Andi X Sarah

Andi X Sarah
104. Pembalasan Kodomo (SEASON 3)


__ADS_3

Dua jam yang lalu, salah satu anggota Kodomo bernama Udin Bontot. Kenapa dibilang bontot? Karena di antara anak Kodomo dirinyalah yang paling muda dan paling kecil pula tubuhnya. Kadang dipanggil Udin Unyil karena tubuhnya yang kecil dan dijadiin objek untuk Kevin gendong setiap hari ketemu. Sewaktu ia lagi nongkrong sendirian untuk merokok di warung dekat rumah, tiada ada ia sangka jika dirinya sedang diawasi oleh beberapa orang dari kejauhan. Sewaktu ia foto motor mereka secara diam-diam dan mengirimkannya kepada Kevin, Kevin pun mengakui jika mereka bagian dari anggota preman yang telah membacok Kevin.


Mendengar preman-preman itu merupakan kriminal berbahaya, Udin menjadi panik. Terlebih lagi ia paling lemah di antara anak Kodomo untuk sebuah perkelahian dan jumlah mereka ialah lima orang. Dua tangan saja tidak cukup untuk menghadapi mereka. Oleh karena itu ia menghubungi Pram agar membantunya segera. Pram pun memangggil anak-anak Kodomo untuk menunggu di suatu tempat dan mengirim Memet untuk menjemput Udin di sana selagi preman-preman itu belum bergerak.


“Oh itu preman-preman itu,” ucap Memet ketika sampai di warung tempat Udin lagi duduk.


“Sumpah gue takut Met. Gimana kalau gue dibacok? Bisa mampus gue ….”


“Yaelah dibacok doang mah, paling untuk orang-orang seperti lo palingan meninggal,” ucap Memet dengan tenang.


“Bapak kau!” protes Udin. “Lo kalau dibacok juga meninggal. Emangnya elo kucing yang punya nyawa lebih dari satu ….”


“Sekarang lo tenang selagi gue di sini. Gue masih bisa menghadapi tiga orang dari mereka kalau mereka beraksi sekarang.” Ia melihat sebentar ke preman-preman yang sedang nangkring di bawah pohon untuk berteduh. Sedari tadi mereka memang lagi memerhatikan Memet dan Udin di kedai. “Pram dan yang lain sedang ada di suatu tempat. Kita nanti ke sana. Kalau preman-preman itu bergerak tatkala kita pergi, udah dipastiin jika mereka memang ngincar elo.”


Udin pun menutup wajahnya dengan ekspresi panik. “Kenapa gue yang diincar sih!”


“Ya makanya elo nge-gym kaya Kevin. Ini loh ….” Memet mengangkat lengan Udin. “Tangan lo segede anak SMP. Mungkin gue SD udah segede ini lengannya.”


“Yaelah kok main fisik sih. Gue memang keturunan dari orangtua gue yang tulangnya pada kecil.”


“Ya udah … kita sekarang gerak yuk. Lo tenang aja bawa motor di depan gue. Kalau mereka bergerak, gue dulu yang diserang. Pastikan kita ngebut hingga sampai kepada Pram dan yang lain.”


Udin dan Memet bergerak menggunakan motor mereka. Untuk saja motor Udin sudah diotak-atik buat balap, apalagi Memet yang merupakan seorang teknisi handal, sudah pasti motor mereka kencang. Benar saja, ketika mereka bergerak ternyata preman-preman itu juga mengikuti dari belakang. Terjadilah kebut-kebutan di jalan. Preman-preman itu pun meneriaki Udin dan Memet. Udin panik, Memet tambah semangat karena motornya jauh lebih kencang. Bahkan, bisa memacu motornya Udin.


“Cepetan napa! Itu Motor atau siput!” Memet menoleh kepada Udin.


“Anjir … motor lo kok kenceng banget sih!”


Memet sempat-sempatnya memberikan jari tengahnya kepada preman-preman yang ada. Sudah dipastikan mereka memang sedang mengincar Memet dan Udin dari gelagatnya yang mengejar. Motor pun dipacu tambah kencang. Engkoh-engkoh dan cicik-cicik yang lagi lewat sampai menghujat sekelompok anak muda yang ngebut-ngebutan di jalan.

__ADS_1


Terlihatlah mobil Pram sudah tampak di depan. Pram di dalam mobil pun memberikan sinyal kepada Revin dan yang lain untuk bersiap-siap menyergap.


“Langsung aja gan!” ucap Pram.


Memet dan Udin berhasil lewat. Terdapat jarak sekitar seratus meter hingga preman-preman itu tiba. Revin memerintahkan anggotanya untuk meletakkan batang pisang yang habis disalamdaribinjaikan oleh Revin sendiri sebelumnya. Batang pisang milik Mas Momon itu sudah berbuah sebelumnya dan sudah saatnya juga untuk ditebang. Dengan posisi melintangi jalan, batang pisang itu kini menutupi jalan.


Sontak preman-preman itu pun terkejut melihat batang pisang melintang di jalan. Motor menghantam batang pisang itu hingga tiga orang di antara mereka berserak di jalanan aspal. Dua orang lainnya terjerembab ke semak yang berada di sisi kiri. Komplotan Kodomo langsung menyerbu preman-preman itu dengan brutal. Tinjuan, sepakan, himpitan, dan persmekdonan terjadi pada perkelahian tersebut. Preman-preman yang berserak di jalanan tentu saja tidak mempunyai daya karena penuh luka dari kecelakaan motornya dan menjadi bulanan-bulanan oleh anak Kodomo.


“Uanjir … apa-apaan ini!” Sarah terkejut di dalam mobil Pram.


“Lo jangan bilang-bilang ke Kevin kalau kami bergerak. Dia ngelarang kami bergerak sampai Kevin sembuh.”


Sarah menoleh kepada Pram. “Kalian gila apa! Kelahi begini! Lo kan polisi, seharusnya elo nangkapin mereka!”


“Ya mau gimana lagi, ini pertarungan jalanan … jangan pakai polisi. Buat nangkap mereka, harus ada surat tugas. Makanya gue lepas nih seragam buat sekarang.”


“Gila, Cok! Mereka bawa pisau!” Mata Sarah melotot tatkala melihat pisau yang dijadikan senjata oleh para preman. Sementara anak Kodomo masih memakai balok kayu untuk mengeroyok.


Revin menarik wajah yang dari tadi memegang pisau.


“Kalian yang ngebacok bos gue?” tanya Revin.


“Enggak bang!”


Satu balok kayu menghantam wajahnya hingga bibirnya langsung bengkak.


“Jangan bohong lo! Motor lo itu kaya orang yang udah ngebacok bos gue!”


Lagi-lagi jawaban itu menghasilan balok kayu yang menyayangi atau mencium kepalanya lagi. Preman itu pun oleng ke tanah, wajahnya mengalir darah di bagian pelipis. Kodomo benar-benar menghabisi preman-preman itu.

__ADS_1


“Bilang sama bos elo, kalau kalian yang ngincarin anggota gue lagi ….” Revin meminta temannya untuk memegangi tangan. Revin ingin memberikan tanda kepada praman itu dengann mengantamkan kayu tepat di tangannya. Alhasil, satu pukulan telah ke tangannya menghasilkan bunyi gemeratak. Preman itu pun mengalami tangan patah hingga berteriak sekuat tenaga. “Salah satu dari kalian bakalan patah tangan lagi ….”


Pram menelpon Revin.


“Udah, kasih mereka kabur. Kita cabut sekarang. Tolong bawa motor Sarah ke warung kodomo.” Ia diam sesaat melihat Revin yang melepas preman itu. “Lo apain dia?”


“Patahin tangannya ….”


“Gila … ya udah, kita pergi sekarang!”


Mobil Pram bergerak di arah yang berlawanan agar preman-preman itu tidak melihat mobilnya. Ia mengantarkan Sarah ke warung milik Mas Momon dan menunggu komplotan Kodomo yang lain datang.


“Kalian sebrutal ini ya!” protes Sarah.


“Gue cuma mau ngasih pembelajaran ke orang-orang yang udah berniat buruk ke teman-teman gue, bahkan jika itu Andi sendiri.”


“Tapi itu kan bahaya!”


“Udah jadi konsekuensi kami. Yang penting teman-teman gue selamat ….”


Sarah menatap wajah Pram yang tidak ingin melihatnya. “Lo jangan sampai ikut-ikutan.”


“Peduli apa lo sama gue?” tanya Pram.


“Ya karena elo … karena … karena lo temennya Andi, temennya gue juga!”


“Iya sih, kita kan cuma sebatas teman.” Pram memberikan dompet Sarah yang ia letak di dashboard. Komplotan Kodomo sudah datang ke warung sambil membawa kemenangan. “Pulanglah … udah sore ….”


“Iya kita sebatas teman, tapi gue peduli sama lo.”

__ADS_1


Sentuhan tangan Sarah ke lututnya menyadarkan sesuatu, apakah sudah saatnya gue merelakan Sarah?


***


__ADS_2