Andi X Sarah

Andi X Sarah
60. Mabok (2) (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Gubrak … gubrak … tak … tun … tung ….


Kira-kira begini bunyi keributan barang-barang yang jatuh di tempat maksiat mereka itu. Udahlah minum khamar yang dilarang sama agama, malah berantem gara-gara cinta. Andi dan Pram berguling di lantai, bukan buat main gelut-gelutan, melainkan benar-benar berkelahi. Tangan Andi lebih dahulu menembel di wajah Pram hingga pria itu tumbang ke lantai. Melihat Pram yang puyeng di bawah, Andi langsung menghimpit Pram dengan kedua bokongnya. Saat itu pula Andi melangsungkan pukulan bertubi-tubi, hingga teman-teman yang lain turut melerai.


Yang namanya orang lagi mabuk, jangankan melerai, jalan aja susah. Mereka malah ngawur, bukannya melerai, malah kelahi satu sama lain. Lantai dua bangunan ini udah kaya main battle royal game smekdon di PS2. Walaupun tidak seserius Andi dan Pram, tetapi masih mengakibatkan gelas-gelas jatuh ke bawah. Kevin udah kaya gorilla yang pengen makan orang. Dia mengangkat tubuh Nanang dan memutar-mutarnya di atas tubuhnya. Sementara Agus sibuk menjitaki kepala Revin sampai panas. Kini, giliran Pram yang menghimpit tubuh Andi dan melayangkan pukulannya. Memet teriak kaga jelas buat ngedukung Andi melawan Pram. Pesta kali ini sudah tidak beres.


Keributan yang terjadi bikin Felix terbangun. Awalnya Felix mengira kalau dia lagi mimpi masa-masa tawuran semasa SMA. Dasarnya Felix itu penakut, tetapi terus aja diajakin sama Andi buat tawuran. Tangan Felix pun mengucek-ngucek matanya. Ternyata, mereka satu ruangan ini sedang melangsungkan hajatan dalam tinjuan. Dia pengen ikut tapi nelen ludah karena Kevin udah buka baju. Ia meminum segelas kecil anggur merah, lalu memisahankan mereka satu per satu.


“Apaan sih? Gue kaga ngerti ….” Kevin melirik kepada Felix.


Gimana mau ngerti, soalnya Felix ngomel-ngomel pakai Bahasa Mandarin. Ia pun kembali membalas Kevin dengan tetap menggunakan bahasa yang sama.


“Apa kata dia sih?” Agus berhenti menjitaki Revin.


“Kaga tahu gue … kerasukan jin vampir cina di pilem boboho kali.” Kevin langsung menepuk jidat Felix seakan-akan itu merupakan jimat penghusir vampir. “Nih gue rukyah ….”


Felix mundur selangkah karena kepalanya oleh.


“WOI, BELHENTILAH … HAYYAAA!!! MALAM INI MALAH LIBUT!!!!”


Untuk seumur hidup selama berteman dengan Felix, baru kali ini mereka denger Felix berlogat orang Tionghoa. Kental sekali seperti cece-nya Felix yang sering mereka lihat di ruko atau pun sewaktu orangtua Felix memarahinya. Berkat hal tersebut, seluruh keributan yang terjadi seketika berhenti. Andi menarik diri dari pelukan manja Pram yang pengen bikin Andi mampus. Kevin kembali menurunkan Nanang yang sedari tadi dia puter-puterin di atas. Agus malah minta maap sama Revin karena udah ngejakin kepala anak itu. Sementara Memet masih teriak tidak jelas mengikuti ritme musik DJ jedag-jedug.


“Kita lagi ngapa ya?” tanya Kevin sedang polosnya.


“Gue enggak tahu. Pengen aja ngejitakin kepala Revin,” balas Agus.


“Waduh kok malag gelud begini.” Kevin menggaruk kepalanya karena bingung. Kini, dia meminum gelas wine yang sedari tadi ia nikmati, lalu memberikan kepada mereka masing-masing satu gelas agar kembali santuy. “Silahkan minum lagi, kita party sampai pagi!!!”


Mereka pun minum lagi setelah sebelumnya kericuhan kaya supporter bola yang tidak terima timnya kalah. Tiba-tiba Andi memeluk Pram.


“Sorry banget ya tadi gue mukulin lo ….”

__ADS_1


“Tapi, Sarah punya gue,” balas Pram yang lagi mabok berat.


“Gue pecahin biji lo mau?”


“Oke deh, Tami buat guee ….”


Sempat Andi terdiam karena Memet tiba-tiba aja maju.


“Elo mau masalah sama gue kalau gitu,” tantang Memet.


Karena tidak ingin mereka gelud lagi, Andi memberikan minumannya kepada Memet. Ia pun menuangkan sendiri minuman itu mulut Memet.


“Jangan gitu dong … mari berpelukan kaya teletubis,” pinta Andi.


“BERPELUKAAN!!!!” balas mereka bertiga sambil memeluk satu sama lain.


Malam ini sungguh absurd. Awalnya mau senang-senang malah jadi ricuh karena mereka lagi mabok. Eh, tidak lama kemudian kembali akur seperti sedia kala. Keseruan kemudian berlangsung agar mereka semakin happy. Diadakanlah kompetisi kecil-kecilan seperti turnamen bola PS 4, masukin bola ke dalam mangkuk, main flip bottle, main hompimpa pukul kepala, dan lain-lain. Mereka pun main sampai kelelahan dan tumbang ke lantai. Mereka pun terlelap satu sama lain, berpelukan hingga pagi menyambut.


Pagi pun datang dengan cahaya mentari manjah di sebelah timur.


Tami mengangkat bahunya. “Enggak tahu, mungkin aja lagi jogging diajakin Kak Kevin. Aku lihat Andi dan Memet juga enggak ada di kamarnya.”


“Heran banget dah gue kenapa bisa Andi bangun tanpa dibangunin, padahal sepagi ini,”


Mengira mereka beneran jogging, Sarah pun berpikiran positif. Ia turut senang jika para pria mengikuti pola hidup sehatnya Kevin, berharap Andi segera mengikuti jejak Kevin biar perutnya tidak buncit lagi. Tapi, sudah satu jam Sarah menunggu dan menghajar Tami di permainan papan Ludo di handphone, para pria tidak muncul juga. Sarah jadi cemas nih. Cemasnya bukan karena takut hilang, tapi karena cemas mereka malah nyari sarapan tanpa Sarah dan Tami.


Sarah berinsiatif untuk mencari anak cowok di bangunan belakang di mana Pram tidur.


“Samlekom … ini gue Sarah. Ada Andi ga di sini? Bilangin dia dicari mamanya ….”


Beberapa kali Sarah mengetuk pintu\, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Pintu bawah di kunci\, tapi dia melihat pintu balkon atas terbuka bebas. Kebetulan di samping bangunan kayu ini terdapat tangga yang bisa digunakan. Tanpa ragu dan tanpa bimbang ia langsung menggunakan tangga itu untuk ke atas. Setelah sampai ke atas dengan bunyi `gebruk` yang keras\, ia melihat anak cowok masih tidur dengan posisi seperti ikan sarden dalam kemasan.


“WOI BANGUN!!!!!” Sarah menggebruk dinding kayu itu sampai bergetar.


Sontak Kevin langsung terduduk karena suara Sarah udah kaya mamanya yang lagi marah kalau Kevin bangun kesiangan di pagi hari. Ia menepuk-nepuk teman-teman yang lain.

__ADS_1


“Uanjir ada Sarah woi. Bangun cepat dan selamatkan nyawa kalian!!!”


“APA SARAH!!!!!”  Andi celingak-celinguk. “Lah, elo kok bisa datang dari situ?”


“Gue terbang ….” Hidung Sarah mengendus bau yang tidak sedap dari ruangan ini. “Kalian ngapain sih malam tadi?”


Andi jadi heran kenapa ruangan ini jadi bersih. Ternyata eh ternyata Pram sudah berpesan kepada Bapak Santoso untuk segera membereskan botol minuman apabila mereka terlelap. Takutnya anak cewek tahu kelakuan mereka.


“Ini … aduh … lagi apa ….” Andi bingung mau jawab apa.2


“Lagi turnamen bola PS,” sambung Kevin dengan cepat.


“Nah itu dia.” Andi menunjuk TV yang masih terpasang PS 4. “Kami main taruhan makan mie instan di burjo.”


“Oh gitu … cepet yaa bangun. Gue turun dulu ….”


Kevin dan Andi pun bernapas lega karena tidak ketahuan. Anak-anak yang lain tidak ikut merasakan spot jantung atas kehadiran Sarah. Mereka masih terlelap pulas.


“Rasanya tadi malam gue kelahi sama Pram, deh.” Andi mengingat-ingat kejadian tadi malam.


“Ah enggak … itu kalian lagi main gelut-gelutan doang. Becandaaan ….”


“Iya yah … oke deh ….”


Andi malah lupa kejadian tadi malam.


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2