Andi X Sarah

Andi X Sarah
109. Sup Buatan Memet (SEASON 3)


__ADS_3

Uhuk uhuk …. Anggap saja ini bunyi batuk, kan bunyinya memang begitu.


Tami terdengar batuk-batuk sewaktu menelpon Memet untuk dibelikkan obat dan vitamin. Entah kenapa Tami kesehatannya menurun, padahal ia selalu menjaga pola makan dan istirahat. Memet pun berasumsi mungkin saja Tami demam karena perubahan cuaca yang akhir-akhir ini drastis, sekalinya panas ya panas banget, lalu bisa saja tiba-tiba jadi hujan. Dengan semangat empat lima, Memet menerobos hujan malam agar bisa ke apotik terdekat.


Tentu saja Memet khawatir kalau Tami demam. Jangankan demam, Tami digigit nyamuk aja bisa bikin Memet bertarung satu lawan satu melawan nyamuk tersebut hingga dapat. Terlebih lagi dengan aktivitas Tami yang padat, pergi pagi pulang sore untuk bekerja. Pastinya demam itu akan mengangguk produktifitas kerja wanita itu.


“Samlekoom!” Memet mengetuk rumah Tami.


Tidak lama kemudian, keluarlah Sarah yang lagi minum susu kotak vanilla faforitnya.


“Lo habis kena badai atau gimana?”


Sudah jelas malam ini sedang hujan deras dan berpetir, Sarah malah bertanya seperti itu. Memet pun sekarang dalam keadaan bermantel hujan. Kencangnya angin pun membuat sebagian tubuhnya basah.


“Enggak kok, di luar kan sedang aman tentram kaya di surga.” Memet bersin beberapa kali hinga Sarah menutup hidungnya. “Tami mana? Gimana keadaannya?”


“Ya demamnya masih belum turun. Dia lagi tidur di kamar.”


“Boleh gue lihat ga?”


“GA!” Sarah mengambil plastik obat-obatan yang Memet bawa. “Masa lo masuk ke kamar anak gadis. Betewe, Tami berterima kasih banget dengan ini. Untung ada lo … kalau Andi mager dia, apalagi males basah-basahan begini.”


“Bukan apa-apa kok, ini demi Tami juga ….” Memet tersenyum kecut. Bagaimana tidak kecut bibirnya, Memet sedang menggigil karena dinginnya hujan.


“Ya udah … gue urus Tami dulu ya. Lo tenang aja, Tami bakalan baik-baik aja sama gue.”


Memet mengangguk. “Iya, lo kan calon dokter. Pokoknya kalau ada apa-apa sama Tami, bilang aja ke gue kok. Gue ada di pos ronda malam ini.”


“Oke, makasih banyak ya Memet …. Byee!”


Pintu tertutup keras di hadapan Memet. Memet pun harap maklum karena yang menyambutnya ini bukan cewek pada umumnya yang bisa berlemah lembut kepada pria. Setelah itu, Memet kembali berkutat sebagai seksi keamanan malam di pos ronda komplek. Saking dinginnya malam ini, Memet sampai berselimut tebal di ranjang pos ronda. Bahkan, ia tidak peduli lagi siapa saja yang sedang masuk di gerbang. Mau maling, mau apak, pokoknya Memet mau angetin diri dulu.


Hujan tidak berhenti hingga subuh hari datang. Memet menunggu hujan semalaman sembari mengopi bareng sama bapak-bapak pos ronda dan Andi yang menyempatkan nongkrong di sana. Lalu, pos ronda kembali sepi tatkala Andi pamit di pukul dua dini hari yang masih hujan. Hanya Memet yang masih bertahan di sana, hingga hujan berhenti total di pukul setengah enam pagi.


Sebelum bekerja, Memet menyempatkan diri untuk singgah di rumah Tami. Sempat ia melihat Andi yang sedang menyirami tanaman karena menjadi kerja rodi rutin setiap pagi,


“Woi, nyariin Tami?” tanya Andi setelah mematikan air kran.


“Iya … Taminya ada kan?” tanya Memet sembari melepaskan helm.

__ADS_1


“Tami pergi kerja hari ini.”


“Lah katanya dia demam?” tanya Memet lagi.


“Iya ya? Gue lihat dia mesen Bo-Car tadi buat pergi kerja. Mungkin aja sih dia lagi demam. Tami kan selalu bawa mobil pribadi kalau kerja. Kali aja dia enggak sanggup nyetir sendiri.”


Memet kembali memasang helm dan menghidupkan motornya untuk bergegas pergi bekerja. “Oh oke deh, Ndi. Makasih banget ya. Gue pergi kerja dulu.”


Bukannya kata `sama-sama` yang Memet terima\, dia malah disembur air selan sama Andi sewaktu melintas depan rumahnya.


Sepanjang pagi ini Memet kepikiran terus kepada Tami yang sedang sakit. Tami sudah pasti memaksakan diri untuk tetap pergi bekerja dalam keadaan demamnya tersebut. Dia sadar kalau Tami tidaklah sekuat itu untuk bertahan sepanjang hari menahan lemasnya tubuh. Rasa khawatirnya itu membawa Memet untuk meminta izin kepada bos untuk izin pulang sebentar di pukul sebelas pagi dan berjanji kembali ketika pukul dua siang dengan alasan orangtua yang sakit. Ya yang namanya bucin, Memet rela ngibulin bosnya sendiri. Memet berinisiatif untuk membuatkan Tami sup hangat dengan harapan bisa menjadi moodbooster bagi Tami nantinya.


Sebelum itu, Memet meminta tolong kepada Sarah untuk membeli bahan-bahan pembuat sup dan diantarkan langsung ke rumahnya. Sewaktu Memet tiba di rumahnya, ternyata Andi yang membawa bahan-bahan tersebut. Temannya itu sedang menunggu di teras rumah sembari menikmati rokok.


“Lah kok elo?” tanya Memet.


“Gue disuruh Sarah buat ngantarin ini ke elo. Tapi, di rumah kaga ada siapa-siapa.”


“Oh oke … makasih banget ya.” Memet membuka pintu rumah. Benar apa yang dikatakan oleh Andi, Emak sedang pergi keluar rumah bersama adiknya. “Masuk dulu ngopi ….”


“Tumben lo masak di rumah?” tanya Andi.


Bahu Andi ditepuk oleh Memet untuk menyemangatinya. “Oke … biar gue bantu sini.”


“Temenin gue ngantarin sup itu nanti ya? Ga sanggup gue ngantarnya sendiri.”


“Siipp … untuk Memet apa yang enggak.” Andi memberikan jempolnya.


Mengenai soal masak di dapur, Memet jauh lebih baik daripada Andi. Oleh karena itu, Memet memberi tugas kepada Andi hanya untuk memotong bahan makanan. Sementara yang memberi bumbu dan memasaknya, Memet yang bertanggung jawab. Masakannya kali ini sekaligus dibikin banyak agar meringankan beban Emak hari ini. Lumayan juga kalau Emak pulang dan menemui masakan yang sudah tersedia di dapur.


“Harum banget Met. Lo belajar dari mana?” tanya Andi dengan heran tatkala mencium lezatnya sup buatan Memet.


“Ya diajarin emak gue dong. Emangnya elo yang cuma pandai makan aja,” sindir Memet.


Memet meminta Andi untuk menyicipi supnya kali ini. Jelas sekali eskpresi Andi yang tidak bisa menyembunyikan kelezatan sup tersebut. Mereka yakin jika sup ini akan membuat Tami senang dan tambah sehat karena dibuat dengan penuh cinta.


Mereka berdua bergegas pergi menuju kantor setelah mampir ke rumah Sarah dulu untuk memberikan sup tadi. Memet pantas berterima kasih dulu kepada Sarah yang sudah membelikan bahan makanan, sekaligus mengganti uang yang sudah Sarah pakai sebelumnya. Dengan motor bebek modifikasi balap milik Memet, mereka pergi ke kantor Kementrian Keuangan setempat di mana Tami bekerja,


Motor Memet yang menggelegar langsung distop sama satpam.

__ADS_1


“Eh, knalpot lo biasa aja dong jangan digeber-geber ….”


Telinga Memet langsung naik karena disindir motornya. “Kalau ga suka, di mana kita ketemu nanti biar gue jahit mulut lo itu.”


Yang namanya Memet sang pendekar SMK Permesinan dan pernah menjadi yang terkuat, pantang sekali ditantang begitu. Jangankan satpam, polisi aja pernah ampir adu jotos sama Memet dan Memet pun tobat karena diancam buat masuk ke Polsek dulu.


“Santai Met … di kantor orang kita ini mah ….” Andi menoleh kepada Satpam muda yang mungkin saja lebih tua Memet. “Maaf ni ya Bang, bukan maksud kite ngegeber-geber. Tapi modelan motornya memang begitu. Ini maksud kami ke sini mau ngasih makanan ke Mbak Tami. Dia saudara saya ….”


“Oh Mbak Tami, silahkan ….”


Mungkin aja abang satpamnya kalah mental sama muka Memet yang seram, jadi diizinin masuk


Mereka parkir dulu di parkiran motor yang tersedia. Memet memastikan wajahnya sudah cemerlang dan rambutnya tertata rapi untuk menemui Tami.


“Udaah … cuma ngasih sup doang kok.”


“Tami ada ga kira-kira di kantornya?”


“Perkiraan gue ya ada, kan ini jam istirahat siang . Nanti tanya aja sama pegawai di lobby di mana Tami-nya. Lo udah ngehubungin Tami belum?” tanya Andi.


“Udah, tapi belum dibalas.”


“Ya ayok … langsung aja masuk …”


Baru aja beberapa langkah mereka berjalan, Memet seketika menghentikan Andi yang lebih dulu daripada dirinya. Ia melihat Tami keluar dari mobil seseorang. Sewaktu ia perhatikan lagi, ternyata ia baru saja pergi bersama seorang pria berpakaian dinas polisi. Lambaian tangan Tami melambangkan jika ia bahagia karena sudah diajak pergi oleh pria itu.


“Lah itu kan Pram,” ucap Andi dengan heran.


“Udah Andi … kita makan aja sup ini.” Memet menarik lengan Andi untuk kembali ke motor.


“Met, lo udah rela-rela bikin sup ini loh. Masa ga lo kasih sama dia. Itu Tami ada di depan mata lo,” sanggah Andi.


Memet menggeleng. “Ga usah deh Ndi. Ga selera juga gue ngasihnya sekarang. Dia pasti udah makan sama Pram.”


“Meet ….”


Andi turut prihatin dengan patah hati yang Memet rasakan, Langkahnya tampak begitu lemah membawa kotak makanan berisikan sup itu.


***

__ADS_1


__ADS_2