Andi X Sarah

Andi X Sarah
74. Kos-kosan (SEASON 3)


__ADS_3

Meriahnya pesta tidak terlalu berarti bagi Andi. Bagaiman mau berarti karena tidak ada satu pun orang yang bisa ia ajak berbicara. Satu-satunya orang yang ia kenali dengan dekat hanyalah Naila seorang. Hanya saja ia sibuk di deretan teman-teman dekat Tasya sebagai pendamping. Terdapat beberapa orang di angkatannya atau pun senior-senior famous yang hadir, tetapi Andi tidak terlalu akrab dengan mereka. Meskipun satu jurusan, Andi cenderung menutup diri untuk bergaul dengan orang-orang seperti mereka.


Terkadang kalau dipikir-pikir lagi, ia telah terlampau jauh berubah. Terkadang Sarah pun menyindirnya yang menutup diri dari pergaulan. Minatnya terhadap dunia luar sudah menurun ketika tamat dari SMA. Jika menelisik bagaimana pola pergaulan Andi semasa SMA, bisa dibilang hampir satu SMA mengenali dirinya. Setiap bulan pasti aja ada yang mengajaknya ke sebuah acara. Banyak teman-teman famous yang Andi kenali.


Semenjak berkuliah, Andi lebih memilih bergaul di circle yang lebih kecil. Memiliki banyak teman terlalu merepotkan dan menghabiskan uang dan waktu. Bayangkan saja setiap hari Andi harus menongkrong di café atau pun pergi clubbing seperti teman-teman yang lain. Mending Andi main di pos ronda sambil main catur atau pun nongkrong sama Anak Amak lainnya di indoapril di mana Kevin bekerja.


Satu per satu makanan Andi cobain Namanya orang kalau lagi laper, bawaannya pasti makan terus. Terlebih lagi Andi juga gabut karena enggak lagi ngapa-ngapain. Sewaktu ngambil kue yang namanya blekfores, Andi menatap seseorang yang ia kenal. Wanita itu pun sadar kalau Andi lagi natapin dia.


“Loh Andi? Lo di sini?” tanya Nabe alias Nana Behel temen sekelas Andi.


Lohe, kok Si Behel ada di sini ya … Andi jadi bingung kenapa nih anak ada di sini.


“Eh elo Nabe, iya gue di sini. Kalau gue di sana, berarti gue enggak di sini.” Andi memalingkan wajah. Ngomong apaan sih gueeee ….


“Haha … lo bisa aja. Sendirian?” tanya Nabe.


“Iya gue sendirian kaya jomblo.”


“Bentar ya ….” Nana mengambil minuman di meja barista yang tersedia. “Minum? Duduk bentar yuk sambil ngobrol.”


“Oke … gabut juga nih gue ….”


Andi melihat Naila di seberang sana yang terus menoleh kepada Andi. Ia berharap jika Naila yang menghampirinya. Ternyata jablay kelas yang lagi datang.


Tanpa ragu dan tanpa bertanya lebih dahulu, Andi meneguk minuman yang diberikan oleh Nabe. Ternyata eh ternyata, minuman itu adalah cocktail alkohol. Andi langsung merem dong karena pahit dan hangat di dada yang ia rasakan. Biasanya orang nyicip sedikit-sedikit, Andi langsung teguk kaya minum kopikap warung Mas Momon.


*W*aduh … sorry Sar gue ngelanggar janji. Malah jadi enak nih gue minum ini ….


Efek alkohol terasa banget di kepala Andi. Dia jadi agak puyeng walau cuma minum seteguk kecil. Dari kepuyengannya itulah Andi melihat Nabe sebagaimana pikiran Ari Kiting. Nabe lebih dari penampilannhya di kampus, begitu sexy dan menggoda. Pakaiannya terbuka dengan gaun sepangkal paha. Waktu duduk, mulus bersih kaki Nabe kelihatan. Belum lagi waktu Nabe nunduk dan kelihatan belah membelah bagian atas itu. Andi langsung menoleh ke arah yang lain kalau Nabe ngelakuin hal itu.


“Gue enggak nyangka lo kenal sama Tasya ….” Tangan Tasya meminta pelayan acara untuk menuangkan minuman ke gelas piala Andi.


Dengan mata sayu, Andi melihat ke Tasya. “Oh anak itu. Gue kenal dia waktu jurusan kita main futsal. Anaknya cepet akrab ya kayanya. Maksud gue, meskipun kami jarang ketemu, dia bisa kaya akrab banget sama gue.”


“Tasya memang begitu. Anaknya supel dalam bergaul. Lihat deh temennya banyak banget. Bahkan, gue ngelihat beberapa selebgram yang datang. Gue jadi insyekyur ….”


“Oh iya, elo kok bisa kenal juga sama dia?” tanya Andi balik.

__ADS_1


“Gue itu pernah satu organisasi sama Tasya waktu di BEM. Lumayan deket sih gue sama dia. Makanya gue diundang malam ini.” Ia menatap lurus Andi. Jarak di antara mereka bener-bener deket. Bahkan, kaki mereka saja hampir bersentuhan. “Sumpah dong gue terkejut lo dateng. Perasaan lo cuma gaul sama anak kelas atau sama ana futsal aja deh.”


“Haha jangan kan elo, gue aja ragu bisa kenal sama Tasya.” Andi terpaksa tertawa gelas kedua tadi makin bikin kepalanya puyeng. Andi jadi ampun minum alkohol, kok lemah banget gini baru dua gelas. “Lo sendirian?”


“Hmm … begitulah. Gue datengnya sendirian tadi pake Bo-Car. Tapi di sini kan ada beberapa orang jurusan kita. Jadi gue enggak terlalu celingak-celinguk kaya elo sih. Hahaha ….”


“Hahah … iya. Gue gabut kaga ada yang bisa diajak ngobrol.”


Tiba-tiba aja Nabe menyentuh tangan Andi. “Oke deh, Ndi. Gue gabung sama yang lain dulu ya. Sampai ketemu minggu depan.”


“E … e … e … oke Nabe, see you later juga ….”


Andi deg-degan ketemu sama Nabe dengan penampilan sexoy seperti ini. Mungkin Nabe empat kali lebih bohay daripada sehari-hari dirinya di kampus. Kalau Ari Kiting ke sini nih, bisa-bisa dia kaga bisa nahan dan langsung dibawa ke polsek terdekat.


Kepala Andi yang puyeng terpaksa membuatnya untuk ke belakang rumah yang lebih tenang dan jauh dari hiruk pikuk orang ramai. Masih terdapat teman-teman Tasya yang main di tepi kolam renang. Secara tidak sadar, Andi tertidur hingga lupa waktu. Saking lupa waktunya, pelayan acara membangunkan Andi dengan menepuk pundaknya.


“Iya Ma, Andi bangun ….”


Pelayan café pun heran. “Maaf Bang, sorry bangunin. Temen-temen Mbak Tasya udah pada pulang, saya mau ingetin aja mana tahu ketinggalan karena Abang ketiduran.”


Andi melihat jam, ternyata sudah menunjukkan pukul satu malam. Andi ternyata tidur hampir dua jam di sofa empuk tersebut. Temen-temen Tasya di kolam renang juga udah pada menghilang. Andi segera bangkit dan berpamitan dengan Tasya. Di dalam rumah masih terdapat teman-teman Tasya. Mungkin saja teman dekat dari wanita itu yang tidak dibatasi waktu. Sewaktu mencari Naila, ternyata dia sudah pulang.


“Gue nyariin lo ke mana-mana, gue kira elo udah pulang. Padahal gue tadi mau ajak ngobrol loh.”


Mau dibilang hal yang sebenarnya, Andi takutnya jadi malu.


“Asyik aja ngobrol di belakang tadi sama temen-temen gue. Terus gue ngelanjutin push rank mobail lejen deh sendirian sampai lupa waktu.”


“Oke deh. Thanks banget ya Ndi udah datang.” Tasya memberi bonus cipika-cipiki kepada Andi. “Hati-hati di jalan yaaa ….”


“Oke Tasya … selamat ulang tahun yaa ….”


“Terima kasihh ….”


Andi segera meluncur ke parkiran yang sudah sepi. Cuma ada beberapa mobil yang masih terpakir. Motor pun cuma punya Andi sendiri. Andi terkejut melihat seorang wanita berdiri di dekat lampu jalan. Ternyata itu Nabe yang lagi sendirian.


“Nabe, elo belum pulang?” tanya Andi.

__ADS_1


Nabe sempat bergeser tempat berdiri dan kelihatan oleng. Sempat Andi sigap membantunya berdiri agar tidak jatuh. Berkat hal itu, Andi menyimpulkan kalau Nabe sedang dalam keadaan mabuk.


“Gue baru aja mau mesen Bo-Car ….”


“Ada temen-temen lo yang masih di sini ga? Pulang aja sama mereka.”


Lemah kepala Nabe menggeleng,


“Enggak ada sih, gue sendirian ke sini tadi.”


Andi menghela napas. Temen sekelasnya sedang dalam keadaan kacau dan tidak mungkin dibiarkan sendirian ketika dini hari seperti ini. Apalagi kalau dia pulang dengan orang tidak dikenal. Bisa-bisa besok ada berita kalau ada mahasiswi hilang.


“Ya udah deh, gue anterin. Kos lo jauh ga?”


“Enggak kok, deket kampus.”


“Ya udah, tunggu di sini ya gue ambil motor dulu.”


Setengah hati Andi mengantarkan Nabe ke kos-kosan. Seharusnya Andi bisa lebih cepat ke rumah dan menonton pertandingan sepak bola malam ini. Namun karena Nabe kelihata mabuk dan tidak memungkinkan ditinggal sendirian, Andi terpaksa amengantarkannya pulang.


Sesampainya di depan kos-kosan, Nabe pun turun. Lagi-lagi Nabe tidak bisa berdiri dengan normal. Andi jadi merasa kasihan kalau dia harus sempoyongan sampe ke kamar kos.. Bisa-bisa dia muter ke semak-semak ntar. Sesudah memastikan keadaan sepi, Andi takut aja nanti dikirain ngapa-ngapain, ia pun membantu Nabe berjalan ke dalam kos.


“Lain kali kalau minum jangan kebanyakan. Gue aja nahan-nahan kalau mau minum,” saran Andi.


“Ini enggak apa-apa kan kalau lo nganterin gue, takutnya ada yang marah gitu ….”


“Enggak apa kok, lo kan temen gue. Ga tega gue ninggalin elo sendiri.”


Andi tetap membantu Nabe berdiri hingga memasuki kamar kos wanita itu. Awalnya Andi berniat untuk cuma sampai pintu aja, tetapi langkah Nabe memaksanya untuk memasuki kamar. Tanpa diduga, Nabe mengunci kamar kos tersebut.


Apa-apaan ini!


“Andi … gue bebas kok malam ini ….” Nabe memeluk Andi dengan erat. “Lo mau ngapain aja, gue mau.”


“Nabe … lo mabuk berat. Gue harus pulang ….” Andi mencoba menjauhkan tubuhnya.


“Ush … ush … ush …. jangan berisik sama gue.” Telunjuk Nabe menyentuh bibir Andi. “Gue tahu kalian ngebicarain gue di belakang. Sekarang lo bisa kok ngejadiiin hal itu jadi kenyataan.”

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Andi terseret ke tepi dinding. Nabe memaksanya untuk mengecup. Mereka pun lepas dalam kendali.


***


__ADS_2