendapatkan strike pertamanya dengan ikan besar. Sarah pernah sih mancing sama papanya, tapi ikan yang ia dapatkan hanya kecil-kecil. Sarah pengen banget dapat ikan arapaima yang segede manusia, tapi ikan arapaima cuma ada di Amerika Selatan.


“Apa gue harus nyemplung dulu biar ikannya gue maranin? Dari tadi kaga ada sinyal-sinyal ikan.”


“Ya sabar dong. Mancing ini melatih kebesaran eh kesabaran. Gimana mau sabar elo, diliatin gini aja ….” Andi memicingkan matana seperti melihat sinis. “Lo langsung ngegas.”


“Itu Sar … joran pelampung lo dimakan ikan. Cepetan tarik!”


Sarah langsung panik. Dia celingak-celinguk kiri kanan nyariin jorannya. Kalau liat ke kanan, ada kambing yang lagi makan rumput. Kalau ke kanan, ada Andi yang nunjukin joran Sarah. Ternyata jorannya Sarah berada tepat di depannya. Dengan segenap pengalaman kecil mancing di taman mancing bersama Papa, ia menarik gagang joran dan memutar katrol pancing.


“Uanjir … ini gede nih. Kaya kucing tenggelam.”


“Beneran? Emang lo pernah mancing kucing tenggelam?” Andi melihat Sarah yang serius memainkan jorannya.


“Kucing gue tenggelam di koran ngamuknya kaya ikan ini. Sumpan ini berat banget,” balas Sarah.


Wajahnya serius memerhatikan pergerakan ikan di bawah sana. Tarikannya sungguh luar binasa kaya tarikan ketampanan duda komplek alias papanya sendiri buat narik janda-janda yang lagi main volley di lapangan belakang.


“Butuh bantuan ga?”

__ADS_1


Telunjuk Sarah mengarah ke serokan ikan buat mengangkat ikan apabila berhasil ke tepian. Kini ia masih terlalu sibuk menahan perlawanan ikan yang semakin menjadi-jadi. Senar pancing pun ke kiri dan ke kanan seiring ikan yang melawan.


“Itu tuh kepala ikannya.” Andi memanjangkan tangannya untuk menangguk ikan karena sudah mulai ke permukaan. “Sumpah ini gede banget Sar. Tariknya perlahan, jangan dilawan. Nanti malah putus kailnya di mulut ikan.”


“Udah cepetan jangan banyak bacot. Serok aja ikannya pakai itu.”


Sarah udah kaya pemancing pro. Malah dia yang ngajarin Andi buat ngambil ikan di bawah sana. Ikan berwarna keoren-orenan itu pun berhasil di bawa ke atas. Mata mereka pun melihat ukuran ikan yang sedang mereka dapatkan, hampir sedege laptop milik Sarah.


“Ini ikan mas, Sar. Lo dapet ikan mas. Gede banget! Kaya punya elo Sar.”


Sarah sontak melihat ke dadanya. “Kaya punya gue gimana?”


“Lupakan ….”


Mulut Andi ternyata keceplosan, tapi salah nyebut nama. Dia pengen nyebut nama seseorang tadi.


Ikan menggelepar-lepar di atas tanah. Andi berusaha melepaskan kail yang masih tersangkut di mulut ikan. Setelah itu, mereka pun berfoto ria bersama untuk mengabadikan momen ini. Satu ikan besar mereka dapat untuk dibakar malam ini.


Andi mengunggah momen itu di media sosial Instagram. Meskipun ia jarang mengunggah kehidupan pribadinya, tetapi untuk yang kali ini sungguh penting untuk dipamerkan. Setelah ia membuat story, berbunyi notifikasi jika ada seseorang yang membalasnya.


Wah, cewek lo suka mancing kaya elo? Kenalin dong sama gue, orangnya kayanya asyik ….


Nama Tasya tertera ketika Andi mengecek siapa pengirimnya. Ia pun merasa aneh, kenapa anak itu bisa tahu jika Andi suka mancing. Padahal, ia sama sekali tidak pernah mengunggah aktivitas mancingnya di media sosial. Jikalau ingin berbagi, palingan hanya di group privat saja.


Aneh banget nih anak, sok kenal banget sama gue, ucap Andi di dalam hati. Ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2