Andi X Sarah

Andi X Sarah
147. Rumpi Dapur (SEASON 3)


__ADS_3

Lain di anak cowok, lain pula sama anak cewek. Selalu ada keabsurdan yang terjadi ketika pekerjaan dilakukan. Kebiasaan anak kota yang selalu ingin langsung jadi, pengalaman pun juga minim. Ada yang nyapu tidak bersih, pel terlalu basah, memasak yang angus, dan bahkan masalah kebersihan. Harusnya cewek itu dikenal dengan kebersihannya, tapi malah berantakan dan bikin kepala Sarah jadi sumpek di kamar.


Pekerjaan anak cewek di posyandu sudah selesai. Seluruh balita yang hadir sudah diberi vitamin sesuai dengan standar pemerintah untuk meminimalisir tingkat stunting di masyarakat. Pemerintah juga ga mau anak-anak pada cebol semua. Harusnya sehat. bugar, tinggi, dan rajin menabung. Penat berlalu oleh para wanita, tetapi makanan sama sekali belum ada sama sekali di atas meja. Oleh karena itu, Sarah mengajak Nabe buat masak di dapur.


“Tasya … lo kupasin mangga ya ….” Nabe memberikan empat buah mangga pemberian ibu-bu posyandu tadi.


“Oke deh …,” ucap Tasya setelah berhenti foto-foto di depan posko.


“Anak yang lain ke mana sih?” tanya Nabe. Ia sama sekali tidak melihat anak KKN yang lain. Biasanya nih Andi udah ribut sama Nanang di jam-jam segini.


“Ga tau, waktu gue ganti baju ke kamar, mereka udah pada ngilang. Jalan-jalan kali ke sungai.”


Nabe mengangguk. “Oke deh … gue balik ke belakang dulu ya masak sama Sarah.” Nabe tersenyum.


“Oke ….”


Nabe balik ke belakang. Ia berpapasan dengan Kelly yang baru aja boker di kamar mandi. Mumpung dia masih ada di rumah, Nabe meminta Kelly untuk ikut masak bersama. Awalnya tidak mau, tapi karena takut dimarahin Sarah, akhir Kelly mau. Memang sih mereka sahabatan, tapi Sarah sering marah-marah kalau ada sesuatu yang tidak beres.


Sayur mayur\, bumbu masak\, pisau\, dan talenan berada di tengah-tengah mereka. Sarah masih mainin game pou yang kalau disentuh ada bunyi `ah` nya. Sementara itu\, Nabe memotong sayuran dan Kelly mengupas bawang merah serta bawang putih.


“Eh, Tasya kok ga ikut sih?” tanya Sarah. Ia berhenti dari game pou tersebut karena bawang sudah dipotong. Sarah bertugas sebagai pengulek cabe.


“Ga tau … paling ga pande masak. Atau …” Kelly menunjukkan jemarinya. “Kukunya takut lecet gitu. Kan perawatannya mahal. Kata Aulia nih ya, bisa sejutaan sebulan.”


Mulut Kelly di bos ….


Kalau sudah cewek berkumpul seperti ini, tiada waktu untuk bergosip. Tongkrongan udah kaya pusat informasi. Satu punya informasi ini, satu lagi punya informasi itu. Semuanya digodok menjadi satu sebagai bahan pembicaraan seru. Nabe yang mulanya pendiam dan jarang ngobrol, malah ikut-ikutan.

__ADS_1


“Ah masa iya? Gue sih uang segitu mending bayar kosan kan. Bantu mamak di rumah, sumber air sudekat ….,” balas Nabe.


“Ih … amit-amit sih gue ngabisin duit segitu buat perawatan diri. Mending dibawa makan ya kan?”  balas Sarah.


Sarah memasang kuda-kuda ala mamak-mamak giling cabe di dapur. Apalagi kostum Sarah kali ini sangat cocok sekali, yaitu daster mamak-mamak. Kalau Nabe, pakainya daster tik tak goyang. Soalnya, dia nyari di aplikasi Shooprie daster-daster yang sering dipakai seleb aplikasi tik tak.


“Ya iyalah … kan papanya DPR gitu kan, pasti banyak sih duitnye. Beda sama kita.” Kelly menoleh kepada Nabe. Ia menyingkap daster bawah milik wanita itu. “Ih Nabe, kulit lo kok mulus banget. Dibayarin om-om lu ya buat perawatan ….”


Bener sih dulu kaya gitu, tap ikan sekarang enggak lagi. Semasa ia berprofesi sebagai gerobak pasir atau gerombolan cewek payah diusir, Nabe punya banyak duit untuk pergi ke spa dan perawatan wajah. Namun, setelah berhenti maka ia tidak ada lagi melakukan perawatan mahal. Kalau kata anak hijrah ni ye, cukup wudhu lima kali sehari.


“Iya dong … om-om gue banyak.” Nabe membawa asyik saja. “Hehe enggak sih, gue perawatan biasa aja sih yang dibeli dari indoapril. Kalau buat muka, gue pakai produk starlet. Tapi ya menyesuaikan budget juga. Kaya anak yang itu noh sampe jutaan ….” Bibir Nabe monyong waktu di akhir kalimatnya untuk mempertegas sindiran kepada Tasya.


“Jeng … jeng … katanya juga nih ya, katanya gue ga tau juga, bener ya Tasya sering dideketin cowok gitu?” Sarah bertanya.


“Menurut  gue juga gitu sih ya. Kan dia agak genit gitu, sok lembut!” balas Kelly.


“Gue tahu dari Rijek. Rijek kan cowok famous gitu di fakultas keguruan, jadi sering gaul sama Tasya. Mulai dari adik tingkat, seangkatan, sama kakak kelas dia boyong semuanya …..” Sarah mengucapnya dengan penuh penekanan.


Nabe tertawa di dalam hati. Secantik-cantiknya Tasya, masih kalah sama peforma Nabe dalam didekatin sama cowok. Ya iyalah, Nabe eksis di aplikasi michat. Adik kelas, kakak kelas, seangkatan, bahkan dosen ada yang pernah mendekatinya. Kalau buat dosen itu cuma dosen-dosen muda yang belum menikah. Tapi, Nabe tetap tidak ingin dibungkus oleh dosen di kampusnya karena Nabe masih punya muka.


“Ah biarin deh … ga ngurus,” balas Nabe.


Ulekan Sarah pada cabe makin panas karena mengingat kejadian kemarin tatkala Andi berboncengan dengan Tasya. Sarah mengira Tasya pasti sengaja dempet-dempetin tubuh ke pacarnya itu biar nyari perhatian, terus suaranya dilembut-lembutin tidak seperti Tasya berbicara kepada anak cewek lainnya. Cabe di atas batu hitam penggilinga, kini diulek seakan di sana ada muka Tasya.


Ulekan berhenti tatkala Kelly memberikan garam tambahan ke cabe.


“Hati-hati loh ya, cowok cowok di sini takutnya ada yang lengket sama Tasya. Kan pacar lo di sini,” ucap Kelly.

__ADS_1


“Iya … gue selalu ngawasin Andi kok. Juga buat kalian berdua. Mana tau cowok gue ngedeketin kalian berdua. Huh,” canda Sarah.


“Amit-amit gue sama Andi. Udahlah goblok, buncit pula.” Kelly makin-makin sindirannya.


“Gitu-gitu cowok gue. Lah elo, jomblo lu tuh durasinya lama gara-gara milih cowok.” Sarah menoleh kepada Nabe. “Lo bayangin aja, ada tiga cowok yang ngedeketin nih anak di fakultas, tapi dia malah milih-milih. Akhirnya pacaran sama anak teknik yang mukanya kaya preman pasar.”


“Gue sih tinggal kedipin tuh cowok langsung lengket heheh,” canda Nabe.


“Yaelah … kan gue memang cinta sama kating-kating teknik. Walaupun mukanya kaya preman, tapi keren dan ala-ala badboy gitu. Hehehe ….”


“Ah udah ah … gue mau ngulek cabe.” Sarah mengulek cabenya lebih giat lagi. Tangan bergoyang, tubuh pun ikut bergoyang.


Makanan sederhana dimasak oleh mereka bertiga. Ayam goreng balado khas Minang resep Mama Andi tersajikan di atas meja makan. Wangi sekali dapur saat ini karena sayur kangkong tumi saos tiram ala-ala Kelly. Nabe tidak kalah berkontribusi, ia membuat es teh manis untuk dinikmati bersama. Karena bunyi petantang petuntung di dapur, Tasya pun datang menghampiri. Ia kagum melihat teman-temannya yang sudah memasak.


Tasya meletakkan mangga yang sudah dipotong-potong, beserta plastik yang berisikan kulitnya.


Sarah pun heran, kenapa Tasya aneh banget mengupas mangga. Memang sih terkupas, tapi terlalu tebal benget sampe ke daging mangga. Kalau sama Mama Andi nih, pasti udah diomelin gara-gara mubazir.


“Tasya, lo pandai ga sih ngupas mangga? Gini doang kok ga bisa sih …,” kritik Sarah


“Salah ya gue?”


“Salah ya gue?” Sarah mengulangi kalimatnya. “Ini loh lo ngupasnya ketebelan. Jangan begitu ya lain kali, waterpark men.”


Memang sih Sarah tidak ada bermaksud menyinggung hati, tapi Tasya menafsirnya dengan negatif.


Ni anak ga suka gue ya?

__ADS_1


***


__ADS_2