Andi X Sarah

Andi X Sarah
28. Lomba Lari (SEASON 2)


__ADS_3

Lomba Lari


Di waktu yang bersamaan dengan pertandingan bola api ...


Sebagai penanggung jawab di perlomaan lari, Andi membawa seluruh peserta menuju ke pos pertama. Kira-kira dua kilometer dari lokasi perkemahan. Tidak sulit membimbing mereka menuju ke lokasi karena mereka tahu Andi itu bagaimana, seorang berandalan sekolah yang namanya melegenda dari mulut ke mulut. Alhasil, semua jadinya nurut sama Andi.


Ide ini merupakan ide Andi sendiri karena memadupadankan antara otak, otot, dan kecermatan. Satu kali partai berlari terdiri dari enam orang. Jadi, aka nada lima kali gelombang berlari. Titik start akan dimulai dari pos pertama. Mereka berlari menuju pos kedua di poskamling yang jaraknya satu kilometer. Di poskamling tersebut, mereka akan ditantang menjawab sepuluh soal yang telah dirancang dengan sedemikian mungkin dan harus dalam kurun waktu tertentu. Setelah itu, mereka berlari menuju ke lapangan. Di sini mereka akan ditantang menembak susunan piramit botol kalengan menggunakan senapan angin yang telah dipersiapkan.


Di antara lima gelombang pertandingan, nanti akan dinilai sesuai dengan nilai yang didapati dari setiap tantanga. Selain itu, akan ditambah dengan skor waktu yang didapati. Jadi, finish duluan tidak menjadi jaminan untuk mendapatkan peringkat pertama, namun dilihat juga dari skor tantangan. Pemenang dari setiap gelombang akan diperingkatkan sehingga didapati juara satu hingga lima. Tidak akan ada lagi pertandingan selanjutnya.


Diperlukan fisik yang kuat dan pikiran yang jernih untuk melakukannya. Jarak yang ditempuk cukup jauh, ditambah lagi nanti akan ditantang dengan soal dan senapa angin. Tentu saja dengan tenaga yang terkuras, akan membuyarkan konsentras para peserta. Nah, hal tersebut yang membuat Andi tertarik mengusulkan pertandingan ini. Untung aja ada orang dalam, yaitu Sarah. Awto keterima pendapatnya.


"Hei, pokoknya kalian lari sekencang-kencangnya. Jangan berbelok dari jalur, jangan jatuh, jangan pingsan, jangan makan, jangan stop buat pipis, pokoknya lari sampai mampus. Paham?" teriak Andi kepada peserta gelombang pertama. Di sana terdapat Ajis sebagai perwakilan dari kelompoknya.


"Paham bang," balas mereka bersama-sama.


"Kalau ada yang pingsan, gue tarik ke semak-semak biar pagi-paginya sadar kalau udah diambil orang bunian. Lari segini aja pingsan, makanya jangan ngerokok." Andi menyulut rokoknya.


**, ngelarang ngerokok, tapi dia sendiri yang ngerokok*.


Ga ada yang berani protes dengan tingkah Andi, bahkan teman seangkatannya sekali pun.


"Ada pertanyaan?" tanya Andi.

__ADS_1


Salah satu peserta mengangkat tangan. "Kalau ada yang enggak sanggup gimana bang?"


Tawa Andi menggelegar. "Gue udah bilang, ga boleh kalau enggak sampai ke garis finish. Mau lo ngesot kek, mau lo ngerangkak kek, suka-suka elo. Peduli apa gue."


Andi menyingkir dari lintasan sambil ngerokok di tepi jalan. Panitia yang lain mulai memberi aba-aba agar peserta memasang posisi siap berlari. Hitungan mundur mulai teriakkan. Semuanya berlari sekencang-kencangan ketika sapu tangan jatuh ke jalanan aspal. Andi tersenyum senang melihat semangat adik-adik penerusnya.


Dengan sekuat tenaga Ajiz berlari melewati peserta yang lain. Kalau urusan fisik, Ajiz memang jagonya. Sewaktu SMP, ia merupakan atlit futsal di sekolahnya. Di SMA kali ini ia juga sering main futsal sama senior, untung-untung dimasukin squad SMA sama para senior. Tidak terlalu sulit untuk melewati peserta yang lain. Selain itu, jarak satu kilometer bukanlah hal yang berat baginya.


Masalahnya itu, otak Ajiz enggak punya spesifikasi tinggi. Satu-satunya cowok di kelompok cuma dia, jadi mau tidak mau harus ikut perlombaan ini.


Poskamling sudah tampak dengan jelas. Ajiz yang menginjakkan kaki untuk pertama kali. Ia dengan cepat mengambil posisi pada meja pojok kanan dan mengambil sebuah pena yang dipersiapkan. Matanya terbelalak melihat soal matematika yang sama sekali tidak ia mengerti. Untung aja masih ada soal yang masih bisa ia jawab, tapi enggak tahu benar apa enggak. Panitia pengawas mejanya terus menghitung waktu mundur. Waktu yang diberikan cuma dua puluh detik.


Pengawas meja mengetuk meja, pertanda waktu habis. Ajiz kembali berlari, namun kini ia tidak lagi memimpin. Ia sekarang berada pada posisi di lima dari enam orang. Ketika ia dalam berjalanan, terlihat seorang wanita yang menyebrang menuju aliran sungai air terjun. Ketika ia melewatinya, ternyata wanita tersebut ialah Naila yang tengah menangis. Ia terheran-heran melihat Naila yang melintasi jalanan gelap sendirian menuju air terjun. Ajiz tidak sempat berhenti karena ia tetap terus berlari menuju tantangan selanjutnya.


Ajiz dengan cepat berlari menuju garis finish dan berhasil menempati urutan pertama, walaupun sempat tertinggal pada pos kedua.


Hasil pertandingan tidak langsung diberi tahu. Mereka menunggu seluruh gelombang sudah digelar, sehingga bisa menjari peringkat juara umum perlombaan. Memanfaatkan waktu istirahat yang diberikan, Ajiz pergi menyusul Naila yang terlihat tidak baik-baik saja.


Untuk menuju ke lokasi berjalannya Naila, ia harus melewati daerah perkemahan terlebih dahulu. Tanpa sepengetahuan Ajiz, ia ditarik menuju belakang salah satu tenda. Terlihat tiga orang teman seangkatannya mendorongnya hingga tersandar pada tenda. Setahu Ajiz, mereka merupakan teman satu geng Dandi. Ia pernah mendengar bahwa mereka menjuluki diri mereka sebagai Four Dog yang bercita-cita menghancurkan Antophosfer.


"Mau apa kalian?" tanya Ajiz.


"Mau negosiasi ...." Salah satu dari mereka menjawab dengan suara rendah.

__ADS_1


"Negosiasi apa?"


"Bergabung dengan Four Dog, atau hidup lo ga aman di sekolah."


"Kenapa harus gue?" tanya balik Ajiz.


"Lo kira kami enggak tahu gimana masa lalu lo di SMP," balasnya.


Ajiz tertawa pelan. Memang, tidak banyak yang mengetahui masa lalunya ketika SMP karena lokasi SMA sekarang dan sekolahnya dahulu terlampau jauh. Ia sengaja tidak memilih yang jauh karena tidak ingin terlibat dengan masa lalunya yang penuh dengan tawuran, berkelahi, kriminal, dan lain-lain.


"Enggak ada untungnya buat gue." Ajiz melewati mereka bertiga.


"Nanti lo datang sendiri kepada kami. Gue yakin."


"Diam lo ***!" teriak Ajiz.


Lawan bicaranya tertawa keras. Ia sangat jijik dengan sifat munafik Ajiz yang seakan seperti anak baik, padahal dahulu ia merupaka salah satu orang yang ditakuti di SMP.


"Lo dan Naila?"


Ajiz mengabaikan perkataan lawannya tersebut. Ia terus berlari untuk menghampiri Naila. Sebuah perasaan cemas tumbuh berkat rasa yang ia pendam selama ini.


Benar, gue suka Naila ....

__ADS_1


***


__ADS_2