
Jangan Rebutin Gue!!!
Awan masih mendung selama beberapa hari. Ia tak mengizinkan cahaya mentari untuk menembus memancarkan pesonya. Mendung nan hitam selaras dengan apa yang dirasakan oleh Andi. Ia merasa tidak ada daya untuk menjalani hari. Pikirannya penuh dengan ngiang kalimat Sarah sewaktu itu.
Lo bukan siapa-siapa gue ...
Memang benar, Andi bukanlah siapa-siapa bagi Sarah. Ia hanya benalu yang tumbuh di kehidupan Sarah dan tak sengaja jatuh cinta. Ia hanya orang yang selalu membuat Sarah kesal dan marah. Sarah pantas untuk menolaknya.
Andi berpangku tangan di meja belakang kelas Nanang. Ia tak henti-henti menatap foto presiden yang dinding. Seketika ia terbesit imajinasi untuk menjadi presiden dengan menetapkan kebijakan perlindungan bagi para jomblo yang patah hati. Jomblo yang patah hati bakal diberi bimbingan psikologis agar tidak larut dengan kegalauan.
"Udahlah, Boy. Kumbang tak hanya seekor, bunga tak hanya setangkai, wanita tidaklah seorang di dunia ini," ucap Nanang sambil merangkul Andi.
"Tapi yang kaya Sarah cuma satu orang." Andi menjatuhkan wajahnya ke meja.
Agus yang sedari tadi enak tiduran di lantai, akhirnya mendekat. Ia cukup prihatin melihat Andi yang galau kaya ditinggal bini.
"Kayanya lo kurang AOJ, deh."
"Apaan, tuh?" tanya Felix.
"Asupan Orang Jomblo." Agus memperlihatkan koleksi kumpulan anime yang ceweknya kawaii. "Cewek 2D lebih menarik. Lo bisa milih waifu lo yang mana. Kalau gua Asuna di Sword At Online."
Bagi para wibu di dunia ini, waifu sangatlah penting. Waifu berasal dari kata wife yang berarti istri. Kalau di bahasa Jepang-in, jadi waifu. Jadi para wibu di dunia ini bakal milih satu cewek anime yang bakalan dijadiin waifu. Aneh banget ya ....
"Gua udah ditolak lagi sama Sarah," kata Andi.
"Bukannya lo udah ditolak, masa ditolak lagi?" tanya Felix.
Kepala Andi mengangguk. Ia menggali momen senja waktu itu.
"Dia bilang kalau gua bukanlah siapa-siapanya dia. Dan gua cuma sekedar cowok biasa yang ga sengaja jatuh cinta sama dia."
"Masa Sarah bilang gitu?" Agus mengerutkan keningnya. Ia tidak mengira Sarah akan berkata seperti itu.
"Iya ... Sarah juga pernah bilang kalau gue bisa sepuluh besar di kelas, Sarah bakal menimbang buat nerima gua. Tapi itu kan masih mikir-mikir dulu, belum tentu dia nerima."
Anak Amak seketika terdiam. Sepuluh besar merupakan hal yang paling mustahil bagi mereka. Cuma Felix yang pernah masuk sepuluh besar, itu pun dengan sangat susah payah. Rata-rata mereka masuk peringkat dua puluhan di kelas.
Tangan Agus merangkul Andi. Ia dekatkan wajahnya untuk mengatakan sesuatu.
"Gue setuju lo mundur duluan. Sepuluh besar itu ga mungkin bagi kita. Lo tau kan lo dulu peringkat berapa?"
"Peringkat tiga empat dari tiga lima murid," balas Andi. Ia berdiri dan melebarkan tangannya "Ayo. cari angin."
"AYO!!!!"
Seperti biasanya mereka melangkah di koridor udah kaya cowok paling populer di dunia. Setiap adik kelas yang bersua, mereka pasti akan menyapa. Kalau ada komplotan lain yang lewat, mereka sudah dipastikan menghindar. Kecuali satu kelompok, yaitu anak KODOMO.
Tepat di lapangan basket, Anak Amak dan anak KODOMO bertemu. Mata Andi langsung tertuju ke pria paling tinggi di antara mereka. Wangi parfumnya bisa dilacak dalam jarak lima meter. Ia tampak memakai sebuah sweater yang terlihat seperti baru. Itulah sweater yang ia beli bersama Sarah malam itu.
Langkah mereka terhenti saat anak KODOMO berada di hadapan. Seperti kubu Genjeh dan Serizawa di pilem Crows Zero, mereka saling menatap sinis. Andi dan Pram saling berhadap-hadapan.
"Udah dong, Andi. Kita masih baikan sama mereka," bujuk Agus sambil menepuk pundaknya.
Kalimat Agus tidak ia pedulikan. Andi tetap menatap sinis Pram.
"Udah puas lo?" tanya Andi pada Pram.
__ADS_1
"Lo ga suka kalau gue jalan sama Sarah? Dia bukan siapa-siapa lo. Lo ga punya hak ngelarang dia ini itu."
"Gua suka sama dia. Lo ga boleh nyentuh Sarah sama sekali." Andi menggeleng. Tampak dari kejauhan Kevin berlari karena melihat Andi dan Pram sedang berseteru. "Sama seperti waktu gue ngelepas Raisa untuk lo."
Tangan Pram mengepal kuat. Ia tidak suka jika nama Raisa disebut di depannya. Wanita itu pernah membuatnya patah hati. Penyebab dari kegilaannya selama ini. Karena wanita itu Pram jadi lupa diri. Patah hati yang ia rasakan, membuat dirinya ingin mengenal banyak wanita dan berharap membuat Raisa cemburu akan hal itu.
Namun, pada akhirnya ia sadar jika semua yang ia rasakan
Ternyata dia yang lo izinkan buat merjuaingin hati lo, Sarah, ucap Pram dalam hati.
Malam itu, Pram berusaha untuk merebut Sarah kembali. Ia menarik kalimatnya untuk menyerah dan membalikkan kalimat itu dengan terus meperjuangkan hati Sarah. Sarah memanglah punya perasaan padanya, bahkan perasaan itu lebih dahulu tumbuh sebelum hatinya direbut oleh pria di hadapan Pram. Namun, Sarah menolak akan tawarannya itu. Ia telah memilih seseorang, seseorang yang diperbolehkan mengambil hatinya.
"Udah, Pram. Kan udah gua bilang ... lo ga perlu ngancurin hubungan orang lain." Kevin datang di saat yang tepat. Saat itu, Pram ingin menyerang Andi sesegera mungkin.
"AYO SELESAIKAN SECARA JANTAN!!!" ucap Pram dengan tegas.
Suara Pram sangat menggelegar hingga seluruh murid di area lapangan basket melihat ke arah mereka. Seketika itu juga Tami sangat panik karena di sana ada Andi. Ia takut jika Andi akan bermasalah lagi di sekolah. Cukup ia telah mendengar dari Sarah bahwa Andi sangat trauma jika selalu dimarahi oleh guru.
Dengan cepat Tami belari ke kelas untuk menemui Sarah. Di sana Sarah sedang duduk di kursinya. Ia sedang asyik memainkan sesuatu di handphone-nya.
"Wooo ... Tank ***. Ngapain lo nge-buff. Gue assassin, harusnya gue yang dapet buff." Sarah menekan-nekan layar handphone dengan keras.
"Sarah!!!" panggil Tami.
"Apa?" Sarah melihat sejenak, lalu kembali menatap game Mobail Lejen yang MOBA kok analog itu.
"Itu, ada yang kelahi." Tami menggoncang-goncang tubuh Sarah.
Sarah terasa terganggu oleh tamu yang tak diundang ini. Apalagi ia sedang di dalam war yang perlu konsentrasi tinggi agar memenangkan war. Kalau tidak, bisa-bisa mereka bakal wipe out oleh tim lawan.
"Apaan, sih? Jangan ganggu gue lah," balas Sarah. Ia memalingkan tubuhnya dari Tami.
Tangan Tami kembali menggoncang tubuh Sarah.
Mata Sarah menatap tajam ke Tami. "Eh, malah ngatain game gue gamenya bocah lagi!!! Emangnya lo bisa bikin game?"
"Itu ada yang kelahi!!!"
"Biarin aja ... gue lagi push rank. Lo kira main di mythic mudah? Susah payah gue naikin ke mythic."
Tami terus saja menggoncang tubuh Sarah agar ia berhenti bermain mobail lejen.
"Sarah, Andi lagi kelahi. Tolong kamu pisahin mereka," kata Tami. Ia semakin panik karena takut perkelahian itu semakin memanas. "Mereka nyelesainnnya dengan cara jantan!!! Btw, nyelesain dengan cara jantan, gimana ya?"
Wajah Sarah memelas. Betapa polosnya gadis kecil yang kaya loli legal ini.
"Main masak-masakan," ucap Sarah. Ia semakin kesal karena salah satu temen mereka mati gara-gara tower. "Ya kelahi dong ... masa ga tau. Udah sana, dong. Gue lagi serius main. Udah marksman kami banyak bacotnya lagi. Aduh dapet tim kok gini, sih!!!"
"Itu ... Andi lagi kelahi!!!"
"Eh, mau dia kelahi, mau dia manjat pagar, mau dia manjatin tiang bendera, gue kaga peduli. Dia udah biasa kaya gitu. "
"Tapi, kamu suka kan sama dia walaupun Andi kaya gitu???" Tami tersenyum licik. Namun, ia sadar bahwa tidak ada waktu buat tersenyum. Tami kembali mengguncang badan Sarah.
"Jangan keras-keras, dong. Kan ... aduh ... lo ember banget, sih!!!! Udah sana. Bisa-bisa peringkat gue di top global bisa tergusur nih gara-gara lo."
"ANDI KELAHI SAMA PRAM!!!!!!"
"APA??? KENAPA GA BILANG DARI TADI????" tanya Sarah dengan keras.
"YAA LO AJA YANG GA MAU DENGERIN GUE!!!!"
__ADS_1
"WOI, JANGAN RIBUT. GUE MAU TIDUR!!!" kata cowok di lantai yang lagi tiduran.
Sarah dan Tami langsung menuju ke tekape, tepatnya di lapangan basket. Tami larinya kaya atlet bola yang lari ngejar umpan lambung, kenceng banget. Sarah lari sambil mainin mobail lejennya. Untung aja waktu dia lari, tower utama lawan bisa dihancurin. Akhirnya dia bisa menang walaupun digangguin oleh Tami sedari tadi.
Lapangan basket penuh dengan murid-murid yang menyaksikan perseteruan antara Anak Amak dan KODOMO. Sudah lama mereka tidak berseteru seperti ini, terakhir kali mereka kelahi gara-gara berebutan WC buat ngerokok. Itu pun berhasil dilerai oleh Sarah sendiri.
Murid mengelilingi lapangan basket yang luas. Bahkan dari bangunan sekolah yang berlantai tiga, tetap aja murid yang melihat dari atas. Bahkan Pak Satpam dengan asyiknya ngerokok sambil melihat kegaduhan di tengah lapangan basket. Sarah dan Tami kesusahan untuk menembus desak-desakan murid yang ingin melihat.
"AIR PANAS!!! AIR PANAS!!!!" ucap Sarah sambil melewati desak-desakan murid.
"Tami ... tolong aku!!! Aku terjepit!!!" pinta Tami di desak-desakan murid. Ia seakan tenggelam oleh tingginya anak-anak cowok yang badannya gede-gede.
"Gue ga bisa menggapai lo, Tami. Bertahanlah, gue akan ke sana."
Sarah menembus murid-murid untuk menyelamatkan Tami tenggelam oleh lautan umat.
Lah, ini sekolah atau orang lagi kampanye, sih???? Ramenya pake banget ...
"Sudahlah, Sarah. Teruskan perjuangan kamu. Selamatkan Andi."
Sarah hanya melihat tangannya Tami saja hingga akhirnya Tami benar-benar tertutup oleh desak-desakan para murid.
"Baiklah, jasa lo bakal gue kenang, Tami."
Tangan Sarah terus mendorong murid-murid yang berdesak-desakan untuk melihat apa yang sedang terjadi di lapangan basket. Satu per satu murid berhasil ia lewati. Bagaikan mendaki gunung dan melewati lembah kaya soundtrack-nya anime Ninja Hatori. Ia sangat bersusah payah. Ditambah lagi ketek-ketek anak cowok yang baunya naujubillah bikin hidung kriting.
Sumpah ini lebay banget, thor ...
Satu barisan lagi berhasil ia lewati. Sarah melihat cahaya yang pertanda ujung dari desak-desakan murid. Udah kaya tersesat di goa yang dalam saja.
Benar, Andi dan teman-temannya sedang berhadapan dengan komplotan Kevin. Wajah mereka sepertinya bersiap-siap untuk bertarung. Sarah dengan cepat berlari untuk melerai mereka berdua, karena Andi dan Pram lah yang berada paling depan. Tidak ia pedulikan para murid yang sedang melihatnya, ia berteriak di tengah-tengah Andi dan Pram.
"STOPPP!!!!!" teriak Sarah. Semua murid melihat ke arah Sarah. "Udah jangan kelahi, kaya anak kecil aja."
Tiba-tiba terdengar suara peluit. Seluruh murid saling berbisik karena melihat tingkah Sarah di tengah lapangan. Ni bocah ngapa yak? Mungkin itu yang sedang mereka bisikkan.
"Woi, Sarah ... lo ngapain, sih?" tanya Dugong si ketua Antophosfer yang sudah membunyikan peluit tadi.
"Sarah? Lo ngapain??" tanya Andi.
"Gue misahin kalian. Jangan ngerebutin gue gitu, dong. Sementang gue cantik."
Pram dan Andi merasa ilfil melihat senyum Sarah yang agak minta ditampol. Tapi sebenanrya Sarah sangatlah panik karena takut Andi dan Pram bakal terlibat di perkelahian yang hebat.
"Siapa yang kelahi?" tanya Pram.
"Kalian berdua."
"HAAA????"
"HAAAA???"
"Kok, heran gitu, sih?" tanya Sarah lagi.
"Demi upil Neptunus, kami lagi tanding futsal!!!"
EH???
Sarah melihat ke sekitar. Ternyata di masung-masing ujung lapangan sudah di letak gawang futsal. Sementara itu, Dugong sebagai wasit tengah membawakan bola untuk pertandingan ini. Matanya mengedar ke segala arah. Ternyata murid-murid bisa sampe sebanyak ini gara-gara pingin ngelihat big match-nya sekolah mereka.
"Bunuh gue sekarang, plis!!!!"
__ADS_1
***