
Andi pulang saat itu dengan bersenang hati karena dapet duit hasil memalak seseorang. Seumur hidup, baru kali ini ia memalaki anak orang sampai dapet uang lumayan, yaitu seratus lime puluh ribu karena bagi hasil dengan Memet. Seberandal-berandalnya Andi di sekolah dulu, sama sekali tidak terbesit niat untuk memalak orang lain. Sementatara bagi Memet, palak memalak adalah hal yang lumrah ketika di SMK Permesinan. Bahkan, ia pernah juga menjadi korban pemalakan ketika masih menjadi junior.
“Gimana, udah bagus motornya Alsan?” tanya Sarah kepada Andi ketika mereka sedang bersama di rumahnya keesokan hari.
“Udah dong, segitu doang kecil mah sama Memet. Motor lo aja diantar ke dia bakalan selesai cepet.”
“Udah cocok buka bengkel sendiri dia itu.”
Andi menyetujui hal tersebut. Memet sebenarnya sudah cocok sekali untuk membuka bengkel sendiri. Ia menguasai permesinan luar dan dalam, bahkan berpengalaman menjadi teknisi di perusahaan motor serta berkali-kali menjadi kru teknisi untuk tim balap.
“Modal aja mah dia yang kurang. Kan cukup gede tuh kalau mau bikin bengkel sendiri.” Andi melihat jam tangannya. “Gue cabut dulu yak. Kevin ngajak ngumpul di warung Mas Momon.”
“Ya elah giliran temen lo mau lama-lama nongkrong. Sama gue bentar banget.” Sarah membuang wajah.
“Yee kan gue nyempatin diri buat nemuin lo dulu ….”
“Ya udah, pergi sana. Hati-hati ya sayangku, cintaku ….”
“Iya daaaa ….” Andi melambaikan tangan.
Entah kenapa Kevin tadi siang mengajak dirinya untuk menongkrong di Kodomo ketika sore hari. Tidak diminta pun Andi jika sedang suntuk sudah pasti akan bertandang ke sana untuk mengopi dan merokok santai. Bahkan, Kevin juga meminta Andi untuk menjemput Revin sekalian, tidak menyebutkan nama Agus dan Felix karena mereka pasti sibuk bekerja. Oleh karena itu, Andi menjemput Revin dulu di rumahnya, lalu pergi ke warung Mas Momon.
Setibanya di depan warung, mereka dibuat bingung kenapa ada banyak motor yang terparkir. Motor-motor tersebut juga tidak dikenali oleh Andi. Jika dikatakan milik para junior yang duduk di sini, mereka tidak sedang berada di tempat biasanya mereka duduk, yaitu depan warung. Tatkala mereka ke belakang, Andi melihat wajah-wajah lama yang sudah lama tidak ia jumpai.
Ia mendapati Dugong sang Ketua Antophosfer pada jamannya. Dugong turut membawa beberapa sahabat setia, salah satunya ialah Hasbi. Pria itu pernah kena mental dibikin oleh Kevin sewaktu mereka sama-sama di SMA. Selanjutnya dari angkatan junior, terdapat Dandi dan Ajiz berserta anggota mereka. Sementara itu, dari pihak Andi hanya membawa Revin. Tidak mungkin Andi membawa Agus dan Felix yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
__ADS_1
Kevin duduk di atas pondok, sementara itu kami berdiri di hadapanya. Wajahnya penuh keseriusasan dengan sebatang rokok kretek ketengan yang ia beli di warung Mas Momon. Teman-teman yang lain sama sekali tidak diberitahu mengenai apa gerangan Kevin mengumpulkan para mantan pentolan sekolah ke warung Mas Momon, mengingat mereka tidak lagi pernah menongkrong bersama.
“Baiklah, untuk tidak memperpanjang mukaddimah, langsung saja kita persilahkan Bang Kevin untuk menyampaikan sepatah dua patah kata⸺”
Lelek langsung dilemparin puntung rokok sama Dugong. Hal itu membuat lelek terdiam.
“Woi lo siapa sih? Malah kaya acara formal nih,” sindir Dugong.
“Maap Bang, gue disuruh Bang Kevin tadi buat begini.”
Kevin langsung ketawa sambil merangkul Lelek. “Heheh tadi gue becanda. Buat yang lain, ini anggota Antophosfer yang baru, secara tidak resmi, soalnya kan Antophosfer udah dibubarin sama Ajiz waktu mereka di kelas tiga. Ini Lelek punya kelompok yang duduk di depan warung Mas Momon.”
Dugong memicing kepada Lelek. “Lo anak Kodomo yang baru? Kaga yakin gue sama lo yang kurus cungkring begini. Anak Kodomo itu rata-rata punya badan gede setahu gue.”
“Bukan Bang, gue kaga anak Kodomo. Gue aja masih bingung namain kelompok kami.”
Meskipun beda angkatan\, tidak ada anak Antophosfer angkatan Andi yang memanggil `Abang` kepada Kevin. Hal itu karena kebiasaan Andi dan Dugong yang hanya memanggil nama. Namun\, hal itu tidak dipermasalahkan oleh Kevin sendiri. Katanya\, biar makin akrab aja\, jadi tidak apa-apa.
“Begini loh … kawasan di sekitar sekolah kita udah ga aman. Ada banyak preman-preman yang ngengganggu anak SMA, peredaran narkoba, perjudian, dan ancaman dengan tongkrongan yang lain. Kalian pasti enggak dengar berita kalau Ajiz udah digebukin preman kan?”
“Belum, kayanya dia udah biasa deh kelahi sama preman,” balas Kevin.
“Iya sih di audah biasa kelahi sama preman. Tapi, mereka malah nyerang kami satu geng. Mereka ngedatengin kami setelelah Dandi balasin dendam ke preman-preman itu, dikiranya Dandi adalah anak kodomo.”
“Maaf ya Bang, gue gedeg soalnya lihat mereka,” sambung Dandi meminta maaf. Tapi mukanya malah tidak ada ekspresi penyesalan. Namanya juga Dandi yang tidak ada segan-segannya kepada senior.
__ADS_1
“Nama geng mereka itu Geng Beng, aneh sih untuk sebuah nama, kaya nama genre pideo Jepang Hahah ….” Kevin tertawa sejenak. “Takutnya mereka malah gangguin tongkrongan kalian dan tongkrongan junior-junior kita yang banyak tersebar di sekitaran sekolah. Lo bayangin aja ada junior kita yang nyabu.”
Muka Dandi langsung serius karena hal tersebut. Orang yang dimaksud Kevin ialah anak tongkrongan warungnya yang sekarang sudah ditangkap oleh polisi. Mereka sama sekali tidak mengetahui kalau ada salah satu anak tongkrongannya yang nyabu. Padahal, setahu Dandi tongkrongan mereka itu selalu bersih dari benda-benda haram. Palingan cuma bawa minuman alkohol doang, itu pun masih dianggap wajar di dunia keberandalan mereka.
“Jadi kesimpulannya gimana?” tanya Dugong.
“Gue minta kalian buat ngejaga wilayah masing-masing. Jangan ada sampai ada anak sekolah kita yang diganggu, jangan sampai ada pengedar yang ngelakuin transaksi, sama hindari perkelahian dengan mereka. Soalnya mereka itu para kriminal, bukan anak SMA lagi yang dulu kita lawan. Ada yang bawa pistol juga. Jadi, bahaya buat kalian kalau berhadapan.”
“Yaah … tongkrongan gue kan mati.” Andi menyampaikan suaranya. Kedai Pak Topoi sudah jarang sekali mereka tongkrongin karena selain jumlah mereka cuma empat orang, selain itu Agus dan Felix juga sudah sibuk bekerja.
“Ya sudah, lo ikut gue aja ngejagain daerah kawasan sini. Soalnya warung ini yang paling deket sama sekolah,” balas Kevin.
“Siip Deh ….”
Penjelasan Kevin meskipun singkat, sudah dipahami oleh yang lain. Mereka akan segera mengamankan wilayah tongkrongan mereka masing-masing karena tidak ingin ada kasus seperti Ajiz dan Kodomo yang diserang. Setahu mereka, tidak ada anak tongkrongan yang berani menyerang Kodomo pada masanya karena Kodomo sendiri dikenal kuat dan tahan lama.
Selagi mereka ada di sini, maka Kevin meminta Revin untuk menyeduh kopi untuk semuanya. Tadi baru aja Kevin memperingati kalau disekitaran sekolah sudah marak terjadi perjudian, eh mereka malah main domino dengan taruhan rokok.
“Gue jadi rindu Arman,” ucap Dugong sewaktu lagi main domino.
“Gimana anak itu sekarang ya? Dia cepet banget pindah sekolahnya dulu,” tanya Andi.
“Katanya dia sekarang udah jadi anak gaul. Gue kan follow-followan di Instagram. Kaga level lagi kayanya dia main sama kita … Hahaha ….” Dandi tertawa.
“Gaol … gaol … tai gaol ….” Kevin menumpas permainan dengan batu terakhirnya. Permainan dimenangkan oleh Kevin kali ini.
__ADS_1
***