Andi X Sarah

Andi X Sarah
15. Lah Ternyata Lo (SEASON 2)


__ADS_3

Lah Ternyata Lo


Pikiran Sarah masih berusaha untuk menyampingkan hal-hal negatif terhadap Andi. Ia tidak mengerti perasaan ini. Rasanya baru kali ini ia merasakan patah hati, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin saja hal ini terjadi kepada orang yang telah ia miliki, lain hal dengan Pram dahulu. Rasa sedih dan kenaifan menolak bahwa ia sedang bersedih hati bercampur menjadi satu. Kebimbangan menggeroti dirinya saat ini.


Ia memerhatikan adik-adik bimbingannya yang sedang mengerjakan sebuah projek pembuatan sebuah karya yang akan dipertunjukkan pada hari perkemahan bagi adik-adik bimbingan. Matanya mentap kosong ke arah tangan-tangan yang tengah berkutat dengan kertas-kertas origami. Sesekali Sarah memainkan gunting tanpa tujuan, memutarnya hingga terjatuh, lalu mengambilnya untuk mengulanginya lagi.


"Kak," ucap salah satu adik bimbingannya.


Sarah acuh seakan tidak mendengarkannya. Ia tetap menatap kosong ke arah adik-adik bimbingan yang masih sibuk dengan perkerjaan.


"Kakak Sarah, aku mau nanya," tanya adik bimbingannya tersebut.


Tidak sedikit pun Sarah menoleh. Hal tersebut mengundang kejengkelan adik bimbingannya.


"Woi lo denger, ga?"


UANJIRRR .... Nih anak belum tahu gue, *****!!!!


Sarah hampir jadi huluk karena adik bimbingannya berkata seperti itu. Kayanya dia enggak tahu kalau Sarah pernah jadi orang yang paling ditakuti di sekolah, bahkan di kalangan para berandalan besar yang kelakuannya kaya anak setan. Lah, ni anak kemarin sore malah bilang begitu sama dia.


"What's ... apa lo bilang sama gue?" tanya Sarah agak emosian.


"Ya lo enggak denger." Ia menunjuk Sarah. "Aduh ... gue agak gimana ya sebenarnya bilang kakak ke elo."


"APA? MAKSUD LO GIMANA?" Sarah langsung berdiri. Kepinginnya ngenendangin kepala anak itu hingga terkapar. Ia mendekatkan telinganya.


"Sar, lo enggak ingat gue?"


Sarah menarik adik bimbingannye ke luar ruangan. Adik bimbingannya yang lain masih terheran-heran kenapa Sarah jadi naik darah kaya gitu. Padahal, mereka cuma tahu Sarah yang lemah lembut, tanpa mengetahui sisi keperkasaan sosok Sarah yang bisa seperti kenek angkot.


Tangannya mendorong adik bimbingannya ke dinding. Tangannya menunjuk tegas pria yang tingginya hampir sama dengan Sarah, tapi tetep tinggian dia.


"Woi, lo enggak tahu sopan santun ya." Sarah melihat ke sekeliling agar tidak ada yang tahu kalo dia lagi ngegas anak orang. "Lo enggak tahu siapa yang bikin berandalan di sekolah ini jadi takut sama gue? bahkan, pentolan SMK sebelah aja pernah pingsan gue bikin. Lo mau kaya gitu?"


"Eh, santai kali ... lo bener-benar enggak ingat gue, ya?" tanya dia lagi.


"Gue enggak peduli lo siapa ... dan gue enggak merasa pernah kenal sama lo. Jadi, bisa sedikit lebih sopan sama senior lo?"


"Lah, ngegas *****."

__ADS_1


"*****???? ANJIRR LO BILANG???"


"Gue Dandi, Sar." Ia menunjuk wajahnya sendiri. "Lo masa enggak ingat?"


"Eh, seumur hidup gue enggak pernah punya temen yang namanya Dandi."


Ia menggeleng. "Gue di sini dipanggil Nugroho. Tapi, gue ini Dandi, temen sekelas lo waktu SD."


Sarah dia sejenak. Ia mundur beberapa langkah untuk memperhatikan detail wajah pria yang baru bikin dia emosian begini. Sarah agak bingung, soalnya waktu SD dia kurang bergaul. Jadinya, enggak banyak temen yang akrab sama dia.


"Dandi?" tanya Sarah. Ia masih belum menemukan titik terang.


Dandi menghela napas. "DANDI EEK CELANA, KOLORNYA WARNA MERAH ...."


Sepenggal lirik dari nyanyian lama itu seakan dia ingat. Sedikit demi sedikit kepingan memori dari lirik lagu itu menuju titik terang. Ia pernah mendengar nyanyian ejekan itu sewaktu di SD, tepatnya ketika seorang bocah kucel yang ketahuan eek celana di kelas. Trus, anak itu lama-lama di bully dengan nyanyian itu.


"DANDI EEK CELANA, KOLORNYA WARNA MERAH, BERCECERAN-BERCECERAN ......" Sarah menyambung lagu tersebut.


"CEBOKNYA DI COMBERAN .........." Dandi menggeleng kepalanya berkali-kali. "Lah, kok malah nyanyi, sih?"


Sarah tertawa setelah mengingat bahwa pria ini merupakan temen sekelasnya di SD. Namun, pindah sekolah sewaktu di kelas tiga. Setelah itu, ia tidak pernah bertemu dengannya lagi.


"Iya, *** ... gue Dandi yang itu. Tapi, plis ... lupain tentang nyanyian itu."


Sarah tertawa lagi. "Lah, karena nyanyi itu gue langsung ingat ke elo."


Dandi tidak marah. Ia malah membalasnya dengan tawa. Lagian, masa-masa sulit itu udah bertahun-tahun yang lalu. Jadi, enggak terlalu jadi masalah.


"Gue heran aja kenapa lo biasa-biasa aja waktu kita ketemu di sini," balas Dandi.


"Ya sih ... lo juga yang salah kenapa enggak langsung bilang." Tangan Sarah menunjuk Dandi.


"Gue nunggu aja barangkali lo inget,kan? Eh, lo tetep aja enggak nyadar-nyadar." Dandi memicingkan matanya. "Lo emang orangnya ngegass gini, ya? Gue tahunya lo yang kalem dan enggak suka bergaul."


"Wah, panjanglah ceritanya. Btw, kita kok enggak seangkatan, ya─" Dandi memotong kalimat Sarah.


Ia tertawa pelan. "Gue tinggal kelas dua tahun di SD pindahan gue. Ya, di sana gue banyak berubah. Panjang deh ceritanya ...."


"Sewaktu-waktu kita mungkin bisa cerita. ya ...." Sarah menjulurkan tangannya untuk meminta berjabat tangan.

__ADS_1


Kepala Dandi memereng karena heran dengan juluran tangan. Namun, ia tetap menggapai tangan Sarah tersebut. "Salaman buat apa ini."


"Salaman selamat bertemu kembali."


Ia menangguk. "Oh, gitu, ya .... "


Di koridor terlihat gerombolan anggota Arman, pentolan berandal kelas 11. Terlihat Arman sedang menatap tajam kepada Dandi. Tatapan tersebut dibalas oleh Dandi. Sarah menjadi heran dengan hubungan mereka berdua.


"Jangan deket-deket sama dia," saran Sarah.


Dandi tertawa pelan. Matanya tetap mengikuti langkah gerombolan Arman yang telah melewati mereka. "Kenapa?"


"Berandalan, tukang cabut, tukang buat masalah, penerus kelakuan buruk Andi, penerus kelakuan buruk Kevin, senior yang udah tamat."


"Antophosfer?" tanya Dandi.


"Sttt ... di sini enggak boleh nyebutin nama itu sembarangan," balas Sarah.


"Emangnya kenapa enggak boleh nyebutin nama ANTOPHOSFER?????" Ia membesarkan suaranya di akhir kalimat.


"Ya ... gue enggak mau lo bermasalah dengan mereka."


"Gue pengen ngancurin mereka," balas Dandi singkat.


"Apa?"


Dandi mengangguk pelan. "Iya ... gue mau ngancurin Antophosfer."


"Lo bercanda ... lo itu belum tahu apa-apa, jadi jangan bicara sembarangan," jawab Sarah sembari masuk kembali ke dalam ruangan.


"Serius ... lo juga belum tahu apa-apa tentang gue."


Nih anak bercanda apa serius, ya???


Sarah kembali ke adik-adik bimbingannya yang hampir selesai dengan tugas mereka. Beberapa hari lagi mereka akan melakukan kemah di Lapangan Pancasila yang biasanya dijadikan tempat berkemah. Ia menyempatkan diri menatap Dandi yang tengah berdiri di depan pintu.


Kayanya bakalan ada masalah baru ......


***

__ADS_1


__ADS_2