
“Ndi … pergi berenang yuk,” tulis Ari Kiting mengirimkan chat kepada Andi.
Waktu itu Andi lagi nonton pilem Jepang yang adegannya sedang panas. Andi saja sampai tegang melihatnya hingga menarik selimut. Karena panas, ia pun membuka baju agar leluasa ketika menonton. Andi tidak lupa menyediakan tissue di samping tubuhnya karena takut nanti ngerepotin dan makin membuatnya tidak nyaman. Saking adegannya lagi seru-serunya, Andi sampai tidak memerhatikan lagi handphonenya yang berdering.
Film Crows Zero merupakan film Jepang faforitnya Andi. Film itu menceritakan bagaimana perseteruan antar geng sekolah. Pemeran film itu sangat mengembalikan memori Andi ke sewaktu masih di SMP dan bahkan bercita-cita kalau udah SMA dia bakalan jadi kaya Takiya Genji sang pemeran utama. Aksi yang ditawarkan pada film tersebut bukan main-main dengan gaya teriakan yang khas, yaitu orraaaa!. Makanya, Andi selalu memutar ulang film itu dari season awal sampai yang terakhir sekaligus makan mie instan super pedas. Jadi, Andi butuh tissue karena ingusnya meler mulu karena kepedesan.
Aksi terseru perkelahian di atas atap sekolah sudah berakhir. Andi melihat kembali pesan yang dikirimkan oleh Ari Kiting, teman sekelasnya itu. Ternyata, teman-teman kelas lagi ngajakin berenang bagi yang mau aja. Jelas Ari Kiting selalu ikut kalau anak di kelas ngajakin berenang karena ia memang suka basah-basahan. Kalau bisa, dia berenang tuh di air mancur fakultas.
Sempat Andi merasa malas untuk keluar rumah. Ia sangat jarang ikut ngumpul sama teman sekelas. Jika pun berkumpul, paling hanya untuk membuat tugas di gazebo fakultas sambil makan ciki-ciki.
Males, pengen beli truck …, balas Andi.
Gue bayarin … ayo ngumpul sesekali. Jangan nolep ….
Gass!!!!
Andi langsung mengganti baju dan menyiapkan seluruh perlengkapan. Ternyata ada alasan lain Andi sempat tidak ingin ikut, yaitu males keluar duit. Mumpung dibayarin oleh Ari Kiting, jadinya Andi ikut dan tidak menolak. Goblok banget nolak, sekalian cuci mata dan cuci muka. Setelah bilang kepada Aisyah, Andi bergegas pergi menggunakan mobil, soalnya motor supra geternya lagi dipake Mama untuk acara ibu-ibu PKK. Memang, Andi masih ada motornya sendiri yaitu motor gede yang kaya motor Rossi gitu modelannya, tetapi Andi jarang sekali membawanya ketika bersama teman-teman kampus. Takut dianggap sok keren.
“Waah … udah lama enggak lama berenang nih.” Andi melihat perutnya sendiri sewaktu di pakiran. “Sayang banget perut gue enggak sikspek lagi kaya waktu di SMA. Pake kaos aja dah nanti.”
Andi melihat motor teman-temannya di parkiran, pertanda mereka sudah berkumpul. Seteleh membayar sembari tersenyum kepada mbak-mbak cantik penjaga loker karcis, Andi pun masuk. Ia melambai ke arah teman-temannya yang menunggu di meja kantin kolam renang.
__ADS_1
“Woi⸺” Andi berhenti melanjutkan kalimat sapaannya karena di sana ada Nabe. Padahal, ia sudah yakin tadi sebelumnya Nabe tidak akan ikut karena masih aja sama kaya dulu, kurang suka bergaul sama anak-anak cewek. Tidak Andi sangka jika ia sedang duduk satu barisan bersama teman-teman cewek lainnya.
“Wah Andi udah datang …,” ucap Dhepin. Nah, Dhepin ini singkatan dari Dhea Pinter. Selain anaknya berwajah manis, dia juga memiliki otak yang encer dan selalu dijadiin contekan sama temen-temen yang lain.
Perlu diketahui, Andi kalau di kelas itu selalu memberikan julukan kepada teman-temannya. Meskipun jarang nongkrong sama anak kelas, tetapi Andi dikenal sebagai anak yang lucu. Mungkin kebawa karena sering nongkrong sama temen-teman vangsatnya itu. Ada banyak temen-temen kelas yang diberi julukan sama Andi. Karena Andi selalu memanggil nama ditambah dengan julukan, akhirnya ada sebagian teman-teman memanggil dengan cara yang sama.
“Akhirnya lo datang juga, Ndi,” ucap Ari Kiting.
Terdapat tiga teman yang lain, yaitu Nabe, Rijik, dan Laila Ngabers. Rijik ini nama aslinya ialah Riziek (Tidak pakai Shihab). Ia merupakan cowok idaman satu kelas karena punya tubuh tinggi dan tegap, serta jago main basket. Kalau ada turnamen basket antar jurusan atau fakultas, Rijik selalu jadi panutan. Sedangkan Lala ialah cewek hijaban ala-ala para ngabers yang rutin sunmori pakai vespa metik hasil minta sama bapak. Hijabnya tidak seperti Naila, apalagi Aisyah yang sangat mempesantrenkan.
“Andi … akhirnya nongkrong sama kita, guys ….” Rijik memberikan tos tinjunya kepada Andi.
Bersandinglah antara Andi dan Rijik berdampingan. Para cewek di sini pun seakan bingung milih yang sama, kecuali Nabe yang pasti bakalan milih Andi, meskipun Rijik itu sebenarnya lebih ganteng daripada Andi sendiri. Ya, setidaknya mereka jadi trendsetter bergaya di kelas mereka karena untuk selera fashionnya cukup menarik. Andi yang cenderung ala-ala badboy ganteng urak-urakan, sedangkan Rijik ini lebih ke cewek keren berwajah manis seperti cowok korea.
Kaki Andi ditendang diam-diam sama Ari Kiting. Ia mengerti dengan maksud tersebut karena sering ngebecandain cewek Andi itu seperti beruang ngamuk. Ari Kiting pernah dimarahi sama Sarah karena bikin dia lama dijemput oleh Andi.
“Hehe … bisa aja lo Ndi. Gimana, cantik kan hijab gue?” pancing Lala yang dulu pernah dikritik gaya berhijabnya sama Andi.
Nabe waktu dengar itu langsung menoleh. Sok asyik banget nih cewek!
“Sepertinya sama saja seperti dahulu, tidak ada yang berubah.”
__ADS_1
Tangan Nabe mengambil kipasnya di dalam tas. “Aduh panas nih.”
Iya sih itu sebagai kode kalau sebenarnya ia tidak menyukai tingkah Lala kepada Andi, tetapi malah ditafsirin sama Ari Kiting, Andi, dan Rijik jadi yang enggak-enggak. Gimana mereka enggak bereaksi kalau Nabe begitu sambil menarik kemeja di bagian dada.
Rijik biar kelihatan keren dan tidak terkesan norak, ia pun berdehem. “Ayuk kita berenang langsung. Mumpung sorenya udah enggak terlalu panas.”
“Matanya jangan jelalatan ya …” Lala menunjuk si cowok bertiga itu.
“Iye … iye, gue udah hijrah soalnya,” balas Andi sambil mencibir.
Anak cowok tidak perlu kamar ganti, mereka hanya membuka celana di celana di tempat duduk batu yang ada, serta tinggal nyebur. Sementara anak cewek perlu ke kamar ganti dulu.
Rijik pun mencoba aksi berenangnya dengan gerakan yang baik. Sementara Andi dan Ari Kiting hanya nyebur kaya bocil lagi ngambang di kolam renang. Sewaktu di dalam, Andi menarik celana bagian belakangnya karena agak nyempil ke dalam.
Enggak bener nih author sumpah!
“Ari, si Nabe kok ikut?”
“Lah kan elo yang bilang ke gue kalau Nabe harus kita bombing buat bergaul ke teman-teman sekelas. Walaupun cuma berlima yang berenang, setidaknya dia ada interaksi gitu. Jadi gue aja. Lo ga suka?”
“YA SUKA LAH ANJIR! MASA GA SUKA! HAHA!””
__ADS_1
Andi langsung ngajak tos si Ari Kiting. Waduhh … Andi … Andi ….
***