Andi X Sarah

Andi X Sarah
41. Gila (SEASON 2)


__ADS_3


Gila



Satu jam sebelum Ajiz mengobrak-abrik kedai anak Four Dog.


Tangan Dandi dari kemarin udah gatal buat ngehajar orang lain. Agus udah mampus ditangannya sendiri, Arman apalagi. Pertarungannya dengan Andi yang berakhir seri masih menjadi kekesalan tersendiri. Entah kenapa bapak polisi itu bisa datang dan ngelerai pertarungan mereka. Menurutnya, Andi bisa aja dia kalahin.


Hal yang ia tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Ia berharap jika Dugong dan anak buahnya ngedatangin dia buat duel. Dugong rasanya tidak seperti dulu. Jika salah satu anggotanya dihajar, bisa-bisa dia sendiri yang maju duluan. Namun, Dandi merasa ada perubahan pada Dugong. Perubahan pada Dugong tidak merubah dendam lama yang masih berkecamuk di hatinya.


Ia dan ketiga temannya pernah dijadiin kacung oleh Dugong dan Arman. Arman yang begitu setia kepada Dugong, selalu aja menuruti apa yang dikatakan Dugong sendiri. Salah satunya merendahkan Dandi dan ketiga temannya. Memang, ada alasan tersendiri dirinya bergabung dengan kelompok Dugong. Ia muak jika selalu direndahkan orang lain, sehingga memutuskan untuk menjadi bawahan Dugong. Apalah daya jika semuanya berujung sia-sia. Mereka berempat malah makin jadi kacung.


Dugong tamat, Arman pun tamat. Kelompok mereka bubar dan hanya menyisakan beberapa orang saja. Rasa sakit yang selama ini Dandi terima bersama teman-temannya, ternyata membuat hatinya begitu kebas akan ketakutan. Ia tumbuh menjadi kuat dan menantang semua pentolan SMP. Nama Four Dog semakin terkenal, hingga puncaknya ialah ketika mengalahkan salah satu kelompok terkuat SMP sebelah.


Ajis yang dikenal sebagai Singa Dari Utara dengan mudah ia kalahkan. Akhirnya, banyak yang tunduk dan bergabung dengan Four Dog.


Suara tawa Dugong terdengar keras ketika menongkrong di kedai tempat biasa mereka duduk. Dandi hanya datang seorang diri. Tidak sedikit pun rasa takut dengan lawan berjumlah banyak. Jika enggak begini, Dugong bakalan ga ngedatengin dia. Lebih bagus dia ngedatangin sendiri.

__ADS_1


"Boleh minjam mancis??" tanya Dandi ketika mendekat.


Hanya Dugong dan Hasbi yang ia kenali, selebihnya anak baru yang enggak pernah lihat sewaktu SMP.


"Mau ngapain lo ke sini?" Dugong maju duluan.


"Mau minjam mancis lah ... masa ga boleh?" Dandi menunggu jawaban, tetapi tidak ia dapati. Muak dengan wajah Dugong, ia langsung melesatkan pukulan telak.


Semuanya menyerang Dandi bersamaan. Teknik Dandi melebihi mereka sehingga mudah mematahkan serangan satu per satu. Musuhnya tumbang tidak berdaya dan menyisakan satu orang yang masih berdiri tegak perkasa. Inilah yang paling dia tunggu, berduel dengan Dugong.


Rasa benci seketika ia luapkan. Dugong terpaksa menunduk di hadapannya. Permintaan maaf beserta tangis ia dapati dari wajah Dugong. Tidak sedikit pun rasa kasihan pada Dandi, ia menginjak kepala Dugong tatkala ia berlutut.


Ketika ia kembali pulang, ternyata kedainya sudah porak-poranda dihajar seseorang. Ajiz telah lebih dulu menyerang.


"Kumpulin semua anggota," pinta Dandi.


"Buat apa?" tanya Darwin.


"Besok kita hajar Ajiz rame-rame. Dia harus menerima resikonya. Gue tahu di mana si ******* itu duduk waktu sore."

__ADS_1


"Di mana?"


"Kedai kodomo ..."


Seketika Darwin bergetar mendengar kata tersebut. Kelompok tersebut begitu melegenda di SMA sehingga tidak ada satu pun berandalan yang enggak tahu dengan nama Kodomo, Kedai Domino Mas Momon. Meskipun ia tidak pernah berjumpa dengan Kevin, tetapi bulu kuduknya selalu merinding tatkala mendengar kisah kehebatan orang itu. Salah satu orang yang berani menantang SMK sebelah seorang diri, bahkan yang baru aja menghancurkan kelompok kuat Ghost Night.


"Lo yakin kita ke sana?" Darwin mulai ragu.


"Lo ragu dengan kekuatan kita?" Dandi mengambil mancis milik Darwin. "Kedai itu udah ga ada isinya. Paling banter cuma beberpa orang."


"Bukan itu intinya, lo ga penah denger nama Kevin?" tanya Darwin.


Tawa Dandi mencuat tatkala mendengar nama itu. Ia tidak merasa takut walaupun Kevin yang menjadi lawannya. "Umur tidak menjadi masalah, ukuran fisik enggak pernah menjamin, urusan nyali siapa yang tahu?"


Tidak habis pikir Darwin mengiyakan permintaan Dandi. Selama ini ia tidak pernah kalah. Salah satu alasan ia selalu setia bersama pria itu adalah keberaniannya yang enggak pernah ngelihat orang. Buktinya, senior di SMA mereka berani ia tantangin satu per satu.


Ia tatap Dandi nan tengah berjalan menuju motornya.


Lo gila, ya? Tapi itu yang bikin gue kagum ...

__ADS_1


***


__ADS_2