Andi X Sarah

Andi X Sarah
114. Tami Curhat (SEASON 3)


__ADS_3

“Aku deket sama cowok?”


Tami bertanya itu seakan ia tidak benar-benar yakin jika ada yang sedang mendekatinya. Sarah tahu akan peristiwa yang diceritakan Andi ketika Tami diantar oleh Pram ke kantor. Diakui atau pun tidak, Tami juga bisa dibilang dekat dengan Memet, meskipun faktanya perasaan Memet sudah dari dulu bertepuk sebelah tangan. Selain itu, tidak pernah didengar lagi dengan siapa Tami sedang dekat.


Dinginnya pendingin udara menyatu dengan wangi jeruk pewangi ruangan. Satu sampah bungkus cokelat mendarat di tong sampah tatkala Sarah membuangnya. Cokelat batangan itu dibagi dua dengan Tami dan dimakan serentak oleh Mereka. Namun, pertanyaan itu masih mengambang dari Tami tanpa menjawabnya dengan pasti.


“Pasti ada ga mungkin lo enggak pernah atau sedang dekat dengan siapa,” balas Sarah tatkala Tami menggeleng menjawab pertanyaan tadi.


“Ada sih yang ngechat aku, banyak malahan. Tapi ga bisa dibilang dekat juga … emangnya kenapa sih?”


“Saatnya sih lo nyari cowok, atau mau ga sama temen aku?” tanya Sarah lagi.


“Ah enggaklah, aku seneng jomblo kok. Bahagia dengan tetap sendiri, heheh ….”


Sarah diam sejenak sembari menyetel lagu Nirvana dari aiponnya tersebut. “Kayanya lo lagi akrab sama Pram …..”


Jelas terlihat mata Tami berubah arah kepadanya dengan pupil yang melebar. Bibirnya berhenti mengunyah sebentar.


“Ah masa?”


“Iya … kelihatan waktu dari liburan kemarin ….”


“Enggak juga sihh …”


Kalimat itu menandakan jika ada Tami menjalin hubungan personal dengan Pram, meskipun ia menutupinya.

__ADS_1


“Pram cerita kok ….,” pancing Sarah.


“Beneran dia cerita? Itu … gimana ya ceritanya ….”


Sarah tersenyum mendengar respon dari Tami. Ia sedang memanfaatkan kepolosan Tami dalam mengungkap hal-hal pada dirinya. Padahal, jika kalimat itu gagal, Sarah mudah saja mengatakan hanya sedang bercanda. Namun, Tami malah membukanya agar bisa digali lebih dalam lagi.


“Beneran kan lo lagi deket sama Pram?” tanya Sarah.


“Deket sih enggak, aku ngerasa enggak deket. Tapi, dia baik banget sama aku, kaya perhatian gitu. Kemarin dia beliin aku vitamin sekaligus makanan. Waktu itu dia juga jemput aku ke kantor buat nyari makan, kan aku ga bisa bawa mobil gara-gara lagi sakit. Yaa … begitulah. Tapi, Pram itu jarang banget nge-chat.”


“Nah kan benar, kelihatan banget sih dari gerak-gerik kalian.” Sarah menyimpulkan.


“Salah ya aku Sar kalau deket sama Pram?”


“Hmm … salah sih enggak, bener juga tergantung dari elonya. Lo yakin mau ngizinin Pram deket sama lo? Lo tahu sendiri Pram itu playboy garis keras dari dulu. Mantannya nih kalau digabungin, udah bisa bikin timnas sepak bola wanita mungkin. Gue juga akuin kalau karisma Pram itu enggak ada yang bisa nandingin dari cowok-cowok yang gue kenal. Dia baik, pinter, ganteng, kaya, dan perhatian.”


“Gue ngizinin dia deket sama gue kok dulu, bahkan gue pernah juga punya perasaan sama dia waktu gue lagi renggang sama Andi. Tapi kembali lagi, standar orang kan beda-beda. Meskipun dia dengan segala kelebihannya itu, gue sadar kalau Andi yang terbaik,” balas Sarah.


“Oh gitu ya … menurut aku sih gitu juga. Pram itu baik banget sama aku. Kalau dia sama aku, aku kaya pacarnya sendiri dia perlakuin.”


“Haha … permainan lama, dia itu dasarnya lembut gitu sih sama semua orang. Jadi, lo harus bener-bener sadar, apakah dia murni ngedeketin lo sebagai calon pasangan atau temen biasa,” saran Sarah.


“Sepertinya benar deh, aku deket sama Pram. Bahkan, aku nungguin dia nge-chat duluan, tapi dia jarang banget nge-chat aku.”


“Kayanya elo mulai suka sama Pram ….”

__ADS_1


Tami menatap Sarah seketika waktu disimpulkan seperti itu. Ia masih bingun dengan perasaanya saat ini. Terkadang ia berpikir, bahwasanya ia kesepian sehingga butuh teman untuk berkomunikasi sehingga menunggu Pram menghubunginya duluan.


“Lalu, bagaimana dengan Memet?” tanya Sarah.


“Memet ya … gimana ya Sarah … aku itu sama sekali enggak punya perasaan sama Memet. Okelah dia orang pertama yang masang badan kalau aku kenapa-kenapa, dia selalu berjuang buat aku apa pun situasinya, tapi tetep aja aku lihat Memet sebagaimana kami masih kecil dulu. Dia sahabat aku dan akan tetap seperti itu.”


Sarah merasa iba hati dengan Memet setelah mendengar penjelasan Tami. Ternyata benar, hanya dianggap sebagai sahabat itu benar-benar ada. Tami tidak ingin melepas Memet sebagai sahabatnya sehingga menolak perasaan Memet agar hubungan mereka tidak renggang. Sarah sadar, potensi untuk tidak berkomunikasi gara-gara kisah asmara lebih besar dari persahabatan. Setelah putus, akan sangat sulit lagi untuk bersama lagi.


“Jadi lo beneran tutup hati untuk Memet?”


Tami menggeleng. “Bukan begitu Sar, kita kan enggak pernah tahu hati kita bakalan untuk siapa. Kita enggak tahu apa yang terjadi hari esok. Yang aku bisa bilang, gue enggak punya perasaan sama Memet untuk saat ini.”


“Gue paham maksud lo. Kalau urusan hati memang enggak bisa dipaksain. Daripada lo malsuin perasaan kepada Memet, mending lo jujur aja sama dia kan? Mungkin Memet mengaggap lo orang yang tepat, bukan berarti lo berpikir hal yang sama.”


“Iya begitu Sar ….” Tami mengangguk. “Tapi aki jadi kasihan sama Memet. Dia benar-benar ada untuk aku, tapi aku malah giniin dia.”


Tangan Sarah membelai rambut sahabatnya itu. Dilema ini memang sudah sejak lama ia ketahui antara Tami dan Memet. Meskipun Tami sudah pernah menolak Memet, tapi Memet tetap saja mengejar-ngejar Tami kaya enggak ada lagi cewek di dunia ini. Ya … yang namanya cinta memang buta. Realita tidak berlaku lagi, kecuali orangnya itu sadar sendiri.


“Enggak apa-apa kok … lo ngelakuin apa yang bijak. Gue mau lo jujur saja dari hati. Kalau menolak Memet adalah hal yang tepat, maka lakuin aja itu. Tapi, untuk Pram … gue juga nyaranin lo mikirin lagi. Apakah Pram itu benar-benar peduli sama lo, atau dia memang lagi nunjukin sikapnya seperti biasa. Lo tahu sendiri kalau dia itu lembut sama siapa saja.”


“Oke deh … makasih banyak ya. Aku selanjutnya bakalan lihat lagi gimana Pram selanjutnya. Tapi, kamu beneran enggak ada apa-apa lagi sama Pram kan?” tanya Tami untuk memastikan. Ia pun masih mengetahui kalau Pram itu juga masih ngejar-ngejar Sarah meskipun Pram tahu kalau Sarah udah punya pacar.


“Hah?” Wajah Sarah berubah jenaka. “Yang benar saja? Gue udah punya cowok dan cowok gue yang terbaik. Buat apalagi Pram? Dia hanya masa lalu gue, jadi ya sudahlah.”


Mereka pun berbincang lagi mengenai topik lain yang lebih menarik, terutama membicarakan Kevin yang udah dibacok sama preman dan Andi malah sok-sokan buat bantuin teman-temannya itu. Hingga suatu ketika mereka menerima video call dari Tasya yang membuat Sarah jadi bete.

__ADS_1


***


__ADS_2