Andi X Sarah

Andi X Sarah
16. Copet (SEASON 3)


__ADS_3

Andi merasa yakin sekali jika dompetnya telah dibawa sebelum pergi. Sebagai bukti tersebut, Andi memang benar mengisi bahan bakar di pom bensis dan jelas-jelas mengeluarkan dompet dari dompet sendiri. Namun, ia merasa aneh kalau saat ini dompet tersebut tidak lagi berada bersamanya. Mau tidak mau, ia harus berhutang dahulu dengan Naila, meskipun sebenarnya Naila tidak ingin dihutangkan atas kebaikannya itu.



Panik terasa oleh Andi tatkala ia melangkah menuju parkiran motor. Naila yang berada di belakangnya turut merasakan hal tersebut, terlebih lagi Andi berjalan dengan cepat dengan tangan mengepal. Ia mencoba untuk membuat Andi tenang, tetapi pria itu tetap tidak ingin menjawabnya.



“Pasti kececer di sini ….” Andi berputar di parkiran motor untuk melihat ke sekeliling.



“Lo pasti ketinggalan, Ndi.”



“Enggak, gue yakin banget bawa dompet itu. Gue pun ragu kalau kececer karena selama ini gue enggak pernah kececer dompet karena jeans gue cukup ketat. Kemungkinan terburuk, pasti dicopet karena tadi di sini ramai banget sama pengunjung.”



Naila tidak berani membalasnya karena nada Andi sedikit lebih tinggi daripada biasanya.



Datanglah seorang tukang parkir yang melihat Andi seperti kebingungan.



“Bang, kehilangan dompet?”



Mendengar hal tersebut, Andi merasa lega. “Iya, gue kehilangan dompet.”



Tukang parkir tersebut mengeluarkan dompet kulit. Ternyata benar, dompet tersebut merupakan milik Andi. “Ini, Bang. Atas nama siapa sebelumnya?”



“Andi, di sana atas nama Andi KTP-nya.”



Dompet itu kini berpindah tangan kepada Andi. “Saya nemuin dompetnya di sudut parkiran.”



Andi terkejut tatkala tidak ada sepeser pun uang yang tersisa di dalamnya. Seluruh dokumen penting masih utuh. Namun, Andi bingung kenapa bisa dompetnya ada di sudut parkiran. Padahal, ia sama sekali tidak pernah melangkah ke sana.



“Lo ngelihat yang ngecampakin dompet gue di sana?” tanya Andi. Tukang parkir tampak ragu untuk menjawabnya. Andi kemudian bertanya kembali, “Siapa yang ngebuang dompet gue di sana?”



“G-G-Gue enggak tahu, Bang. Sumpah.”


__ADS_1


Mata Andi memicing curiga. “Elo selalu ada di sana. Masa enggak nampak orang yang ngebuang sesuatu di sana? Gue selalu ke sini dan tempat lo duduk di sekitaran situ.”



“Iya, Bang. Gue enggak lihat siapa orang yang ngebuang itu.”



Tangan Andi langsung menarik kerah baju tukang parkir tersebut. “Lo takut kalau lo bakal terancam kalau nyebutin orang itu? Gue tahu kalau ada preman sekitaran sini yang sering berulah. Lo orang lama, kan? Pasti tahu mereka ada di mana.”



“Gue emang orang lama, Bang. Tapi gue enggak tahu siapa yang nyopet dompetnya Abang.”



“Oh, ni anak mau gue bilang ke pengurus kalau waktu itu dia nyuri helm pengunjung.”



Sewaktu itu Andi melihat tukang parkir tersebut sedang menyembunyikan helm motor pengunjung. Namun, Andi diam saja karena tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.



“Tunggu-tunggu … jangan bilang gue yang ngibus. Tapi Abang harus tahu, gue enggak ada ikut kerja sama dengan pencopet. Gue diam karena gue takut sama mereka.”



Tangan Andi melepaskan pegangan tangannya. Sudah berkali-kali di sini terjadi pencopetan. Setahu Andi, biasanya pencopet merupakan preman-preman yang berkeliaran di kawasan tersebut. Sebagai orang lama, mustahil tukang parkir tersebut tidak mengetahui di mana preman-preman itu.



“Bilang di mana mereka. Gue pastikan keamanan lo. Anggap aja gue udah tahu di mana mereka nongkrong.”




“Andi, jangan macam-macam Andi. Lo bisa bahaya sama preman-preman itu.” Naila mencegat Andi dari depan. Andi tidak memedulikannya dan tetap berjalan ke depan. Tangan pun menarik Andi. “Andi, gue bilang jangan.”



“Naila, minggir. Ini bukan urusan lo, ini urusan gue sama preman-preman itu,” balas Andi.



“Andi, plis jangan! Sarah bisa khawatir kalau lo begini!”



Andi menyentuh kedua pundak Naila dan menggesernya akan tidak menghalangi jalan. Tangan Andi meletakkan topinya ke kepala Naila. “Pakai ini dan tunggulah parkiran. Sebaiknya lo berada di sana karena lebih aman. Nanti gue ke sana buat ngambil topi gue. Oke?”



“Tapi, Andi⸺”



Jentikan jemari Andi pada ujung topi menjadi akhir dari percakapan mereka. Andi tetap tidak ingin dihentikan untuk urusan yang satu ini. Sedari dulu, ia tidak pernah takut melawan para preman-preman yang mencari urusan dengannya. Biar pun pulang dengan wajah bonyok atau pun berakhir di klinik klinis Kesehatan sudah pernah ia alami.

__ADS_1



Langah Andi sudah bergerak ke dalam kawasan hijau. Ia mencari di mana para preman itu berkumpul. Terlihatlah sebuah gazebo dengan empat orang yang sedang berkumpul di sana. Tepat di tengah-tengah mereka berkumpul, sudah tersedia miras dalam botol warna hijau, kacang rebus, sejumlah uang yang sedang dihitung, dan beberapa dompet. Berkat uang dan seumlah dompet yang mereka kumpulkan, Andi merasa yakin bahwasanya mereka merupakan para pencopet yang tukang parkir beritahu.



“Woi ….” Andi langsung meneriaki mereka.



Keempat preman tersebut menoleh kepada Andi yang seorang diri tanpa satu pun teman menemani. Merasa tidak ada yang harus dikhawatirkan, preman-preman itu melanjutkan percakapan satu sama lain. Andi kesal dan meneriaki mereka dengan kata yang sama.



“Mau lo apa, sih? Sini gabung kalau mau mabok.”



“Kepala bapak kau!” Logat Sumatera langsung keluar dari mulut Andi. “Kalian yang nyopet dompet gue terus dibuang dekat parkiran, kan?”



“Apa? Apa kami enggak salah dengar?” Salah Satu preman berdiri karena merasa sedang diajak gelud.



“Itu dompet enggak mungkin punya kalian. Pasti dari hasil copet. Udahlah nyopet, malah mabuk-mabukan. Astaga, sungguh umat tersesat.” Andi berasa jadi penceramah.



“Urusan lo apa, sih? Datang-datang malah ceramah!”



“Gue enggak minta banyak. Urusan dompet orang lain gue enggak ngurus. Pokoknya kembaliin duit gue sebesar lima puluh ribu tiga ratus Rupiah yang kalian copet.” Andi menunjuk mereka. “Parah sih kalian sampe uang tiga ratus perak tetep diembat juga. Mau kerokan pakai koin gue?”



Preman tersebut mendekat kepada Andi. Aksi mereka sudah ketahui karena dompet-dompet tersebut terlihat oleh Andi. “Apa buktinya kami nyopet punya lo? Memang, kami pencopet, tapi bukan berarti kami nyopet dompet elo.”



Andi mengeluarkan dompet miliknya. “Ini … ini dompet yang kalian buang di sudut parkiran. Ada foto cewek gue ini, pasti kalian ngelihat sebentar kan kalau ngambil uangnya. Untung bukan dia yang kalian copet.”



“Jadi, mau apa?”



“Kembaliin duit gue, guoblok!”



“Oh, gitu ….” Ia menyingkap sedikit kaos sebelah pinggang. Terlihat sebilah pisau yang dipersiapkan untuk jaga-jaga. “Masih mau dikembaliin?”



Sebuah pukulan langsung mengarah kepada preman tersebut, hingga ia terpental ke belakang. Andi sedang berada di ancaman besar, antara pulang dengan selamat atau pun cacat di rumah sakit.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2