Andi X Sarah

Andi X Sarah
16. Kedai Soto (SEASON 2)


__ADS_3

Kedai Soto


Malam tadi Andi begadang sampe pagi gara-gara nonton bola di pos ronda. Padahal esok hari ia akan datang ke sekolah, eh malamnya enggak tidur malah begadang. Tentu saja pagi hari Andi terlambat ke sekolah karena ketiduran. Bayangin aja kan gimana bentuk mata kalau cuma tidur satu jam.


Tanpa sarapan, Andi menyalami Mama untuk pergi ke sekolah. Ia hidupkan motor mautnya untuk menghadapi jalanan kota di pagi hari yang macet banget. Untung aja tadi malam Andi udah masang knalpot yang dikasih sama Sarah. Tapi, ia masih bingung kenapa Sarah bisa dapat knalpot kesayangannya ini.


Memang benar, jelek-jelek gini, motor Andi masih bisa kenceng. Jarak ke sekolah yang biasanya ditempuh dengan lima belas menit, kini bisa dipacu hingga setengahnya. Padahal, pagi-pagi begini jalanan lagi macet-macetnya. Andi enggak mikirin nyawa, mati enggak mati urusan nanti. Yang penting bisa nyampe dengan cepat. *** kan ....


Waktu memang enggak bisa dikejar, Andi tetep aja terlambat. Pak satpam udah duluan mengunci pagar dan terpaksa memarkirkan motor di luar sekolah. Hanya dua cara buat masuk, cara jujur atau cara berandalan yang biasa ia lakukan dahulu bersama temen-temennya.


Ia pergi menuju warung soto samping sekolah dengan diam-diam karena kalau mau ke sana, harus melewati jalan di depan sekolah. Untung aja Pak Satpam udah enggak ada di sana, jadi Andi dengan damai melintas.


"Andi," panggi seseorang.


Lah, ternyata Agus masih nyantai-nyantai di kedai soto. Di mejanya masih tersajikan kopi hitam hangat yang masih beruap tipis. Mulutnya terselipkan sebuah rokok suyra yang biasanya disukai sama bapak-bapak. Waktu Andi mendekat, tercium sekali wangi cengkeh dari asap rokok yang ia semburkan.


"Rokok dulu, lah. Ngopi kek ...." Agus menyodorkan kotak rokok suyra.


"Lo niat sekolah, ga?" Tangan Andi menyambut rokok, walaupun ia bertanya seperti itu.


Agus tertawa. Ia seruput kopi hitam di hadapannnya. "Santai kali ... masa lo kalah sama Naila yang masih makan soto."


"Naila???" tanya Andi.


"Tadi dia di sini, trus gue ikutan duduk di sini." Ia menghembuskan rokoknya. "Mungkin karena terganggu, dia pindah makan sotonya."


"Di mana *****?"


"Di sana, meja domino," balas Agus.


Andi dengan cepat menuju meja domino. Sebagai kakak pembimbing yang berusaha menjadi baik, Andi tidak memperbolehkan adik bimbingannya cabut beginian. Biarkan saja ia yang selalu cabut, junior-juniornya jangan. Tapi, kalau sesekali boleh lah. Suntuk juga kan sekolah mulu.


"Naila," panggil Andi. Terlihat Naila yang lagi makan soto trus nontonin kartun spombob yang dia streaming di handphone.


"Eh, elo ... ngapain ke sini?" tanya Naila tanpa mengarahkan pandangan ke Andi.


"Eh, harusnya gue yang nanya begitu ke elo. Lo ngapain di sini? Orang udah pada masuk!" Andi duduk di depannya.


Naila memandang wajah Andi. Kepalanya memereng ketika berbicara. "Trus, lo ngapain ke sini? kan semuanya juga pada belajar."


"Ih, kok susah banget ya ngomong sama lo, *****. Gue ini terlambat, dan terlambat itu hal yang biasa sama gue, termasuk juga cabut. Lah, elo anak baru udah kaya beginian. Kaya udah jadi senior tenangnya."

__ADS_1


"Ada mancis?" tanya Naila.


Andi menghentak meja. Nih anak malah minta mancis.


"Mau ngerokok lo ya?" tanya Andi. "Woi, walaupun gue enggak ngelarang cewek ngerokok, tapi kalau itu adik bimbingan gue, tetep aja gue enggak setuju."


"Siapa yang mau ngerokok?" Ia langsung mengambil mancis Andi yang ada di saku dada. Ia melihat bayang- bayang mancis di sana. "Ada benang yang keluar nih di baju gue. kayanya jahitannya enggak bagus."


Oh gitu ....


"Lo kalau mau sarapan, pesen aja dulu. Gue yang bayar," kata Naila sambil menyendok soto.


"Gue enggak lapar dan gue minta sekarang juga lo masuk."


Krrghghghghghghghhg, anggap aja ini bunyi perut Andi.


Naila tertawa mendengar suara lapar Andi yang gede banget. Malah pake nolak-nolak segala, eh ketahuan kan suara perutnya lagi ngedemo minta diisi.


"Jangan malu-malu deh kalau sama gue." Wajah Sarah mengarah ke Bude Soto yang lagi ada di dapur. "Sotonya satu lagi, Bude. Pake nasi. Trus teh hangatnya dua."


"Gue kopi, jangan marah kalau gue ngerokok di deket lo," balas Andi.


Eh, mereka malah makan berdua. Jam pelajaran selanjutnya akan berlangsung tiga puluh menit lagi. Nah, sewaktu pergantian mata pelajaran merupakan cara terbaik untuk masuk kembali ke dalam kelas. Kalau dipaksain masuk sekarang, ujung-ujungnya bakalan kena hukum karena dianggap terlambat. Selalu ada hikmah di segala hal. Bahkan, terlambat pun ada hikmahnya. Andi bisa makan dan ngopi gratis karena ketemu sama Naila.


Agus lebih dahulu menyandang tas. Sebelum menuju dinding pagar buat dipanjat, ia menyempatkan diri untuk menghampiri Andi dan Naila yang lagi makan berdua.


"Wah, kalau Sarah tahu kalian makan berdua, bisa bahaya nih." Ia menunjuk Naila. "Nai, lo belum pernah lihat Sarah ngamuk, ya?"


"Belum ... emangnya Kak Sarah suka ngamuk?" tanya Naila dengan polosnya.


Andi dan Agus saling bertatap. Mereka dulu sering banget diamuk oleh Sarah sampe mampus.


"Pokoknya jangan sampe, deh." Ia menyerahkan handphone-nya kepada Andi. "Ndi, Sarah nelpon gue dari tadi nih. Paling nanya lo di mana."


"Jangan diangkat lah .... Dia pasti tahu gue di mana kalau pagi-pagi enggak masuk."


"Serah lo deh. Yaudah ... gue bayar dulu, mau masuk duluan." Ia mengambil handphone-nya.


Langkah Agus dihentikan oleh kalimat Naila. "Eh, gue yang bayar. Lo pergi aja."


"Lah, cewek bar-bar kaya lo ternyata baik juga," sindir Agus. "Lo mirip Sarah bar-bar nya. Cuma bedanya, Sarah itu bar-bar-nya udah over power banget."

__ADS_1


"***** ... Nama lo Agus, ya?" tanya Naila.


Waduh, pake nanya nama segala. Jadi, salting nih gue, ucap Agus dalam hati.


"Oh, iya kita belum kenalan." Agus menjulurkan tangannya untuk bersalaman. "Nama gue Agus, member Anak Amak."


"Oke, gue Naila. Member CBS, Cantik Bohay Seksi."


"Ga sekalian ID LINE gue?"


Andi menyentuh Agus. "Plis ... deh. Lo kebiasaan, deh."


"Yaelah ... enggak seneng lihat temen dapet cewek."


"Emang Naila mau sama lo yang kucel, hah?" tanya Andi.


"Itu sih tergantung Naila." Mata Agus memicing sebelah kepada Naila untuk menggoda.


Lidah Naila keluar kaya orang muntah. Jijik banget diginiin sama senior yang wajahnya kaya om-om.


Agus sudah pergi duluan sedari tadi. Andi dan Naila bersiap-siap di bawah dinding untuk memanjat dinding pagar yang tingginya hampir dua setengah meter. Untung aja selalu siap sedia sebuah tangga cabut yang dicuri dari tukang bangunan yang kerja di sekolah. Tanpa basa-basi, Naila langsung memanjat pagar tersebut, diikuti oleh Andi setelahnya.


"Oh, iya ... kita kan bentar lagi mau kemah, trus disuruh bikin karya buat dipamerin waktu perkemahan. Kita kapan ya buatnya?" tanya Andi. Untuk urusan begini, Andi memang enggak punya ide mau buat apa.


"Peduli apa gue," balas Naila sembari menyetatkan tali tas.


"Bantu gue, dong. Sumpah gue enggak pande bikin yang begituan."


Naila berhenti dan berpaling ke belakang untuk menatap Andi. "Besok sore di rumah gue. Ajak mereka buat bikin karya di sana."


"Emang mau bikin apa?" tanya Andi.


"Datang aja dulu ... gue beli bahan-bahannya. Tapi, pake uang lo dulu. Punya uang, ga?"


Andi menggeleng. Duit Andi bener-bener abis gara servis motornya yang kemarin hancur.


"Kakak pembimbing kok bokek." Naila melanjutkan langkahnya. "Yaudah deh ... pake uang gue. Besok kalian yang sumbang-sumbang buat beli makanan."


"Okeee ...." Andi menunjukkan jempol. Akhirnya Andi enggak perlu pusing lagi mikirin hal tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2