
Andi punya pengalaman buruk mengenai perjalanan jauh. Sewaktu ia ikut bersama teman-teman yang lain berlibur ke villa milik keluarga Pram, ia malah muntah-muntah parah gara masuk angin. Sarah aja sampai kasia kenapa Andi bisa muntah begitu, padahal ia sudah terhitung sering naik mobil.
“Lo minum nih tolak angin … perjalanan jadi nyaman tanpa masuk angin.” Sarah menunjukkan.
“Lah? Cerita ini lagi ngendors?”
Skip saja percakapan ini, masa gitu sih (?)
Pokoknya Sarah ceritanya memberikan produk tolak angin (bukan ngendors) agar Andi tidak lagi muntah-muntah nantinya. Boleh sih kemarin itu Andi muntah-muntah karena yang ngelihat cuma temen dekatnya aja, tapi kan ini temen-temen kampus yang terbilang elit di fakultasnya. Ada Tasya yang paling famous satu Jurusan Bahasa Inggris. Ada Rijek Ganteng yang ketampanannya sering diceritain cewek-cewek, ada dosen, ada Aulia si cewek cantik temennya Tasya. Kan nanti Andi jadi malu nanti.
Berangkatlah mereka ke desa tersebut tepat di pukul sembilan pagi. Andi duduk berdua dengan Nanang paing belakang, sementara Tasya memilih duduk bersama Kelly di bangku paling depan. Udah tahulah apa saja percakapan absurd yang terjadi di antara Andi dan Nanang. Kalau bukan mengenai anime boruto yang lagi tegang-tegangnya, pasti mengenai cewek-cewek yang ada di KKN kali ini.
“Anjir, Nabe itu body-nya boleh juga nih Ndi ….”
“Hush … lo sekalian aja ngomong pakai toa.” Andi menepuk kening Nanang karena ngomongnya kekerasan. Andi menyempatkan melihat Nabe yang berada di bangku paling depan. Wanita itu sedang bersama Rijek alias Rizieq tapi tidak pakai shihab. Kalau Rizieq Shihab … lah kok bahas ini sih. “Iya juga sih, body Nabe kaga ada duanya.”
“Nah, elo aja mengakui. Kata temen lo si Ari Kiting tuh, elo sagne sama dia kan?”
“Mana ada goblok! Lo gila-gila aja sih … dia itu tuh yang otaknya sengkle jadi ngomongnya ngawur.”
Dalam hati Andi sih mengiyakan. Kadang-kadang Andi juga nyuri pandang sama Nabe. Gimana tidak mencuri pandang, kalau tiap hari ngumpulnya bareng Nabe dan Nabe selalu berpakaian sexy.
“Ah lo muna banget sih,” sindir Nanang sembari minum minuman emsatulimapuluh. Katanya biar tidak capek selama perjalanan karena sehabis ini pasti langsung berkegiatan. “Kalau gue bawa dia ke babeh di rumah, pasti kena rukyah tuh anak. Lihat aja, pakaiannya ketat banget naujubillah.”
“Yaelah, jangankan Nabe, kita aja di-rukyah sama babeh lo. Padahal elo anaknya sendiri, parah banget.”
Masih segar di ingatan Andi tatkala mereka berempat ketahuan merokok di WC. Kebetulan banget babehnya Nanang dipanggil ke sekolah. Alhasil, mereka berempat di rukyah berkelompok, padahal cuma masalah ngerokok di wc, bukan nyimpan jimat-jimatan. Semenjak saat itu, Nanang jadi tobat buat ngerokok di WC lagi.
“Tapi kayanya Aulia boleh juga, Kelly manis juga, apalagi Tasya … dia cantik, manis, sexy, dan kaya banget.”
“Kenapa enggak Mpok Romlah penjaga kantin SMA aja elo sebutin? Semua cewek lo bahas, heran gue. Katanya tiap magrib ngaji ….”
“Kan gue ngaji dipaksa bapak gue,” balas Nanang. Memang, tiap magrib Nanang disuruh ngaji. Bahkan, di antara mereka berempat cuma Nanang yang memiliki bacaan ngaji paling bagus.
“Aduh … parah sih. Mending gue jarang ngaji, tapi solat subuh Jemaah terus.”
“Lah, elo dipaksa sama Aisyah buat solat subuh berjemaah ….”
Andi pun tersenyum. “Hehehe iya juga. Susah punya adek lulusan pesantren. Sesat dikit gue kena ceramah. Dia kaya Mamah Dedeh ceramahnya.”
“Lo bayangin aja kalau elo punya bapak kerjaannya jadi ustadz kaya gue, tiap hari rumah udah kaya pengajian. Sampe gue apal hadis-hadist yang dibaca babeh gue buat nyadarin gue,” pungkas Nanang.
Sungguh mengaburdkan percakapan di antara mereka. Belum lagi nih kalau Agus sama mereka, makin tambah parah lagi dunai perdiskusian. Sedangkan Felix, biasanya anak itu suka menyimak. Bahkan, candaannya pun garing menurut mereka. Maklum, keseringan ngitung duit jadi jarang hapal bercandaan.
Sekitar lima jam lebih masuk ke pelosok-pelosok desa, akhirnya mereka tiba di Desa Maju Jaya. Desa tersebut berada di kaki perbukitan sehingga suhu daerahnya terbilang dingin. Andi malah pengen turun salju, tapi mana ada di negeri ini turun salju. Mereka diantarkan menuju rumah Kepala Desa. Sewaktu mereka menyambangi rumah Kepala Desa, pihak desa sudah menyambut mereka dengan makanan dan minuman. Informasi mengenai kedatangan anak KKN sudah diberitahu oleh dosen sebelumnya.
Anak-anak KKN memang paling ditunggu-tunggu oleh pihak desa setiap tahun. Jasa para mahasiswa sangat melekat baik dari perangkat desa maupun warga desa itu sendiri. Pihak desa senang jika akan ada yang membantu program-program mereka agar berjalan lancar. Sementara bagi warga desa, para mahasiswa menjadi penambah suasana baru karena akan ada banyak kegiatan yang akan dilakukan nantinya. Tidak jarang setiap desa sangat berat melepas pergi para mahasiswa jika masa kegiatan KKN sudah habis.
__ADS_1
Andi dan kawan-kawan duduk bersama perangkat desa yang sudah sedari tadi berkumpul. Dosen pun memberikan sepatah dua patah kata untuk melepas para mahasiswa bimbingannya. Ia berharap jika mahasiswa bimbingannya memberikan banyak jasa kepada desa agar desa ini semakin maju. Perut yang lapar karena belum makan siang menjadi ajang untuk mencoba makanan pedesaan yang sederhana. Bagi Andi, masakan seperti ini sudah biasa karena mamanya selalu masak masakan desa. Namun, hal itu belum tentu sama dengan Sarah dan Tasya. Sarah kan masak sendiri untuk papanya sehingga masakannya pun apa adanya, sedangkan Tasya lebih banyak membeli makanan restoran dari luar.
Mata Andi melihat Sarah yang milih-milih makanan. Dia cuma makan telur goreng balado saja, padahal di sana ada ikan asin dan jengkol.
“Ikan asinnya dimakan dong,” ucap Andi sembari memasukkan ikan asin yang masih utuh ke piring Andi.
“Ih gue ga suka makan ikan asin.”
“Ini nih cewek-cewek yang ga bisa dibawa susah nantinya.”
Muka Sarah langsung cemberut. “Kok gitu sih nyimpulinnya? Kan gue memang enggak suka makan ikan asin. Aneh rasanya tahu!”
“Ini juga ….” Ternyata Andi meletakkan jengkol goreng ke atas piring Sarah.
“Ini apaan lagi?!”
Sarah yang tidak setuju kini malah membalikkan jengkol tersebut ke piring Andi.
“Ini namanya jengkol. Kalau orang Minang bilangnya Jariang. Samba Jariang itu berarti sambal jengkol.”
“Apa? Jaring? Lo mau nangkap ikan?” tanya Sarah.
“Jariang … bukan jaring, beda loh. Ga Minang Pride banget sih. Gue ini sedang me-Minang-kan Indonesia.”
“Gue kan bukan orang Minang, gue orang Jawa. Jawa Pride dong!” Sarah ga mau kalah. “Asu!”
Sesi makan-makan pun berakhir. Mahasiswa KKN diperkenalkan kepada ketua pemuda setempat yang bernama Asep. Beliau dijadikan pembina KKN desa ini sebagai tempat bertanya dan meminta tolong apabila ada hal yang dibutuhkan. Selanutnya, dosen dan Bang Asep mengantarkan mereka ke posko KKN. Posko KKN ini merupakan tempat untuk mereka tinggal selama berkegiatan KKN. Terkadang ada desa yang memisahkan cewek dan cowok, tetapi di desa ini karena kekurangan tempat, jadinya disatuin aja. Terdapat sebuah bangunan lama posyandu yang serupa seperti rumah, kini akan menjadi tempat tinggal anak-anak KKN selama berkegiatan.
“Jadi, yang betah ya di sini. Jangan minta pulang, nanti baru aja seminggu di sini udah minta pulang. Kalian kan yang mau KKN, jadi harus bisa beradaptasi. Terus, jaga nama baik kampus kalian. Senior-senior sebelumnya udah susah payah membuat nama kampus kita jadi lebih baik, jangan ada bikin ulah ya. Selanjutnya, kalau ada yang dipertanyakan, mana tahu butuh ini dan itu, silahkan tanya ke Kakanda Asep ini. Dia Ketua Karang Taruna di sini.”
“Hehehe iya, kalau nanti ada yang bingung kenapa desa ini dingin bisa tanya ke saya. Ni bagi yang cowok-cowok punya hobi mancing, lain waktu kita bisa mancing bareng.”
“Hobi mancing ya Bang?” tanya Andi dengan bersemangat
Dari berlakang Sarah mencubit pinggan Andi. “Tolonglah Ndi ….”
“Apaan sih lu?” Andi mengabaikan Sarah.
“Iya dong, kami ada Instagram Maju Jaya Angler.” Bang Ujang langsung nunjukin Instagram komunitas mancing pemuda desa yang menunjukkan aktivitas-aktivitas permancingan mereka. “Ada sungai bagus di sini buat mancing. Karena terawatt dan masih asri, ikannya banyak.”
“Waduh … jadi ga sabar nih gue mancing.”
Sarah langsung menutup wajah tatkala menyadari pacarnya ini ceplas-ceplo sekali. Apa salahnya nanti mendiskusikan mancing-mancingnya, bukan di depan dosen juga.
Dosen berpamitan untuk kembali lagi ke kota. Mahasiswa KKN melambai kepada minibus yang mengantarkan dosen mereka tersebut. Alhasil, mulailah detik ini masa KKN mereka di desa yang baru pertama kali mereka injak dan jauh dari dunia perkotaan. Mobil aja bisa dihitung jari yang nampak, apalagi gedung, pasti tidak ada.
Kamar dibagi dua, satu buat anak cowok dan satu buat anak cewek. Yang namanya tempat peninggalan para mahasiswa KKN terdahulu, jadinya pasti serba apa adanya. Dua spribed besar diletakkan di masing-masing kamar untuk mereka tidur di malam harinya. Tentu saja mereka bakalan kaya ikan sarden kalau tidur, dempet-dempetan. Simulasinya udah dimulai nih siang hari ini. Istirahat Andi terganggu dengan bunyi ngorok Nanang yang berada tepat di sampingnya. Beruntung anak cowok cuma bertiga hingga kasur terasa lapang, tetapi tidak dengan suara ngorok.
__ADS_1
Andi yang ga bisa tidur, melihat Rijek yang lagi di depan cermin.
“Lo ngapain sih?” tanya Andi. Kakinya menendang tubuh Nanang agar menjauh darinya.
“Pakai skinker dong,” balas Rijek.
“Uanjir, lo kan cowok … masa pakai skinker sih?”
Rijek menoleh ke belakang. “Jaman sekarang enggak ada tuh cowok dilarang makai skinker. Namanya juga kan perawatan diri. Kalau lo mau nyoba, coba ajaa punya gue. Mana tahu lo nanti malah beli skinker. Kalau mau beli, beli sama Aulia aja. Dia jualan skinker cowok juga loh.”
“Ah … ga masuk diakal gue. Mending gue beli voucher game atau beli sparepart motor.”
Andi menggeleng-geleng melihat kerempongan Rijek. Pantes saja Rijek punya muka yang mulus dan terawat karena makai skinkeran. Beda sama Andi yang ada jerawat dan kusam karena sering panas-panasan main bola di sore hari.
Hari ini mereka tidak berkegiatan karena harus mengurusi posko KKN. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, seperti membersihkan WC yang sudah berlumut, membuang jaring laba-laba di langit-langit posko, memperbaiki meja yang sudah lapuk dimakan rayap, serta menyapu rumah yang berdebu. Anak-anak cewek lebih banyak bagian bersih membersihkan, selebihnya membeli bahan makanan untuk malam nanti.
Andi karena sudah biasa jadi kuli tukang di rumahnya, jadi dia memegang dunia pertukangan posko KKN. Meja yang lapuk sekarang udah bisa berdiri lagi, kursi pun Andi baguskan dengan menambah kayu di bagian yang sudah rusak. Hanya Andi juga yang bisa memperbaiki kabel listrik untuk cok sambung, sementara anak cowok lain tidak ada yang pandai. Bahkan, masangin gas LPG pun harus Andi. Ia pun menggeleng-geleng melihat Nanang dan Rijek yang tidak ada pandai-pandainya, terlalu jadi anak kota. Andi udah biasa mengerjakan hal-hal seperti ini di rumah karena ia satu-satunya pria di rumah tersebut, lebih tepatnya pengganti sosok Papa yang bekerja di luar pulau.
Belakang posko terdapat sepetak halaman kecil yang bebatasan langsung dengan hutan. Kondisi yang asri sangat cocok untuk dijadikan tempat bersantai, apalagi halamannya berumput bersih tanpa duri. Anak cewek pun berinisiatif untuk membuatkan nasi goreng sebagai pengisi perut di kala sore hari. Andi malah request dibikin kopi karena dia melaksanakan ibadah kopi dan rokok.
“AAAAHHH!!!!” desah Andi kaya bapak-bapak waktu mencoba kopi buatan Sarah. “Nikmat banget nih kopi sore-sore di desa beginian. Rokok gue mana?”
Nanang langsung memberikan rokok kepada Andi. “Maklum-maklum nih ya anak cewek, gue sama Andi itu perokok.”
“Awas aja kalian ngerokok di dalam posko, gue bikin mampus kalian berdua,” ancam Sarah.
Enggak di kota, enggak di desa, Sarah tetap aja brutal.
“Tenang Sarah, gue sama Nanang udah janji dari awal enggak ngerokok di dalam posko, waktu kegiatan formal, serta pertemuan dengan perangkat desa. Selebihnya, kami bebas ngerokok … heheeh ….” Andi menepuk-nepuk rumput sembari melihat Nanang dan Rijek. “Kalian berdua ini pandainya apaan sih? Mending besok bantuin gue nyariin kayu. Biar gue bikini pondok di belakang ini. Kan bagus tuh buat nyante-nyante.”
“Nah bener tuh, pondoknya bisa kiat jadiin tempat ngumpul-ngumpul kalau lagi free,” balas Tasya.
“Iya, kalau polos begini kita cuma duduk di rumput,” sambung Aulia.
“Tanyain tuh sama Bang Asep di mana nyari kayu. Di sini enggak ada beli-beli, semuanya nyari di alam,” ucap Sarah kepada kedua lelaki yang tidak berguna dari tadi itu.
“Iye-iye … ntar gue tanyain deh Bang Asep buat nyariin kayunya di mana. Kaya ga ada gunanya kami berdua ini,” balas Nanang dengan pasrah.
“Memang iya, kaga ada gunanya.”
Tiba-tiba aja Kelly berbicara. Anaknya memang pendiam kalau sama orang baru, tapi sindirannya nusuk banget sampe ke jantung. Andi udah sering kena sindir sama cewek bermulut tajam itu. Nanang yang kesal, langsung menoleh sama Andi dan bertanya dengan nada keci.
“Nih cewek siapa namanya sih?”
Nanang pun jadi kesal.
***
__ADS_1