
Ga Salah Paham
Demam tidak menjadi penghjalang bagi Andi buat ngerokok. Tiga puluh menit yang lalu Andi meminum obat, ternyata memberikan efek yang cepat. Demamnya dengan cepat turun meskipun kepalanya masih terasa sakit. Segan karena ada guru di area api unggun, ia pergi ke belakang tenda agar tidak ketahuan.
Penilaian para panitia terhadap karya per kelompok sudah sedari tadi selesai. Mereka kini sedang berada di lapangan buat lari dan senam pagi yang akan dikomandoi oleh para panitia. Sementara itu, guru-guru tetap di area perkemahan. Ada yang lagi ngopi, sarapan, nyebat juga ada. Guru aja nyebat, masa Andi enggak. Maka dari itu, Andi terus aja ngerokok.
Sarah mengizinkan Andi buat di tenda selagi mereka berolahraga bersama. Sebenarnya, Andi masih sanggup lari pagi. Fisiknya memang kuat, meskipun masih dalam keadaan demam. Dulu mah lebih parah, dia tetep aja nahan demam buat tanding di turnamen futsal antar SMA. Memang enggak bisa ditingalin karena Andi termasuk pemain inti yang penting. Alhasil setelah turnamen usai, Andi divonis sakit typhus dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
"Boleh ngopi ga abis minum obat?" tanya Andi pada diri sendiri.
Telinga Andi beridir tatkala mendengar suara langkah yang terburu-buru mendekat dari belakang.
"ASTAGHFIRULLAH!!!!" Rokok Andi terjatuh karena Naila yang datang tiba-tiba. "Eh, dikejar setan lo?"
Naila langsung mengembat air mineral yang ada di samping Andi dan meminumnya langsung sekali abis. "AHHHHH .... gue butuh air banget."
"Minum lo kaya sapi gelonggongan ya?" sindir Andi.
"Sumpah kami disuruh lari dua keliling trus disuruh senam erobik sama senior. ******* gat uh." Tubuh Naila tersandarkan ke tenda.
"Gimana karya kita tadi?" tanya Andi.
"Pasti baguslah, panitianya laki-laki dan gue rayu buat ngasih nilai bagus."
"Kek lonta-lonta aja ngerayu cowok."
Sumpah ini frontal banget ...
"Mulut lo memang enggak bisa direm ya?" Wajah Naila terpasang sinis. "Lo tadi ngigo-ngigo ga jelas. Jadi takut gue."
"Gue kalau demam memang kaya gitu."
"Aneh banget, gue demam biasa-biasa aja." Naila menatapnya dan menadahkan tangannya kepada Andi. "Sini tangan lo."
__ADS_1
"Buat apa?" tanya Andi terheran-heran.
"Sini aja ... jangan banyak protes, bawel amat."
Ya Allah ... kenapa hambamu selalu dekat sama orang-orang yang suka ngegas dan tidak bisa santeuy sedikit ....
Andi menyerahkan tangannya begitu saja. Ia disambut oleh sentuhan kedua tangan Naila yang terasa lembut. Mata wanita itu terpejam dan keningya mengernyit seperti orang berharap sesuatu. Perlahan senyumnya melebar dan matanya kembali mengarah kepada Andi.
"Apa-apa an itu?" tanya Andi.
"Ayah gue suka kaya gini kalau gue sakit. Anehnya gue bisa sembuh dengan cepat. GWS ea ..."
Kalimat tersebut menyejukkan hati Andi. Ia tersenyum lebar kepada Naila yang sedari tadi tak pernah memadamkan senyum kepadanya. Senyumnya padam tatkala Andi menarik tangan karena takut jika ada orang yang melihat ini. Tidak enak rasanya jika seseorang yang mempunyai pacar, digenggam seperti ini oleh wanita. Bisa-bisa mereka diamuk massa.
Suara Sarah dengan TOA terdengar kembali menuju area perkemahan. Itu pertanda perlombaan selanjutnya akan dimulai. Sementara itu, Andi belum sama sekali menunjuk anggota yang akan mejadi perwakilan di pertandingan yang terakhir ini.
Tepat di depan tenda, Andi berkumpul bersama adik-adik bimbingannya. Masih dengan sebatang rokok yang terselipkan di bibir, ia sedikit was-was dengan mata guru yang mungkin saja melihatnya sedang merokok. Andi menjelaskan secara detail bagaimana pertandingan selanjutnya.
Dinda mengangkat tangan untuk bertanya. "Yang jadi ceweknya siapa?"
"Dengerin dulu lombanya apa ...." Andi membuang puntung rokok ke tanah. "Ronde pertama ialah lomba masukin paku ke dalam botol. Sebelum itu, yang cewek bakalan digendong dan dibawa lari ke arah botol sama laki-laki. Tantangannya ialah kalian bakalan diputar-putar dulu sebelum lari biar pusing dan mampus. Setelah paku dimasukin, kalian lari lagi ke tempat semula. "
"Jahat amat kata-kata lo,' sindir Naila.
Giliran Ajiz yang mengangkat tangan. "Ronde keduanya bijimane?"
"Nah, ini yang paling seru. Setelah mendapatkan empat kelompok yang masuk semi final. Mereka akan diadu perang bantal di sungai. Siapa yang jatuh duluan dia kalah. Tantangannya ialah kita bakalan diundi sebelum bertanding, siapa yang menang maka berhak memilih lawan pria atau wanita. Jika memilih lawan pria, maka mereka juga mengajukan perwakilan pria buat ditandingkan."
"Wah seru juga nih." Ajiz menangguk semangat.
"Jadi siapa yang mau jadi perwakilan ce─"
Belum sempat Andi menyelesaikan kalimatnya, Naila sudah mengangkat tanganya.
__ADS_1
"Gue!" ucapnya dengan lantang.
"Lo serius?"
"Emang lo ngelihat muka gue lagi main-main?"
Yaudah ....
Andi sebenarnya ragu untuk memainkan Naila. Ia teringat dengan ketidaksukaan Naila jika dipukul dibagian bahunya yang pernah patah sewaktu kecil. Namun, wanita itu terlihat yakin dengan keiingiannnya untuk maju di pertandingan kali ini. Andi tidak bisa melarang, ia mempercayakan sepenuhnya kepada adik-adik bimbingan.
Seluruh kelompok kembali digiring ke tanah lapang agar pertandingan paku botol bisa dilakukan. Sembari menggiring adik-adiknya berjalan, ia tetap merasa ragu dengan Naila. Ketika sudah sampai di sana, ia menghampiri Naila.
"Lo yakin? Lo bilang ga suka dipukul? Gimana kalau nanti kita sempat maju ke lomba perang bantal?" tanya Andi berkali-kali.
"Gue mau menebus kesalahan gue di tanding bola api." Naila fokus dengan peregangan otot-ototnya.
"Hati-hati ya ... gue ga pingin lo kenapa-kenapa."
"Care banget lo sama gue ..."
"Ya apa salahnya?" tanya Andi.
"Yaa aneh aja ...."
Wajah Andi memerah. Ia menduga Naila berpikir yang tidak-tidak.
"Eh, jangan salah paham." Jemarinya menjentik kening Naila.
"Ga salah paham pun gue ga masalah. Itu masalah lo."
***** lo katain gue suka sama lo, ya????
***
__ADS_1