
Nama aku Agus, Agus Toni si anak petani sawit. Aku besar dari uang sawit bapak aku yang dia punya di daerah Riau. Entah kenapa karena itu muka aku jadi itam seperti sawit. Di antara Andi, Agus, sama Felix, memang aku yang paling eksotis mukanya.
Bapak aku orang Jawa tulen yang waktu itu masuk program transmigrasi. Pastinya waktu itu aku belum lahir. Jadi ceritanya bapak aku dipindahin ke Riau, dan diberi lahan untuk diolah. Waktu itu bapak aku dan mamak aku nanamin sawit yang sampai saat ini masih dinikmati hasilnya.
Sebagai orang jawa asli, tentu saja dialeg aku agak kejawa-jawaan gitu, agak medok kebanyakan orang bilang. Logat jawa yang aku punya sering dijadiin bahan candaan kalau ga ada lagi bahan candaan yang Andi punya. Itu anak memang kampret sekali. Tapi, walaupun kampret, dia merupakan salah satu sahabat terbaik aku.
Dua hari yang lalu hasil raport aku akhirnya didapatkan. Alhasil aku bisa dapet peringkat belasan. Lumayan, daripada dua puluhan. Biasanya aku langganan peringkat tiga paling terakhir.
Satu-satunya yang aku takutin waktu pengambilan raport bukanlah nilai aku yang sangat tak seberapa itu. Tapi, yang aku takutin adalah bapak aku. Bapak aku itu makhluk paling ganas senusantara. Dulu kata mamak, bapak aku itu sering ikutan kuda lumping yang makanin beling. Aku takutinya waktu dia marah, eh aku yang disuruh makan beling.
“Lah, nilai segini koe mau pakai buat jadi apa?” tanya Bapak di malam eksekusi.
“Pelajarane susah, Pak. Mau gimana lagi,” ucap aku buat membela diri. Mau gimana pun, Bapak aku bakalan selalu benar.
“Katanya mau masuk AKPOL. Liat mas koe, masuk AKPOL Mbak koe lagi pendidikan dokter. Itu gara otaknya pintar.”
Adu, aku disemprot dengan kata-kata yang membandingkan aku dengan saudara-saudaraku. Bener sih apa yang dibilang Bapak. Mas, aku baru diangkat jadi perwira dua tahun yang lalu. Sekarang lagi dinas di Surabaya. Memang, mas aku itu otaknya encer. Langganan juara satu, beda sama aku. Kalau Mbak, lagi kuliah kedokteran di UI. Dia langganan penampung beasiswa karena kepintarannya.
Tiba-tiba seseorang menyelamatkan aku dari amukan Bapak yang semakin menjadi-jadi. Di luar sana ada Andi yang tengah menunggu. Ternyata tak hanya Andi, setelah kubuka pintu, ternyata ada Nanang dan Felix juga.
“Pak, ini ada rendang telor kerupuk sanjainya juga ada. Papa baru pulang dari Padang,” ucap Andi pada Bapak.
“Oh, matur nuwun. Sampaikan terima kasih Bapak ke papa kamu.” Papa seketika menjadi lunak setelah berjam-jam tidak mood gara aku.
“Agus boleh keluar Om?” tanya Andi.
__ADS_1
Bapak sebenarnya ragu buat ngizinin aku buat pergi main. Tapi, karena melihat Andi dan yang lainnya, akhirnya Bapak ngizinin aku buat keluar. Itulah Andi, selalu datang ketika gue butuhin dia. Cowok paling bangsat, sekaligus cowok paling baik satu Bikini Bottom.
Kami jalan-jalan pake mobil keliling kota. Suntuk kalau libur cuma nyemak di rumah. Belum lagi kena omelan Bapak kalau aku asyik malas-malasan. Jalan-jala begini juga sarana cuci mata bagi kami yang kejonesan udah diambang batas, kecuali Andi yang baru aja jadian sama Sarah. Sue\` anak itu, dulu kerjanya cuma ngehina Sarah sampe telinga aku panas ngedengerin sumpah serapah Andi terhadap Sarah.
Lagu yang diputar mengembalikan ingatanku saat pertama kali ketemu sama Andi. Aku bakal ceritain gimana proses pertemuan kami yang sangat absurd sekali, sama kaya hidup dia.
Waktu itu tahun 2014, saat baru aja senang-senangnya diterima di SMA tercinta. Kami melakukan kemah di kawasan Bogor. Satu angkatan 2014 berangkat menggunakan bus ke tempat kemah. Waktu itu kami belum ada pembagian kelas, jadi belum ada yang kenal satu sama lain.
Aku duduk di samping orang yang sipit banget. Kulitnya putih sekali dan nabrak banget sama aku. Giginya putih, beda sama aku yang kekuningan. Untungnya aku ga cadel kaya dia. Dari cara bicaranya dia emang kurang bisa bilang \`R\`.
“Ih ribut banget tuh Anak. Kaya ayam belum makan,” ucap Felix.
Di belakang ada satu orang yang lagi nyanyi-nyanyi kaya orang gila. Badannya tinggi, tapi sedikit kurusan dari aku. Wajahnya juga ganteng. Sedari tadi cewek-cewek di sini liatin dia juga. Tapi, setelah tau tingkah dia yang agak minta ditampol, semuanya jadi ilfil.
“I WANT YOU … I NEED YOU … I LOVE YOU …” Ia berteriak sambil bergaya kaya member Jekati Forieg. “I LOVE YOU, NATALIA!!!!”
“Namaya siapa?” tanyaku pada Felix waktu itu.
“Andi, Andi Fernanda. Bandel banget. Bayangin aja waktu pendaftaran SMA, dia ngatain aku Cina di depan orang banyak. Untung aja Cece gue ga denger, kalau denger udah dicakar-cakar tuh.”
*Oh pantes aja matanya minimalis banget, dia keturunan Tionghoa rupanya*.
Bus telah sampai dengan selamat ke tempat perkemahan. Lokasinya berada di atas bukit dan udaranya sejuk banget. Awan-awan terlihat sekali menggumpal seperti permen kapas. Tidak butuh lama udara dingin ini membuat ingus meler-meler minta ditarik.
Semuanya berselimut di balik sweater yang dikenakan, termasuk aku. Masing-masing dari mereka jka membawa perlengkapan dan peralatan buat camping. Saat itu mataku tertuju kea rah cewek dengan rambut bergelombang ampir sebahu, kaya kuntilanak penghuni bukit ini.
Orang-orang cuma bawa selimut tidur dan keperluan seadanya saja. Eh, dia malah bawak bantal, bawa kasur, bawa banyak deh pokoknya. Parahnya lagi, dia bawa barang segitu banyak dengan tenaga sendiri. Persis kaya tukang travel yang lagi bawaain barang-barang penumpangnya ke mobil.
“Sarah, banyak banget bawaan lo,” ucap Andi pada cewek itu. Dari situ aku tahu kalau cewek itu bernama Sarah.
__ADS_1
“Sana lo, kenal aja kagak kita.”
“Bukannya kita satu tempat duduk tadi di bus?”
“Mau satu tempat duduk, mau satu bus, mau satu planet gue deket sama lo. Gue ga mau kenal orang aneh kaya lo.”
Seketika itu aku tertawa kecil mendengar percakapan mereka.
Malam perlahan ingin menyambut. Suana sore semakin terasa. Senja nan jingga meninggalkan jejak-jejak di awan yang menguning. Itu pertanda bahwa kita harus siap menerima malam yang gelap. Matahari hanya memancar lemah, terasa berat hingga tak lama kemudian tenggelam digantikan rembulan.
Kemah sudah didirikan oleh kami dengan bimbingan para senior yang sedikit galak. Salah sedikit aja waktu bikin kemah, dia bisa marah-marah ga jelas gitu. Tapi aku santai aja, soalnya bapak aku lebih serem daripada senior-senior itu.
Angkatan kami dibagi dalam sepuluh kelompok yang masing-masing kelompoknya terdiri atas empat orang. Aku dan Felix berharap buat ga satu kelompok sama Andi. Takutnya dia ngejahilin kami waktu di tenda.
Kami mendengar ketua OSIS kami yang tengah membacakan kelompok-kelompoknya. Mbah aku pernah bilang, jangan terlalu takut sama sesuatu, takutnya yang kita takutin bakal ngedatangin kita. Perkataan Mbah itu ternyata benar. Andi satu kelompok sama kami, ditambah satu orang yang masih belum tampak batang hidungnya.
“Oke, jangan ikut-ikutan tawuran sama anak SMK sebelah. Kalau ada senior kamu yang ngajak ikut jadi berandalan sekolah, pokoknya jangan kamu ladenin. Kalau ga salah itu namanya Antophosfer. Entah dari jaman kapan kelompok itu ada. Pokoknya jangan ikutan. Mengerti?” ucap ketua OSIS.
“IYA BANG!!!!!!”
Sumpah itu bukan aku yang teriak, itu Andi.
Waktu sudah menunjukkan jadwal sholat isya. Kami mengambil wudu\` di sebuah sungai mungil yang mengalir tak jauh dari lokasi. Selesai sholat Isya berjemaah, kami dipersilahkan makan dengan mie instan yang dimasak oleh masing-masing kelompok.
Mie instan yang dimasak oleh Felix, langsung disantap di dalam tenda. Andi mengambil dua porsi lebih banyak dari yang lain. Anak itu memang tidak tahu malu. Seakan kami sudah kenal lama dengannya.
“Nama lo siapa?” Andi menatapku. “Iya, elo yang item.”
__ADS_1
*Bangsat ni anak* …
***