Andi X Sarah

Andi X Sarah
142. Ngajar Di SD (SEASON 3)


__ADS_3

Bagaikan nasi sudah jadi bubur, di makan sama Andi dengan penuh berat hati. Ia terpilih menjadi Ketua KKN. Mau mundur ga bisa, mau maju pun mager. Niatnya mau santai-santai sambi melihat suasana asri pedesaan selama sebulan ini, tetapi kini ia harus memikirkan setiap orang yang ia pimpin. Andi sebenarnya punya jiwa pemimpin. Ia anak sulung, satu-satunya pria di rumah, ketua dari Anak Amak, bahkan kalau ada acara-acara pemuda komplek  Andi pasti diminta untuk datang karena pendapat-pendapatnya dan kemauan Andi untuk bergerak. Namun, untuk kali ini saja ia sangat mager untuk terlalu berpartisipasi.


Andi pun mengambil hal positifnya. Menjadi Ketua berarti Andi mempebesar kemungkinan untuk tidak bekerja, kan bawahan yang disuruh kerja. Gini nih mental-mental kompeni VOC yang suka nyiksa. Udahlah mager, malah nyuruh-nyuruh orang. Andi jadi sedikit tenang setelah memikirkan itu.


Sebagai tugas pertama, Andi membagi tugas-tugas yang akan dikerjakan setiap hari. Terdapat jadwal piket pagi dan sore untuk kebersihan posko. Andi juga menetapkan siapa saja yang akan membeli bahan makanan di pasar. Desa Maju Jaya mempunya pasar yang buka setiap hari senin, lalu terdapatl lagi pasar hari jumat yang ada di desa sebelah. Andi ga mau kalau Nabe yang disuruh ke pasar atau pun Tasya, pasti enggak pandai nawar dan malah beli yang aneh-aneh. Jadinya, Andi menetapkan Sarah, Kelly, dan Aulia. Ada pun pria yang yang menemani, nanti akan menyesuaikan.


Sebenarnya WC di posko ada dua, pertama kamar mandi dalam posko dan ****** di luar posko (letaknya di belakang). WC di belakang posko ini tidak ada bak mandi, hanya bisa digunakan untuk kegiatan buang air. Pasti nih Andi sudah memperkirakan sebagaimana rumitnya rebutan giliran mandi. Boleh sih Andi bisa mandi cuma kurang dari tiga menit, tapi kalau modelan kaya Sarah, Andi harus nunggu setengah jam. Ga tau apa aja yang digosok Sarah sewaktu mandi, jadinya bisa lama seperti itu. Nah, Andi berinisiatif jika setiap pagi laki-laki akan menggunakan kamar mandi sehabis solat subuh. Setelah itu, anak perempuan akan bergantian menggunakannya, asal dengan waktu yang efisien. Nanti malah lambat datang ke tempat kegiatan.


Setelah semua orang sudah paham mengenai strategi-strategi Andi yang seperti pelatih bola sewaktu menjelaskannya, mereka kembali tidur ke kamar masing-masing. Esok hari Andi sepertinya harus ke kantor Kepala Desa untuk berkoordinasi mengenai kegiatan.


“Lo kalau ngorok, jangan tidur di samping gue, Nang!” Andi menendang Nanang agar menjauh.


“Gue mana tahu kalai gue ngorok atau enggak. Emangnya gue denger kalau gue lagi ngorok?” Nanang balas menendang Andi.


“Makanya, kalau tidur jangan mangap. Lo tuh tidurnya mangap, posisinya terlentang.” Andi langsung duduk untuk menjelaskan sesuatu, suaranya kaya bapaknya Nanang waktu ceramah. “Rasullah SAW mensunnahkan kita tidur menghadap ke kanan, dan kaki tidak mengarah kiblat. Baca doa dulu sebelum tidur. Kan gitu kata babeh lo.”


“Ah … jangan ingatin gue sama babeh lagi deh, jadi inget kalau gue nilep duit KKN. Takut dosa ….”


“Apa? Lo nilep?”  tanya Rijek.


Yang semulanya Rijek asyikan di depan lapton main game  harvestmoon offline, sekarang malah ikut nimbrung.


“Iye … gue nilep lumayan banyak sih. Kan gue itung-itung tuh, kita seminggu itu iuran kebutuhan harian seratus lima puluh ribu. Kalau tujuh minggu KKN, berarti sekitar satu juta lima puluh rebu. Belum lagi kita ngisi kas KKN seminggunya seratus ribu buat biaya kegiatan. Belum lagi ini itu, pokoknya gue lebih-lebihin deh ….”


“Memang anak Dajjal!” Andi menampol kepala Nanang. “Pantes babeh elo berkali-kali ngerukyah elo waktu SMA. Perangai macam ini!”


“Heheh gue juga sih, gue nilep ampir sejutaan.” Rijek malah jujur.


Andi menggeleng-geleng. Ternyata masih mendingan dirinya yang jujur apa adanya kepada Mama di rumah. Iruan segitu, ya yang dikasih segitu. Pasti ada juga mamanya Andi ngasih uang saku, lalu ditambah dengan tabungan Andi buat jajan harian.


“Udah … ga ngerti lagi gue. Gue sekamar sama dua anak Dajjal.” Andi langsung menyelimut diri. Tanpa pendingan udara pun, udara kamar juga sudah terasa dingin. Lantai aja kaya beku nih karena dinginnya malam. “Ah, gue mau tidur dulu. Met bobok.”

__ADS_1


“Jangan lupa bangun cepet besok ye. Kite mau ke Kantor Kepala Desa buat berurusan,” saran Nanang.


“Iya … iya, emangnya gue elo ….”


Singkat cerita, malam pun berakhir. Andi telat solat subuh, lalu diseret sama Sarah karena cowok yang lain solat subuh di Masjid Desa. Memang sih kelakuan Nanang kaya anak Dajjal, tapi dia yang berinisiatif ngajakin Rijek buat solat subuh di masjid. Karena mendengar Sarah yang udah ngomel-ngomel karena Andi solat subuh di pukul setengah enam, Andi langsung bergegas ke solat subuh.


Andi selesai mandi, malah tidur lagi karena ngantuk. Ia berpikir kalau nungguin semuanya selesai, malah rugi. Mending tidur dulu sampe semuanya selesai. Ternyata, Andi tidurnya kebablasan. Matahari sudah naik di pukul delapan pagi. Rijek dan Nanang terlihat tidak ada di dalam kamar. Hati Andi langsung cemas karena takut Sarah marah-marah lagi. Ia pergi ke kamar mandi karena harus cuci muka lagi biar seger.


Tangan Andi membuka pintu kamar mandi, terlihat deh orang yang lagi mandi. Tubuhnya masih bersisa sabun. Mata Andi langsung melotot ngelihat orang mandi pagi-pagi begini. Tibat-tiba aja gayung nempel ke mukanya Andi. Yang mandi tersebut ialah Nabe, kepalanya pun lagi sampoan.


“Goblok! Tutup Goblok! Lo mau dibunuh Sarah?” Nabe langsung menutup tubuhnya dengan handuk yang masih tergantung.


Sungguh Andi seakan melihat surga di pagi hari. Memayagkan Nabe lagi mandi, bikin Andi jadi mimisan.


“Eh sorry-sorry, gue ga tau .. maksudnya gue … gue ga ingat kalau sekarang jadwalnya cewek mandi. Gue sorry banget, gue bukan bermaksud⸺” Andi panik dengan kalimatnya.


“Sorrynya nanti dulu anjir! Tutup dulu, nanti ada yang lihat. Kalau lo mau sama gue, nanti di kota gue kasih, jangan sekarang!” Nabe ngelempar Andi lagi dengan sabun batangan.


“Mampus gue! Pasti akward banget nanti nih ….”


Tidak ingin ambil pusing, Andi memutari posko biar tidak dikira masih berada di dalam rumah. Di depan rumah, anak KKN yang lain sedang sibuk menyapu halaman rumput yang penuh dengan dedaunan kering pohon jambu. Ada juga yang sedang mencabuti rumput-rumput liar yang cenderung tinggi. Anak laki-laki tidak ada Andi dapati bersama mereka.


“Lo kaya orang depresi, abis ngapain?”


“Itu … hmm … gue tadi abis dari hutan belakang. Gue ngelihat tokek ….”


Mata Sarah memicing curiga. “Sejak kapan lo takut sama tokek? Emangnya tokek nyeremin?”


Aduh … kenapa tokek sih? Ular kan bisa!  Andi jadi nyesel.


“Tokek itu bisa ngegigit loh ….”

__ADS_1


“Pasti dia mau ngintipin cewek mandi. Kan daerah belakang itu ada sungai ….”


Sudah tahu siapa yang menyindir ini kalau bukan Kelly.


“Eh, itu mulut mau gue masukin tokek biar diam dikit?!


“Aneh lo pagi-pagi ini ….”


“Sumpah gue ngelihat tokek, kaya kuntilanak suaranya.”


Sarah pun mengabaikan Andi karena penuh dengan ketidakjelasan. Tidak lama kemudian, Nabe  baru saja berdiri di depan pintu dengan handuk membalut rambut atasnya.. Ia memandangi Andi sinis karena sudah ngintipin dirinya mandi di pagi hari. Memang sih ga kenapa-kenapa, tapi takutnya Sarah tahu dan bikin urusan KKN ini jadi barabe.


Untung gue suka sama lo goblok! Kalau enggak … udah gue jitakin tuh anak!  ucap Nabe di dalam hati.


Segera Andi lupaka kejadian tadi, kini ia mengajak Nanang dan Rijek menuju Kantor Kepala Desa. Tentu saja Andi tidak lagi bisa memakai baju kaos dan celana jeans robek-robek. Kini, Andi setelah anak baik-baik. Pakai kemeja dan celana hitam bahan, lalu pakai sepatu pantofel biar sopan dan formal. Menurut Andi, dia sudah seperti sepupunya di Padang yang merupakan mahasiswa UIN. Soalnya anak UIN berkuliah terbiasa memakai celana bahan warna hitam dan tidak boleh memakai jeans.


Seluruh rancangan kegiatan dijelaskan satu per satu kepada Pak Kades. Pak Kades pun memahaminya dan turut memberikan keleluasaan gerak bagi anak KKN di des aini. Seluruh fasilitas bisa digunakan semata-mata untuk lancarnya kegiatan. Andi jadi senang mendengar itu karena tidak ada banyak intervensi dari pihak desa yang mengatur mereka dalam berkegiatan. Namun, Pak Kades meminta anak KKN untuk aktif di SD Negeri Maju Jaya yang butuh mahasiswa-mahasiswa cerdas mereka. Setidaknya, ada satu atau dua orang yang berada di SD tersebut hingga jam sekolah berakhir.


Andi dan kedua temannya malah disuruh sarapan dulu bersama sekretari Pak Kades. Ternyata, Pak Kades punya sekretaris muda cantik yang merupakan juga lulusan universitas di kota. Mumpung baru lulus, ia mengabdi dulu kepada desanya sendiri. Setelah jamuan sarapan, Andi pulang ke posko untuk memberitahukan hasil diskusi tadi.


“Gini guys, pokoknya kegiatan kita aman deh. Tapi, setiap hari kita diminta buat aktif di SD Negeri Maju Jaya di desa ini. Buat hari ini, gue deh sebagai perwakilan laki-laki. Kalian berunding dulu siapa yang dari perwakilan anak cewek,” jelas Andi kepada mereka.


“Gue mau deh, ke SD kan? Kayanya asyik ….” Tiba-tiba saja Tasya menawarkan diri.


“Boleh banget tuh ….” Kelly setuju karena mager. “Elo aja heheh ….”


Aulia turut menyetujuinya. “Iya bener, elo sih aja si Tasya. Kan elo pinter ….”


“Ya sudah … gue siap-siap dulu ya, guys.”


Andi masuk ke dalam kamar untuk mengambil perlengkapan yang mungkin digunakan di sekolah. Dalam hati Andi berkata cemas, pasti Sarah mikir yang enggak-enggak mengenai Tasya. Andi menangkap hal itu dari wajah Sarah tadi. Padahal, sebelum KKN Andi sudah berkata jika harus bersikap profesional selama kegiatan KKN.

__ADS_1


***


__ADS_2