
Putus
Mata Andi masih berlinang semenjak meninggalkan Naila di depan rumah. Tidak ada tissue yang tersedia, bajunya basah karena dijadikan penghapus air mata. Ia putar stir mobil ke rumah Sarah sembari mengelap tangis. Naila benar, ia harus benar-benar bicara dengan baik. Menjelaskan semua yang terjadi dengan jujur, sembari berharap ia akan mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.
Mobilnya berhenti di depan rumah Sarah. Ketika ia keluar, berbunyi kicauan burung hias koleksi papanya. Di samping rumah, terparkir sebuah motor trial milik wanita itu. Sudah pasti, Sarah ada di rumah. Ia tidak pernah pergi tanpa mengendarai motor kesayangannya itu.
Ia pastikan matanya kembali normal tanpa isak sedikit pun. Malu rasanya ketika berjumpa Sarah dengan mata sembab dan memerah. Mungkin saja ia tahu jika Andi baru saja menangis, tetap saja matanya berona merah dengan suara yang masih tidak normal.
Tangan Andi memencet bel rumah.
Tidak ada yang menyahut, hanya kicauan burung yang membalas. Ia mencoba mengetuk kamar Sarah, namun Sarah tidak berada di kamarnya. Ia yakin seratus persen jika wanita itu tengah berada di rumah.
"Sarah, gue tahu lo ada di rumah!" teriak Andi.
Masih tidak ada yang menyahut. Ia masih mencoba berpikir positif, mungkin saja Sarah sedang berjalan ke luar rumah. Berharap ia akan datang, Andi duduk di teras sembari menyulut tembakau. Hisapannya begitu berat dan dalam, meskipun tenang tak kunjung datang,
Suara kunci pintu yang berdetak membuat Andi berbalik badan. Berdiri tegaklah Sarah di depan pintu sembari menatap Andi yang tengah berantakan. Wajahnya kicit, rambutnya kusut tak terurus.
"Mau apa?" tanya Sarah.
"Gue mau jelasin semuanya."
Sarah melihat jam. "Lima menit dari sekarang."
"Selama ini gue banyak dekat sama cewek, lo ga pernah cemburu. Gue udah pernah bilang kan, cuma lo seorang kan yang ada di hati gue. Kemarin itu, Naila minta gue temenin buat ngelihat talkshow penulis faforitnya."
"Lo pikir sendiri aja, wajar ga temen cowo cewek jalan sambil megangan tangan?" Sebelah alis Sarah naik menanti jawaban.
__ADS_1
" Lagian, bukan gue yang minta, tiba-tiba aja anak itu megangin tangan gue."
"Apa???" Sarah mendekatkan telinganya kepada Andi. "Gue kira lo orang baik Andi."
"Kurang baik apa lagi gue sama lo?" tanya Andi dengan penuh emosi. "Gue tahu Sar, lo masih chat sama Pram. Pernah gue larang? Gue percaya lo cuma ada gue."
"Harusnya lo sadar diri dong. Lo marah kan sama Pram karena dia deket sama gue. Begitu pula gue sama Naila. Cewek mana yang ga marah ketika pacarnya sendiri jalan sama cewek lain."
Andi menunduk pasrah. "Gue bilang Sarah, gue ga ada apa-apa sama Naila."
"Lo kira gue bukan cewek? Gua tahu Naila suka sama lo." Sarah mendengus sinis.
"Gue kira lo percaya sama gue, Sar."
"Iya gue percaya, tapi enggak setelah ini. Lo sama aja kaya cowok-cowok ******* di luar sana. Ga pernah ngertiin perasaan ceweknya."
Dahi Andi menyerngit. "Lo ngatain gue *******?"
"Maksud lo?"
Wajah Sarah berubah datar.
"Kita putus."
"Sar, bukan ini yang gue mau."
Andi berusaha menggenggam tangan Sarah. Namun, Sarah dengan cepat melepaskan tangan Andi. Ia terlalu kecewa dengan semua ini.
"Maaf ...."
Pintu tertutup rapat, begitu pula hati wanita itu. Andi sadar, setiap hal di dunia ini akan berakhir. Hubungannya dengan Sarah tengah menginjak titik itu. Tidak pernah ia meratakan retaknya hati seberat ini. Pengalaman tidak pernah mengajarkannya untuk bertahan dari kegalauan cinta. Oleh karena itu, hatinya terlalu rapuh ketika diterpa badai seperti ini.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Andi menemui mamanya yang tengah memasak makan siang di dapur.
"Ma, kapan keberangkatan Andi ke Bukit Tinggi?" tanya Andi.
Sontak mamanya terkejut. Tumben-tumbenan nih anak mau aja disuruh beginian.
"Dua hari sebelum ambil raport. Itu tiketnya dari travel punya kenalan mama, jadi murah."
"Andi mau pergi."
"Yo bana ko?" tanya mama Andi untuk memastikan.
Yang benar ini?
Andi mengangguk. Sepertinya menjauh dari semua masalah ini merupakan hal yang terbaik.
Sehari hari keberangakatan, serombongan aliansi baru yang dipimpin oleh Ajiz mendatangi Andi di kedai sehabis sekolah. Sesuai dengan janjinya, Ajiz akan mendatangi Andi ketika ia berhasil membuat aliansi sendiri di angkatan kelas 10 sebagai syarat bergabung dengan Antophosfer. Sekitar belasan orang berkumpul di kedai Pak Topoi yang membuat pertandingan domino Anak Amak berhenti.
Mereka tidak heran, mereka pernah seperti ini tatkala Kevin menantang Andi membuat aliansi sebagai syarat bergabung dengan Antophosfer. Mereka hanya berempat, berani mendatangi Kodomo untuk berhadapan dengan Kevin. Hanya saja, Andi terlalu naïf memilih lawan. Kevin dengan mudah mengalahkannya.
Begitu pula kali ini, Andi sudah paham dan membawa mereka ke lapangan. Sembari membuka baju, mereka bertarung dengan hebat. Tidak ada celah untuk menghindar, seakan kekuatan mereka sebanding. Namun, ada suatu keanehan. Ajiz menyadari Andi kini berpura-pura. Ia sengaja melemahkan diri.
Andi menyerah tidak ingin melanjutkan pertarungan. Padahal, mereka sedang sengit-sengitnya berbaku hantam.
"Silahkan kejar Naila. Dia milikmu."
Hanya itu ucapan terakhir Andi yang didengar oleh Andi.
Keesokan harinya Anak Amak dan Ajiz sendiri dikejutkan dengan kepergian Andi yang tiba-tiba. Tidak ada kabar sedikit pun.
***
__ADS_1