
Api berkobar hebat menghanguskan warung yang menjadi kebanggan anak Kodomo tersebut. Memanjang api untuk mengumpulkan asap ke atas, lalu angin pun semakin membuat api tersebut menggila. Batang kelapa rendah yang ada di sampingnya bahkan jadi hangus. Menangislah istri Mas Momon melihat warungnya sedang diberi cobaan kebakaran. Sementara Mas Momon sendiri sibuk bersama warga untuk mematikan api secepatnya.
Warung Mas Momon sudah menjadi icon bagi anak Kodomo karena semenjak terbentuk mereka sudah berada di sana. Perjalanan mereka tumbuh dan berkembang berada di warung itu. Senang, sedih, bahagia telah tertuang pada setiap masanya. Tidak ada rasa sepi apabila telah duduk bersama mereka. Tiada pula rasa terkucilkan harap akan datang karena anak Kodomo saling merangkul satu sama lain.
Andi turut merasakan hal tersebut semenjak hubungannya dengan Kodomo berangsur baik. Awalnya ia merasa jika anak Kodomo akan mengusir apabila Andi duduk di sana. Namun, Kevin merangkul Andi dan mengancam siapa saja yang mengusir Andi, maka ia sendiri yang akan turun tangan. Keluarga Mas Momon juga sudah menganggap anak Kodomo sebagai anak sendiri. Mereka selalu merasa aman apabila Kevin dan kawan-kawan ada di sana, tanpa takut jika akan kecolongan makanan tanpa membayar. Setiap istri Mas Momon masak banyak, mereka bahkan diajak makan bersama.
Begitulah kedekatan anak Kodomo dengan warung tersebut. Namun, kali ini api berkobar di antara senja dan malam menyulut dinding serta jendela. Berkat pemadam kebaran dan warga sekitar yang turut membantu, api secara perlahan padam. Sebelum magrib, api sudah benar-benar mati dan hanya meninggalkan asap yang masih berhembus dari sisa-sisa rumah. Andi melihat sendir bagaimana istri Mas Momon mengais benda-benda dari reruntuhan bangkai bangunan itu sembari berharap ada barang yang tersisa. Namun, tangisnya menyimpulkan jika harapan itu tiada terwujud. Seluruh benda raib di makan api.
Malam harinya anak Kodomo berkumpul di indomaret tempat Kevin bekerja. Ada ketua kelompok yang diajak, seperti Andi, Memet, Dandi, dan dugong. Ada suatu hal yang ingin Kevin sampaikan kepada teman-temannya.
“Gue ga ada waktu lama karena gue harus kembali bekerja.” Kevin menunjuk mereka satu per satu. “Tolong kalau ke sini jangan ngutil ya, kemarin kami kehilangan barang karena ada yang enggak bayar. Kalau duduk di sini, beli dulu dan harus bayar.”
“Langsug aja ke topik, njir ….” Andi menghisap rokoknya.
“Warung Mas Momon sore ini baru aja kebakaran. Waktu itu Mas Momon lagi pergi dan menutup warungnya. Tapi, di sana ada Lelek si ketua kelompok Kodomo Junior yang mergokin sekelompok preman ngelemparin molotov. Mereka pandai nyari celah waktu lagi sepi, tapi Lelek berhasil melihat mereka.”
“Geng Beng kah?” tanya Dandi.
Kevin mengangguk. “Iya, itu mereka. Gue sama Andi udah nyari informasi ke adeknya Bang Ali, Si Jajang Bengkel. Geng Beng itu mafia, bukan geng sembarangan. Ada banyak geng preman yang gabung sama mereka. Gue minta sama kalian, plis jangan ngusik Geng Beng, jangan cari gara-gara sama mereka, kecuali dalam keadaan mendesak. Gue enggak mau kalau kalian berakhir seperti gue, Dandi, dan warung Mas Momon.”
“Bangsat banget sih mereka. Mas Momon malah kena batunya. Padahal dia enggak ada hubungannya dengan semua ini. Dia cuma jualan kue.” Ajiz menepuk meja dengan kuat. “Dan gue suka bolu istrinya ….”
“Oh bolu salju yang ada bubuk gula di atasnya itu kan?” Dandi memberikan jempolnya. “Sumpah gue nagih juga.”
Andi menepuk kepala dari Dandi. “Fokus, kita bukan bicara bolu.”
“Gue suka gorengannya sih,” ucap Kevin dengan malu-malu. Kemudian, ia kembali serius. “Sekarang, kita harus ngumpulin bantuan buat Mas Momon. Masing-masing dari kelompok kalian minta dana ke anggota seikhlasnya buat pembangunan ulang warung Mas Momon. Kami Anak Kodomo bakalan minta sumbangan tepat di depan warung Mas Momon selama dua minggu ini …..”
Mobil Pajero putih terpakir di depan indoapril. Lampu sorotnya membuat mata mereka silau. Saat pengemudinya keluar, ternyata ampi sama aja silau dengan segala karisma yang ia pancarkan. Pram keluar dengan kaos cokelat polisi ketat hingga otot lengannya menonjol semua. Tentu saja ia sudah mendengar berita ini dari group Kodomo. Sewaktu ia datang, Pram langsung melemparkan rokok malrobo merah di tengah meja tanpa peduli harga, padahal hanya orang kaya yang bisa beli itu karena mahal.
“Jadi, apa pembahasan kali ini?” tanya Pram sembari menyulut rokoknya tersebut dengan keren. Rokok aja yang mahal, tapi mancisnya minjem punya Andi.
__ADS_1
“Gini, gue minta mereka enggak ganggu Geng Beng, kecuali mereka dalam keadaan mendesak. Pokoknya jangan cari gara-gara deh. Sekalian gue bilang kalau kita mungut bantuan buat pembangunan Mas Momon.” Kalimat terakhir Kevin sedikit tidak jelas karena mencicipi rokok Pram. “Bagi rokok ….”
Pram memberikan mancis sekalian pada Kevin. “Enggak perlu minta bantuan lagi ….”
“Loh emangnya kenapa?” tanya Kevin yang tidak jadi menyulut ujung rokok.
“Papa gue udah ke rumah Mas Momon dan dia bilang akan menanggung seluruh biaya bangun ulang warung mas momon. Lo tahu sendiri gue dari dulu udah main ke sana dan Papa gue sering jemput gue di warung Mas Momon waktu masih sekolah dulu. Jadi, dia kenal sama Mas Momon.”
“Beneran Pram?” Andi terkejut mendengar penjelasan itu.
“Iya bener, ini gue dan papa gue baru aja dari rumah Mas Momon. Untuk papa gue, urusan kecil itu mah, ga usahh dipikiri banget biayanya ….”
Baru kali ini Pram terlihat sombong di depan teman-temannya dengan membanggakan papanya sendiri. Tapi, sombongnya itu berdampak positif, jadi Andi malah seneng kalau keluarga Pram mengatasi masalah tersebut.
“Wah … gue berterima kasih banget sama papa lo Pram. Sumpah gue bahkan sampai pengen nyari uang tambahan buat bantu Mas Momon. Lo tahu sendiri Mas Momon itu gede banget jasanya waktu nyembunyiin gue dari guru-guru ketika gue jadi buron,” balas Kevin.
“Oke gue bilang nanti. Tapi, kalau kalian pengen ngutip bantuan, gunain aja buat kebutuhan sehari-hari Mas Momon karena penghasilannya kan ludes gara kebakaran itu. Buat bangun lagi warung Mas Momon, itu urusan papa gue ….”
“Motor lo aja bisa gue beli sekarang. Berapa harganya?” balas Pram dengan nada bercanda.
“Jangan dong, gue bawa cewek gue malam mingguan gimana?” tanya Dandi balik.
“Ya … gue manaa tahu ….”
Mereka melanjutkan nongkrong sampai pukul dua dini hari. Kevin lanjut bekerja sebagai karyawan indoapril dan sesekali keluar ketika sedang tidak ada pelanggan. Hanya tinggal Andi, Memet, Pram, dan Ajiz yang bertahan di meja bundar dari besi tersebut. Ajiz yang menguap pertanda ia akan pulang, diikuti oleh mereka yang memutuskan untuk mengakhiri nongkrong hari ini.
“Gue balik dulu ….” Pram membuka pintunya.
Memet terlihat memerhatikan dalam mobil Pram.
“Oke …,” balas Andi sembari menepuk pundak Memet agar naik ke atas motornya.
__ADS_1
“Lo baru jalan sama Tami?” tanya Memet kepada Pram.
Pram tentu saja tidak jadi masuk ke dalam mobil. “Apa urusannya dengan lo?”
“Gue tahu sweater itu punya Tami. Ga mungkin elo makai sweater polkadot warna ungu ….”
Andi mencoba melihat ke celan pintu mobil dan mendapati sweater itu sedag tergantung di atas bangku mobil.
“Oh ya? Okelah … gue ketahuan. Iya, gue baru aja jalan sama dia sebelum ke rumah Mas Momon tadi. Sweater-nya ketinggalan ….”
“Met, udah … ayo naik,” pinta Andi sebelum terjadi bangku hantam di sini
“Oh okelah … selamat ya ….”
Memet kemudian naik ke atas motor Andi untuk segera pulang. Di jalan Memet diam saja tanpa ingin berucap sedikit pun. Padahal, Andi tahu kalau anak itu selalu mengajak Andi berbicara ketika berada di atas motor.
“Udah … santai aja. Cewek ga hanya satu kok ….”
“Iya gue tahu,” balas Memet dengan lemah. “Kayaya gue udah mutusin buat ngelupain Tami.”
“Akhirnya lo paham juga, ayo kita ke lokalisasi buat nyari cewek ….”
“Gue kaga punya duit ….”
“Ngutang dulu boleh kayanya ….”
“Hahah ….” Memet ikut tertawa.
Padahal, di dalam hatinya sangatlah miris. Padahal, sweater Tami yang tertinggal di mobil Pram itu merupakan pemberiannya ketika Memet jalan-jalan ke Sumatera Utara.
***
__ADS_1