Andi X Sarah

Andi X Sarah
27. Kasar (SEASON 2)


__ADS_3


Kasar



Permainan berhasil dimenangkan oleh kelompok bimbingan Andi dengan skor 1-0. Gol sematang wayang Naila berhasil membawa timnya untuk melangkah ke babak selanjutnya. Demi melepas lelah, Naila dan kedua teman CBS-nya beristirahat di dekat tenda. Duduk dengan diiringi deru air terjun ternyata menambah energi positif bagi mereka. Keringat yang berucuran pun perlahan kering berkat angin malam yang dingin.


Pertandingan bola api diberhentikan selama sepuluh menit untuk beristirahat. Jika Sarah sudah meminta mereka untuk berkumpul kembali, Emilia berjanji untuk memanggil mereka di sini. Naila juga bingung dengan kakinya, apakah ia masih bisa bermain atau tidak dengan keadaan kaki begini. Untuk berjalan aja susah, apalagi berlari seperti tadi. Ia ingin meminta Dinda untuk menggantikannya bermain, namun ia yakin jika anak feminim itu tidak berani.


"*** tuh anak, kaki gue jadi bengkak," ucap Naila.


Cece memencet kaki Naila yang terlihat bengkak. "Ih, iya ... apa enggak dikasih tau aja sama Kak Andi?"


"Ga usah, peduli apa anak itu."


"Kamu masih bisa main?" tanya Dinda.


"Bisa atau enggak, ntar gue usahain." Jemari Naila menyentuh kakinya yang sakit. Telinganya mendengar langkah seseorang yang datang dari belakang. Benar saja, cewek sialan itu ternyata berani datang. "Mau apa?"


Tiba-tiba wanita itu melemparkan sebuah botol air mineral kepada Naila. Ia yang tidak dapat menghindari, terpaksa menerima keadaan bajunya yang basah. Merasa tidak menerima, Naila berdiri dan menampar wanita itu.


Bunyi tamparan terdengar keras. Naila tidak peduli jika teman wanita itu lebih banyak dari jumlah teman-temannya, ia tetap berani menghadang jika sudah menyangkut harga diri seperti ini.


"Masalah lo apa sih?" tanya Naila.

__ADS_1


"Gue enggak suka aja ya lo kecentilan kaya gini. Sok cantik tau ga? Udahlah main kasar, lihat nih muka gue kecakar gara lo!" Wanita itu menunjukkan bekas cakaran Naila sewaktu bermain tadi.


"Ih, lo sendiri yang duluan kasar ya. Kaki gue bengkak, tau!!! Lagian, emangnya gue kegatalan gimana sih?"


Ia mendengus sesaat. "Eh, tau enggak lo itu ngegatal sama Kak Andi. Jangan sok cantik, deh. Satu angkatan tau kalau lo kaya gitu. Kalian semua sama aja, sok cantik kalau ke sekolah. Banyak cewek yang ga suka sama kalian!"


"Lo ****, ya!" Naila mendorong wanita itu hingga tersungkur.


Teman-teman wanita itu tidak terima. Mereka turut membantu mendorong, hingga menarik rambut Naila. Terjadilah aksi perkelahian antara dua kubu tersebut. Semuaya ditarik, narik rambut, narik baju, narik kutang, narik becak, dan lain-lain. Di tengah kesunyian ini, mereka telah mengganggu para makhluk malam yang lagi asyik-asyiknya nangkring di atas pohon. Untung aja makhluk-makhluk itu sabar. Kalau enggak, bisa-bisa mereka semua demam selama satu minggu.


Ya Tuhan, enggak di kota, enggak di hutan ... kita kok diganggu mulu, ya? Salah apa sih? Makhluk-makhluk malam terbang ke pohon yang agak lebih jauh.


Di antara semua makhluk bunian hutan ini, masih ada satu makhluk yang terseram berjenis manusia yang sangat ditakuti. Ia berjalan ketika mendengar sebuah kerusuhan di dekat tenda. Sarah agak terganggu dengan kata-kata kasar dan suara tamparan yang membuat makan malamnya jadi terganggu.


Tangan Sarah mengepal hingga membunyikan suara tulang berulangnya. Ngelihat cowok kelahi aja Sarah jadi kesal banget, apalagi cewek yang tawuran seperti ini. Cewek itu pantang banget kelahi seperti ini. Setidaknya kan cuma adu mulut, enggak sampe adu fisik seperti ini.


Semuanya melihat kepada Sarah yang berlari sambil menunjuki mereka.


"*****, ada Kak Sarah gays," ucap mereka.


Sambil ngos-ngosan karena menahan emosi, Sarah tetap berteriak dari kejauhan. "Berhenti ga? Untung kalian cewek, kalau cowok udah gue suruh berendam di sana."


"Gimana ni gays?" tanya Dinda.


"Udah, jujur raja," pungkas Naila.

__ADS_1


Sarah tiba dengan menyuruh mereka buat duduk semuanya. Sembari bertegak pinggang, Sarah tiada henti mencerocos kaya knalpot bocor sampe-sampe Naila jadi muak ngedengerin omongan Sarah.


"Lo udah tahu gue kaya gini, tapi lo masih juga kelahi!" ucap Sarah kepada Naila. Wajah Sarah beralih kepada wanita yang menjadi lawan Naila. "Lo satu, eh lo belum tahu gue, ya?"


Anjier, Kak Sarah kalau marah bener-bener serem, ucap mereka dalam hati.


"Kalian itu cewek, malu kalau kelahi kaya beginian. Kalau mau kelahi, sini sama gue." Sarah menunjuk dirinya sendiri. "Anak SMK sebelah aja pingsan gue bikin, apalagi lo lo pada. Ngerti?"


"Ngerti kak ...." Suara mereka memelas.


"Sebagai hukuman, Kalian semua mungutin sampah di lapangan kalau semua pertandinagan selesai."


Naila mengangkat tangan. "Lah, mereka duluan mulai kok."


Wanita itu tidak ingin kalah. Ia turut mengangkat tangan. "Tapi, dia yang nyerang saya duluan, Kak."


"BODO AMAT! Yang gue lihat kalian semua tawuran tadi. Pokoknya semuanya bersalah. Yang ga salah itu, gue dan ...." Mata Sarah melihat adik bimbingan yang sendirian ngelihat dari kejauhan. "Dan dia."


Adik bimbingan itu pun kebingungan kenapa dia ditunjuk Sarah. Gue ngapain ya? Padahal gue baru datang ga tau apa-apa.


"Kalau ada satu sampah aja gue lihat, gue suruh kalian berendam jam satu nanti," teriak Sarah. "Paham?"


"Paham ....."


Naila masih tidak menerima karena tetap disalahkan oleh Sarah. Air matanya mengalir perlahan sembari menjauh dari kerumunan.

__ADS_1


***


__ADS_2