
Sarah merenung semalaman karena bimbang memilih ikut atau tidak. Ia menolak karna di sana ada Tasya yang ia prasangkai ingin mendekati Andi dan seluruh rencana ini hanyalah akal-akalan dari Tasya untuk dekat dengan pacarnya yang Sarah sayangi. Sementara itu, sisi lain hatinya ingin ikut karena ia bisa bersama Nanang dan Andi bersama lagi ketika berkegiatan. Momen ini sebenarnya bisa untuk dijadikan reunion seperti SMA lagi. Jika Sarah ingin membentuk kelompok sendiri, sangatlah ribet jika ia mengurusinya, termasuk mencari anggota untuk memenuhi kuota
Di kampus, ia masih tidak mencicipi bakso tusuk pedas yang ditawarkan oleh Kelly. Ia masih duduk di kursi taman fakultasnya bersama teman dekatnya itu. Karena Sarah tidak kunjung mencicipinya, Kelly malah mencuil bakso-bakso tusuk di dalam plastik yang dimiliki oleh Sarah. Biasanya, Sarah bakalan ngamuk karena makanannya diambil, meskipun Kelly sendiri yang mentraktir. Namun, kali ini Sarah diam saja seperti orang galau.
“Lo ngegalauin apa sih? Kek punya pacar aja ….” Kelly sebenarnya menyindiri dirinya sendiri yang terus saja menjomblo. Gimana enggak jomblo kalau bibirnya sering nyeletuk dan bikin kesal cowok lain.
“Gini loh Kell, masa sih Tasya ngajakin Andi buat KKN bareng ….
Kelly mode rumpi keluar. Ia meluruskan posisi tubuhnya ke arah Sarah. “Ah masa sih? Sumpah nih ye, jaman sekarang banyak cewek pelakor gitu. Lo mau?
“Gimana ya … sebenarnya gue mau bareng sama Andi. Apalagi nanti ada Nanang tuh temen dari SMA gue. Tapi di sana ada Tasya.”
“Eh tahu ga Sar ….”
“Apa tuh?”
“Tahu itu temennya tempe ….”
Wajah Sarah berubah datar. “Seriuslah, gue karate nih lu lama-lama.”
“Heheh … gue canda. Ngamuk mulu kaya ibu kantin.” Kelly tersenyum sebentar. “Katanya nih ya, KKN itu dijadiin ajang nyari pacar baru atau selingkuhan loh.”
“Masa iya sih? Seriuslah Kell ….” Sarah memegang tangan Kelly.
“Beneran, gue kan sering denger cerita-cerita senior gitu yang udah pernah KKN. Katanya ada banyak yang pacaran setelah masa KKN mereka. Gimana ga deket, terkadang mereka tinggal satu rumah di posko KKN. Tiap hari ketemu, pagi sarapan bareng, malam nanti ngumpul bareng. Ada juga yang mutusin pacarnya sendiri buat pacaran sama PDKT-an di KKN. Gue khawatirnya itu sih ….”
Sarah memejamkan matanya. “Awas aja ada cewek yang deketin Andi waktu KKN. Gue bikin mampus tuh cewek!”
“Serius loh Sar. Ada juga yang ga balek dari desa karena pacaran sama warga desanya sendiri. Parah ga tuh kalau itu benar-benar terjadi ….”
“Gue ga bayangin Andi pacaran sama gadis desa, dia nanti ga balek-balek. Gue kudu gimana nih Kelly?”
Kelly menghela napas sesaat. “Menurut gue sih Sar, ada baiknya lo kalau ikut dengan Andi. Lo bisa bareng sama Andi dan Nanang, sekaligus ngawasin Andi gitu. Lo mau waktu ada KKN, ternyata ada kisah-kisah kek di novel gitu. Mereka makan bareng di tepi sungai desa, terus pergi mandi bareng.”
__ADS_1
“Ya kali Andi mandi bareng sama cewek di desa. Bisa diarak satu kampung dia nanti,” balas Sarah.
“Gambarannya gitu Sar. Ya, itu semua sih tergantung elo juga.”
“Aduh … gue harus gimana ini!” Sarah memegangi kepalanya. “Kayanya gue harus ikut dengan Andi deh. Gue bisa ngawasin Andi selama KKN, takutnya Tasya malah nyosor kaga jelas sih. Selain itu, Nabe juga bisa jadi partner gue. Dia anak yang baik.”
Sarah belum tahu aja nih kelakuan antara Andi dan Nabe, meskipun akhir-akhir ini mereka berdua hanya bersikap sebagai teman saja. Nabe udah nyadar diri dengan posisinya, tidak ingin mengganggu hubungan orang lain.
“Betul tuh, saran gue ikut saja sama keputusan Andi.”
“Lo ikut gue ya?” pinta Sarah. “Kita bisa bareng.”
“Ih … gue kan ga kenal sama temen-temen lo.”
“Lo makin ga kenal kalau ikut KKN reguler. Nanti lo malah nyendiri di kamar karena kurang adaptasi.”
Wanita itu diam sejenak untuk berpikir. “Kayanya boleh deh. Kita bisa bareng juga nanti kan?”
“Oke deh … nanti gue bilang ke Andi dan lo serahin aja berkas-berkas yang dibutuhin ke gue nanti.”
Sarah kembali menyantap bakso tusuknya yang tinggal tiga biji. Selebihnya udah dimakan sama Kelly,
“Lah … lo kok makan bakso tusuk pedas punya gue?!” protes Sarah.
“Nah mulai nih normal,” pungkas Kelly.
Andi sudah diberitahu dengan perubahan rencana Sarah. Tentu saja Andi senang atas keputusan Sarah tersebut. Untuk merayakannya, mereka makan bakso Mas Agus di malam harinya. Kebetulan sekali Agus berubah profesi jadi mas-mas bakso kalau hari sudah malam, bukan buat ngincar bandar narkoba, melainkan memang untuk jualan. Meskipun Kelly turut diajak oleh pacarnya itu, ia berharap Kelly tidak jadi orang yang menyebalkan nanti. Takutnya nih Nanang jadi korban selanjutnya, soalnya Nanang sering aneh-aneh kelakuannya.
Untuk pertama kalinya Andi berkunjung ke Fakultas Psikologi untuk menagih berkas-berkas Nanang yang setuju dengan rencana ini. Mata Andi celingak-celinguk kiri dan kanan melihat fakultas orang lain lebih indah daripada fakultasnya sendiri. Di kala fakultasnya harus berpanas-panasan, ternyata di sini setiap kelas ada pendingin udara. WIFI full nonsto dua puluh empat jam. Taman fakultas berada di tengah-tengah karena gedungnya mengelilingi taman tersebut. Kalau dilihat dari lantai tiga, terlihatlah rimbun taman Fakultas Psikologi yang rindang.
Andi berjalan ke Fakultas Psikologi jadi ngerasa aneh kenapa setiap sudut fakultas banyak cewek-cewek. Ceweknya pun bening-bening, beda banget sama jurusannya yang berisikan para pejantan tangguh jago berlolahraga, ototnya gede-gede. Sesampainya di kelas Nanang yang sesuai jadwal, Andi menunggu di luar.
“Woi, bengong aja elu …”
__ADS_1
Ternyata itu Nanang yang mengintip dari jendela. Ia pun keluar karena sahabatnya tersebut sudah datang. Seluruh berkas yang dibutuhkan sudah ia siapkan untuk diberikan kepada Andi.
“Bagus banget fakultas lo …”
“Nih berkas gue ….” Nanang memberikan berkas-berkasnya di dalam sebuah plastik bening. “Tentu dong fakultas gue bagus. UKT-nya mahal, tapi tamatnya lama.”
“Banyak banget cewek di sini, sayang banget lo ga bisa ngedapetin cewek-cewek yang berceceran.”
“Ga tau tuh, jurusan gue memang isinya cewek kebanyakan. Sekelas aja, cowoknya delapan orang, selebihnya cewek. Enak kan di fakultas gue. Ayo pindah jurusan ….”
“Bodo … masa gue ngulang dari semester satu lagi sih.” Andi menyimpan berkas-berkas Nanang ke dalam tasnya. “Oke, nanti gue kasih ke Tasya ya.”
“Enak nih ada Tasya, Tiap hari gue liatin cewek bening nanti hehehe ….”
“Dia itu aneh … asal lo tahu⸺”
Seorang wanita menyela kalimat Andi.
“Siapa yang aneh?”
Waktu Andi menoleh, ternyata itu Ipit yang ingin masuk ke kelasnya Nanang. Ternyata, wanita itu mengambil kelas yang sama untuk semester ini.
“Elo aneh … hehehe … gimana dengan Memet?”
“Apaan sih?” Ipit dengan malu-malu masuk ke dalam kelas.
“Lo kok kenal sama dia?” tanya Nanang dengan aneh.
“Ga ada … dia barista café di jurusan kedokteran. Kebetulan ….” Andi mendekatkan wajahnya ke Nanang. “Dia akhir-akhir ini dekat dengan Memet.”
“Uanjir? Dia dekat sama Ipit?”
Ternyata Nanang kalah saing sama Memet. Padahal, Nanang lebih good-looking daripada Memet sendiri.
__ADS_1
***