Andi X Sarah

Andi X Sarah
113. Ternyata Bo-Food (SEASON 3)


__ADS_3

Andi berencana untuk bermain Peubege bersama Felix. Ia senang jika Felix mengajaknya bermain karena Felix itu jago sekali kalau soal bermain game. Setiap bermain dengan temannya itu, Andi selalu menang pada setiap permainannya. Kalau sendiri, Andi malah jadi bulan-bulanan lawan. Kalau sama Felix, maka setiap lawan dengan mudah mereka bunuh dikarenakan permainan Felix yang lincah dan terarah.


PC gaming Andi juga rekomendasi dari Felix. Setiap perlengakapan PC-nya juga berasal dari saudara Felix yang membuka toko PC. Awalnya Andi hanya bermain warnet bersama Felix, itu pun Felix terpaksa ikut sama Andi karena sebenarnya ia juga bisa main di rumah. Setelah menabung cukup lama, akhirnya Andi bisa bermain di rumah sendiri tanpa lagi memikirkan biaya tarif main warnet.


Komputer Andi hidup, ia juga sudah mengabari Felix untuk segera melakukan login. Namun, Andi mengabaikan komputernya setelah mendengar suara kendaraan yang berhenti di depan rumah Tami di dini hari seperti ini. Padahal, hari sudah menunjukkan pukul satu pagi. Jam-jam segini biasanya tidak ada lagi yang berkunjung ke rumah Tami, kecuali Sarah yang datang, itu pun pasti jalan kaki dan tanpa kendaraan.


Merasa curiga siapa yang telah datang, Andi turun kembali ke bawah dan pergi ke pagar pembatas antara rumah mereka. Andi takut kalau Tami lagi diincar sama psikopat kaya di pilem-pilem, lalu Tami dikarungin buat disekap di ruang bawah tanah. Imajinasi Andi itu membawanya untuk mengendap-ngendap di pagar pembatas untuk melihat siapa yang sedang datang.


Dan tiba-tiba …


Bulu kuduk Andi merinding tatkala baru aja kucing kampung yang berkeliaran di rumahnya berkelahi dengan mengeluarkan suara nyaring. Andi pun ngelus dada karena bukan hantu atau semacamnya. Andi terus memerhatikan pria berpakaian hijau dan berhelem itu, baru saja turun dari motornya dengan membawa plastik. Ternyata eh ternyata, beliau merupakan abang-abang Bo-Food yang lagi ngantarin makanan tengah malem ke rumah Tami.


“Ya elah, ternyata mesen makanan si Tami. Kaga ngajak-ngajak lagi ….,” ucap seseorang yang cuma pingin gratisan.


Andi sempat pula melerai kucing berkelahi itu dengan melempar sendalnya, hingga mereka pindah area gelud di pekarangan rumah Tami. Untung aja kucing Tami kalau malam berada di rumah. Kalau enggak, auto keriting bulu-bulunya yang panjang itu.


Baru saja satu langkah menuju ke rumah, Andi berbalik lagi untuk mengendap-ngendap di pagar pembatas. Tami masih berada di teras sembari menelpon seseornag. Bukannya fokus ke suara Tami, Andi malah fokus ke celana gemes yang dikenakan Tami.


“Fokus dong Ndi, masa ngelihatin itu ….” Andi menggeleng-geleng untuk meminimalisir pikiran anu-nya.


“Kak Pram … makasih banget ya makanannya. Hmm … iya … iya …. Hmm  …. Makasih lagi ya … Kakak pengertian banget sama aku. Iya …. nanti aku makan ya Kak, jangan lupa makan juga Kakak …. Iya … goodnight juga Kak ….”


Andi langsung tiarap waktu perkelahian kucing vangsat itu malah membuat Tami menoleh ke arahnya. Bagaikan sedang dipidik oleh senjata pidik jarak jauh lawan, Andi tiarap sembari menahan napas karena takut ketahuan oleh Tami. Kucing ini dari tadi pada nganggu Andi mulu soalnya, bikin kesel.

__ADS_1


Setelah Tami masuk kembali ke rumah, Andi pun menganalisa setiap kalimat yang ia rekam bagaikan seorang detektif handal. Jemarinya menyentuh dagu untuk memahami, padahal sebenarnya bukanlah hal yang harus dianalisa sebegitu dalam. Kesimpulannya, Pram malam ini membelikan Tami makanan melalui Bo-Food dan Tami merasa kalau Pram pengertian kepadanya. Apalagi karena Tami masih dalam keadaan sakit sehingga tidak banyak waktu untuk memasak.


Keesokan harinya, Andi memberitahu kejadian itu kepada Sarah. Ia menemui Sarah di rumahnya langsung di kala jam makan siang, sekaligus makan nasi padang yang baru saja dibeli oleh Andi.


Sarah kembali berubah menjadi mode rumpi ala ibu-ibu gerobak sayur.


“Beneran Ndi? Aduh … pasti apa ada-adanya nih orang ….”


“Ada apa-apanya, malah kebalik!”


“Nah itu maksud gue … ga tahu nih authornya bikin begitu,” sindi Sarah sembari minum susu indomilik vanilla faforitnya, lalu di-combo dengan suapan besar nasi padang dengan lauk rendang hitam kental. “Kalau udah begitu, pasti mereka lagi dekat banget dong. Maap-maap nih ya, seumur-umur gue deket sama Pram, dia kaga pernah beliin gue makanan lewat Bo-Food.”


“Ya iyalah, elo malah milih makan cilor tepi jalan daripada makanan aneh-aneh lainnya,” balas Andi. Ia mengambil daun ubi tumbuh di piring Sarah dikarenakan pacarnya itu tidak menyukai sayuran khas nasi padang itu. “Kalau begini, lo harus nanyain langsung deh sama Tami buat klarifikasi. Lo kasih tahu baik dan buruknya Pram biar dia pikir baik-baik.”


“Malah gue yang disuruh,” balas Andi dengan nada lemas.


“Ya siapa lagi kalau bukan elo ….”


“Iya … iya … nanti sekalian gue nyebat di warung Mas Momon.”


“Nah gitu dong …..”


Perut Sarah memang harus diisi terus. Abis makan seporsi nasi padang, dia malah nambah batagor buat nememin nonton drama jepang yang sedang ia sukai. Aktivitas itu ia lakukan hingga menjelang solat Ashar. Sarah malah sempat tidur sebentar sembari menunggu telpon dari Tami jika temannya itu sudah pulang dari bekerja. Setelah mendapatkan konfirmasi, Sarah bergegas pergi ke rumah Tami.

__ADS_1


“Samlekoom! Tamii …. Tamii ….” Sarah manggilnya kaya bocil-bocil dulu yang manggil temennya buat main sore.


Tami membuka pintu dengan masih memakai baju dinasnya. Bawahannya juga masih celana gemes seperti yang Andi lihat tadi malem, tetapi udah ganti warna. Sarah pun masuk ke rumahnya dan langsung menuju kamar Tami untuk bersantai-santai. Biasanya mereka selalu nangkring di sana berdua kalau di rumah ini dikarenakan ada pendingin udara yang bikin adem.


“Shin Tae Yong ….” Sarah salah membawa nama poster personil boyband korea yang tertempel di kamar Tami.


“Kim Taehyung, kalau Shin Tae Yong itu mah pelatih bola Timnas Indonesia.”


“Gantengan Kurt Cobain vokalis Nirvana deh.” Sarah mencoba untuk membandingkannya dengan vokalis fafortinya itu.


“Gantengan Taehyung dong … perutnya kotak-kotak gitu,” balas Tami.


“Apaan muka kok cantik begini.” Sarah tidak mau kalah.


“Ya beda dong muka Asia sama muka bule.”


Sarah membuka lemari kecil penyimpanan makanan Tami di kamar ini. Ia sudah menginvestasikan duitnnya untuk mengisi lemari tersebut dan bisa dinikmati bersama apabila mereka berada di kamar Tami. Oleh karena itu, Sarah tidak segan lagi untuk mengambilnya.


“Tami, lo mau gue kenalin sama temen gue ga? Dia cowok kaya dan ganteng. Mau ga?” Sarah duduk di sampingnya dengan mata memicing curiga. “Lo enggak sedang lagi deket sama orang lain kan?”


Pertanyaan itu sangat memancing dan menjebak Tami untuk menguak fakta sebenarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2